
Seseorang itu terlihat tengah menahan senyumnya, hingga ia tak tahan lagi dan akhirnya membalikan badan seraya berkata,"Emangnya kenapa kalau saya sampai tau ?"
"Ma-mas Rasya...." gumam Aisya lirih betapa terkejutnya ia melihat sosok Rasya yang kini ada di depannya.
''Ya kenapa dek ?'' Jawabnya seraya melangkah mendekati Aisya.
Melihat Rasya yang berjalan mendekatinya, sontak Aisya memundurkan langkahnya.
Tidak bisa berkata-kata, Aisya sangat terkejut melihat Rasya di depannya saat ini. Itu artinya indetitasnya terbongkar sudah, tidak ada yang bisa ditutupinya lagi sekarang.
"Kenapa, Terkejut ya ? Tidak ada yang bisa disembunyikan lagi sekarang dek. Bahkan aku pun ingin mengatakan kebenarannya padamu !"
"Ke-kebenaran apa kak ?" Tanya Aisya mendadak panik.
"Kita bicara di rumah !" Jawab Rasya melangkahkan kakinya lebih dulu meninggalkan Aisya yang masih berdiri mematung.
Kebenaran apa yang kak Rasya maksud ? Bathin Aisya bertanya-tanya.
Tidak ingin pingsan karna penasaran, Aisya langsung melangkahkan kakinya menuju rumah Rasya.
"Asalammualaikum.."
"Waalaikumsalam wr wb.." jawab Ustad Aqil dan ustazah Bila yang tengah duduk mengobrol di ruang tamu.
"Duduk Mbak !" pintanya. Aisya mengangguki dan segera mendudukan diri di sofa yang terlihat kosong.
"Jangan beri tugas apapun untuk Putri hari ini Mi !" Ucap Rasya yang tiba-tiba saja keluar dari kamarnya.
"Kenapa Sya, apa mbak Putri banyak kegiatan di asrama ?" Tanya ustazah Bila.
Rasya duduk di samping sang Ayah kemudian ia menggeleng merilik Ibunya.
"Hari ini Rasya ingin mengatakan kebenarannya pada Putri Mi, Bi. Mungkin Umi sudah mengetahui siapa Putri sebenarnya tapi tidak dengan Abi," ucap Rasya membuat ustadz Aqil kebingungan sekaligus juga penasaran dengan ucapan anaknya.
"Maksudnya bagaimana Sya, kebenaran apa yang tidak Abi tau ?"
__ADS_1
"Begini Bi, Putri ini juga mahasiswi adik tingkat Rasya di kampus yang sama. Beliaulah wanita yang Rasya kagumi sewaktu di kampus, sebenarnya nama panggilannya bukanlah Putri, tapi Aisya dengan nama lengkap Aisya putri. Dan tiba-tiba saja beliau datang kepesantren ini dengan tujuan mengikuti Rasya sekaligus belajar agama tentunya. Untuk selengkapnya Abi tentu tau," ucap Rasya menjelaskan.
Ustadz Aqil mengangguk paham, ia kembali melirik Aisya juga Rasya bergantian kemudian berkata,"Kamu juga harus mengatakan kebenaran selanjutnya Sya !" Titahnya membuat Rasya mengangguk.
"Na'am Abi. Rasya akan jujur pada Aisya sekarang juga !" Ucap Rasya kemudian sedikit memutar badannya untuk bisa berhadapan dengan Aisya yang kini tengah menunduk.
"Kalian berdua perlu bicara empat mata. Umi sama Abi tinggal kedalam dulu," ucap Ustazah Bila sebelum beranjak dari duduknya kemudian di susul sang suami.
Kini hanya tinggal 2 manusia yang tersisa di ruang tamu. Rasya sudah menyiapkan segala patah kata juga apapun yang akan terjadi kedepannya sekaligus menerima Aisya yang pasti akan sedikit kecewa dengan semua kebohongan ini. Mencoba mengatur nafasnya perlahan tapi pasti, Rasya menatap lekat manik mata yang kini juga tengah menatapnya.
"Dengarkan aku baik-baik dek, jangan mencoba menyela atau memangkas kalimatku !" Pinta Rasya padanya membuat Aisya mengangguk pelan tanpa mengalihkan tatapannya.
"Sebelum aku menceritakan segalanya, ku harap kau bisa mengerti dengan apa yang aku lakukan ini juga demi kebaikanmu. Pada waktu orang tuamu berkunjung kemari, apa mereka mengatakan sesuatu padamu ?" Aisya hanya memberi jawaban anggukan kepala untuk pertanyaan pertama kali yang Rasya lontarkan.
"Apa yang sudah kau dengar dari mereka ?"
Mata Aisya sudah berkaca-kaca mengingat betapa perih hatinya harus menerima dengan terpaksa pinangan dari seseorang yang tidak ia cintai bahkan tidak ia kenal sama sekali.
Ingin rasanya ia memeluk Rasya saat ini juga menjadikan bahunya sebagai sandaran suasana hatinya yang tengah tidak baik-baik saja itu.
Ingin rasanya ia mencurahkan segala keluh kesahnya dengan pria yang amat ia kagumi bahkan yang teramat ia harapkan untuk menjadi imamnya kelak.
"Aisya ku mohon jangan menangis ! Aku belum bisa memelukmu sekarang Dek," ucap Rasya membuat Aisya mengusap air matanya.
"Apaan sih kak," gerutunya.
Rasya terkekeh, kemudian kembali fokus pada niat dan kalimat yang sudah ia siapkan.
"Bisa diceritakan ?!" Ucap Rasya lagi membuat Aisya mengangguk patuh.
"Bunda sama Ayah menceritakan tentang lelaki yang tiba-tiba datang kerumah mengkhitbahku," jelasnya tanpa lebih banyak dan memperpanjang kalimatnya.
"Apa kau menerimanya Dek ?"
Aisya mengangguk, matanya kembali panas. Namun sebisa mungkin ia tahan untuk tidak mengeluarkan air mata di hadapan Rasya.
__ADS_1
Rasya tersenyum bahagia, akhirnya sang pujaan hati menerima khitbahannya walau menurut Aisya hal itu adalah keterpaksaan yang ia lakukan mengingat sudah tidak ada lagi harapan untuk bisa mengejar cintanya kembali.
"Kau masih ingat dengan kata-kata waktu itu kan ? Di mana aku mengatakan mencintaimu di depan Kia," tanya Rasya sengaja menjelaskan tidak langsung pada intinya namun perlahan tapi pasti ia akan mengatakan kebenaran itu pada Aisya.
"Aku mengingatknya."
"Itu bukanlah gurauanku dek, tapi benar adanya kalau aku memang mencintaimu !" jelas Rasya lagi membuat Aisya semakin terkejut seraya membulatkan matanya tidak percaya dengan kejujuran Rasya kali ini.
Kebenaran apa lagi yang akan aku ketahui ya Allah ?
Apa begitu banyak kebohongan yang sudah kau ciptakan Kak ? Bathin Aisya bergumam.
"Kenapa kau membuatku semakin sulit melupakan sosok dirimu kak Rasya. Ku mohon jangan mempersulit hidupku dengan pernyataanmu itu, kita sama-sama telah memiliki jalan masing-masing kak. Mengertilah !" Ucap Aisya kembali tidak percaya dengan Rasya.
"Apa yang membuatmu ragu dan tidak mempercayaiku dek ? Aku mencoba menjelaskan perlahan kebenaran yang memang benar adanya, bukan hanya ucapan atau permainan. Ini murni dalam hatiku dan aku merasakannya."
"Karna kau sudah mengkhitbah wanita lain kak. Dan tidak mungkin aku percaya dengan ucapan mu sementara kenyataannya kau telah menjadikan dia sebagai calon istrimu. Bukankah itu artinya kau mencintainya ?"
"Ya kau benar dek, aku memang mencintainya, sangat-sangat mencintainya. Hingga sepanjang malam aku selalu meminta pada yang maha kuasa untuk menjadikannya sebagai pendamping hidupku, penyempurna agamaku. Dan tentunya kami akan berjalan bersama hingga ke jannahnya Allah dan syurga tempatnya."
"Lalu untuk apa kau mengatakan cinta pada ku kalau itu kenyataannya kak, kenapa ?" Tangis Aisya pecah hatinya semakin perih mendengar Rasya begitu mencintai wanita yang sudah ia khitbah itu.
Tidak perlu mengatakan apapun menurut Aisya, karna dengan Rasya mengkhitbah akhwat lain saja itu sudah cukup jelas bahwa memang bukan dirinya yang di harapkan untuk mendampingi hidup Rasya.
"Karna kamulah orangnya dek. Kamulah perempuan yang aku khitbah itu, Aisya putri !"
Deg....
**Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya
__ADS_1
Happy Reading guys**..
Bersambung