
Dengan perasaan yang tak menentu rasanya, Rasya hanya bisa berdoa dalam hati seraya berharap khitbahannya akan di terima.
Namun ingatannya tiba-tiba saja tertuju akan apa yang Arkan katakan bahwa ia juga mengagumi salah satu Akhwat di pesantrennya itu.
Ciri-cirinya begitu mirip dengan perempuan yang akan ia khitbah. Semoga saja lain orang, gumamnya. Lamunannya buyar seketika saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tok..
tok..
''Sya, boleh umi masuk ?''
''Naam umi. Tidak dikunci, masuk saja !''
Ustazah Bila membuka kenop pintu seraya berkata,''Sudah siap ?'' Rasya mengangguk.
''Ini titipanmu !'' Ustazah Bila merogoh kantong bajunya seraya memberikan sebuah kotak berbentuk hati.
Rasya menerima dengan tersenyum."Syukron Umi sudah membantu Rasya," ucapnya berhambur memeluk sang ibu.
Ustazah Bila menitikan air matanya membalas pelukan sang anak seraya mengusap pelan punggungnya itu."Apapun demi anak Umi, akan umi lakukan Sya."
***
Sore hari setelah ba'da ashar lebih tepatnya, Rasya dengan ditemani kedua orang tua serta kakek dan neneknya itu memulai perjalaanan menuju Jakarta.
Kedua orang tua Putri tidak ada yang tau niat keluarga Ajengan pesantren itu yang tiba-tiba saja menelfon meminta alamat karna hendak berkunjung menjalin silahturahmi.
Karna merasa akan kedatangan tamu istimewa dari pesantren tempat anaknya mengabdi, Bunda serta Ayah Aisya itu sangat bersiap menyambut kedatangan mereka dengan penuh suka cita. Bahkan tidak tanggung-tanggung persiapan yang telah disiapkan itu terlihat begitu sempurna.
Suara deru mobil berhenti tepat di pelataran rumah Aisya.
"Asalammualaikum..''
''Waalaikumsalam..'' jawab seseorang dari dalam rumah membukakan pintu.
''Masyaallah Bu Nyai. Silahkan masuk Bu !'' Titahnya.
Para tamu itu hanya mengangguk seraya mengikuti langkah Bunda Aisya di belakangnya.
__ADS_1
"Mari semuanya silahkan duduk !''
''Terima kasih Bu..''
Sebelum mengutarakan niat yang sebenernya, Kyai Farhan selaku orang tertua dari pihak laki-laki menanyakan beberapa hal pada orang tua Aisya.
''Begini pak buk, apa neng Putri suah memiliki kekasih ?''
Bunda juga Ayah Aisya saling melirik satu sama lain. Ada hal apa mereka menanyakan tentang Aisya yang sudah memiliki kekasih atau belum ? Pikirnya.
"Sepertinya belum Pak Yai," jawab Ayah Aisya yang membuat Rasya bernafas lega.
Saat keputusannya sudah bulat untuk memasuki dunia pesantren, Aisya telah meminta kedua orang tuanya untuk tidak lagi memanggilnya dengan nama Aisya, melainkan dengan panggilan barunya yaitu Putri.
Bahkan semua foto yang dulu terpajang di dalam rumahnya telah tergantikan dengan fotonya saat sudah berniqab.
"Jadi begini pak buk, kedatangan kami kemari selain ingin bersilahrurahmi kami juga ada niat dan tujuan tertentu. Silahkan kamu utarakan niatnya, Sya !" pinta Kyai Farhan beralih menatap cucunya.
Dengan groginya Rasya menghela nafasnya berulang-ulang sebelum sebuah kalimat terucap dari bibirnya.
"Asalammualaikum pak buk, perkenalkan nama saya Rasya Syafaraz putra tunggal dari Ustazah Bila dengan Ustadz Aqil dan cucu dari Kyai Farhan serta Umi Bul-bul.
Niat saya datang kemari berniat ingin mengkhitbah anak Bapak dan Ibu yang bernama Putri, juga telah menjadi santri beberapa bulan lalu di pesantren kami. Mohon maaf sebelumnya jika saya berani lancang telah menganggumi Anak Bapak dan Ibu."
"Baik. Bapak dan Ibu bisa menghubungi Putri dan menanyakannya nanti. Tapi yang saya minta hanya satu hal, apa Bapak dan Ibu bersedia membantu saya ?!"
"Apa itu nak, insyaAllah selagi mampu kami siap membantu nak Rasya," Jawab Ayah Aisya dengan mantap.
"Saya hanya minta untuk merahasiakan indetitas saya dari Putri. Jika beliau menanyakan siapa lelaki yang mengkhitbahnya, bapak dan ibu bisa gunakan nama belakang saya !"
"Tapi kenapa Nak ?"
"Ada hal yang tidak bisa saya jelaskan pak. Dan biarlah saya sendiri nanti yang akan memberitahunya."
"Apa Bapak dan Ibu sendiri setuju dengan anak saya ?" tanya Ustadz Aqil kali ini.
"Siapa yang tidak menginginkan memiliki menantu shaleh seperti nak Rasya Ustadz. Bismillah, saya pribadi selaku orang tua dari Putri menyetujuinya. Kami menerima khitbahan dari nak Rasya, tapi dengan tetap Putri lah yang akan menentukan pilihannya nanti," jawab Ayah Aisya dan mereka yang mendengar hanya mengangguk paham.
*Alhamdulilah...
__ADS_1
Orang tuamu memberikan restu dan dukungan penuh padaku....
Kita lihat saja, siapa yang akan lebih lama menyembunyikan indetitas masing-masing. Kamu sebagai calon istriku dan aku calon suamimu, wahai gadis nakal...
Hem, tapi aku cinta....
Istiqhomah selalu pujaan hati !
Aku di sini bukan untuk diriku sendiri. Aku di sini karena ketakutanku pada Tuhan. Seraya menjalankan titah Tuhan.
Aku di sini bukan tentang diriku sendiri. Hanya berharap tergolong dalam naungan sang Baginda Rasul dengan menjalankan sunnah-Nya.
Aku di sini bukanlah untuk diriku sendiri. Melainkan untuk dirimu, yang suatu saat nanti akan menjadi prioritas dalam hidupku setelah Tuhan dan Nabi.
Aku ingin Kau menjadi perhiasan terindahku, yang kelak kan bersama mengarungi titian menuju Surga, menggapai ridho-Nya.
Izinkan aku dengan segala perasaan yang dititipkan Tuhan ini membuat pengakuan. Sudah sejak lama diri ini menyimpan rasa suka. Bukan aku tidak ingin memilikimu.
Aku hanya ingin menjagamu hingga halal bagiku menyentuhmu. Dan malam ini, aku ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Jadilah pendamping hidupku.”
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang telah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan. Izinkan aku menjadikan Kamu pasangan dalam hidupku untuk meraih cinta dari sebenar-benarnya cinta.
Aku datang kemari untuk menyampaikan sebuah pesan. Pesan mendalam yang bertujuan untuk menjalankan sunnah Rasul yang begitu mulia. Menuangkan perasaan dan cinta dengan semestinya. Serta menuangkan rindu menjadi sebesar-besarnya pahala.
Segenap kerinduanku kini sudah terobati dengan hadirnya aku disini. Dan dengan izin dan ridho Allah aku ingin menjadikan kamu menjadi seorang istri.
Spesialnya sebuah nama akan mudah tergantikan jika hanya ditulis di dalam hati. Oleh karena itu, aku ingin menjadikan nama spesialmu itu tak hanya tertulis di dalam hati tetapi di buku nikah. Maukah Kamu menikah dengan ku?
Rasya syafaraz
Tinggalkan
Vote
Like komen kalian ya...
Biar Author makin semangat buat up nya..
Sekali kali atuh kasih Author koin !!!
__ADS_1
Happy Reading guys...
Bersambung