Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Rasya masih setia menemani istrinya yang tengah beristirahat di kamar.


Mengingat perlakuan uminya pada Aisya beberapa bulan terakhir ini, Rasya menatap wajah cantik itu dengan penuh rasa iba dan bersalah.


Air matanya menetes seketika, tidak bisa dibayangkan bagaimana tertekannya Aisya selama ini.


Sayang, Aisya tidak pernah menceritakan bagaimana perlakuan uminya. Yang selalu ia katakan hanya memaklumi sikap umi yang berubah menjadi dingin karna menantunya tak kunjung hamil hingga sampai saat ini.


Alasan itu sangat tidak klasik untuk Rasya, apa lagi pernikahannya dengan Aisya belum genap satu tahun. Dan seharusnya, mereka sebagai orang tua yang harap bisa memaklumi dan lebih banyak untuk bersabar menunggu.


Aisya yang merasakan ada tetesan air yang mengenai matanya, perlahan mengerjapkan dan membuka matanya.


"Mas..." panggilnya dengan suara lirih.


Rasya membuang muka terlihat menyeka dan mengusap sisa air yang ia teteskan dari pelupuk matanya.


Tidak ingin istrinya tau, buru-buru Rasya memposisikan wajahnya dengan menatap istrinya dengan lekat.


"Mas nangis ?"


Rasya menggeleng dengan cepat dan memaksakan untuk tersenyum di depan Aisya.


"Biar mas bantu !" Ucapnya setelah melihat Aisya yang hendak mendudukan setengah badannya.


Aisya menempelkan tangannya di pipi sang suami, ia menatap lekat manik mata yang baru saja mengeluarkan cairan berning tak bersalah itu."Mas gak perlu khawatir, insyaallah Aisya baik-baik saja," ucapnya tau kalau suaminya itu tengah memikirkan kondisi Aisya saat ini.


Rasya menggeleng."Boleh mas minta satu hal dek ?"


Aisya mengangguk."Apa ? Mas mau minta apa dari Ais ?"


"Tinggallah untuk sementara waktu di rumah bunda, sayang !"


"Aisya suka di pesantren mas, Aisya nyaman dan betah disini," jawabnya.


"Tapi mas yang gak nyaman dan gak betah sayang, melihatmu selalu diperlakukan buruk oleh umi. Bagaimana kalau orang tuamu tau hidup anaknya disini ? Mas akan semakin merasa bersalah dek," jelas Rasya mencoba menjelaskan bahwa ia merasa tidak sanggup lagi melihat Aisya tertekan oleh uminya.


"Tapi mas, Ais memakl...."


"Mau sampai kapan kamu selalu memaklumi sikap umi yang berubah ? Sementara umi sendiri tidak bisa memaklumi kita dek," pangkas Rasya membuat Aisya terpaksa harus menghentikan kalimatnya.


"Tapi mas, Ais...."


"Gak ada bantahan Aisya ! Ini keputusan final yang sudah mas tekadkan. Jadi tolong menurut lah !" Pangkas Rasya lagi namun dengan nada bicara yang sedikit tegas kali ini.


Aisya menganggukinya. Percuma ia akan berdebat dengan Rasya panjang lebar kalau akhirnya keputusan suaminya itu tidak bisa diganggu gugat.


"Lalu bagaimana dengan mas, apa mas juga akan tinggal di jakarta ?"


"Mas tidak bisa meninggalkan tanggung jawab mas di pesantren sayang. Tapi mas bisa kok satu minggu sekali kejakarta, mas juga kan perlu energi sayang," ucap Rasya sedikit menggoda di ujung kalimatnya.

__ADS_1


"Apaan sih mas, jangan kumat deh. Inget, Aisya lagi sakit !" ucapnya mengingatkan.


"Sakit, bukan berarti tidak akan sembuh kan ? Jadi bisalah, nganu-nganu," jawab Rasya.


"Ih, mesum."


Rasya terkekeh kecil. Ia bahagia bisa menghadirkan senyuman manis dari bibir istrinya walau ia tau bathin Aisya merasakan hal yang lain.


***


Sementara di hiruk pikuknya kota jakarta, bunda Elsa selalu meminta suaminya untuk meliburkan pekerjaan sementara waktu, karna ia begitu merindukan putri semata wayangnya di pesantren.


"Ayolah yah, sehari aja !" Pinta bunda Elsa seraya memohon.


"Iya sayang, akhir pekan kita mengunjungi Aisya. Ayah masih banyak mitting 2 hari kedepan," jawab ayah Rama.


"Janji ya yah !"


"Iya, ayah janji."


Sebenarnya bukan tanpa alasan bunda Elsa selalu meminta berkunjung kepesantren anaknya. Akhir-akhir ini ia selalu memimpikan Aisya yang tengah menangis tersedu sendirian, seolah ia sedang menatapi nasib hidupnya yang begitu berat.


Aku gak mungkin ceritakan ini sama ayah, yang ada ayah akan bilang kalau mimpi ku itu hanya bunga tidur.


Aku ingin menemui putriku langsung, memastikan kalau dia baik-baik saja sekarang.


Sayang, bunda merindukanmu nak !


***


Sejujurnya juga tak rela harus berpisah dengan istrinya walau itu hanya sementara waktu. Tapi walau bagaimanapun hal ini ia lakukan demi ketenangan Aisya juga kebaikannya.


Mungkin dengan cara ini umi akan menerungi semua perkataannya pada Aisya.


Perlahan tapi pasti, Rasya akan membuat umi sadar dengan apa yang selama ini ia lakukan pada istrinya, bahwa itu semua adalah salah.


"Gak perlu bawa banyak mas, di rumah bunda masih ada," ucapnya pada Rasya.


"Yang di lemari kamu itu baju kurang bahan sayang, mas gak suka adek make baju begituan," ucap Rasya merasa tidak setuju dengan pakaian Aisya yang dulu.


Aisya terkekeh. Memang benar, pakaian yang di rumah bundanya adalah pakaiannya yang dulu. Pakaian yang selalu membuat Rasya sakit mata jika melihatnya.


"Sumbangkan saja baju-baju adek yang di rumah bunda, bila perlu bakar sekalian !" Ucap Rasya sedikit kesal mengingat Aisya yang dulu selalu mempertontonkan kemolekan tubuhnya dengan memakai pakaian yang kurang bahan itu.


"Iya mas, iya..." jawab Aisya seraya menggeleng.


Setelah semua persiapan lengkap tersusun rapi di dalam koper, Rasya menarik koper itu keluar kamarnya.


"Kamu mau kemana Sya ?" Tanya abi Aqil yang baru saja pulang dari shalat jama'ahnya di masjid. Ia terkejut setelah masuk kedalam rumah mendapati Rasya dengan koper yang sudah pasti berisi pakaian dan keperluan lainnya. Tak lama dari itu muncul Aisya di belakang Rasya dengan membawa bag kecil kesayangan.

__ADS_1


"Neng Aisya, Rasya, kalian pada mau kemana ?" Tanya abi lagi setelah pertanyaan pertamanya tak kunjung mendapat jawaban.


"Afwan bi, Rasya mau mengantar Aisya ke Jakarta," jawabnya singkat, padat namun jelas.


"Tapi kenapa nak ? Apa ada masalah dengan orang tua kalian di sana ?"


"Mereka tidak ada masalah bi, dan mereka juga baik-baik saja. Yang bermasalah adalah orang tua Rasya disini, bukan mertua Rasya !"


Ustad Aqil mulai mengerti dengan ucapan anaknya yang sudah pasti ingin melindungi Aisya dari sikap umi Bila yang sudah membuat menantunya itu merasa tertekan.


"Maafkan umi kalian nak, abi tidak akan melarangmu kemana pun kalian pergi demi ketenangan, abi mendukungnya. Abi hanya minta satu hal, jaga diri baik-baik. Dan sering-sering lah mengabari kami, satu lagi abi harap tidak ada dendam sedikit pun di hati kalian pada umi. Walau bagaimanapun, beliau adalah ibu kalian, surga kalian ada di telapak kakinya !"


"Na'am abi, Rasya faham. Syukron abi telah memahami apa yang sudah menjadi keputusan kami..."


"Hati-hati ya, salam untuk kedua orang tuamu di jakarta neng !" ucap abi Aqil pada menantunya.


Aisya mengangguk."Akan Aisya sampa....


"Apa, jadi kalian mau kejakarta ?"


***


sabar menghadapi cobaan bisa menjadi penenang saat masalah datang. Hampir semua orang pastinya mengalami beragam permasalahan dalam kehidupan.


Kata sabar menjadi ungkapan yang sering terucap saat seseorang terkena cobaan hidup. Mudah memang mengatakan sabar saat mendapat masalah.


Namun, sabar bisa dikatakan susah untuk dipraktikkan. Apalagi buat orang-orang yang gampang atau mudah tersulut emosinya.


Ada ungkapan mengatakan jika sabar ada batasnya, namun ada pula yang mengatakan jika sabar tak ada batasnya. Hanya orang-orang berjiwa besar dan lapang yang mampu menerapkan sikap sabar dalam kehidupan sehari-hari.


Terkadang kita harus bersabar dan mengikhlaskan semua yang kita lakukan tidak sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan


Kita hanya bisa berdoa kepada Tuhan, semoga di balik semua kesusahan ada kebahagiaan.


Sabar itu adalah merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan, tetapi sabar itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa indahnya.


Sebuah masalah merupakan tamu yang tak diundang didalam kehidupan kita, dan kita harus perlakukan dia sebaik mungkin, maka kita juga akan diperlakukan dengan baik olehnya.


Aisya putri


**Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian


Happy Reading guys**

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2