Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Kebahagiaan tengah dinikmati sepasang suami istri yang baru saja halal itu. Usaha yang tidak sia-sia jika mengingat bagaimana Aisya begitu mencintai pria satu itu hingga nekat merubah penampilannya dan memutuskan untuk berhijrah sekaligus berniqab.


Di tengah angin senja yang mendesak, pasangan halal ini merasakan kekuasaan waktu, yang tanpa pandang bulu mengubah segala-galanya.


Menikmati secangkir teh di sore hari seraya menunggu waktu adzan magrib tiba.


"Kenapa sih mas, ngeliatinnya kok gitu banget ?"


"Mas cuma gak nyangka aja sayang, Aisya putri yang dulunya petakilan, suka pakai baju yang kurang bahan, dan sekarang kamu berubah menjelma bidadari surga, dek. Terima kasih atas usahanya, memantaskan dirimu untuk bisa bersanding denganku !"


"Awalnya semua Aisya lakuin cuma buat kamu mas, buat dapetin perhatian kamu. Tapi sekarang Ais sadar, tujuan Ais itu salah. Makanya sekarang Ais ikhlas merubah diri dan berhijrah hanya karna Allah ta'ala, menjunjung tinggi derajat wanita seperti yang rasullullah contohkan di zamannya," jawab Aisya membuat Rasya tersenyum kagum.


"Masya Allah, istri mas makin pinter ya..."


"Semua itu juga berkat bantuan mas, juga keluarga besar pesantren ini."


"I love you, sayang..." ucap Rasya seraya mengelus jari-jemari lentik Aisya.


"Love you more mas !"


Ah....uwwunya mereka, Author jadi pengen he he he


Adzan magrib telah berkumandang. Seluruh penghuni pesantren berbondong-bondong datang kemasjid untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, begitu pun dengan Aisya juga Rasya yang kali ini mengikuti ja'maah bersama di masjid pesantren.


Aisya yang mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di masjid ini membuatnya seolah punya kebahagian tersendiri.


Di sinilah, janji ikrarmu terucap Mas. Bahkan rumah Allah yang menjadi saksi bisu sumpah janjimu.


Maka ku mohon, jagalah janji itu hingga akhir hayat memisahkan kita....!


Shalat baru saja usai, namun Aisya masih duduk di shafnya mengingat suaminya selalu berkata,"Jangan berebutan saat keluar masjid nanti dek ! Mas gak mau kamu kenapa-napa."


Ah, suamiku itu selalu sweet banget sih ?


Uhhhh jadi geumezsss...


"Sayang, masih betah di situ ?" Tanya Rasya yang melihat istrinya tengah melamun seraya tersenyum-senyum sendiri.


"Eh, udah bubar ya ?" Aisya tidak menyadari jika masjid kali ini sudah sepi, hanya terlihat beberapa santri yang masih mengaji di sana.


Rasya hanya menggeleng melihat bagaimana tingkah istrinya yang sudah pasti tengah berkhayal.


"Jangan kayak upin ipin dek !"


"Kenapa ?"


"Anak kecil yang suka berkhayal," jawab Rasya membuat Aisya terkekeh seraya melepaskan mukenanya.


Keduanya berjalan kembali menuju rumah dengan bergandengan tangan. Tak jarang para santriwati yang kagum melihat pasangan itu begitu serasi, namun tidak sedikit juga dari mereka yang iri dengan posisi Aisya saat ini.


"Asalammualikum.."


"Waalaikumsalam.."


"Kalian udah kayak mau nyebrang jalan aja, gandengan segala," ucap Kia membuat pasangan itu malah tersenyum.


"Salah satu keromantisan suami istri ya dengan gandengan tangan dek. Kamu mau kemana ?" Tanya Rasya.


"Kerumah abang, di minta bunda ambil titipin ke umi," jawab Kia membuat Rasya mengangguk.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Rasya mengingat dengan ucapan kedua sahabat yang meminta bantuannya itu.


Kepada orang yang sama dengan masalah yang sama pula.


"Kia, abang mau bicara hal penting sama kamu !"


"Sepenting itu ?"


"Sejak kapan abang becanda sih dek ?"


"Iya, iya. Katakan apa mau ngomong apa ?"


"Kita bicara di rumah !" Ucap Rasya membuat Kia mengangguk. Sementara Aisya tidak terlalu begitu kepo dengan urusan Rasya dengan Kia.


Palingan tidak jauh-jauh dari urusan pesantren, pikir Aisya.


..."Abang mau ngomong hal penting apa ?" Tanya Kia penasaran dengan apa yang akan Rasya bicarakan....


"Mas, Aisya kedalem duluan ya ?!"


"Gak kepo emang ?" Tanya Rasya pada istrinya.


Aisya meringis, kemudian ia menggeleng membuat Rasya menganggukkan kepalanya.


Kini tinggalah Rasya dengan Kia yang saling bertatap muka dengan seriusnya.


"Jawab abang dengan jujur dek, jika abang merekomendasi dua lelaki untuk kau pilih salah satunya bagaimana ?"


Deg...


Apa jangan-jangan abang tau tentang kak Reza ya ? Bathin Kia bertanya.


"He he he, Kia gak mau milih bang. Kia belum siap jatuh cinta, takut sakit hati yang kedua kalinya," jawaban Kia membuat Rasya semakin bingung.


"Apa salahnya pengenalan dulu melalui ta'aruf dek. Kalau gak mau ya gak usah diterusin !"


Kia terdiam, mencerna kembali dengan ucapan kakaknya."Emang siapa yang mau abang rekomendasikan buat Kia ?" Tanyanya semakin penasaran.


"Sahabat abang."


Bener kan dugaanku, pasti abang tau deh tentang kak Reza. Tapi sahabat abang satunya siapa ? Apa mungkin kak Amar, ah masa iya sih ? Atau bang Arkan...ah dia lagi, mana mungkin.


"Apa ada yang mengatakan sesuatu dek ?"


"Iya."


"Siapa ?"


"Kak Reza," jawab Kia singkat.


"Lalu Kia jawab apa ?"


"Kia gak bisa jawab apa-apa bang. Menurut Kia semua yang kak Reza katakan itu sudah terlambat," jelas Kia yang tentunya membuat Rasya semakin tidak mengerti.


"Maksudnya gimana ?"


"Kia memang sempet mengagumi Kak Reza bang. Tapi di saat Kia tau kenyataannya kalau kak Reza itu menyukai Aisya, hari itu juga Kia mundur, Kia nyerah. Dan pada akhirnya Kia berhasil melupakan perasaan yang sama sekali belum terpupuk itu," jelasnya.


"Yakin, kalau perasaanmu itu sudah tidak ada lagi ?"

__ADS_1


"Kia yakin, seyakin-yakinnya !" Jawabnya mantap.


"Kalau sama Arkan bagaimana ?"


Pertanyaan Rasya kali ini membuat Kia mendelik tidak percaya. Apa jangan-jangan sahabat abang satunya itu adalah abang Arkan ? Tapi tidak mungkin kan ? Atas dasar apa abang Kan suka sama Kia ?


"Gak mungkinlah bang, jangan ngaco deh. Kia tau bagaimana abang Kan, yang jelas orangnya selalu becanda. Mana mungkin dia bisa serius," jawab Kia tidak percaya.


"Tapi nyatanya dia serius Kia."


*Deg....


Hah, ini beneran serius* ?


"Buktinya apa ?" Tanya Kia yang terlihat semakin menantang.


"Mau bukti ?" Tanya Rasya membuat Kia mengangguk.


"Tunggu sebentar !" Rasya masuk kedalam rumah. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan ponsel di tangannya.


Kia semakin bingung dengan apa yang akan abangnya lakukan. Atau jangan - jangan....


"Abang mau ngapain ?" Pertanyaan Kia tidak dijawab olehnya, namun Rasya malah menunjukan panggilan telfon yang jelas nama kontaknya adalah Sohib Arkan.


Kia melotot tidak percaya dengan apa yang Rasya lakukan, ia berusaha merebut ponsel dari tangan abangnya itu untuk mematikan panggilan telfonnya.


"Hallo...hallo Sya, apa kamu masih di sana ?" Terdengar suara Arkan dari sebrang telfon.


"Iya Kan, ana masih di sini. Sekarang bicaralah ! Kia perlu bukti atas niatan ente itu," jawab Rasya yang masih berusaha menghindar dari Kia yang ingin merebut ponselnya.


"Ngomong dek, ini masa depanmu, maka itu perlu pertimbangan yang matang !" Ucap Rasya tegas membuat Kia terpaksa menerima ponsel itu dan berbicara pada Arkan.


"Ha..hallo...."


***


Tahukah kamu, Kia? Memiliki adik sepertimu adalah karunia yang sangat luar biasa.


Seorang kakak laki-laki akan mengalah pada adik perempuan, dan akan melindunginya.


Walaupun abang sering memarahimu, tapi abang akan tidak sudi jika ada orang lain yang mencoba mencelakaimu.


Berjuanglah sekuat tenaga, Kia. Jangan menyerah! abang tahu, kamu adalah orang yang paling kuat yang pernah abang kenal, maka ikutilah kata hatimu !


Aku memiliki keluarga yang luar biasa, dan aku memiliki kehidupan yang sangat menyenangkan, ditambah lagi memiliki istri yang sangat aku cintai.


Rasya syafaraz


Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian dong...


Biar Author makin semangat buat Upnya..


Sekali-kali kasih Author Koin atuh !!!

__ADS_1


Happy Reading guys..


Bersambung


__ADS_2