
Teriakan Aisya cukup kencang, hingga membuat Icha dan Mona melongo tidak percaya dengan apa yang sahabatnya itu lakukan.
Banyak pengunjung yang menoleh kearahnya hingga berbisik-bisik satu sama lain.
Aisya tidak perduli dengan tatapan semua orang padanya, ia cukup merasa tenang saat berteriak mengungkapkan apa yang hatinya itu katakan.
"Kamu cinta sama saya ?"
Deg........
Suara itu.....?
Ais membalikan badan menatap seseorang yang berdiri tepat dibelakangnya dengan mata terbelalak dan tangan yang langsung menutup mulutnya itu.
Kak Rasya....Omg, apa dia mendengarnya ?
"Kenapa diam ?"
Ais menggeleng. Ia bingung mau berkata apa pada pria itu, bukankah lebih bagus kalau Rasya tau tentang isi hatinya ? Tapi setelah berhadapan dengannya, tubuh dan bibir Aisya serasa kelu untuk mengatakan Iya.
"A-apa kak Rasya denger ?"
"Bukan cuma saya, tapi semua orang yang ada disini,"Jawabnya.
Seketika Ais langsung menatap kedua sahabatnya yang tengah asyik duduk seraya menyeruput minuman yang sudah mereka pesan.
Mengerti dengan tatapan Ais, Mona dan Icha hanya mengangguk tersenyum.
Aisya baru menyadari, jika dirinya bukan ada di tempat yang dikhayalkan itu.
Bodoh banget sih Is.......
Ais mengerutuki dirinya sendiri. Sementara Rasya yang tidak mengerti dengan wanita yang ada dihadapannya itu hanya bisa menggeleng.
"Kak, emangnya salah kalau Ais cinta sama kak Rasya ?"
"Tidak, rasa cinta dalam setiap manusia itu fitrah dan semua orang berhak dalam mencintai dan dicintai. Tapi sebelum kamu mengakui cinta sama saya, apa kamu sudah mencintai dirimu sendiri ?"
"Maksud kak Rasya ?"
Huh........Rasya menghela nafasnya perlahan mencoba menjelaskan pada Aisya apa cinta yang sesungguhnya itu.
"Cintai dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain !" Ucap Rasya.
"Kak Rasya menolakku ? Apa ini karna wanita bercadar itu ?" Tanya Ais dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Mungkin, saya permisi...Aslaammualaikum..."
Lagi dan lagi Ais harus menerima rasanya patah hati, namun kali ini terlihat jelas kejadiannya.
Rasya sudah tau bagaimana Ais mencintainya, namun tetap saja ia menolaknya walau itu tidak Rasya katakan secara langsung.
"Apa yang gak gue punya kak, sampe-sampe lo dengan tega nolak perasaan gue ?" Gumam Ais lirih seraya menatap kepergian Rasya.
"Is.........."Panggil Mona dengan mengusap pundak sahabatnya itu.
__ADS_1
"Gue kurang apa Mon, Cha...hiks hiks," Ais terisak langsung berhambur memeluk Mona dan Icha yang mengusap punggung sahabatnya memberikan ketenangan.
"Lo harus berusaha lebih keras lagi Is, kak Rasya itu bukan cowok yang pada umumnya,"Jelas Mona.
"Maksud lo apa sih Mon ?"Tanya Icha yang tidak mengerti ucapan Mona.
"Gini, biar gue jelasin. Lo pada tau kan kalau kak Rasya itu dijuluki sebagai Ustadz di kampus ?"
Icha dan Aisya saling lirik, kemudian keduanya mengangguk membenarkan apa yang Mona katakan.
"Setau Gue, seorang ustadz atau ilmu agamanya yang tinggi...dia akan memilih dalam urusan cinta. Artinya, dia ingin yang terbaik dalam memilih pasangan hidup sesuai dengan apa yang agama ajarkan. Ngertikan maksud Gue ?" Jelas Mona.
"Apa itu artinya gue harus berhijab ?"
"Tepat sekali. Dan gue yakin Is, dengan lo berubah penampilan kak Rasya pasti ngelirik lo deh," Ucap Mona lagi.
"Apa lo yakin Mon, gimana kalau Kak Rasya ternyata tetap memilih cewek bercadar itu ?" Tanya Icha.
"Berarti dia bukan jodoh lo Is."
"Gak mau lah. Gue pengen kak Rasya jadi milik gue, dan itu harus....!"
"Pemaksaan...."Ucap kedua sahabat Aisya dengan kompak.
***
Setelah kejadian di kafe R.sya, Rasya sendiri menghindari untuk bertemu dengan Aisya secara langsung.
Sementara Kia yang tidak mengerti dengan Abangnya yang mulai jarang masuk kampus itu sedikit bingung.
"Udah 3 hari Rasya gak masuk kampus, nomor hpnya juga gak bisa dihubungi," Jelas Amar pada Kia.
"Maaf kak, Abang...pulang kepesantren sudah 3 hari memang. Kalau boleh tau apa Abang Rasya ada masalah di kampus ?" Tanya Kia yang memang tidak mengetahui kejadiannya.
"Memangnya kenapa ?" Tanya Reza.
"3 Hari yang lalu muka Abang kusut banget, kayak lagi ada beban dalam pikirannya."
"Apa kamu gak tau kejadiannya ?" Tanya Amar lagi
Azkya langsung menggeleng dengan cepat.
Amar menceritakan kejadian 3 hari lalu di kafe R.sya pada Kia. Azkya yang mulai mengerti setelah tau cerita itu, ia pun mulai berfikir Apa Abang menghindari wanita itu ?
"Tapi seharusnya Abang tidak perlu menghindarinya kan," Gumam Kia yang ternyata masih didengar kedua sahabat kakaknya itu.
"Ada yang kita tidak mengerti tentang Rasya, yaitu masalah hati...."Ucap Amar akhirnya.
"Apa Abang pernah mengatakan menyukai seorang akhwat ?"
"Iya...Rasya pernah mengatakan mengagumi wanita yang bernama....Ze...ze siapa ya....?" Reza menjeda kalimatnya karna ia lupa ingat akan nama wanita yang pernah Rasya kagumi.
"Apa itu Zahra ?" Tebak Kia.
"Bagaimana kau tau tentang Zahra ?"
__ADS_1
"Zahra adalah wanita shalehah, dia cantik...baik dan tutur katanya penuh kelembutan serta santun. Beliau teman sekelas Kia," Jelasnya.
Amar dan Reza dibuat melongo dengan apa yang Azkya ucapkan. Selama ini Rasya selalu menutupi tentang wanita yang diam-diam ia kagumi, hanya sekali saja ia pernah menyebutkan nama wanita itu namun tidak memberitahunya jika yang dikagumi ternyata masih satu kampus dengannya.
Tidak dipungkiri lagi jika sang kakak menyukai sosok Zahra, wanita berhijab yang baru beberapa hari menjadi temannya itu.
Azkya bisa melihat bagaimana Zahra yang pendiam tanpa banyak tingkah, tutur katanya yang sopan dan lembut serta selalu ramah pada semua orang. Dan yang tak kalah penting juga ia sama seperti dirinya yang menjaga jarak pada lawan jenis yang bukan makhromnya.
Lalu bagaimana dengan Aisya ? Teman yang sama satu kelas denganya namun tidak begitu akrab.
Dengan penuh keberanian ia mengatakan isi hatinya di depan semua orang.
Apa Rasya akan melupakan Zahra, wanita yang ia kagumi dalam diamnya dan mulai berpaling pada Aisya yang tanpa menyerah mengejarnya ?
***
Sore harinya, Kia yang penasaran dengan apa yang sahabat Rasya katakan mencoba menghubungi orang pesantren untuk bisa bicara dengan Rasya.
"Asalammualikum Umi...."
"Waalaikumsalam sayang, kenapa nak ?" Tanya Umi Bila.
"Umi, nomor Abang susah dihubungi, apa Kia bisa bicara sama Abang ?"
"Iya sayang, tunggu sebentar biar Umi panggilkan Abangmu !"
"Asalammualaikum Abang..."
"Waalaikumsalam, kenapa dek ?" Kali ini Rasya yang berbicara ditelefon.
"Kenapa Abang menghindari Aisya Bang ? Bukankah akhwat yang Abang kagumi itu Zahra ?"
Deg........
Rasya terdiam, tidak terkejut lagi jika adik sepupunya itu tau segalanya, sudah pasti kedua sahabatnya itu memberitahunya.
"Bang......"Panggil Kia lagi.
"Abang hanya bingung dengan perasaan Abang yang sebenernya Dek. Kia tau kan, bagaimana sikap Zahra juga Aisya sangat berbeda. Abang hanya butuh ketenangan Kia, bukan menghindar. Abang ingin benar-benar memastikan perasaan Abang sendiri." Jelas Rasya.
"Kalau ternyata Abang mulai menyukai Aisya, apa Abang akan menerima dia yang jauh dari kata shalehah ?"
Babang Rasya mulai dilema tuh....
wkwkwkw
❣️Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya...
Happy Reading guys...
__ADS_1
Bersambung❣️