Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Mata itu ?


__ADS_3

Setelah keputusan sudah ia buat dalam keadaan sadar, Aisya hanya kembali berfikir bagaimana kehidupannya nanti. Menjalani rumah tangga tanpa cinta, tentunya itu tidak akan mudah. Terlebih lagi ia tidak mengingat apapun, hal itu membuat keraguannya semakin bertambah.


Tidak ada pilihan lain selain mengakatan Iya untuk permintaan dari Evan.


Dengan cara inilah ia bisa membalas semua kebaikan Evan yang sudah membantu kesembuhannya.


"Dengan syarat bantu aku lagi sampai aku bertemu dengan orang tuaku !"


"Pasti ! Aku pasti akan membantu mu !" Jawab Evan.


Aisya mengangguk, ia menghela nafasnya kemudian berkata,"Bismillah, aku menerima tawaranmu kak Evan !"


"Bagus. Karna aku tidak mau kata penolakan ! Aku hanya perlu bantuanmu untuk hal ini saja, selebihnya aku bisa lakukan sendiri. Ayo, saatnya kita menemui papa dan mamaku !"


...... Flashback Off......


Evan termenung mengingat semua kejadian 6 tahun lalu saat pertama kali ia berniat melakukan semua ini pada Aisya.


Uhuk...uhuk..


Suara batuk Aisya membuat Evan tersadar dan segera menghampirinya.


"Isya, Isya kamu sudah sadar ? Ma, tolong ambilkan air minum !" Pintanya pada sang mama.


"Isya sayang, minum dulu nak !" Ucap mama Dinda seraya membantu Aisya untuk duduk.


"Terima kasih ma, maaf kalau Isya udah ngerepotin," sesalnya merasa bersalah.


"Kamu juga anak mama sayang, mama gak pernah merasa di repotin kok," jawab mama Dinda tersenyum seraya mengelus kelapa Aisya yang terbalut jilbab itu.

__ADS_1


"Tapi kalau boleh mama tau, Isya kenapa ?"


"Isya, emm, Isya mengingat bayangan dan suara-suara seseorang yang Isya sendiri tidak tau siapa mereka."


"Perlahan kamu akan mengingat segalanya, Isya. Tapi jangan terlalu dipaksakan untuk mengingatnya, kondisi mu akan kembali parah jika kepalamu sering merasakan sakit," ucap Evan dan langsung mendapat anggukan dari Aisya.


***


Keesokan harinya, Ici meminta omanya menemaninya berjalan-jalan keliling komplek.


Sepanjang perjalanan, Ici selalu saja bercerita apapun yang ia lakukan sepanjang hari kemarin.


"Oh ya Oma, Ici baru ingat. Kemarin Ici bertemu dengan umi, oma !"


"Umi ? Umi siapa sayang ?"


Aisya sudah meninggal, lalu siapa yang Ici sebut sebagai Uminya ? Bathin bunda Elsa bertanya-tanya.


"Ici sayang, kalau umi Ici sudah pulang, harusnya umi Ici temui abi atau oma, nak. Mungkin orang yang Ici temui bukan umi," ucap bunda Elsa.


"Gak oma, pokoknya itu adalah uminya Ici ! Dan umi bilang suatu saat kita akan bertemu lagi jika Allah menghendaki. Oma jangan bilang kalau itu bukan uminya Ici, itu uminya Ici, oma hu hu hu," Ici menangis merasa tidak terima jika oma mengatakan bahwa wanita yang diceritakannya bukanlah uminya.


"Shuttt, iya sayang dia adalah uminya Ici. Jangan nangis lagi ya ?!"


Ici dan omanya kembali berjalan-jalan dengan santai keliling komplek. Berbeda lagi dengan Rasya yang harus kembali ke kafenya mumpung saat ini ia berada di jakarta.


Kali ini Ici tidak mau ikut dengan abinya, ia lebih memilih ikut omanya yang mengajak berjalan-jalan santai.


Saat mobil hendak terparkir rapi di pelataran kafe, Rasya melihat beberapa karyawan wanita tengah membantu seseorang yang seperti baru saja mengalami kecelakaan.

__ADS_1


"Asalammualaikum, ada apa ini ?"


"Waalaikumsalam, ini kak mbak ini baru aja keserempet motor. Jadi kami membantu mengobati kakinya," jawab mbak Dewi.


Rasya mengangguk, ia memperhatikan seseorang yang terus menunduk itu."Apa mbak tidak papa ? Apa perlu di antar ke rumah sakit ?" Tanya Rasya mencoba membantunya.


Seseorang itu sedikit mengangkat kepalanya melihat Rasya yang tengah mengajaknya berbicara itu.


"Tidak perlu pak, hanya lecet saja," jawabnya sembari memegangi kakinya yang lumayan terasa perih itu.


*Deg.....


Mata itu*...?


**Maaf ya Author up dikit hari ini...


Lagi ada kesibukan mendadak.


Happy Reading guys


jangan lupa


Vote


Like


Komennya ( Yang bijak** ! )


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2