Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Pesantren semakin ramai dengan kedatangan sahabat Aisya dan juga Rasya. Ke-empat manusia yang sengaja janjian untuk masuk kepesantren itu membuat Aisya semakin was-was dan takut indetitas aslinya terbongkar.


Sementara Rasya sendiri sedikit takut dengan kedatangan kedua sahabatnya itu termasuk Reza. Reza yang dulu sempat mengungkapkan perasaan cintanya pada Aisya membuat Rasya khawatir jika ucapannya kemarin adalah Aisya tujuannya.


Apa kah jalan satu-satunya mengungkapkan semuanya pada Aisya secepat mungkin ?


Atau masih setia dengan segala sandiwara sampai waktu yang Rasya inginkan itu tepat ?


Tapi sepertinya Rasya tidak bisa tidur memikirkan hal ini, memang benar kata pepatah yang mengatakan jika segala sesuatunya di awali dengan kebohongan entah itu demi kebaikan atau menutupi sebuah kesalahan, maka hasil kedepannya tidak akan baik atau malah terjadinya banyak rintangan yang harus di hadapai lebih dulu.


Ia terus saja membolak-balikan tubuhnya di atas ranjang seraya memikirkan hal apa yang harus ia lakukan setelah ini.


Menemui sang Ayah untuk meminta saran atas segala hal yang sudah terlanjur ia lewati saat ini adalah tujuan Rasya pada akhirnya."Bi, boleh Rasya bicara sesuatu ?"


"Iya bicaralah ! Ada apa ?" Tanya Ustadz Aqil melirik putranya yang terlihat sangat cemas itu.


"Bi, sahabat Rasya ada yang menyukai Putri juga. Apa yang harus Rasya lakuin Bi ? Rasya takut Putri malah berubah pikiran," ucap Rasya dengan raut wajah kekhawatirannya.


Ustadz Aqil tersenyum seraya mengusap pundak sang anak."Maka sebelum semuanya terlambat, segera katakan sejujurnya pada Putri, Sya ! Kemarin Arkan, sekarang sahabat kuliahmu, dan besok entah siapa lagi yang menjadi cobaanmu itu. Saran Abi, tidak baik kita terus-terusan menyembunyikan hal ini dari Putri Sya. Untuk masalah shalehah atau tidaknya, itu tanggung jawabmu. Semua itu masih bisa kau lakukan saat sudah menikah nanti, malah akan lebih menjadi pahala untuk kalian berdua. Dan...." Ustadz Aqil mendekatkan bibirnya ketelinga Rasya seraya berbisik,"Dan mau kau jadikan guling tidurmu tidak akan jadi masalah," ucap Ustadz Aqil memundurkan wajahnya seraya tersenyum membuat Rasya menelan slivanya.


Apa Abi tau kejadian malam itu ? Bathin Rasya panik.


"Jangan di pikirkan dari mana Abi tau. Abi tidak akan marah, cuma khawatir dirimu tidak bisa mengendalikan hawa nafsu. Segeralah jujur pada Putri ! Ya sudah ini sudah malam, tidurlah ! Abi juga mau istirahat, tentunya mengeloni Umimu," jawab ustadz Aqil berlalu pergi.


"Berarti Abi tau kejadian malam itu. Pantas saja nasi di rumah habis, ternyata tengah malam Abi juga kelaparan. Ah, sudahlah toh Abi juga gak marah," gumam Rasya lirih sebelum ia kembali kekamarnya.


***


Rasya yang sudah penuh tekad, akhirnya ia mengumpulkan kedua sahabatnya untuk berbicara 6 mata.


"Mar, Za aku ingin mengatakan sesuatu hal pada kalian !" Ucap Rasya dengan keyakinan ia akan mengatakan hal ini lebih dulu pada sahabatnya.


"Lo tegang amat Sya. Kenapa-kenapa ? Kita siap dengerin kok," ucap Reza dengan seriusnya menunggu kalimat Rasya selanjutnya.


"Aku sudah mengkhitbah Aisya."


"Apa......?" Sahabat Rasya terkejut mendengar apa yang baru saja Rasya katakan.


Pesona Aisya cewek yang selalu di bilang songong oleh Reza itu berhasil melunturkan kekutuban Rasya.


Bahkan tanpa sepengetahuan mereka, Rasya melangkah begitu cepat hingga ia berhasil mengkhitbah wanita yang dulu pernah Reza cintai.


"Aku minta maaf Za, aku tau kamu pernah suka sama Aisya. Maaf kan aku telah mengkhitbahnya tanpa sepengetahuan kalian," ucap Rasya merasa bersalah.

__ADS_1


"Hahahahhahaha santai aja kali Sya, gue udah gak suka lagi sama Aisya. Tapi gue pengen memperjuangain bidadari tak bersayap gue itu," jawab Reza akhirnya.


"Siapa ?" Tanya Rasya penasaran.


"Nanti lo bakal tau. Sekarang Reza kita ini sudah menjadi pebucin akut," sambung Amar seraya terkekeh.


"Alhamdulilah kalau gitu. Jangan terlalu berlebihan, kalian kan sudah mau belajar jadi santri. Jadi mulailah menjaga pandangan dan jarak dengan lawan jenis," ucap Rasya menhasehi kedua sahabatnya. Amar dan Reza mengangguk siap melakukan apa yang Rasya katakan.


Sementara di asrama santriwati, Aisya dan ketiga sahabatnya tengah asyik bergurau ria. Ke-empat manusia itu terlalu fokus akan perbincangannya hingga tak menyadari kedatangan Ustazah Aqila yang tak lain Bundanya Kia.


"Asalammualaikum.."


"Waalaikumsalam wr wb.."


"Bunda. Bunda dari tadi di situ ?" Tanya Kia seraya menyalami ibunya dengan di susul ke tiga temannya.


"Iya. Kalian terlalu asyik ngobrol sampai gak lihat bunda di sini," jawab Ustazah Aqila seraya tersenyum.


"Afwan bunda."


"Afwan ustazah.."


"Tidak papa. Segera ke masjid ! Sebentar lagi memasuki waktu ashar."


"Bunda pergi dulu, asalammualaikum.."


"Waalaikumsalam wr wb.."


"Gara-gara kamu nih Cha, ngobrolnya kita kebablasan," ucap Mona.


"Dih kok aku, kita semuanya salah. Jangan pengen menang sendiri deh," gerutu Icha tak terima dirinya di salahkan.


"Sudah-sudah, ayok kemasjid !" Ucap Kia melerai keduanya.


Setelah shalat berjama'ah selesai, seperti biasanya Aisya akan kerumah Ustazah Bila untuk membantu menyiapkan beberapa materi.


Biasanya Aisya akan di temani Kia, namun kali ini Kia harus membantu Mona dan Icha lalaran dan yang lainnya. Hingga mau tak mau, Aisya harus kerumah Rasya sendirian.


Aisya berjalan dengan fokus menuju rumah Ustazah Bila, hingga tidak sadar ada seseorang pula yang berjalan kearah yang sama di belakangnya.


Saat Aisya menyadarinya, ia menghentikan langkahnya sejenak tanpa memutar badannya ke belakang. Berharap seseorang itu berjalan lebih dulu darinya, namun nyatanya orang itu pun malah menghentikan langkahnya.


Aisya pasrah dan melanjutkan kembali langkahnya yang juga di ikuti kembali oleh seseorang itu.

__ADS_1


Menghentikan kembali langkahnya dan berharap kali ini orang itu mau mengalah dan berjalan mendahuluinya.


Namun harapan yang keduanya kembali sama dengan yang pertama. Dengan geram Aisya membalikan badannya berniat ingin memarahinya."Apa kau tidak bisa berjalan lebih dulu ?" Tanya Aisya dengan geram pada orang itu yang ternyata sudah membalikan badannya membelakangi Aisya.


"Bisa, tapi lebih baik perempuan jalan di depan lelaki. Bukankah begitu Aisya putri ?"


*Deg...


Bagaimana dia tau nama lengkapku* ?


Aisya menerawang kedepan memperhatikan siapa orang yang tau nama lengkapnya itu. Ah, sayangnya seseorang itu malah membalikan badannya.


"Hei, bagaimana kau tau nama lengkapku ? Kak Amar atau kak Reza siapapun dirimu, cepat balikan badanmu !"


"Apa hanya mereka yang tau nama lengkapmu dan aku tidak ?"


Ih, bikin penasaran ! Gerutu Aisya.


"Pasti mas Arkan kan ? Aduh mas, aku mohon banget jangan kasih tau mas Rasya ya kalau aku adalah Aisya putri," ucap Aisya memohon.


Seseorang itu terlihat tengah menahan senyumnya, hingga ia tak tahan lagi dan akhirnya membalikan badan seraya berkata,"Emangnya kenapa kalau saya sampai tau ?"


"Ma-mas Rasya...."


Huahhh part yang di tunggu-tunggu akhirnya...


netesss.....


**Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian yakk


Biar Author makin semangat upnya...


Sekali-kali atuh, kasih Author koin😂😂


Happy Reading guys**...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2