
Hari-hari berlalu, Aisya yang merubah nama panggilannya menjadi Putri saat ini telah mendarah daging dalam dirinya.
Bukan tidak ingin ia dipanggil dengan nama Aisya, mengingat kenangan lalu bahwa Rasya tidak meliriknya sama sekali, bahkan kata-kata manis terakhirnya itu cukup membuatnya terbawa suasana sekaligus juga hampa.
Aisya menganggap apa yang Rasya katakan saat itu adalah bentuk ungkapan rasa cintanya, namun setelah kepergian Rasya, Aisya mengubah pernyataannya menjadi sebuah pujian semata.
Kukira itu kaos
Eh, ternyata kemeja
Kukira masnya serious
Eh, ternyata cuma becanda. Uluhhh nyesek !
Angin semilir menerpa bagian wajahnya, mengingat bagaimana kehidupannya yang sangat tidak beruntung dalam hal asmara. Petakilan dan cuek itulah sifatnya yang dulu, jauh berbeda dengan sekarang setelah kedatangan Rasya. Hidup Aisya berputar arah demi mengejar cinta yang ia anggap sejati itu.
"Ternyata langkahku sudah sejauh ini," gumamnya seraya tersenyum tipis dibalik niqabnya.
"Asalammualaikum, teh Put.."
"Astagfirullah, eh iya waalaikumsalam."
"Afwan teh, cuma mau nyampein kalau teh Putri dipanggil ustazah Bila !"
"Na'am, syukron dek."
"Afwan teh. kalau gitu Ana pamit, asalammualaikum," ucapnya berlalu pergi.
"Waalaikumsalam wr wb.."
Kenapa ustazah memanggilku ya ?
Bukanlah beliau itu, ibunya kak Rasya ? Gumam Aisya bertanya dalam hati.
Kakinya melangkah menuju rumah ustazah Bila.
Dag dig dug der jantung Aisya berdegub dengan tak beraturan menemui wanita yang tak lain orang tua dari pria yang ia cintai.
Pasalnya ustazah Bila tidak pernah mengajar di kelasnya, namun sesekali bertemu di rumah Umi Bul² saat ia membantu beberes disana.
"Asalammuaalikum.." Aisya mwngucapkan salam setelah berhasil mengumpulkan keberanian disisa kegugupannya.
"Waalaikumsalam.."
Deg..
Bukanlah Ustazah Bila yang membuka pintu, melainkan seseorang dengan wajah tampan khas bangun tidur yang menyapanya.
"Eh mbak Putri, masuk mbak silahkan !"
Aisya hanya mengangguk. Ia mencoba menghela nafasnya perlahan namun hal itu ia lakukan beberapa kali untuk menenangkan sedikit detak jantungnya.
"Afwan Mas, eh Gus..apa Ustazah Bilanya ada ?"
__ADS_1
Rasya tersenyum mendengar Aisya menyebutnya dengan 2 nama. Pasalnya Aisya selalu memanggilnya dengan sebutan Mas, namun saat semua santri menaggilnya dengan kata Gus, ia merasa malu sendiri. Bahkan kata mas itu terdengar sangat romantis menurutnya. Apa itu tidak terlalu berlebihan ?
"Jangan dipaksa kalau tidak nyaman Mbak. Panggil saja saya Mas seperti biasanya !" Ucap Rasya yang membuat Aisya tersenyum seraya mengangguk.
"Mau bertemu dengan Umi ?" Aisya mengangguk.
"Duduk dulu mbak ! Saya akan panggilkan Umi." Lagi-lagi hanya anggukan kepala yang bisa Aisya berikan sebagai jawabannya. Entah ada apa dengan dirinya saat ini, sungguh rasa malu itu tiba-tiba saja muncul saat berhadapan langsung dengan Rasya. Padahal bukankah dulu ia tidak pernah ada rasa malu sedikit pun ?
Allah maha membolak balikan hati manusia yang berhasil membuat seorang Aisya Putri tersadar dari sikapnya yang begitu jauh dari shalehah.
"Asalammualaikum ustazah.." sapanya saat melihat ustazah Bila menghampiri.
"Waalaikumsalam wr wb.." jawabnya dengan tersenyum ramah.
"Ada apa ustazah memanggil saya ?"
"Begini, saya setiap hari sibuk bukan hanya di pesantren, tapi juga saya mengajar di luar pesantren. Bisakah Putri membantu saya menyiapkan beberapa materi untuk anak-anak ?"
"Tapi Ustazah, apa saya mampu membantu ustazah dalam hal ini ? Agama saya saja belum sepadan dengan ustazah," ucap Aisya merasa tidak pantas.
"Saya sudah mengetahui semua tentang kamu Putri, kamu mahasiswi di kampus yang sama dengan Rasya kan ? Tidak mungkin kamu tidak mengenal anak saya," ucapnya membuat Aisya terkejut bukan main.
"Da-dari mana ustazah tau saya mahasiswi ?" tanyanya dengan gugup.
Ketika ia meminta izin kepada orang tuanya untuk masuk pesantren, saat itu juga ia menyembunyikan indetitasnya yang sebagai mahasiswi.
Dan hal itu, hanya Umi Bul² serta Kyai Farhan yang tau.
"Saya mohon ustazah, tolong jangan beritahu siapa pun kalau saya mahasiswi !"
"Baiklah, tapi biar adil kamu juga harus membantu saya ! Bagaimana ?"
"Na'am ustazah, saya bersedia."
Bukan tanpa asalan saya menyuruhmu untuk membantu menyiapkan materi, Putri.
Melainkan semua ini adalah permintaan Rasya..
Apapun yang membuat anak saya bahagia, kenapa harus saya tolak melakukannya ?
Melihat bagaimana kamu, saya mengingat bagaimana perjuangan saya selama 5 tahun untuk mendapatkan kak Aqil di masa itu..
Cinta membuat kita tidak waras...
Tidak perduli santri maupun wanita pada umumnya, jika urusannya adalah hati...maka bagiku sama saja.
***Sekeras apapun ombak menerpa, setegar karang aku kan berdiri. Impian indah ini adalah hak kita untuk memperjuangankannya, walaupun tetap takdirlah yang sempurna di atas segalanya.
Hujan adalah bahagiaku yang sederhana
Bagiku hujan itu indah, hujan itu menyenangkan.
Aku merasa berarti saat aku sendirian.
__ADS_1
Tidak perlu bicara, apa lagi keramaian
Aku bisa menciptakan kebahagianku sendiri
Aku gak perlu menunggu malam menjemput sang mimpi.
Karna aku hidup dalam imajinasi...
Aku tidak perlu jatuh cinta untuk merasakan apa itu cinta..
Aku tidak perlu kehilangan untuk merasakan sedih dan hampa. Cukup berdiri menatap matahari yang perlahan terbenam, bagaikan sang putri yang tersenyum dan terlelap dalam peraduan.
"Cintai aku karna Allah, dan aku pun akan mencintaimu karena Allah. Allah telah berjanji melalui insan rasullullah, setiap hamba akan di kumpulkan dengan dia yang di cintai..
maka cintailah mereka yang mencintai karna Allah, maka beruntunglah kamu karena akan di kumpulkan dengan mereka" HR. Muslim (No.1520)
Ia pikir, hal tersulit dalam hidupnya adalah memahami perasaan, ternyata tidak. Mengendalikan dugaan pun sulit. Dugaan mampu membuat perasaan menjadi kacau. Kalau kesedihan bisa muncul karna dugaan, maka bisa lenyap akan hal itu pula.
Jika aku tulus mencintaimu tanpa syarat apapun, kenapa harus takut bersaing dengan mereka yang memiliki banyak harta ?
Yang aku inginkan hidup bersamamu dalam suka mau pun duka..
Merintis dari nol kehidupan yang sesungguhnya, keharmonisan yang tidak pernah terlupakan atau bahkan hilang dalam memory.
Sungguh, aku menantikan di mana Allah akan menyatukan kita dalam berbagai ujian kedepannya.
Di mana Allah menguji kesabaranku akan mengejar cintamu, mengajakmu kejalan yang benar bersama dan menjadikanmu penyempurna agama kita.
Rasya syafaraz
***Hayo loh...Sebenernya Rasya tau gak sih kalau Putri itu adalah Aisyanya ?
Kalau pun ia tau, kenapa tidak berkata jujur dan mengakui kalau ia mengenalnya ?
Apa jangan-jangan Rasya punya misi khusus ?
huahhh pokoknya tungguin aja terus...
sedikit yang penting up ya guys...
Author bagi ide sama novel di pf sebelah.
Jangan lupa***..
Like
komen
dan votenya yang banyak ya !!!!
Biar Author makin semangat buat upnya
Sekali-kali kasih Author Koin atuh !!
__ADS_1