Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

"Emm, apa boleh Aisya masuk pesantren ?"


Uhuk...uhuk..


Ayah Aisya tersedak seraya mengambil tisu yang ada di depannya. Sementara Bunda masih menatap lekat putrinya dengan banyak pertanyaan.


Dulu, hampir saja ia memasukan Aisya kepesantren jika saja saat itu usianya sudah cukup besar. Ketidaktegaannya yang mengurungkan niat memasukan Aisya kepondok pesantren mengingat kala itu usia Aisya masih dibawah 10 tahun.


"Apa kamu yakin nak mau masuk pesantren ?" Tanya Ayahnya.


"Iya sayang bagaimana kuliahmu nanti ?" Sambung sang Bunda.


"Aisya yakin Yah, Bund. Kalau untuk kuliah bisa lewat online, biar nanti Aisya bicara lebih dulu dengan dekan kampus," jelas Aisya meyakinkan kedua orang tuanya.


"Apa sudah ada pilihan pesantren mana yang akan kamu abdi sayang ?" Tanya Nenek yang tiba-tiba menghampiri mereka.


"Sudah nek, pesantren pilihan Aisya tidak jauh dari sini."


"Jadi mau menjadi abdian di pesantren Nurul Huda ?" Tanya Nenek lagi memastikan. Aisya mengangguk tanda mengiyakan apa yang diucapkan neneknya adalah benar.


"Kenapa kebetulan sekali," lanjut Nenek lagi.


"Maksud nenek ?" Tanya Aisya yang tidak mengerti.


"Dulu juga Bundamu berniat memasukanmu kepondok yang di sini Ais, yang dimaksud adalah pesantren Nurul Huda," jelas neneknya.


"Iya nak, apa yang nenekmu bilang itu benar. Dulu bunda ingin memasukanmu kepesantren yang tidak jauh dari rumah nenek, biar sesekali kami juga bisa menjengukmu sekaligus berkunjung kerumah nenek."


"Ayah terserah Ais saja, kalau itu sudah keputusan Ais kami selaku orang tua hanya bisa mendukung. Ya selagi itu baik, kenapa gak," sambung Ayahnya.


"Terima kasih Ayah, bunda. Nanti sorean kita kesana ya yah !"


"Secepat itu ?" Ucap Bundanya tidak percaya. Sementara Ais hanya mengangguk mantap menatap lekat bundanya dengan penuh keyakinan dan tekad.


Orang tua Aisya tidak bisa melarang selagi itu baik untuk masa depan puterinya.

__ADS_1


Setelah merasa cukup beristirahat, Aisya yang lebih dulu bersiap itu merasa sangat tidak sabar untuk segera memasuki kawasan pesantren yang mana Rasya pun berada di sana. Dengan penuh keyakinan, Aisya menekadkan dirinya meninggalkan dunia yang selama ini ia jalani selama di jakarta.


Harapannya begitu besar, hingga ia tidak bisa lagi melepas sosok yang selama ini ada di hatinya begitu saja.


Selagi itu bisa dan halal, Aisya tidak tanggung-tanggung mengejar cintanya hingga berniat memasuki kawasan penjara suci yang hidupnya bagaikan dijaman kuno dan penuh akan peraturan.


Yakin bisa Is ?


Yakin dong, Author aja gak percaya sama Ais...


Sampe sana nanti mewek gimana ?


Peluk babang Rasyalah heheh


Huuuu dasar Ukhty gadungan...


"Yah, bund ayo dong Ais udah siap nih !" Ucap Aisya sedikit berteriak menunggu di ruang tamu.


"Sabar sayang, bunda aja belum apa-apa," jawab Bunda yang tiba-tiba muncul seraya mengenakan jilbabnya sambil berjalan.


"Hehe, iya bund."


Ia hanya bisa bersyukur bagaimana Aisya yang mau mendalami ilmu agamanya dan menjadi wanita yang lebih baik lagi.


Senyum antara ibu dan anak itu sama, namun makna di dalamnya berbeda.


Aisya tersenyum girang saat akan memasuki dunia pesantren demi bisa mengejar cinta yang menurutnya adalah jodohnya kelak dimasa depan.


Sementara sang ibu mengira anaknya merubah diri karna mendapat hidayah dari Allah untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi.


Bagaimana pun itu bagi Aisya tidaklah salah, toh belajar agama akan tetap ia lakukan. Tapi tentunya menyambi kejar cinta yang diyakini Aisya bahwa Rasya adalah calon imam yang Allah turunkan untuk dirinya.


Mobil mereka telah sampai di pelataran pondok pesantren, Aisya serta kedua orang tuanya itu segera turun untuk menemui pemimpin ponpes.


Dengan diantarkan santri disana, mereka bertiga telah sampai di depan rumah sang pemimpin pondok.

__ADS_1


"Asalammualaikum...."


Ceklek..


Seorang wanita yang sudah berumur kisaran 60 tahun itu keluar membukakan pintu.


"Waalaikumsalam, mari masuk pak buk !" Titahnya.


"Begini Nyai, niat kami kesini ingin mendaftarkan anak kami ke pondok pesantren ini," jelas Ayah Aisya.


"Alhamdulilah, boleh pak buk sangat boleh. Kalau boleh tau namanya siapa neng ?" Tanyanya melirik kearah Aisya.


"Saya Aisya putri Nyai," jawabnya.


"Nama yang cantik. Panggilnya cukup Umi saja, nama Umi Bulan Audya, santri di sini sering memanggilnya Umi Bul-bul."


Aisya mengangguk. Saat tengah berbincang, seseorang masuk dan mengucap salam.


"Waalaikumsalam..."


"Nek, ini dari Umi.." ucapnya seraya memberikan rantang berisi makanan.


"Alhamdulilah, Sya...nanti bantu mbak Putri ini mendaftar di kantor ya !"


"Na'am Umi," Jawabnya seraya melirik sekilas kearah Aisya.


Beberapa kali ia melihatnya, dan pada akhirnya ia menatakan," Mbaknya yang tadi siang nangis-nangis bukan ?"


Aisya mengangkat kepalanya melihat seseorang yang tengah mengajaknya bicara itu.


Deg .....


Ka-kak Rasya......


Maaf kalau Author jarang up...

__ADS_1


Bagi tugas dengan PF sebelah...


Mau bagaimana pun juga Author menyalurkan hobi sekaligus pengen dapet cuannya😂😂


__ADS_2