Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Plakkk.....


"Ki-kia," gumam mereka terkejut.


Dengan kerasnya Kia melayangkan sebuah tamparan untuk pengkhianat itu.


Ia menatap tajam Mona seolah ingin mencekiknya jika saja ia tidak takut akan dosa.


"Itu karna kamu udah berkhianat. Oh ya, kamu cinta sama abang Rasya Mon ? Emangnya dia bakalan mau sama wanita pengkhianat kayak kamu ? Ck, ck, Mona-mona kasihan amat hidupmu yang suka dengan barang sisa," ucap Kia meledek setelah ia berhasil meperingatkan Mona dengan tamparannya.


Mona menatap tajam ke arah Kia. Merasa dirinya di remehkan, Mona juga melayangkan tangannya ke udara berniat membalas tamparan itu.


Namun dengan sigap, Icha berhasil menangkis tangan Mona.


"Tatap mata gue Mon ! Lo jangan jadi orang yang seperti kacang lupa kulitnya. Apa lo masih inget di saat bokap nyokap kita yang perusahaannya hampir bangrut ? Aisya yang mohon-mohon pada orang tuanya untuk membantu kita. Kalau bukan karna Aisya, hidup kita sekarang tidak akan selayak ini Mona. Dan lo Zahra......." Icha beralih menatap Zahra yang sedari tadi terdiam tanpa suara."Gue semakin lebih gak nyangka sama lo, bukannya lo itu anak seorang ustad ya ? Ck, suruh orang tua lo ngajarin anaknya yang bener sebelum koar-koar nyeramahin banyak orang," ucap Icha sekenanya.


"Cukup ! Jangan menyalahkan orangtuaku, karna mereka gak tau apa-apa tentang semua ini. Aku bakalan jujur sama kalian semua kenapa aku bisa membantu Mona melakukan hal kotor ini. Aku punya alasan yang aku sendiri malu mengatakannya, karna itu bagiku adalah aib yang sangat memalukan," ucap Zahra seraya terisak.


Aisya menatap Zahra dengan tatapan yang sulit diartikan. Sekilas Aisya bisa melihat ada sebuah penyesalan yang amat dalam di matanya yang sudah penuh dengan cairan bening itu. Namun kali ini ia tidak bisa mempercayainya begitu saja setelah semua yang terjadi padanya saat ini. Aisya masih menahan setiap rasa ibanya sesama manusia, ia hanya ingin tau alasan yang jelas dan sejelas-jelasnya untuk bisa ia mengerti dan pahami.


"Halah sudahlah, alasan lo itu basi ! Oh ya, bukannya lo juga suka sama kak Rasya kan Za ? Jadi wajar aja kalian berdua itu pantes disebut dengan pelakor kelas rendah !" Ucap Icha yang sangat tidak tahan dengan sikap sahabatnya.


"Izinkan aku untuk jujur semuanya dengan kalian ! Aku mohon kali ini percaya sama aku. Aisya, sebelumnya aku ingin meminta maaf, sejujurnya aku tidaklah suka dengan kak Rasya. Apa yang aku katakan pada Kia waktu itu hanyalah bohong."


Flashback On


Zahra memperhatikan seseorang itu diam-diam dari kejauhan. Percikan kagum mulai tubuh di hatinya saat melihat ia berbicara dengan senyum khasnya yang siapa saja melihatnya akan dibuat meleleh.


Masyaallah, senyum itu manis sekali. Bathin Zahra saat melihatnya tersenyum seraya mengobrol dengan teman-temannya.


Zahra adalah wanita yang cukup pendiam dan tak banyak neko-neko seperti yang lainnya.


Hingga suatu hari, diam-diam Zahra menulis sebuah surat untuk lelaki yang mulai ia kagumi itu.

__ADS_1


Setiap seminggu sekali Zahra menyelipkan surat itu di meja tempat ia duduk. Kejadian itu berlangsung hingga 2 bulan lamanya.


Saat waktunya untuk pulang dari kampus, Zahra yang biasa pulang pergi menggunakan motor kesayangannya, namun tidak dengan hari ini ia berangkat dan pulang menggunakan taksi.


Tin...


Tin...


Seseorang mengklakson mobilnya berhenti tepat di depan Zahra yang tengah menunggu taksi yang sudah ia pesan.


"Biar gue anter lo pulang, ayo masuk !" Titahnya pada Zahra.


Zahra menatapnya tanpa berkedip. Apakah ini mimpi ? Ia menepuk kedua pipinya untuk meyakinkan kalau ini bukanlah mimpi atau khayalannya.


Akhirnya, setelah sekian lama ia mengagumi dalam diam dari kejauhan, Zahra bisa dekat dengan lelaki itu saat ini bahkan satu mobil dengannya. Omaygat, apakah ini yang dinamakan keberuntungan ? Entahlah, tapi yang pasti Zahra menganggapnya seperti itu.


Di sisi lain, ada Mona yang ternyata harus pulang terakhir karna ada banyaknya tugas yang harus segera ia selesaikan.


Melihat Zahra yang berdiri di depan gerbang, membuat Mona berfikir untuk menawarkan tumpangan padanya.


Mona merasa sangat penasaran dengan Zahra yang tiba-tiba mau satu mobil dengan seorang pria itu merasa sangat aneh, pasahalnya yang Mona tau Zahra adalah wanita baik-baik yang mematuhi aturan agamanya.


Dengan sigap Mona mengikuti mobil itu dari belakang dengan hati-hati namun tidak sampai kehilangan jejak.


Di dalam mobil yang Zahra tumpangi itu terlihat hening tanpa ada percakapan apapun. Namun saat jalan yang biasa Zahra lewati setiap harinya tidak terlihat, Zahra tersadar dan menanyakannya pada lelaki yang masih fokus dengan kemudinya.


"Kak, apa kita salah jalan ? Ini bukan arah rumahku," ucap Zahra panik.


"Stttttt, diamlah sayang. Gue tau lo kan yang selalu kirim surat cinta di meja belajar gue ? Sekarang gue pengen buktiin seberapa cintanya lo sama gue," ucapnya tersenyum menyeringai.


"Ka-kak ma-mau apa ?" Tanya Zahra takut dan khawatir kalau ia akan diperlakukan tidak baik.


Pria itu tidak menjawab, ia terus melajukan mobilnya hingga berhenti di jalan yang paling sepi bahkan sangat jarang orang yang melewatinya.

__ADS_1


Keluar dari mobilnya kemudian memutar ke kerarah kiri membukakan pintu untuk Zahra.


"Kak Roy, kenapa kita kesini ?" Tanya Zahra yang merasa sangat cemas dengan keringat dingin yang sudah membanjiri dahinya.


Roy tidak menjawab, ia langsung mencium bibir Zahra dengan rakusnya. Membuka paksa pakaian yang Zahra kenakan dengan kasar, ia memainkan dua buah gundukan kenyal yang sangat diagungkan para kaumnya.


"Kak Roy, hiks hiks...apa yang kau la-lakukan kak ?" Zahra terisak dengan nafas yang tersenggal seraya memberontak ingin melepaskan diri dari cengkaraman tangan Roy yang sangat kuat itu.


"Aku ingin bukti kalau kamu beneran cinta sayang. Ah, sekarang aku tidak sabar ingin menjebol apa yang selama ini kalian banggakan. Ha ha ha," jawab Roy tertawa kemudian melanjutkan aksinya dengan brutal.


.Zahra terus menangis dan memohon pada Roy untuk tidak sampai melakukan hal Zina itu. Hasrat Roy yang semakin membuncah minta segera di lepaskan membuatnya tuli dengan isak tangis dan permohonan Zahra.


"Ayolah sayang, ah...aku sunggu tidak tahan !"


Roy terus berusaha menjebol gawang milik Zahra yang sangat sempit itu. Dengan tubuh mereka yang menyender di mobil, membuat Roy kesulitan untuk menjebolnya.


"Hiks hiks, kak aku mohon jangan kak. Ini sakitt....hu hu hu, umi.....abi.....maafkan Zahra hiks hiks."


Jlebbbb


Pertahanan yang selama ini ia jaga untuk suaminya kelak, hari ini sirna karna lelaki yang memang Zahra kagumi. Namun melihat seperti ini aslinya, Zahra amat menyesal pernah mengagumi bahkan mengirim surat untuknya setiap minggu.


**Lanjut flashback nya besok lagi ya !


Author lagi capek


Vote


Like


Komennya jangan lupa


Happy Reading guys**

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2