Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

5 Bulan berlalu..


Di keheningan malam, seseorang tengah menatap kalender seraya mencoret setiap tanggal perkiraannya dengan pena berwarna merah. Selama 5 bulan harapannya untuk segera hamil tak kunjung datang. Aisya selalu menatap kalender berniat untuk


menghitung masa suburnya setelah menstruasi. Karna banyak yang bilang kalau melakukan hubungan di masa subur maka kemungkinan untuk hamil sangatlah besar.


Tapi sayangnya, keberuntungan itu tidak terjadi pada Aisya. 5 bulan ia menunggunya, 5 bulan ia menghitungnya, bahkan 5 bulan ia selalu menjaga pola makan dan hidupnya untuk progam kehamilan.


Allah berkehendak lain, sampai saat ini harapan Aisya belum juga terkabul. Terkadang Aisya begitu sedih mana kala melihat Rasya yang begitu bahagianya saat bermain dengan anak kecil yang sudah pasti suaminya pun mengharapkan hal yang sama.


Ia menangis dalam kesendiriannya, kenapa Allah tidak memberiku keturunan segera mungkin disaat aku begitu mengharapkannya, disaat aku begitu memimpikan memiliki seorang anak.


Kenapa mereka yang tidak menginginkan anak diberi kepercayaan begitu cepat ? Sedangkan aku, aku harus menantinya selama 5 bulan pun belum kunjung mendapat anugrah terindah itu.


Tuhan..kenapa kau menguji pernikahan ku dengan cara seperti ini ?


Rasya yang mendengar suara isak tangis dalam kamarnya itu mengerjapkan matanya dan duduk menyenderkan kepalanya di ranjang. Berdiam diri sejenak mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya kembali dari alam tidurnya.


Melirik ke arah dimana suara itu berasal, yang ternyata istrinya tengah menangis tersedu duduk di kursi dengan menatap kalender yang sudah penuh dengan coretan.


"Sayang, astagfirullah. Kamu kenapa dek ?" Tanya Rasya panik segera beranjak dari ranjangnya menghampiri sang istri.


"Mas, hiks hiks. Maafin Aisya mas, maafin Aisya !" Ucapnya di sela-sela deraian air mata.


"Iya minta maaf untuk apa sayang, memangnya kamu salah apa ?" Tanya Rasya merasa bingung dengan ucapan Aisya.


Aisya menyeka air matanya seraya menunjukan sederet tanggal yang sudah ia coret selama 5 bulan terakhir ini."Lihat ini mas, Aisya sudah 5 bulan selalu menghitung tanggal masa subur. Aisya sangat berharap setiap bulannya untuk tidak lagi datang bulan di bulan depannya. Tapi nyatanya, hal itu tidak terjadi mas. Aisya gagal untuk bisa hamil, maafin Aisya mas !" Ucapnya kembali mengalirkan air mata.


Rasya berfikir mungkin inilah jawaban atas pertanyaan dan keheranannya pada sang istri.

__ADS_1


Pasalnya, beberapa bulan terakhir ini disetiap tanggal tertentu Aisya selalu meminta untuk melakukan hubungan tanpa harus Rasya memulainya. Ia berinisiatif sendiri untuk melakukannya lebih dulu agar suaminya merasa terangsang dan melakukan apa yang seharusnya terjadi.


"Jadi selama ini adek selalu meminta lebih dulu karna hal ini ?"


Aisya mengangguk. memang selama ini usahanya itu tidak diketahui oleh Rasya. Di setiap malam, sebelum Rasya bangun untuk shalat tahajudnya, ternyata Aisya lebih dulu bangun dan menangis dalam kesendiriannya seraya berharap dan memohon untuk segera di berikan kepercayaan untuk hamil dalam waktu dekat ini.


"Yang ada dalam pikiranmu saat ini itu apa sih dek ? Apa cuma gara-gara belum juga hamil kamu sampai sebegininya ? Apa kamu meragukan cinta tulusku Aisya putri ? Apa sebegitu takutnya dirimu aku poligami ?" Rasya merasa bersalah dengan keadaan istrinya yang begitu sangat mengharapkan seorang anak yang sampai saat ini belum juga diberikan pada mereka. Apa sebegitu takutnya saat dia tidak bisa memberiku keturunan ? Bukankah aku sudah berjanji tidak akan menduakannya apa lagi sampai memadunya, apa ucapanku itu terlihat main-main ?


Rasya merasa tidak habis pikir dengan Aisya saat ini. Bukan ia tidak ingin memiliki seorang anak, namun jika belum waktunya diberi kepercayaan lalu kita harus apa ?


"Dengarkan mas baik-baik dek ! Ini yang terakhir kalinya mas ucapkan setelah sekian banyaknya selalu mas katakan ini padamu. Mas janji Aisya, mas janji apapun yang terjadi tidak akan pernah menduakanmu apa lagi sampai mempoligami. Cuma kamu wanita satu-satunya yang mas harapkan selain umi untuk menemani sisa hidup mas hingga ajal menjemput nanti. Apa ucapan mas ini terlihat main-main sampe kamu meragukannya ?"


"Aisya tidak meragukan kamu mas, tapi bagaimana dengan Umi dan Abi yang setiap harinya selalu membicarakan tentang cucu. Aisya yang sebagai menantunya merasa tidak berguna mas, Aisya benci dengan diri Aisya sendiri kenapa hidup Aisya tidak seperti orang-orang yang terlihat makmur dan hidup bahagia tanpa beban. Hiks hiks, Aisya harus bagaimana mas ?"


Tidak bisa dipungkiri memang, perkataan dari kedua mertuanya cukup berpengaruh dalan hidup Aisya. Bagaimana tidak, mereka para orang tua hanya memiliki satu anak, pasti harapan untuk segera menimang seorang cucu begitu sangatlah besar. Terlebih lagi Rasya dan Aisya sudah 5 bulan lamanya mereka menikah, wajar saja jika para orang tua mempertanyakan tentang cucu mereka.


Ya Allah, apa sebegitu tertekannya istriku ?


Aisya sedikit tenang setelah mendengar penjelasan dari suaminya. Namun tetap saja rasa takut itu tidak akan hilang begitu saja dari dalam hatinya.


"Sekarang tidurlah ! Mas mau shalat tahajud dulu," pintanya. Dan Aisya hanya mengangguk segera beranjak dari duduknya menuju ranjang.


***


Seperti biasa setelah shalat subuh Aisya akan terjun kedapur membantu mertuanya menyiapkan sarapan pagi.


Tidak ada percakapan diantara keduanya, membuat Aisya semakin bersedih dikala ibu mertuanya tidak mau mengajaknya untuk mengobrol, menghilangkan sejenak kegalauan yang tengah dirasakannya.


Sarapan telah siap tersaji di meja makan, Aisya pergi kekamarnya berniat memanggil suaminya untuk sarapan bersama.

__ADS_1


"Mas, sarapan yuk !" Ajak Aisya pada Rasya yang tengah memakai pakaian.


"Apa sudah siap ?"


"Na'am, sudah." Rasya mengangguk. Ia menggandeng tangan istrinya menuju meja makan yang ternyata sudah ada abi dan uminya tengah duduk manis disana.


Aisya melayani suaminya penuh cinta. Ia mengambilkan nasi serta menyiapkan air minum untuk Rasya."Silahkan mas !"


"Terima kasih sayang," ucap Rasya dengan tersenyum dan tentu dibalas anggukan dan senyuman juga oleh istrinya.


Rasya merasa heran dengan kedua orangtuanya yang sedari tadi hanya diam tidak seperti biasanya.


Apa ada dengan mereka ?


"Abi sama umi selesai sarapan mau kemana ?" Tanya Rasya berniat mengajak kedua orang tuanya mengobrol. Aisya hanya terdiam, memperhatikan dengan sesekali melirik kearah mereka.


"Dari pada kamu menanyakan hal sepele ini pada kami, lebih baik tanyakan pada istrimu kapan akan memberikan kita seorang cucu ?!"


Deg.....


Pertanyaan yang begitu menohok itu semakin membuat hati Aisya merasakan sakit.


**Tinggalkan


Vote


Like


Komentar kalian yakk

__ADS_1


Happy Reading guys**


Bersambung


__ADS_2