Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Rasya tengah memperhatikan istrinya yang sedang mengemas barang mereka, mengingat hari ini adalah hari terakhirnya berkunjung ke jakarta.


Setelah mendapatkan manisan kedondong yang Aisya minta, mereka memutuskan untuk segera pulang dan merasa tak sabar ingin merebahkan tubuhnya yang merasa lelah itu.


"Mas.." panggil Aisya tanpa melihatnya.


"Hem, kenapa sayang ?"


"Bagaimana kalau aku gak bisa hamil mas ? Apa mas akan memadu Ais ?"


Rasya langsung menghampiri istrinya, menggenggam kedua tangannya meminta untuk mentapnya dengan lekat.


"Apapun yang terjadi, mas gak akan ninggalin kamu sayang. Jangan berfikiran yang macem-macem, karna mas gak akan melakukan seperti yang kamu bayangkan itu !"


Ya Allah, bagaimana kalau kenyataannya aku tidak bisa memberikan mas Rasya seorang anak ? Aisya takut mas, sangat takut. Aisya tidak mau dipoligami !"


Aisya hanya mengangguk walau hatinya masih tidak yakin. Takdir siapa yang tau, apa salahnya kita memikirkan hal negatif lebih dulu untuk menyiapkan segala sesuatu yang akan terjadi kedepannya.


Walau pemikiranannya belum tentu pasti, tapi ketakutan begitu menyeruak dalam diri Aisya.


Bagaimana ia merasa tidak sanggup untuk di duakan, tidak sanggup untuk dihina banyak orang dan tidak sanggup melihat orang tuanya merasa kecewa.


Meskipun yakin akan cinta dari suaminya, tidak menutup kemungkinan Rasya akan berpaling jika sampai Aisya tidak bisa memberikannya keturunan. Siapa orangnya yang tidak ingin memiliki seorang anak dalam keluarga ? Dan Aisya sangat yakin, mertuanya sangat-sangat mendambakan seorang cucu, terlebih lagi Rasya adalah anak tunggal yang sudah pasti harapan pada anaknya sangatlah besar.


"Jangan dipikirkan !" Tambah Rasya lagi dan segera menarik Aisya kedalam pelukannya.


Ya Allah, hanya engkaulah yang tau bagaimana takdir kami kedepannya.


***


Menjelang sore, Kia baru saja pulang dengan diantar kedua sahabat lainnya.


Kegiatan yang cukup melelahkan, pikirnya.


"Asalammualaikum."


"Waalaikumsalam, baru pulang nak ?" Ucap bunda Elsa setelah membukakan pintu.


"Na'am bun, di kampus banyak kegiatan. Abang sama Aisya mana ?" Tanya Kia melirik sana-sini mencari sosok kakaknya.


"Mereka ada di kamarnya. Kamu juga istirahat gih ! Kelihatannya juga capek gitu," ucap bunda dan Kia hanya menganggukinya.


"Kia kekamar dulu bun," pamitnya. Bunda Elsa hanya mengangguk seraya tersenyum.


Kia menuju kamarnya, segera membersihkan diri sebelum memutuskan untuk beristirahat sejenak menghilangkan rasa lelah di badannya.


***


Sore, yang merupakan pergantian dari siang menuju malam hari memang penuh keindahan. Layaknya pagi hari yang indah ditemani sang fajar, sore hari pun tak kalah indahnya dengan ditemani sang senja.

__ADS_1


Sore hari, saat dimana Kita semua melepas penat setelah lelah beraktifitas seharian. Sore hari, saat yang asyik untuk bercengkrama dengan keluarga atau sahabat. Dan sore harilah saat yang baik untuk Kita mengevaluasi apa yang Kita lakukan hari ini.


Namun berbeda dengan Aisya dan suaminya, sore hari ini mereka akan melakukan perjalanan jauh yang cukup memakan waktu.


Tidak ada kata menikmati senja, bercengkrama atau bersantai. Yang mereka pikirkan saat ini adalah selamat sampai tujuan tanpa kekuarangan suatu apapun.


Tepat di jam 5 sore mereka melakukan perjalanan jauhnya menuju pesantren.


Tidak ada yang istimewa atau hal yang menarik dari perjalanan mereka. Namun bisa dikatakan ada beberapa masalah yang terjadi selama di jakarta.


Dan sangat merasa bersyukur masalah itu terselesaikan dengan cepat tanpa harus menunggu waktu yang lama.


Mobil mereka sampai di pesantren tepat di jam 7:30. Rasya langsung menurunkan beberapa barang dan segera masuk kedalam rumahnya.


"Asalammualaikum.."


"Waalaikumsalam, bagaimana Sya, apa kegiatannya sudah selesai ?" Tanya Umi Bila.


"Na'am umi, sudah."


"Rasya kekamar dulu Umi," pamitnya berlalu kekamar seraya menarik kopernya itu.


"Na'am, silahkan !"


Rasya meletakkan kembali koper itu di atas lemarinya setelah mengeluarkan barang-barangnya dari sana.


Suara gemercik air di kamar mandi menandakan ada seseorang di dalam sana.


Aisya yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya segera memakai pakaian dan mengeringkan rambutnya yang basah.


Di liriknya ke atas ranjang terlihat wajah tampan itu tengah terlelap dengan nyenyaknya.


Aisya menghampiri dan duduk seraya menatap wajah tampan Rasya tanpa berkedip.


Tangannya mulai meraba alis suaminya, perlahan sentuhan itu turun ke hidung dan turun lagi di bibir yang dulu selalu ingin ia sentuh.


"Kamu sangat tampan mas. Dulu aku selalu salfok sama bibir kamu ini, rasanya begitu gemas ingin menciumnya."


Aisya mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya.


Cup...


Kecupan sekilas mendarat tepat di bibir Rasya.


Namun sang pemiliknya bangun dan malah menarik tengkuk leher Aisya berniat memperdalam ciuman itu.


"Mas pura-pura tidur ya ?"


"Gak, tapi gara-gara tangan kamu yang jail ini mas jadi bangun," jawab Rasya kembali melanjutkan kegiatan yang Aisya mulai lebih dulu.

__ADS_1


"Mas, nanti ada yang lihat !" cegah Aisya saat suaminya menuntut hal yang lebih, mengingat ia begitu trauma pernah terpergok mertuanya karna pintu yang sedikit terbuka.


"Pintu sudah mas kunci, jangan mencari alasan untuk menolaknya sayang. Lihatlah kebawah !" pinta Rasya dengan tatapan penuh damba.


Aisya menurutinya. Ia melirik kebawah dan benar saja, senjata tumpul yang berhasil membuatnya merasa pedes, manis dan asin bercampur jadi satu di kala keringat keduanya sudah menyatu itu tengah bergerak-gerak layaknya tikus dalam sarung yang tengah mencari jalan keluar menuju alam bebas dan surganya dunia.


Hah, Author mulai ngeres....hehehhe😂😂


Malam ini, adalah malam panas sekaligus juga hujan lokal terjadi di kamar sepasang suami istri tang tengah memadu kasih.


Shutttttt, bayangin aja sendiri wkwkkw😄


***


Keesokan harinya, Aisya yang baru saja menyelesaikan hafalannya, berniat untuk pulang menyiapkan makan siang untuk suaminya.


Tapi kejadian dan pemandangan yang Aisya lihat cukup membuat mata dan hatinya merasa sakit.


"Segini cukup gak kak ?"


"Cukup."


"Asalammualaikum..."


"Waalaikumsalam."


"Nak sini, kita makan siang bersama ! Kebetulan ini ada anak Ustadz Imam yang baru saja mengabdi di pesantren kita kemarin," ucap Abi Aqil meminta menantunya untuk ikut bergambung.


"Afwan bi, Aisya belum laper. Kalian makan duluan saja, Aisya izin kekamar !"


Dengan perasaan sakitnya, Aisya pergi meninggalkan mereka yang tengah menikmati makan siang bersama, termasuk juga Rasya, suaminya.


Rasya menghentikan suapannya, ia tau kalau Aisya tengah marah saat ini. Rasya menyusul Aisya ke kamarnya berniat menjelaskan semua yang baru saja di lihatnya di meja makan.


"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan dek. Tadi Zahra hanya mem..."


"Pergilah mas, Aisya pengen sendiri !"


"Dengerin mas dulu sayang !"


"Buat apa penjelasan itu mas ? Kalau besoknya akan terulang lagi. Apa mas nyesel sekarang, perjodohan kalian dibatalkan ?"


**Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian yak..

__ADS_1


Happy Reading guys**..


Bersambung


__ADS_2