
Tanpa ia sadari, Rasya telah mengulum senyum yang bahkan sangat jarang ia perlihatkan.
Menyandarkan kepalanya di kursi kebanggaan seraya mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi.
Gemas hanya karna kata itu Rasya tidak bisa menghentikan senyumannya.
Hingga ketukan pintu, berhasil membuyarkan khayalannya.
"Permisi kak, apa kak Rasya memanggil saya ?" Tanya mbak Dewi, orang kepercayaan Rasya selain meneger kafe nya.
Rasya mengangguk."Masuk mbak !" Pintanya.
Mbak Dewi berjalan mendekat sesuai perintah, pandangannya menunduk dan ia berdiri tepat di sebelah kiri Rasya dengan jarak sekitar satu meter.
"Besok akan ada karyawan baru, saya hanya minta mbak Dewi membantu membimbingnya !"
"Baik kak. Apa karyawannya wanita ?"
"Na'am, dan dia adalah wanita yang tadi mbak Dewi tolong," jelas Rasya menceritakan hal inti pada mbak Dewi.
"Lalu untuk seragamnya bagaimana kak ?"
"Terkhusus untuk dia, tidak perlu !"
"Baik kak, saya mengerti. Mohon izin keluar !"
"Silahkan !"
Rasya memilih untuk pulang setelah dirasa semua urusan di Kafe telah selesai.
Entah kapan kebahagiaan yang seutuhnya menghampiri hidup Rasya, namun saat ini yang terpenting tujuan utamanya adalah Aishi. Demi Aishi ia harus kuat dan tegar walau sejujurnya ia sendiri sudah sangat lelah dalam ke pura-puraannya.
Huh helaan nafas yang ter-amat sesak ia hembuskan. Matanya berair seraya menatap jalanan, mungkin matanya masih bisa fokus akan kemudi, tapi tidak dengan pikirannya saat ini.
Kehidupan yang selama 6 tahun tanpa istri di sampingnya, membuat Rasya harus merasakan betapa perih dan pahitnya kehidupan.
Semua telah ia lalui dengan sabar dan ikhlas, walau sejatinya hati tidak bisa di bohongi tentang semua yang terjadi ia masih tidak bisa menerimanya.
Aku merindukanmu, sangat ! Kata yang selalu Rasya ucapkan setiap harinya tanpa pernah absen adalah Rindu.
Hingga akhirnya mobil itu berhenti tepat di pelataran rumah mertuanya.
Sebelum turun, Rasya mengusap sisa air mata yang masih menempel bahkan sudah mengering di bagian wajahnya.
****
Berbeda lagi di kediaman Evan saat ini, Aisya tampak gusar dan cemas bagaimana ia akan mengatakan niatnya itu pada Evan ? Sementara ia tak punya keberanian lebih untuk berhadapan dengan lelaki yang satu ini.
'Ayo Isya, kamu pasti bisa ! Mau sampai kapan hidupmu selalu bergantung pada orang lain, sementara jiwa dan ragamu masih sanggup untuk mencari nafkah sendiri. Ya, aku harus bisa mengatakan ini ke kak Evan' Bathin nya bergumam seraya mengumpulkan sisa keberanian nya.
Aisya berjalan mencari keberadaan Evan saat ini, sudah dipastikan di jam segini Evan berada di ruang kerjanya.
__ADS_1
Tok..
tok..
"Masuk !" Jawabnya dari dalam.
"Kak !"
Evan menoleh ke sumber suara yang sangat ia hafal siapa pemilik suara itu. Ia tersenyum,"Kemarilah !"
"Ada yang ingin kau katakan ?" Tanya Evan memahami raut wajah Aisya yang penuh dengan rasa cemas.
Aisya mengangguk kecil, membuat Evan kembali tersenyum seraya memutar kursinya untuk bisa berhadapan dengan wanita yang ada di sampingnya saat ini.
"Apa ?"
"Kak, bolehkah Isya bekerja ?"
Raut wajah Evan berubah seketika, ia tampak terdiam mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Isya mohon kak, tolong izinkan Isya bekerja !"
"Apa semua yang ku berikan itu masih kurang, Isya ?"
"Justru karna hal itu kak Evan. Mau sampai kapan Isya selalu bergantung hidup sama kalian, mau sampai kapan kak ? Isya merasa hidup Isya gak ada gunanya jika terus seperti ini."
"Kamu adalah calon istriku, Isya, untuk apa kau bekerja jika aku saja sebagai calon suamimu sanggup memenuhi semua kebutuhanmu," ucap Evan merasa kurang setuju dengan perkataan calon istrinya.
"Apa itu artinya kau akan pergi dariku, Isya ?"
"Bukan gitu kak, Isya hanya minta satu hal saat ini, tolong izinkan Isya bekerja !"
Huh Evan menghela nafasnya, mau berdebat bagaimanapun ia dengan Aisya, sudah di pastikan ia akan kalah. Kesedihan Aisya adalah kelemahannya, apapun keinginan Aisya selama ini Evan tidak pernah menolaknya. Namun untuk bekerja, 100 kali Evan harus berfikir ulang untuk memenuhi keinginan calon istrinya itu.
"Isya mohon kak !" Ucapnya lagi seraya memohon.
Evan melirik menatap lekat netra wanita itu, semburat kesedihan terlihat jelas di matanya.
Evan mengangguk kecil seraya berkata,"Tapi berjanjilah, kau tidak boleh lelah, apa lagi sampai membuatmu pingsan !"
"Siap kak, Isya janji !" Jawabnya seraya tersenyum bahagia.
Izin dari Evan telah ia dapatkan, saat ini sudah waktunya beristirahat dan Aisya pun memapankan dirinya di ranjang untuk segera tidur.
Besok adalah hari pertamanya bekerja, sebisa mungkin Aisya datang tepat waktu dan mendisiplinkan diri sebagai karyawan baru.
****
Hiruk pikuknya kota jakarta semakin terasa saat sang fajar telah muncul menduduki tahtanya menjaga bumi.
Setelah Aisya menyelesaikan shalat subuhnya, saat ini ia di pusingkan dengan memilah-milih pakaian yang akan ia kenakan untuk mengawali pekerjaannya.
__ADS_1
Setengah jam lamanya setelah ia berkutat di depan lemari, dan akhirnya keputusan telah ia tekadkan pada baju pilihan pertamanya.
'Kalau akhirnya ini lagi, kenapa harus setengah jam aku bingung memilih baju ? Huh, apa untuk berusaha yang terbaik itu seperti ini ?'
Jam setengah 7, Aisya sudah berada di kafe tempatnya bekerja. Bahkan ia adalah orang kedua yang datang lebih awal setelah mbak Dewi.
"Asalammualaikum ukhty," sapa mbak Dewi menghampiri Aisya.
"Waalaikumsalam wr wb, panggil Isya saja mbak !" Pintanya merasa tidak nyaman dengan panggilan ukhty.
"Baiklah," jawab mbak Dewi seraya tersenyum.
"Apa bos kita selalu datang ke kafe setiap hari mbak ?"
Mbak Dewi menggeleng,"Kak Rasya tinggal di bandung, di jakarta hanya mengunjungi kedua mertuanya. Ya sekaligus cek kafe," jelas mbak Dewi, Isya terlihat mengangguk mengerti.
"Bimbing saya untuk awal pekerjaan saya ya mbak, maaf kalau merepotkan !"
"Tidak sama sekali, bahkan kak Rasya pun meminta hal sama, jadi tidak perlu khawatir," jawab mbak Dewi tersenyum.
Isya memulai pekerjaan sesuai arahan dari mbak Dewi. Satu-persatu karyawan kafe berdatangan, hingga akhirnya pemilik kafe pun datang dengan menggendong anak kecil yang tempo lalu Isya temui.
"Masyaallah, apa Ici adalah anak pak Rasya ?" Gumam Aisya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Benar, adek Ici adalah anak kak Rasya. Tapi sayangnya, dari bayi ia sudah kehilangan ibunya," jawab mbak Dewi yang melintas dan mendengar gumaman Aisya.
"Astagfirullah, kasihan sekali."
"Iya, kasiha....n."
"Umi..................!"
Ici berlari menghampiri Aisya setelah ia turun dari gendongan abinya.
Rasya yang tengah berbicara dengan salah satu karyawannya, tiba-tiba menghentikan kalimatnya dan merasa penasaran dengan wanita yang Ici sebut sebagai uminya.
Ia mengikuti langkah Ici sampai akhirnya berhenti ketika melihat pemandangan yang sangat mengharukan antara ibu dan anak.
I-isya......
**Mohon maaf kalau Author baru up...
Author lagi berduka, kehilangan kakek tercinta kami untuk selama-lamanya.
Mohon doanya saja !
Happy Reading guys
Votenya jangan lupa**
Bersambung
__ADS_1