Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Extra part 24


__ADS_3

' Jika hati yang memilih untuk bersamamu, kenapa harus mencari kemauan ego.


Memang benar, hidup tidak cukup hanya butuh cinta. Karna keperluan tidak bisa dibeli hanya dengan mengucapkan cinta '


Hari demi hari dan minggu demi minggu, satu bulan sudah Iqbal berhasil mendapatkan pekerjaan disebuah restaurant yang ia dapatkan dari informasi pemilik kedai makanan yang 1 bulan lalu sempat ia kunjungi.


Selama satu bulan itulah, Iqbal begitu giat mencari pundi-pundi rupiah demi bisa mengobati sakit adiknya, itulah tujuan utamanya. Disela-sela kesibukannya bekerja, Iqbal menyempatkan diri untuk belajar agama dengan Kyai besar disalah satu kota jakarta itu, yang kebetulan rumahnya tidak begitu jauh dari kontrakannya.


" Abang yakin gak capek?" Tanya Safira.


" Tidak dek, udah yuk ah keburu magrib !"


Ketika sif siangnya telah habis, tanpa beristirahat Iqbal pun langsung menuju rumah Kyai Amin bersama dengan adiknya.


Diwaktu yang hampir magrib, kegiatan mengajinya telah usai. Iqbal memutuskan untuk segera pulang dan beristirahat.


' Kamu apa kabar Aqila, 1 bulan sudah kita tak bertemu. Rasanya memang sakit, dadaku sesak sekali Aqila..... tapi untuk sekarang aku belum bisa mendatangimu. Maafkan aku ' Gumam Iqbal dalam hati seraya melamun ditepi ranjangnya.


' Kasihan Abang, dia pasti rindu kak Qila '


" Bang, makan yuk ! Fira udah masakin makanan kesukaan Abang !" Ajaknya dan Iqbal pun mengangguk meng-iyakan.


" Bang, kak Kila apa kabar ya ?" Tanya Fira disela-sela suapannya.


" Yang pasti dia akan baik-baik aja dek. Dipesantren banyak yang siap menjaganya dengan baik." Jawabnya.


" Abang gak kangen ?"


Uhuk uhuk uhuk


" Pelan-pelan dong Bang !" Fira memberikan segelas air untuk kakaknya yang tersedak.


" Maaf, Abang terkejut."


Fira tidak berani melanjutkan lagi pertanyaannya, karna ia sendiri pun sudah tau apa jawabannya. Setelah selesai makan, Iqbal memutuskan untuk beristirahat sebelum pagi tiba dan harus siap bertempur kembali dengan kerjanya.


***


Dipesantren Nurul Huda, seseorang tengah berkutat dengan buku memorynya. Ya, dialah Aqila Audya, yang setiap malamnya selalu menuliskan isi hatinya dalam buku kecil, buku kenangan yang 1 bulan lalu ia miliki.


Menahan rindu sangatlah sesak, Kila kini telah berubah menjadi akhwat yang terdengar sangat tegas, senyuman dan keceriaan seperti yang dulu, seakan sirna tiba-tiba.


" Dek, makan malam udah siap, yuk makan !" Ajak sang Ibu yang tiba-tiba masuk kedalam kamar anak gadisnya.


" Iya Bu...." Jawabnya singkat.


Kila menutup buku dan menyimpannya kembali dalam lemari, ia pun segera beranjak menuju meja makan yang ternyata semua orang telah bersiap dengan piringnya masing-masing.


" Kila, dipesantren butuh pengajar 1 lagi nak. Bisakah Kila bergabung dengan para asatidz dikantor ?" Tanya sang Ayah.


" Kila usahakan." Jawabnya.

__ADS_1


Farhan terlihat menghela nafasnya berulang-ulang. Ia menyadari, satu bulan belakangan sikap anak gadisnya itu perlahan berubah. Yang dulu selalu ceria, senyum dan banyak bercanda, kini seakan itu hilang entah kemana.


Aqil dan Bila sudah mengerti dengan sikap Kila yang kini berbeda. Ia hanya bisa menasehati walau tanggapannya selalu cuek dan tidak perduli.



" Kila duluan...." Jawab Kila yang ternyata lebih dulu selesai makan.


Ia pun beranjak membawa piring makannya kedapur dan langsung mencucinya. Setelah itu ia pun kembali kedalam kamarnya.


" Kila sekarang berbeda dengan yang dulu. Mibu sedih rasanya sangat kehilangan sosok ceria kila...."


" Kila hanya butuh waktu sayang, nanti juga terbiasa lagi." Jawab Farhan yang begitu teguh dengan pendiriannya.


" Apa Albi gak merasa, kalau putri kita berubah karna keegoisan Albi ?" Bul² perlahan tersulut emosi dengan ucapan suaminya yang selalu menganggap remeh perubahan sikap anaknya.


" Albi tau sayang, tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada yang tau keberadaan Iqbal saat ini."


" Bu, yah....kami sudah selesai. Maaf Bila duluan kekamar." Ucap Bila dan diangguki kedua mertuanya.


Bila beranjak dari duduknya menuju dapur, dan diikuti suaminya dibelakang.


" Kak, Bila gak tega deh lihat Kila sekarang."


" Aku juga gak tega sayang, tapi mau bagaimana lagi..."


" Bila kekamar Kila sebentar boleh ya kak ?"


" Iya sayang. Jangan lama-lama ya, kita harus buat proyek dikamar."


" Suka juga ....."


" Iya iya, Bila suka kak Aqil yang mesum ini." Ucapnya seraya mencubit oelan hidung suaminya.


Tok


Tok


Tok


" Kila, boleh aku masuk ?"


" Masuk aja !" Jawabnya dari dalam kamar.


Ceklek....


Bila menghampiri Kila yang tengah menyisir rambutnya didepan cermin.


" Ada apa ?" Tanya Kila.


" Jahat banget deh kamu sekarang, Bila ini kan sahabat kamu...Bila mau ceritalah." Gerutunya.

__ADS_1


" Cerita apa ?"


" Jujur sama Bila kila, kenapa kamu berubah jadi jutek banget sih kesemua orang."


Kila menghentikan kegiatannya seraya menoleh kearah sahabatnya itu.


Entahlah, satu bulan lamanya aku mencoba berdamai dengan keadaan, dengan sikap keceriannku tidak bisa mengubah segalanya yang terjadi. Setidaknya dengan sikapku begini, semua orang tidak perlu banyak bertanya.


" Nyaman aja...."


" Gak mungkin, aku tau kamu Kila..." Kekeh Bila memaksa untuk Kila menceritakan apa yang selama ini ia rasakan sendirian.


Hufffff, Kila menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Setidaknya, aku bisa berdamai dengan hatiku setelah sikap kedinginanku Bila. Rasa kecewa dan beratnya melupakan, sangat membuatku tersiksa ditambah lagi setiap pertanyaan dari kalian mengenai apa yang aku rasa." Jelasnya dengan tatapan sendu.


" Apa kamu merindukan kak Iqbal Kila ?"


" Pertanyaan macam apa itu ?"


" Elehhhhh malu- malu, tinggal bilang iya apa susahnya. Iyakan, hayooo kamu kangen kan.." Goda Bila.


Kila menyunggingkan senyuman yang selama sebulan ini jarang Bila lihat.


Tidak bisa dipungkiri, rasa itu masih ada bahkan membekas dalam hati Kila. Namun takdir begitu harus mennjauhkan Kila dan Iqbal entah sampai kapan.


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah menguping pembicaraan 2 perempuan didalam kamarnya. Tidak ia duga, tiba-tiba air matanya menetes begitu saja setelah mendengar apa yang Aqila ucapkan.


Farhan lupa, bahwa dulu ia pun sangat mengharapkan seseorang yang dicintainya bisa mencintai dengan tulusnya. Namun saat hal ini terjadi pada anak gadisnya, ia malah memisahkan dua sejoli yang saling mencintai tanpa syarat apapun.



Sadar atau tidak, perubahan sikap Aqila tak lepas dari perbuatannya yang tidak memberikan mereka restu untuk menjalin hubungan. Bahkan keduanya belum memulai apapun, karna Iqbal tidak akan pernah ingin bermain-main dengan apa yang ia ucapkan sewaktu itu.


' Kenapa aku baru menyadarinya sekarang, setelah puteriku menjadi dingin dengan sikapnya sendiri. Harus mencari kemana lelaki itu, Astagfirullah.... ampunilah hamba ya Allah...Kila maafkan Yahbi nak, dengan cara apa Yahbi mengembalikan ceria dan senyumanmu seperti dulu ? Apapun akan Yahbi lakukan asal puteri Yahbi bahagia, sekalipun Kila akan menyuruh Yahbi mencari Iqbal sampai ketemu keberadaannya. Maafkan keegoisan Yahbimu ini sayang '


Tes


Tes


Tes...


Air mata Farhan mengalir dengan derasnya. Penyesalan tinggalah penyesalan, nasi sudah menjadi bubur. Terlambat atau tidak, semua itu butuh perjuangan untuk bisa mengembalikan seperti semula.


💕💕💕Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian ya

__ADS_1


Happy Reading guys


Bersambung💕💕💕


__ADS_2