Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

"Astagfirullahaladzhim.." Aisya terbangun dari tidurnya seraya mengusap keringat yang sudah membanjiri dahinya.


Ya Allah, kenapa bisa-bisanya aku mimpi menggelikan seperti itu. Astagfirullah..


Aisya melirik jam dinding yang ternyata sudah pukul 1 dini hari. Buru-buru beranjak dari ranjangnya sebelum Kia terbangun dan menanyakan hal yang tidak semestinya ia dengar. Aisya menyambar handuk dan peralatan mandinya kemudian menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri, karna mimpi yang menggelikan itu membuatnya harus melakukan junub di tengah malam seperti ini.


Setelah selesai dan kembali berpakaian bersih juga rapi, Aiaya ingat seketika ucapan Kia tempo lalu.


"Jika kau ingin yang terbaik, maka itu harus kau lakukan !" Begitulah ucapan Kia yang tempo lalu ia dengar. Setelah merenung beberapa saat, Aisya menuju lokernya menyiapkan sajadah juga mukena untuknya melakukan shalat di sepertiga malam.


Ya Allah ya rabb, yang maha pengasih lagi maha penyayang


Tidak ada yang terbaik dari segala sesuatunya yang telah kau berikan dan kau takdirkan.


Bismillahhirahmannirahim


Astagfirullahaladzhim


Ashadualla'illah ha'illallah wa'ashaduana muhammadarasullah


Wa kususon ila ruhi wajasadi Rasya syafaraz bin(Bila salsabilla)


bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ - ٢


al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn


الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ - ٣


ar-raḥmānir-raḥīm


مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ - ٤


māliki yaumid-dīn


اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ - ٥


iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn


اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ - ٦


ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm


صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ - ٧


ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍallin


Wa kususon ila ruhi wajasadi shohibul hajat Aisya putri binti (Elsa arumi)


bismillāhir-raḥmānir-raḥīm


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ - ٢


al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn


الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ - ٣


ar-raḥmānir-raḥīm

__ADS_1


مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ - ٤


māliki yaumid-dīn


اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ - ٥


iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn


اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ - ٦


ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm


صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ - ٧


ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn


Amiin..


Setelah menyelesaikan shalat hajatnya, Aisya kembali membaringkan tubuhnya melanjutkan tidur di waktu yang tersisa hanya 2 jam sebelum shubuh tiba.


***


Pagi kembali menjemput, seperti biasanya Aisya selalu meminta bantuan para ustazah untuk menyimak hafalannya.


Bahkan Kia yang siap membantu itu selalu berada di garda terdepan di kala Aisya ingin bertanya seputaran pengetahuan agama yang belum ia pahami.


Sungguh beruntung memiliki sahabat yang serba bisa dan tinggi ilmu pengetahuan agamanya, iya kan ?


"Is, boleh nanya gak ?"


"Tentu dong, mau nanya apa ?" Tanya Aisya tanpa mengalihkan pandangan yang masih fokus membaca beberapa kitab yang sudah ia pelajari.


Pertanyaan Kia membuat Aisya menutup bukunya dan beralih menatap sahabatnya dengan lekat."Apa sahabatku ini lagi jatuh cinta ?" goda Aisya seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Ih, ya jawab atuh Is ! Bukannya malah balik nanya," gerutu Kia sedikit malu.


Aisya mengalihkan pandangannya lurus kedepan seraya berkata,"Cinta itu murni, bahkan kita tidak tau kapan datangnya perasaan itu. Mencintai tanpa di cintai itu cukup menyakitkan, tapi benar katamu kemarin kalau dia bukan jodoh kita mau di paksain bagaimana pun caranya gak akan pernah bersatu. Kamu tau kan Ki, seberapa cintanya aku pada kakakmu itu, dan seberapa sakitnya juga karna penolakannya. Sekarang, di saat semuanya sudah terlambat dan memiliki jalan masing-masing, dengan mudahnya kak Rasya mengatakan cinta padaku. Huh..aku hanya bisa memasrahkan pada-NYA sekarang !"


Aisya kembali menatap sahabatnya yang terlihat tengah mengangguk."Siapa orang yang kamu cintai Ki ? Bahkan sampai tidak melihat kalau yang mencintainya begitu cantik juga shalehah."


Duh, cerita gak ya...


"Kamu jangan marah ya Is ?!" Ucap Kia sebelum menceritakan semuanya pada sahabatnya itu.


Setelah melihat Aisya mengangguk, Kia mulai menceritakan semuanya dari awal.


"Pertama kali aku melihatnya, sudah mulai tertarik. Orangnya cukup tampan, tapi sayangnya aku cuma bisa mengagumi hanya sebatas dalam diam. Tak berani menyapa apa lagi menatapnya berlama-lama, dia bukan makhrom ku.


Hingga tiba saatnya aku menyerah untuk rasaku itu di saat tau ternyata dia mencintai wanita lain dan tengah menyatakan perasaannya pada wanita itu di tempat umum. Wanita itu adalah kamu, Aisya putri," jelas Kia menatap Aisya.


"Tunggu dulu. Menyatakan cinta di tempat umum ? Apa yang kamu maksud itu kak Reza, Ki ?" Tanya Aisya dan Kia mengangguk membenarkan.


"Kamu suka sama kak Reza ?"


"Dulu iya, tapi sekarang entahlah. Aku belum merasakan hal seperti itu lagi pada rejal mana pun. Belum pengen keburu-buru buat cari jodoh, he he he," jawab Kia dengan kekehan di ujung kalimatnya.


Obrolan mereka harus terhenti saat seseorang meminta keduanya untuk menemui Umi Bul-bul.


"Afwan teh, Umi meminta kalian berdua untuk ke ndalem !"

__ADS_1


"Syukron sudah memberitahu kami," jawab Kia.


"Na'am teh. Asalammualaikum.."


"Waalaikumsalam wr wb.."


Kia dan Aisya melangkahkan kakinya menuju ndalem Umi Bul-bul. Dengan hati yang saling bertanya-tanya ada apakah gerangan ?


"Asalammuaalikum.."


"Waalaikumsalam wr wb.."


"Masuk nak !" pinta Umi, keduanya pun hanya mengangguk.


Tapi betapa terkejutnya mereka saat melihat ada Rasya juga Arkan yang sedang berbincang di sana.


Atau jangan-jangan...?


Perasaan Kia mendadak tidak enak setelah melihat adanya Arkan di sana.


Gawat, zona gawat..bahkan perang badar antar sahabat akan terjadi.


"Ada apa nek, kenapa nenek memanggil Kia sama Putri ?" Tanya Kia dengan mata melirik sekilas kearah kedua lelaki yang tengah mengobrol bebas itu.


"Arkan Rasya, kemarilah nak !" Panggil Umi Bul-bul.


"Duduklah !" pinta Umi saat semuanya sudah berkumpul.


"Arkan, bukankah kemarin kamu ingin mengatakan sesuatu nak ?"


"Na'am nek, dan semua ini ada hubungannya dengan Mbak Putri," jawab Arkan dengan serius.


Deg..


Pikiran Rasya sudah berkecamuk kemana-mana. Sudah pasti Arkan akan mengajukan ta'arufnya pada Aisya di depan Umi Bul-bul juga Abah Farhan.


Tangannya mengepal dan tubuhnya yang mulai tegang itu telah Rasya rasakan. Aisya menyadari sesuatu pada diri Rasya, raut wajahnya yang terlihat tidak biasa itu sudah di pastikan ia tengah menahan amarahnya.


Ya Allah, semoga perang perasaan ini tidak terjadi, bathin Aisya.


"Katakan saja Arkan, apa yang ingin kamu sampaikan pada mbak Putri !"


"Begini. Nenek, kakek, Rasya juga Kiki. Arkan ingin meminta restu dan ridho kalian, meminta salah satu santri kalian untuk Arkan ajak ta'aruf. Dan orangnya adalah mbak Putri !"


Jedar......


Bagi Arkan meminta restu dari sang pembimbing pesantren untuk meminta salah satu santriwatinya adalah mulia.


Namun tidak untuk Rasya, bagai di sambar petir di pagi hari..Rasya harus mendengar sahabatnya meminta restu untuk berta'aruf dengan akhwat yang bahkan sudah ia khitbah.


**Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian yakk..


Happy reading guys**

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2