Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Sandiwara Aishi


__ADS_3

Rasya terpaku melihat pemandangan mengharukan terjadi tepat di depannya. Baru pertama kalinya Rasya melihat Aishi sebahagia ini, baru pertama kalinya ia melihat Aishi tersenyum dengan puas di dalam pelukan seorang wanita yang baru saja menjadi karyawan di kafenya.


"Umi benar, jika Allah menghendaki kita bertemu, maka itu akan terjadi. Seperti sekarang ini, Allah sudah menghendakinya hingga kita di pertemukan lagi. Apa umi tahu, Ici seneng deh, akhirnya kita bisa berkumpul lagi," Ici berceloteh dengan penuh semangat setelah acara peluk memeluk telah usai.


Sementara Aisya dengan tenang seraya tersenyum mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir mungil gadis kecil ini.


Namun saat matanya melirik ke arah seseorang, buru-buru Aisya bangkit berdiri dan menundukan kepalanya.


Mata yang sempat bertatap walau hanya beberapa detik saja, serasa tidak begitu puas dan ingin melihatnya lebih lama lagi.


Rasya berjalan mendekati kedua wanita itu, berdiri tepat di hadapannya tanpa melepaskan pandangan matanya.


"Apa umi yang di maksud Ici adalah kamu, Isya ?" Tanya Rasya ingin memastikan sendiri bahwa apa yang di lihat dan di dengar olehnya tadi tidaklah salah.


"Maafkan saya pak, saya hanya merasa tidak tega melihat Ici yang begitu iri dengan anak-anak sebayanya saat di suapi makan oleh ibu mereka. Maafkan atas kelancangan saya !" Jawab Aisya merasa tidak enak hati.


Rasya tersenyum tipis, untuk apa ia mengatakan maaf, kalau semua yang ia lakukan bisa membuat Ici merasa bahagia. Justru Rasya merasa sangat bersyukur, walaupun Isya bukan ibu kandung Ici, tapi kehadirannya cukup berpengaruh untuk hidup anaknya. Harusnya ialah yang berterima kasih pada Isya, semua berkatnya, Ici tidak lagi sedih menanyakan tentang uminya.


"Harusnya saya yang berterima kasih padamu. Terima kasih telah menyayanginya, dia adalah hidup saya, satu-satunya pelengkap jiwa dan raga saya. Apapun yang membuatnya merasa bahagia, akan saya lakukan sebisa saya," jawab Rasya seraya melirik Ici yang masih terdiam menyimak setiap obrolan kedua orang dewasa itu.


"Pak Rasya tidak marah ?"


Rasya menggeleng,"Tidak, justru saya yang harus bertanya itu. Apa kamu tidak keberatan kalau anak saya memanggilmu umi ?"


"Ici anak yang manis, dia cantik juga pintar, saya memang sangat menyukai anak kecil jadi saya rasa tidak ada masalah jika Ici memanggil saya umi," jawabnya.


"Terima kasih, Isya."


Aisya hanya mengangguk, tapi ia merasa bingung melihat gadis kecil itu kembali berurai air mata.


"Hei, Ici kok nangis ? Apa Ici gak gak seneng ketemu umi ?"


Ici menggeleng,"Hu hu hu, abi bilang hari ini kita akan pulang ke pesantren. Ici gak mau jauh lagi sama Umi, apa itu artinya kita gak akan bertemu lagi, umi ?" Pertanyaan anak itu sangat menohok di benak Rasya.


Sebegitu sayangnya kamu pada wanita itu Ici ? Padahal belum tentu dia adalah umimu, kenapa begitu yakin dan mudahnya kamu menyebut wanita yang tidak di kenal sebagai umimu ?


"Abi, Ici mohon ajak umi pulang !"

__ADS_1


Deg....


Yang ia takutkan ternyata terjadi, bagaimana bisa Aisya akan pulang bersamanya, sementara statusnya saat ini adalah tunangan dari Evan, lelaki yang membantunya sampai ia sembuh. Aisya harus bagaimana ?


Membuka kehidupan baru di pesantren bersama dengan Ici, dan meninggalkan Evan atau menolak dan tetap bertahan dalam situasi yang ia sendiri tidak menginginkannya ?


Tatapan Aishi pada abinya penuh dengan harapan.


Rasya terdiam kali ini, bukan tidak mau mengabulkan permintaan dari anaknya, akan tetapi apakah wanita itu mau ikut dengannya ke pesantren ?


"Umi, umi maukan ikut Ici pulang ke pesantren ?" Tatapan Ici beralih pada Aisya.


Ya Allah, ibu mana yang tidak menangis melihat anaknya berurai air mata demi permintaannya terpenuhi. Hanya satu permintaan saja, Aishi membutuhkan jawaban Iya. Tatapan penuh harap itu ia berikan pada umi dan abinya.


Andai saja Ici sudah dewasa, mungkin akan banyak lontaran kata-kata yang membuat ke dua orang tuanya itu menangis tersedu.


Ici hanyalah anak berumur 6 tahun, tidak bisa berkata banyak selain dari kata intinya.


"Ici sayang, umi gak akan bisa ikut kita kepesantren nak. Umi harus mengurus kafe abi, kalau umi ikut, terus siapa yang mengurus kafe abi ?" Ucap Rasya memberikan pengertian pada anak gadisnya.


"Ici gak mau pulang ! Kalau umi gak ikut, abi pulang sendiri aja !" Ici menangis berlari pergi meninggalkan keduanya.


"Pak, Ici masih kecil kalau sampai kenapa-napa bagaimana ? Ini jakarta pak, ramai kendaraan berlalu lalang di jalanan," protes Aisya.


"Astagfirullah, saya tidak kepikiran sampai sana," Rasya langsung berlari keluar mencari keberadaan anaknya. Begitupun Aisya yang ikut menyusul Rasya mengejar Aishi.


Benar saja, Aishi terduduk di pinggir jalan seraya memegangi kakinya yang berdarah.


"Astagfirullah Ici, kamu gak papa nak ?" Rasya panik dan langsung menggendong Aishi membawanya kembali masuk ke dalam kafe.


"Gak mau, abi turunin Ici ! Hu hu hu kalian jahat," Ici memberontak dalam gendongan abinya.


"Biar saya yang ambilkan obatnya pak," tawar Aisya dan langsung mendapat anggukan oleh Rasya.


"Obatnya ada di meja kerja saya, masuk saja !" Pintanya.


Aisya berjalan dengan sedikit berlari memasuki ruang kerja Rasya. Setelah mendatapi kotak p3k yang ada di meja Rasya, langkahnya terhenti saat matanya mendapati foto berukuran besar terpajang di dinding ruangan itu.

__ADS_1


Foto keluarga ? Ternyata istri pak Rasya juga bercadar. Tapi kenapa ia mengatakan kalau mata dan nama ku mirip dengan istrinya ? Memangnya siapa nama istri pak Rasya ?


Lamunannya tersadar, ia mengingat Aishi yang sudah menunggu obat darinya. Aisya Menghentikan pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya dan segera keluar dari sana dengan membawa obat yang di butuhkan Aishi.


"Ini pak obatnya," ucap Aisya seraya menyodorkan kotak obat.


"Ici mau umi yang obati !" Ucapnya.


Aisya yang mengerti tatapan Rasya itu segera membuka mulutnya."Tidak apa-apa pak, biar saya saja !" Ucapnya.


Rasya hanya pasrah, ia memberikan obat itu pada Aisya. Ia melihat Aisya begitu telaten mengobati kaki Aishi yang terluka seraya berusaha menenangkannya yang masih terus menangis.


"Kaki Ici sakit, bagaimana Ici mau pulang ke pesantren ? Hu hu hu pokoknya Ici gak mau pulang sebelum kaki Ici sembuh. Terkecuali kalau umi ikut pulang !"


"Sayang, abi banyak kerjaan di pesantren, bagaimana bisa Abi meninggalkannya lebih lama lagi ?"


"Terserah !" Jawab Aishi dengan raut wajah ngambeknya.


Aisya terdiam melihat Rasya yang terus saja menjawab telfon dari seseorang yang ia panggil umi. Jelas yang menelfonnya sudah pasti keluarga dari pesantren, Aisya memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan tangis anak itu. Hingga akhirnya tidak ada pilihan selain ia mengikuti kemauannya.


"Huh, baiklah, umi akan ikut Ici pulang ke pesantren !"


"Alhamdulilah, beneran kan umi ?" Tanya Ici kegirangan.


Ia semakin berjingkrak di kala Aisya menganggukan kepala sebagai jawabannya.


*Yes, akhirnya rencanaku berhasil....


Teman baru, terima kasih sudah bantu Ici


Part selanjutnya satu persatu bakalan kebongkar. Harap sabar yak* !!!


**Tinggalkan


Vote


Like

__ADS_1


Komen kalian yak


Happy reading**


__ADS_2