
Aisya terkulai lemas, beruntung Kia berada di sampingnya hingga ia bisa menopang tubuh Aisya yang tiba-tiba oleng.
Bersyukur kali ini Aisya tidak pingsan, Kia masih ada kesempatan membawa Aisya ke tempat selanjutnya.
"Minumlah dulu !" Pinta Kia menyodorkan air mineral di tangannya.
Semua sudah disiapkan dengan penuh strategi, bahkan hal sepele seperti air minum pun Kia memikirkannya.
Awalnya Rasya sempat khawatir dengan rencana Kia. Ia takut semua rencananya akan memperburuk keadaan, terlebih lagi kesehatan Aisya menjadi taruhannya.
Tapi adiknya itu adalah wanita yang paling bisa diandalkan dalam segala hal, Kia berhasil meyakinkan Rasya untuk tidak terlalu khawatir. Rasya setuju, ia mengikuti semua instruksi yang Kia katakan sebelum melakukanya.
Sedikit lebih baik setelah ia meneguk air minum yang Kia berikan. Aisya terdiam, selain masih merasakan sakit di kepalanya, ia pun memikirkan bayangan seseorang yang tak lain adalah Rasya.
Kenapa ada Rasya dalam bayangan itu ? Apa kaitannya denganku ?
Kenapa dia mengucapkan ijab kabul itu dan akulah yang menjadi pengantin wanitanya ? Pertanda macam apa ini ya Allah ? Bathin Aisya bergejolak penuh tanya.
"Kau mengingat sesuatu ?" Tanya Kia akhirnya setelah beberapa saat keheningan terjadi.
Aisya membenarkan posisi duduknya, ia melirik kearah Kia kemudian mengangguk pelan.
"Apa yang kau ingat ?"
Pandangan Aisya beralih lurus kedepan menatap setiap hamparan bunga yang tengah mekar dengan indahnya di pagi ini.
Perlahan ia menghirup dan melepaskan setiap udara yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Ada seseorang yang mengucapkan ikrar pernikahan, mengecup keningku setelahnya dan membacakan beberapa doa di atas kepala ku," jawab Aisya tanpa mengalihkan pandangannya.
Kia tersenyum mendengar kalimat itu, ia menyentuh pundak Aisya dengan berkata,"Apa kau tahu siapa orangnya ?"
Aisya kembali mengangguk, namun tatapannya kini beralih pada sosok yang ada di dalam bayangan itu.
"Apa dia orangnya, Aisya ?" Tanya Kia lagi seraya melirik Rasya yang tiba-tiba muncul di depannya.
Bibir Aisya kelu menatap lekat setiap inci wajah pria itu. Sudut matanya mengeluarkan cairan bening, ia mengangguk pelan sebagai jawaban pertanyaan Kia.
Grep..
Rasya tak dapat lagi menahan dirinya untuk menyentuh dan memeluk wanita yang sangat ia cintai sebagai istrinya.
__ADS_1
Tetesan air mata Rasya mengalir di pipinya dikala ia berhasil merasakan kehangatan pelukan yang selama 6 tahun ia rindukan.
Matanya terpejam, Rasya benar-benar ingin merasakan hal yang sudah lama menghilang dari hidupnya.
Aisya dapat mendengar isak tangis Rasya yang pelan, ia merasakan baju bagian pundaknya membasah. Benarkah pria ini menangisinya ?
"75 bulan 2.280 hari aku merindukanmu," kata yang berhasil lolos pertama kali di bibir Rasya adalah Rindu.
Bahkan Rasya menghitung detail berapa lama ia merindukan wanita pemilik separuh jiwanya. Tidak ada hari yang ia lewatkan walau sekedar berkata cinta dan rindu di keheningan malam. Berharap, ada suatu keajaiban yang akan menyampaikan suara hatinya pada seseorang yang dituju.
Bohong ! Kalau Rasya tidak menangis setiap kata rindu terucap di bibirnya.
Bagaimana tidak ? Dadanya mendadak sesak, deru nafas yang tak beraturan membuatnya sulit bernafas. Ia harus menghirup dan melepaskan udara yang setiap kali menghimpit dadanya, walau pada kenyataannya keadaan yang membuatnya merasa tak berdaya.
Aisya tak bergeming, bahkan ia tidak membalas pelukan pria itu. Aisya masih tidak percaya dengan semua yang terjadi saat ini. Ia masih memikirkan bayangan yang sama sekali tak diharapkannya.
Aisya sadar diri dengan status dan janjinya pada Evan, tidak mungkin ia akan berkhianat dan berpaling ke pria lain.
Kia, dia hanya bisa menangis melihat keharu biruan dua sejoli yang saling cinta namun keadaan yang memaksa mereka harus seperti ini.
"Apa yang ada di bayanganmu itu tidaklah salah, Aisya. Kau bisa menanyakan keseluruh penghuni disini jika pernyataan ku salah. Bang Rasya adalah suamimu, dan sudah ada bidadari cantik yang hadir di tengah-tengah kalian, yaitu Aishi, putri kalian !" Ucap Kia berusaha meyakinkan Aisya yang masih terlihat bingung.
Rasya melepaskan pelukannya, ia menyeka air matanya sebelum mengatakan banyak hal pada istrinya itu.
"Bolehkah aku tau cerita bagaimana aku kecelakaan sampai akhirnya seperti ini ?" Tanya Aisya pada pria yang menyebutkan dirinya adalah suaminya.
Rasya mengangguk,"Dengarkan aku baik-baik, sayang !"
Aisya memalingkan wajahnya yang salah tingkah setelah Rasya memanggilnya dengan kata Sayang.
Aisya tidak lupa, bahwa pria satu ini adalah si cabul yang pandai merayu. Bahkan dengan berani menyentuh wanita yang baru saja ia kenal.
Rasya tersenyum, ia tahu wajah istrinya itu tengah bersemu malu di balik niqabnya. Rasya mengecup kedua tangan Aisya sebelum ia menceritakan masa lalu yang membuat mereka harus berpisah.
"Abang ini mau colek mencolek atau mau cerita ? Ini waktunya anak-anak pulang, bang," ucap Kia begitu greget melihat tingkah Rasya yang menurutnya tidak tahu tempat.
"Memangnya kalian anggap apa aku ini ?" Lanjut Kia lagi.
"Astagfirullah, iya ini sudah jamnya Ici pulang," sambung Aisya berusaha menghindar dari Rasya.
Namun sayangnya genggaman tangan Rasya begitu kuat, hingga ia tidak bisa meloloskan diri darinya begitu saja.
__ADS_1
"Mau kemana, hem ? Dek, pergilah ! ****** Ara sekalian Ici juga !" Pinta Rasya pada Kia.
"Baiklah, Kia pergi. Asalammualaikum."
"Waalaikumsalam wr wb."
Kecanggungan semakin terasa dikala hanya tinggal mereka berdua di taman itu. Tapi hal itu nyatanya hanya berlaku untuk Aisya. Rasya sendiri tidak merasa canggung, bahkan ingin rasanya ia memikul Aisya dan membawanya ke kamar.
"Apa yang ingin kau tahu ?" Tanya Rasya.
"Semuanya !" Jawab Aisya dengan cepat.
"Kau sudah melihat semuanya sayang, apa lagi ?" Goda Rasya.
Aisya melotot tajam kearahnya, Rasya terkekeh melihat kekesalan Aisya yang memang tidak berubah masih sama seperti sebelumnya.
"Baiklah, akan aku ceritakan untuk meyakinkan mu, istriku. Semuanya dimulai dari sahabatmu yang bernama Mona. Aisya memiliki seorang sahabat dan salah satunya adalah Kia, sementara yang lain adalah Icha dan Mona. Mona membencimu, bisa diartikan dia mencintai suamimu. Hingga menghalalkan segala cara untuk memisahkan kita, salah satunya membuatmu kecelakaan dan itu adalah ulahnya. Saat itu Aisya tengah mengandung, kehamilannya sudah trimester akhir hanya tinggal menunggu hari menuju persalinan. Sampai akhirnya Aisya kecelakaan dan bayi kita terpaksa harus di keluarkan melalui operasi. Setelah itu Aisya mengalami koma selama 1 bulan, hingga akhirnya dokter Evan menyatakan kalau Aisya sudah meninggal. Aku tidak percaya begitu saja, yang membuatku yakin bahwa Aisya masih hidup adalah cincin mahar pernikahan kita. Saat itu, jenazah yang semua orang anggap adalah Aisya, aku tidak menemukan cincin itu di jarinya,"
"Lalu bagaimana nasib bayi itu ?" Tanya Aisya sebelum Rasya kembali melanjutkan ceritanya.
Deg..
Mulai dari sinilah segala kisah pahit kehidupan Rasya rasakan.
Entah masih sanggupkah ia menceritakan dikala Aishi sakit parah bahkan hampir saja meregang nyawa.
Untuk masalah hati ia masih bisa menahannya, lalu bagaimana dengan anak yang tak berdosa ini ?
**Hallo-hallow readerku tercinta..
Sehat selalu ya, dimana pun kalian berada tentunya.
Pajak-pajak ! Setoran pajak !🤣
Sedekahnya yang gengs🌹
Vote
Like
Komen seperti biasa..
__ADS_1
Happy Reading permirsah
TBC**