
Pagi yang terlihat cerah dengan matahari yang masih malu untuk menampakan cahayanya itu hanya menunjukan semburat berwarna orange di ufuk timur.
Mengingat kejadian semalam membuat Aisya tak dapat menghentikan senyumnya.
Seperti orang yang tengah dimasuk cinta, Aisya terbayang-bayang akan tingkah dan ucapan Rasya yang membuatnya cukup melambung tinggi bersama khayalannya.
Dua orang yang saling mencintai itu seakan membuat sejarah yang akan ia kenang bahkan ia ceritakan kelak pada anak cucunya nanti.
Namun sangat disayangkan, Rasya tidak bisa digapai bahkan disentuh bagaikan hal yang masih berada diangan tanpa tau kapan akan terjadi.
Tatapannya kembali sendu saat mengingat ucapan orang tuanya tentang lamaran seseorang yang bernama Faraz itu.
Bahkan ia kembali menyadari status Rasya saat ini adalah calon suami perempuan lain.
Kenapa Kak...
Kenapa disaat aku ingin menyerah, kau tiba-tiba datang dan membuat hatiku ini kembali berbunga ?
Untuk apa semua sikap manismu kak, kalau ujungnya ada hal yang menyakitkan dibalik itu semua.
Nyatanya hati Aisya tidak setegar itu, lagi dan lagi ia meneteskan air matanya menganggap bahwa takdir tidak berpihak padanya.
"Ais kau kenapa ?" Tanya Kia bingung melihat sahabatnya yang tiba-tiba saja terisak.
Aisya mengusap air matanya kemudian menggeleng. Tidak ingin orang lain tau apa yang tengah dirasakannya, Aisya memilih bungkam meskipun Kia selalu bertanya.
"Oke kalau kamu gak mau cerita sama aku. Ikut yok !"
"Kemana ?"
"Cukup keliling pesantren menikmati pagi yang membuat hati seseorang menjadi tenang. Udah ayok !" Tanpa mendengar jawaban dari Aisya, Kia menarik tangan sahabatnya itu untuk mengikutinya.
"Is, percaya gak kalau jodoh sejati itu memang ada ?" Tanya Kia seraya berjalan beriringan dengan Aisya mengelilingi pesantren.
"Aku percaya. Tapi hal itu terjadi hanya pada mereka yang beruntung, tidak seperti aku," jawabnya dengan nada yang sedikit lemas.
Kia menghentikan langkahnya dan sedikit memutar badan untuk bisa menatap Aisya. Diraihnya kedua tangan Aisya seraya mengelus lembut punggung tangan itu."Jodoh sejati bukan hanya terjadi pada mereka yang beruntung. Tapi juga pada seseorang yang bahkan tidak memiliki keberuntungan sama sekali dalam hidupnya. Aisya, dengarkan aku ! Sejauh apapun jaraknya, seberapa lama pun waktu yang memisahkan bahkan perbedaan yang tidak memungkinkan sekali pun jika Allah sendiri berkhendak menjodohkan dua inssan yang berakhlak mulia, maka terjadilah. Allah akan menyatukan 2 insan yang berbeda ini dengan caranya sendiri. Manusia hanya bisa berencana dan berkhayal, tapi semua itu tetaplah yang maha kuasa yang memberi keputusan mutlaknya." Jelas Kia panjang lebar dan membuat Aisya semakin berkaca-kaca.
"Jangan sedih hanya Abang yang sudah mengkhitbah wanita lain, bukankah khitbah itu belum halal ? Masih ada harapan untukmu memperjuangan cinta Abang, Ais. Namun dengan tujuan hijrahmu hanya karna Allah ta'ala, bukan untuk mendapatkan simpati dari lelaki." Aisya mengangguk paham setelah mendengar panjang lebar ucapan Azkya.
__ADS_1
Mereka melanjutkan kembali perjalanannya dengan sesekali berbincang. Kia tau Aisya tengah berfikir keras tentang apa yang sudah ia katakan, biarlah hal itu yang akan menjadi pilihan dalam hidupnya, pikir Kia.
Tepat di pelataran Aula ponpes, ada mobil yang tiba-tiba saja memasuki kawasan pesantren.
Berhenti tepat di depan mereka, membuat Kia dan Aisya menghentikan sejenak langkahnya untuk melihat siapa yang datang mengunjungi pesantren di pagi hari seperti ini. Bahkan ini masih terlalu pagi untuk tamu yang sambang ke pesantren.
Setelah pemilik mobil turun dari kemudinya, Kia dibuat melongo tidak percaya setelah melihat siapa orang itu.
Masya Allah benarkah itu Abang Kan ?"
Saking tidak percayanya, Kia sampai tidak menyadari kalau seseorang itu sudah berdiri tepat di depannya.
"Asalammualaikum..."
"Waalaikumsalam...."Jawab keduanya setelah Aisya sedikit menyenggol lengan Kia hingga akhirnya ia tersadar dari lamunannya.
"Mbak Putri mau kemana ?" Tanya Arkan pada Aisya.
"Keliling pesantren aja Mas, itung-itung olahraga pagi," jawabnya seraya tersenyum dari balik cadar.
"Ini siapa ?" Tanya Arkan pandangannya beralih pada wanita yang tengah bersama Aisya.
Arkan menggeleng membuat Azkya membuang nafasnya dengan kasar.
"Aku Kia Abang, gadis mungil yang dulu suka Abang panggil Kiki," jelasnya mengingatkan Arkan.
"Masya Allah, ini beneran Kiki ?"
"Iya atuh, masih comel menggemaskan bukan ?"
"Ah, dari dulu kamu gak pernah berubah dek," jawab Arkan seraya terkekeh.
"Azkya suruh berubah ? Oh tidak semudah itu Abang, abang kesini mau ketemu Abang Rasya ya ?"
"Itu juga salah satunya."
"Emang ada yang lain ?"
"Ada," jawabnya singkat, namun matanya melirik sekilas kearah Aisya.
__ADS_1
"Siapa Bang, Kia tiba-tiba mendadak kepo. He he he..."
"Belum saatnya kamu tau Ki, tapi yang pasti Abang akan dapet calon istri dari pesantren ini !" Ucapnya penuh keyakinan.
"Wah, Abang kita sekarang sudah punya calon. Kenalin sama Kia dong Bang, biar Kia tau orangnya cantik gak dan comel serta menggemaskan kayak Kia atau gak ? Kalau dia kalah sama Kia, Abang pokoknya gak boleh nikah sama orang itu !"
"Kenapa ?"
"Karna, Kia sayang Abang...!"
"Kamu suka sama Mas Arkan Ki ?" Tanya Aisya memastikan rasa penasarannya.
"Ih, kalian itu pada negatif deh. Aku tuh sayang sama Abangnya sebatas kakak sama adik, artinya aku mau cari calon kakak ipar yang cantik dan menggemaskannya mengalahkanku !"
Arkan hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah Kia yang dari dulu tidak pernah berubah.
Tapi kalau di lihat-lihat, kamu jauh lebih cantik dari saat kamu kecil dulu Dek.
Eh, astagfirullah..aku ini kenapa ?
"Emm, mbak Putri. Bisa nanti temui saya di taman pesantren ?!"
"Mau ngapain Abang ngajak A...eh maksudnya Putri, ketemuan di taman. Jangan macem-macem ya bang, kalau tidak mau tangan Abang Kia potel !" Ancam Kia membuat Aisya serta Arkan bergidik ngeri.
"Dek, Abang jadi ragu kalau kamu seorang santri. Atau jangan-jangan, Kiki yang di depan Abang adalah Kiki jadi-jadian ?"
"Ih, Abang Kan suka sembarangan deh, comel menggemaskan membahana tiada tara ini kok dibilang jadi-jadian. Abang jahara deh," gerutu Kia kesal seraya mengerucutkan bibirnya.
Aisya dan Arkan hanya bisa cengengesan melihat bagaimana sikap asli Kia. Apa lagi saat ini Aisya baru mengetahui sikap unik dari sahabatnya itu selama bersahabat hampir 6 bulan lamanya.
*Ternyata berteman denganmu cukup menghibur duniaku yang tengah berantakan ini..
Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu Kia..( Aisya )
Aku hanya menginginkan apa yang sudah Abang Rasya niatkan, termasuk mempersuntingmu Ais.
Aku tau kau orang yang pantas untuk mendampingi sifat Abang yang agak kekutuban itu. Semangat Kia, tunjukan pesona comelmu yang ternyata kakaknya menggemaskan, keponakannya Imut, adiknya lucu, saudaranya baik, sepupunya cantik. Ayo mainkan sandiwara drama drakor masih panjang episodenya !!(Azkya )
Semoga yang aku perjuangan, tidak lagi mencintai pria mana pun..( Arkan* )
__ADS_1