
Bayangan masa lalu melintas, dimana Rasya mengamuk pada Dokter Evan karna telah berani mengatakan istrinya meninggal. Rasya terpaku menatap setiap inci wajah seseorang yang baru saja menduduki sofa.
Penglihatannya tidaklah salah, benar, dia adalah dokter yang menangani di saat Aisya mengalami kecelakaan 6 tahun lalu.
"Bukankah, kau adalah Dokter yang dulu menangani istriku, Aisya ?" Tanya Rasya membuka mulut setelah dirasa apa yang ia lihat memanglah nyata.
Evan terkejut, bagaimana bisa suami dari wanita yang dulu ia sembunyikan tiba-tiba datang kerumahnya ?
Apa ini adalah skenario takdir ? Dan anak itu, diakah anak Isya dan Rasya ?
"A-aisya, siapa dia kak ?" Sambung Isya bertanya pada Evan.
"Aisya adalah istri saya, dan dokter inilah yang menangani Aisya saat kecelakaan 6 tahun lalu. Saya ingat betul wajah anda Dokter !" Jawab Rasya semakin yakin bahwa ada yang tidak beres dari semua yang terjadi.
Kedekatan Ici dan Isya yang tiba-tiba, dan bertemu dengan Dokter Evan semua bukan sebuah kebetulan belaka, melainkan takdir yang membawa langkahnya untuk segera mungkin mengakhiri permainan ini.
Jadi ini jawaban kenapa pak Rasya selalu mengatakan mata dan namaku mirip dengan istrinya, tapi kenapa harus aku ? Bathin Aisya bertanya seakan ingin tau semua alasan yang sejelas-jelasnya.
"Ah, iya, syukurlah kalau pak Rasya mengingat saya. Tapi kenapa bisa tau rumah saya ya ?" Tanya Evan mencairkan suasana yang memang sudah menegang sejak tadi.
"Saya datang bersama...."
"Dengan Isya, kak. Isya bekerja di kafe pak Rasya," lanjut Aisya yang terpaksa harus memangkas kalimat Rasya.
Evan semakin terkejut, tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa keterkejutannya demi menutupi semua yang terjadi.
Seperti pepatah yang mengatakan, sedalam-dalamnya kita mengubur bangkai, lama kelamaan akan tercium juga baunya. Hal itu terbukti Evan rasakan, ia menjadi khawatir sekaligus takut rahasia yang ia kubur rapi selama 6 tahun akan kebongkar saat ini juga.
Rahasia tersimpan rapi tanpa ada seorang pun yang tahu, bahkan mamanya sekalipun.
"Terima kasih telah menerima calon istri saya bekerja di kafe anda pak Rasya," ucap Evan seraya tersenyum.
Rasya mampu membaca setiap gerakannya mata Evan yang terlihat jelas ada kekhawatiran disana. Rasya hanya memberi anggukan sebagai jawabannya.
__ADS_1
"Em kak Evan, mama, hal inilah yang ingin Isya bicarakan sama kalian. Tapi Isya mohon, dengarkan lebih dulu penjelasan Isya !"
"Ada apa Isya, katakan !" Pinta Evan merasa tidak sabar.
"Isya berhenti kerja di Kafe pak Rasya, kak. Tapi sebagai gantinya Isya menjadi pengasuh anak pak Rasya. Maka dari itu Isya harus ikut mereka pulang ke Bandung, lebih tepatnya tempat tinggal mereka di pesantren. Isya butuh izin dari kalian untuk itu, apa kak Evan mengizinkan Isya ?"
Deg....
Bukan hanya bekerja dari jarak jauh, tapi sekarang Isya malah memilih ingin menjadi pengasuh dari anak bosnya.
Tidak bisa mengelak, hati kecil Evan merasa iba melihat anak yang tengah tertidur pulas di pangkuan ayahnya.
Bagaimana kehidupan anak itu yang tanpa ada seorang ibu di sisinya ?
Namun tidak dipungkiri, Evan juga merasa takut kehilangan Aisya yang pada kenyataannya ia memang mencintai wanita yang telah bersuami itu.
Benaknya berkecamuk, antara mengizinkan atau tidak ia merasa bimbang dengan keputusan yang harus diambilnya.
Aisya dan keluarganya akan semakin dekat jika Evan mengizinkannya untuk ikut ke pesantren. Ingatannya kembali dalam waktu dekat kemungkinan bakal terjadi jika kebersamaan mereka terus terjalin. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang ini ?
Aisya mengangguk tersenyum, ia melirik ke arah Evan meminta jawaban dari lelaki yang saat ini sebagai calon suaminya.
"Kak....!" Panggilnya.
"Apa kak Evan mengizinkan Isya ?" Tanya Aisya lagi.
"Baiklah, aku mengizinkan. Tapi untuk sampai sana, biar aku yang mengantarmu !" Jawab Evan akhirnya.
"Tidak masalah," ucap Aisya seraya tersenyum senang.
Tak lama dari itu, Ici terbangun dari tidurnya seraya memanggil nama umi.
Wajah bantal khas bangun tidur Aishi memperlihatkan pipi gemasnya.
__ADS_1
"Umi......."
"Hei sayang, sudah bangun ?"
"Ici haus, Mi," ucapnya dengan suara sedikit serak.
"Tunggu sebentar, umi ambilkan air untukmu cantik," Aisya berjalan ke arah dapur mengambil segelas air minum dan puding untuk Aishi.
"Tara, umi punya puding untuk Ici. Ini enak loh," ucapnya memperlihatkan puding yang ia bawa.
"Wah Ici mau, Umi. Tapi umi yang suapin Ici !" Pintanya.
"Iya sayang, ayo buka mulutnya !"
Aishi membuka mulutnya menerima suapan demi suapan puding dari tangan Aisya. Hingga tampa sadar, puding yang ia makan itu telah habis.
Interaksi antara anak dan ibu itu di saksikan Evan dari balik pintu.
Terlihat jelas kenyamanan dan kedekatan keduanya bukanlah hal yang biasa. Evan merasa semakin bersalah jika kembali menjauhkan ibu dari anaknya. Bukanlah hal itu mengharukan ? Walau bagaimanapun, Aishi juga akan menjadi anaknya jika Aisya berhasil ia nikahi nanti.
Mungkin ia bisa menjauhkan Aisya dari suaminya, tapi ia tidak akan bisa menjauhkan anak dari ibunya. Hal itu sudah menyatu seiring aliran darah dan nafas yang menghembus. Saling merasakan, meski di tempat yang jauh sekalipun.
"Apa dugaan saya benar dokter ? Kalau Isya yang kau anggap sebagai calon istrimu sebenarnya adalah Aisya, istriku !"
Deg.....
Suara yang tiba-tiba terdengar di belakangnya membuat ia terkejut.
Detak jantung yang tak biasa, merasakan sebuah ketakutan yang sangat amat ia wanti-wanti.
Tinggalkan Vote
Like
__ADS_1
Komen kalian yakk
Happy Reading guys