
Malam sudah semakin mencengkam dengan hawa dinginnya, namun Rasya belum juga kembali membuat Aisya tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ia terus saja bergulang-guling di atas ranjangnya dengan sesekali melihat arah jendela.
Jarum jam sudah menunjukan tepat di angka 12 malam, namun belum juga ada tanda-tanda Rasya kembali ke pesantren.
"Ya Allah, kenapa kak Rasya belum juga pulang ya ?" Gumam Aisya dengan perasaan khawatirnya.
Dengan rasa penasaran bercampur cemas, Aisya memilih menunggu Rasya di luar kamarnya. Berjalan kesana-kemari seperti orang yang tengah kebingungan dengan perasaannya yang semakin bersalah.
Ya, Aisya merasa bersalah harus membuat Rasya menempuh perjalanan jauh di malam hari seperti ini.
Air matanya luruh begitu saja, entah perasaan takut apa yang saat ini tengah berkecamuk dalam pikirannya. Namun yang jelas, Aisya tidak akan bisa tenang apa lagi tidur jika belum melihat Rasya pulang dengan selamat. Ia tidak perduli lagi dengan cincin berlian inisial itu, yang ia harapkan saat ini hanya kehadiran Rasya dengan utuh berdiri di hadapannya.
1 Jam sudah Aisya menunggu kepulangan calon suaminya di luar kamar. Hingga terlihat sorot lampu mobil yang menerangi sedikit area pesantren membuat Aisya tersenyum senang seraya berlari menghampiri mobil itu.
"Kak Rasya......" Panggilnya membuat Rasya serta kedua sahabatnya menoleh kesumber suara.
Greppp....
Tidak lagi perduli dosa atau tidak, tidak lagi perduli mahkromnya atau bukan. Aisya langsung memeluk tubuh Rasya dengan eratnya seraya menangis tersedu-sedu di sana. Aisya begitu takut kehilangan pria itu, ingatannya tentang semua tragedi mengerikan film drakor yang dulu pernah ia tonton membuatnya membayangkan jika hal itu terjadi pada calon suaminya.
Rasya sendiri merasa kebingungan dengan sikap Aisya yang tiba-tiba saja memeluknya.
Tangannya tidak membalas pelukan Aisya, ia begitu takut tidak bisa mengendalikan dirinya sebelum hari yang akan mengahalalkan mereka di esok pagi.
"Kenapa menangis dek ? Lagi pula kenapa belum tidur, ini sudah larut malam Aisya," tanya Rasya mencoba mengajak Aisya yang masih terisak itu untuk bicara.
"Hiks hiks, kenapa kak Rasya lama sekali perginya ? Maafkan aku kak, sebenernya aku tidak menginginkan mahar seperti itu, aku hanya berniat mengerjaimu saja. Maafkan aku hiks hiks, jangan tinggalkan aku kak ! Aku sangat takut terjadi sesuatu padamu," ucap Aisya dengan rasa bersalahnya membuat Reza dan juga Amar melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja Aisya katakan.
Bagaimana mungkin Aisya hanya berniat mengerjai Rasya dengan mencari mahar yang sangat sulit ia dapatkan. Bahkan mereka harus mencari alamat pemilik toko itu lebih dulu dan memohonnya untuk membukakan lagi tokonya dengan imbalan Rasya akan membayarnya dengan nominal lebih.
Saat semua sudah di dapatkan dengan perjuangan dan kerja keras, Aisya malah mengatakan hanya mengerjainya ?
Oh Tuhan.....jika saja dia bukan wanita, sudah kupastikan dia akan babak belur di tangan ku. Gerutu Amar sedikit kesal.
Rasya hanya bisa menghela nafasnya berkali-kali mencoba lebih sabar dengan apa yang baru saja ia dengar.
Lagian siapa sih yang gak emosi, udah berjuang, ngedapetinnya susah harus debat dulu, perjalanan jauh dan harus bolak-balik. Eh, giliran sampe, bilangnya cuma ngerjain hi hi hi pengen tak pites Aisya๐คฃ.
"Sudah tidak papa, lagian jika menurutmu ini hanya sebatas mengerjaiku, tapi menurutku ini adalah perjuangan dan pengorbananku untuk menghalalkanmu. Jangan menangis, sekarang pergilah tidur dek, sudah malam !" Pinta Rasya dan Aisya pun melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku kak !" Ucapnya lagi.
"Maaf diterima. Pergilah tidur, atau....mau tidur bersama ? Ayok !"
"Daebak, ustadz kita berubah jadi bucin akut Mar. Gue baru tau sisi seorang Rasya yang sebenernya," ucap Reza seraya terkekeh.
Aisya menunduk malu dengan wajah yang sudah pasti bersemu itu.
__ADS_1
"Kakak juga tidur ya ! Selamat malam," ucap Aisya sebelum beranjak dari tempatnya.
"Malam dek, mimpi indah sayang !" Balas Rasya membuat Aisya mengangguk.
"Asalammualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
"Sekarang mah beda Mar, panggilannya udah sayang. Ah gue jadi kepengen kawin," celetuk Reza.
"Astagfirullah, nikah Za bukan kawin !"
"Ah iya maaf, lupa he he.." jawab Reza seraya terkekeh.
Ketiga manusia itu kembali keperaduannya, membersihkan diri lebih dulu sebelum memutuskan untuk beristirahat.
***
Suara orang mengaji sebelum subuh mulai terdengar, Aisya dan ke tiga sahabatnya sudah bangun sedari tadi seraya menunggu antrian mandi.
Mengingat tingkah bodohnya semalam membuat Aisya tak bisa melepaskan senyum bahagianya.
Memeluk Rasya dengan eratnya tanpa memikirnya dua kali, ah.. jatuh cinta membuatku tidak waras.
Hingga azan shubuh tiba, semua penghuni pondok pesantren itu berbondong-bondong menuju masjid untuk shalat berjama'ah.
Tak lupa Kyai Farhan selaku pemimpin pondok pesantren ini sekaligus juga kakek dari Rasya mengumumkan hal penting mengenai akan di langsungkannya akad nikah Rasya dan Aisya di masjid pesantren.
***
Matahari yang mulai muncul dari peraduannya itu begitu menyorotkan sinar hangatnya di ufuk timur.
Aisya yang saat ini sudah di bawa kerumah ustazah Qila itu tengah di dandani oleh Ambar, mama dari Mona.
"Ma, Aisya gak suka tebel," ucap Aisya meminta mama Ambar untuk tidak terlalu me-mec upnya dengan berlebihan.
"Iya sayang, kamu tenang aja. Mama akan buat mec upnya tipis tapi oke," jawab Ambar tersenyum dan kembali fokus akan kerjaannya.
Siapa yang tidak gugup di saat hari yang paling membahagiakan itu tiba. Setiap wanita merasakan hal yang sama di hari pernikahannya, hari melepas masa lajangnya dan berubah menjadi seorang istri. Status baru, tanggung jawab baru, dan kebiasaan baru. Semua itu akan Aisya lalui prosesnya mulai dari merubah statusnya.
"Kia, Mona, Icha, aku kok gugup gini ya ?" Tanya Aisya yang merasa tidak tenang dengan kegugupannya itu.
"Aduh sayang, hal itu wajar di rasakan setiap pengantin. Jadi lo tenang aja dan gak usah khawatir. Rilexs, enjoy, bismillah, atuh nafas. Dan jangan petakilan, pengantin harus anggun dong," ucap Mona mengerlingkan sebelah matanya.
"Bismillah Is, berdoa semoga lancar. Ngomong-ngomong aku ucapin selamat karna sudah berhasil mencairkan kutub utara yang Abang Rasya bawa kebandung," ucapan Kia sontak membuat semuanya tertawa.
***
Aisya yang merasa gugup dan tegang itu sama halnya dengan Rasya saat ini yang sudah duduk berhadapan dengan penghulu juga wali dari Aisya. Meskipun penghulu itu adalah kakeknya sendiri, tapi suasana di masjid seolah berubah menjadi horor. Ketegangan dan juga gugup Rasya merasakannya hingga harus menghela nafasnya berulang kali.
__ADS_1
"Bismillah Sya, jangan gugup, atur nafas yang bener jangan sampai rapalannya kesleo apa lagi sampai lupa !" Bisik ustazah Bila mengingatkan. Sementara Rasya hanya mengangguk mantap.
"Baiklah, apa saudara Rasya siap ?" Tanya Kyai Farhan yang sorot matanya menurut Rasya seolah berubah mengerikan.
"Bismillah, insya Allah siap," jawab Rasya dengan mantap.
"Silahkan pak Rama untuk menjabat tangan Rasya !" Ucap Kyai Farhan pada Ayah Aisya.
Ketegangan semakin mencengkam dikala Rasya sudah berjabat tangan dengan Ayah Aisya.
Terlihat jelas keringat panas dan dingin mulai membanjiri wajah tampannya itu, tangan yang sedikit gemetar menandakan bahwa seseorang tengah menahan kegugupan serta kecemasannya.
Suasana hening begitu terasa di kala Ayah Aisya mulai membenahkan duduknya dan mencoba mengatur nafas sebelum memulai kalimatnya.
"Bismillahhirohmannirahim. Saudara Rasya syafaraz, saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Aisya putri binti Rama dengan mas kawin cincin berlian seberat 2 gr serta surah Ar-rahman di bayar, TUNAI."
" ูุจูุช ููุงุญูุง ูุชุฒููุฌูุง ุนูู ุงูู ูุฑ ุงูู ุฐููุฑ ูุฑุถูุช ุจูู" ูุงููู ููู ุงูุชูููู
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq."
Artinya: ( "Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah".)
"Bagaimana para saksi ?"
"SAHHHHHHHHHHHHHH......"
ุจูุงุฑููู ุงูููู ูููู ููุจูุงุฑููู ุนููููููู ููุฌูู ูุนู ุจูููููู ูุงู ูููู ุฎูููุฑูโ
Baarakallaahu laka, wa baarakallahu โalaika, wa jamaโa bainakuma fii khaiir.
Artinya: โSemoga Allah menganugerahkan barakah kepadamu, semoga Allah juga menganugerahkan barakah atasmu, dan semoga Dia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.โ (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibn Majjah).
Sampai sini dulu ya, insya Allah lanjut nanti malem...
Author mau nanya nih jawab jujur, kalian suka MP yang biasa aja atau sedikit 21+ ??
Karna ini ceritanya islami, jadi author minta pendapat dulu dari kalian.
Insya Allah kalau suka yang 21+, Author akan buat tetep panas tapi tidak terlalu fulgar. Kalau suka yang biasa aja Alhamdulilah, Author gak susah payah panas dingin buatnya wkwkw๐คฃ
Tinggalkan jejak kalian
Dengan
Vote
Like komen serta share bila perlu
Happy Reading guys...
__ADS_1
Bersambung