Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

"Apa, jadi kalian mau kejakarta ?" Ucap umi Bila yang tiba-tiba datang dengan terkejut.


"Na'am umi, ada kepentingan yang harus Rasya dan Aisya selesaikan !" Jawab Rasya tidak ingin memperpanjang masalah.


"Baiklah, cepat kembali !"


Rasya mengangguk."Kami pergi bi, mi. Asalammualaikum."


"Waalaikumsalam wr wb.."


Selepas perginya Rasya, umi menatap abi dengan penuh pertanyaan seolah ia minta dijelaskan sesuatu mengenai kepergian Rasya yang tiba-tiba.


"Umi seharusnya sadar mi, bagaimana menantu kita akan cepet hamil kalau umi selalu menekannya dengan banyak pertanyaan dan sikap dingin umi padanya. Dan jangan halangi Rasya yang ingin mencari ketenangan dengan menjauh dari orang tuanya !" Tukas abi Aqil berlalu meninggalkan istrinya yang masih terdiam.


***


Di lain suasana, Kia berusaha menelfon Rasya yang panggilannya selalu di luar jangkauan.


Ada rahasia besar yang Kia tau dan itu wajib ia sampaikan pada Rasya termasuk juga Aisya.


Karna merasa masalah ini penting dan harus segera disampaikan, Kia berlari menuju rumah kakaknya itu dengan terburu-buru.


"Asalammualaikum bang, abang....!" Panggil Kia dengan sedikit berteriak.


"Waalaikumsalam."


"Abang mana bi ?" Tanya Kia pada abi Aqil yang ternyata membukakan pintu untuknya.


"Abangmu pergi ke Jakarta Ki. Ada apa ?"


Lebih baik aku tidak menceritakan masalah ini sama abi Aqil sebelum abang Rasya tau semuanya ! Bathin Kia.


"Ah, tidak ada apa-apa bi, hanya saja Kia ingin tanya sesuatu sama abang," jawab Kia sekenanya.


Abi Aqil terlihat mengangguk.


Huh, syukurlah...setidaknya aku aman dari banyak pertanyaan. Pikir Kia.


Setelah mendapati Rasya yang tidak ada di rumahnya, Kia kembali dengan memikirkan banyak pertanyaan dalam benaknya.


"Asalammualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Kia menatap kedua sahabatnya satu persatu dengan lekat.


"Lo kenapa Ki ?" Tanya Icha yang merasa aneh dengan tatapan Kia.


"Menurut kalian, hukuman apa yang pantes untuk seorang pengkhianat ?" Tanya Kia dengan tatapan seriusnya.


"Siapa yang sudah mengkhianati sahabat cantik kita ini, hem ?" Sambung Mona.


"Bukan aku, tapi sahabat kita, Aisya !" jawab Kia dengan santai seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Pasti Zahra lagi," tebak Icha.


"Kita akan tau yang sebenarnya sebentar lagi !" Jawab Kia dengan penuh keyakinan.


Kedua sahabatnya itu hanya mengangguk setuju dengan apa yang Kia ucapkan.


***


Sementara Rasya dan Aisya selalu berhenti setiap kali Aisya merasakan mual yang luar biasa selama perjalanan jauh mereka.


"Mas, pusing..." ucapnya lirih dengan Rasya yang masih setia memijat tengkuk leher istrinya.


"Kita kerumah sakit sekarang !"


"Tapi mas, bentar lagi kita mau sampe kerumah bunda. Lebih baik gak usah, Ais cuma pengen cepet baringan," lagi-lagi Aisya menolak untuk memeriksakan dirinya kerumah sakit.


Aisya menganggap ini hanya masuk angin mengingat akhir-akhir ini ia jarang sekali bisa menelan dengan baik sesuap nasi.


"Tapi sayang, mas khawatir dengan keadaan kamu yang terus saja muntah," ucap Rasya tetep kekeh dengan rasa khawatirnya.


"Mas ayolah !" Aisya memohon pada suaminya untuk tidak membawanya kerumah sakit. Sudah pasti dokter hanya akan mengatakan kalau ia kelelahan dan hanya perlu untuk beristirahat yang cukup.


Rasya mengalah, ia kembali melajukan mobilnya menerobos jalanan yang terlihat ramai itu. Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam, mobil Rasya telah sampai di depan gerbang besar kediaman orang tua Aisya.


Segera memarkirkan mobilnya dan buru-buru turun seraya memapah istrinya yang terlihat lemas.


"Asalammualaikum..."


"Nanti Rasya jelasin bun, Aisya butuh istirahat sekarang !"


Bunda Elsa mengangguk. Ia mengikuti langkah menantunya yang langsung menggendong Aisya menuju kamarnya di lantai atas.


Setelah melihat Aisya tertidur pulas, Rasya menjelaskan keadaan istrinya yang akhir-akhir ini mengharuskan Rasya menjaganya dengan intens, termasuk juga menceritakan Aisya yang sering memuntahkan isi perutnya setelah ia memakan sesuatu.


Bunda Elsa tersenyum menatap menantunya setelah ia mendengar penjelasan dari Rasya tentang bagaimana kondisi Aisya akhir-akhir ini.


"Kamu pasti lelah Rasya, istirahatlah ! Biar bunda yang akan membelikan sesuatu untuk Aisya," ucap bunda pada menantunya.


"Memangnya bunda mau beli apa ? Biar Rasya aja yang cari bund !" Pinta Rasya tak ingin merepotkan ibu mertuanya.


Lagi-lagi bunda Elsa menggeleng seraya tersenyum."Biar bunda aja, kamu istirahat saja temani istri mu !" Titahnya pada Rasya. Rasya hanya mengangguk, memang benar tubuhnya merasakan lelah. Akhir-akhir ini ia selalu kurang tidur karna Aisya yang tiba-tiba lapar saat tengah malam dan Rasya harus memasakkan sesuatu untuk istrinya itu.


Di tambah lagi selama perjalanan, mereka selalu berhenti di tengah jalan karna Aisya yang mendadak mual dan kembali memuntahkan isi perutnya. Perjalanan yang seharusnya bisa di tempuh dalam waktu 2 jam saja, sekarang bisa 3 jam an lebih. Rasya tidak bisa memaksakan istrinya yang masih dalam keadaan sakit, harus melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk mempersingkat waktu.


Di jam 3 sore, Rasya terbangun dari tidurnya seraya meraba seseorang di sampingnya namun tidak ia temukan Aisya disana.


Buru-buru Rasya beranjak dari ranjang mencari keberadaan Aisya yang ternyata tengah memakan puding buatan bunda Elsa


"Mas udah bangun ?" Lirik Aisya pada seseorang yang datang menghampirinya.


Rasya mengangguk."Kenapa adek gak bangunin mas ?"

__ADS_1


"Aisya gak tega mas, tidur mas pules banget abisnya," jawab Aisya dengan lahap menyuap puding kedalam mulutnya.


"Apa masih pusing ?" Tanya Rasya yang masih belum tenang dengan keadaan Aisya sebelum ia diperiksa oleh dokter.


"Udah gak, pusing sama mualnya gak setiap saat mas," jawab Aisya tanpa mengalihkan tatapannya yang masih fokus dengan puding kesukaannya itu.


"Rasya, Aisya...."


"Ayah, ayah apa kabar ?" Rasya menghampiri dan menyalami ayah mertuanya yang baru saja pulang dari kantor.


Aisya langsung berhambur memeluk ayahnya mengobati rindu yang selama ini ia tahan.


"Anak ayah sehat ?" Tanya ayah Rama kemudian mengecup kening Aisya.


"Semua berkat mas Rasya ayah, dia menjaga Aisya dengan baik. Alhamdulilah Aisya sehat ayah," Jawab Aisya tanpa mengalihkan posisinya.


Rasya menatap drama antara ayah dan anak itu merasa terharu. Tidak salah ia meminta Aisya untuk tinggal sementara bersama orangtuanya di Jakarta. Dengan Aisya berada disini, ia merasa cukup tenang jika harus meninggalkan istrinya untuk tanggung jawab yang harus ia selesaikan di pesantren.


***


Pagi-pagi sekali bunda Elsa sudah berada di dalam kamar Aisya. Ia yakin dengan dugaan nya saat ini, yang jelas keyakinannya itu akan menjadi kabar bahagia untuk semua orang.


"Sayang kamu pakai ini ya !" Pinta bunda Elsa mengeluarkan benda kecil dari dalam kantung bajunya.


"Ini apa bund ?" Tanya Aisya yang memang tidak pernah melihat apa lagi memakai benda itu sebelumnya.


Bunda Elsa tersenyum, ia membisikkan sesuatu ketelinga Aisya.


Aisya melongo tidak percaya dengan tingkah konyol bundanya yang meminta ia untuk menampung sedikit air pipisnya kewadah kecil yang sudah disiapkan juga.


Bunda ada-ada aja, ihhhh jorok !


"Ayo buruan !"


"Aisya jijik bund," pungkasnya membayangkan betapa joroknya hal yang akan ia lakukan itu.


"Hanya dengan cara ini semuanya akan tau kebenarannya sayang," ucap bunda.


"Iya, tapi kebenaran apa ? Kenapa harus pake air pipis bund ? Ih, Ais bayanginnya aja udah jijik."


"Udah cepetan, jangan banyak tanya !"


**Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian yakk


Happy Reading guys**

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2