
Rasya tidak percaya mendengar Aisya yang menyetujui untuk ikut ke pesantren. Namun ada hal yang Rasya tidak mengerti disini, bathin seorang anak dan ibu yang saling terpaut memang sangatlah kuat.
Terlebih lagi, Aishi meyakini jika Isya adalah uminya. Sesuatu yang sangat mengharukan antara anak dan ibu nyatanya terjadi di depan matanya. Lalu bagaimana bisa Rasya menghancurkan hal yang membuat anaknya bahagia ? Setidaknya hal ini juga baik untuk dirinya sendiri, terutama hal perjodohan yang selalu abi dan uminya usulkan.
"Apa kamu yakin ?" Tanya Rasya.
"Ya, saya yakin pak. Kalau boleh di izinkan, saya lebih berminat menjadi pengasuh untuk Aishi," jawabnya.
"Baiklah, berhentilah kerja di kafe ini dan ikutlah saya ke pesantren !"
Aisya mengangguk patuh. Ia tersenyum melihat anak kecil itu terus saja menempel dengannya.
Tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada Evan. Bagaimana dengan pria yang telah menjadi calon suaminya itu ? Akankah dia mengizinkan Aisya ke pesantren hanya demi anak kecil yang tidak di kenalnya ?
"Ada apa ?" Tanya Rasya yang sedari tadi melihat kekhawatiran di mata Aisya.
"Saya memiliki calon suami pak, saya harus izin terlebih dulu," jawabnya.
"Baiklah, ayo saya antar !" Tawarnya.
"Ayo umi, Ici mohon !" Tambah Aishi seraya menangkupkan kedua tangannya memohon pada Aisya.
Kalau sudah seperti ini lalu bagaimana ? Aisya merasa ia tidak bisa membantah apa lagi menolak permintaan dari anak bosnya itu. Kenapa ? Bukankah pertemuan dan perkenalan itu baru terjadi ? Kenapa dengan mudahnya ia menerima setiap permintaan darinya walau hanya dengan menatap matanya saja.
Aisya tidak menolak tawaran Rasya, terlebih lagi Aishi pun memintanya seraya memohon. Seperti ada magnet yang menariknya untuk mengikuti semua kemauan gadis kecil berumur 6 tahun ini.
Aishi selalu memeluk lengan Aisya tanpa melepasnya, bahkan saat di dalam mobil sekalipun.
Aisya tetap tidak menolaknya, ia malah mengelus pucuk kepala Ici dengan penuh kenyamanan hingga anak itu tertidur pulas dalam pelukannya.
Hanya tersisa 2 orang saja yang masih setia dengan tatapan fokusnya masing-masing.
Rasya fokus akan kemudinya, sementara Aisya melihat ke arah samping. Kecanggungan mulai terjadi di kala sepinya tanpa suara Ici yang sedari tadi berceloteh.
Chittttttt.....
__ADS_1
"Awwww, astagfirullah !"
"Kamu gak papa ?" Rasya menoleh ke belakang, memastikan 2 wanita yang tengah duduk di kursi tengah itu baik-baik saja setelah ia mengerem mobilnya dengan mendadak.
Deg.....
Lagi-lagi ia terpaku melihat mata Isya yang sangat mirip dengan istrinya.
Mata indah yang memiliki bulu mata lentik membuat Rasya bisa melihat Aisya di mata itu. Bayangan sosok istrinya sangat terlihat jelas disana.
Ya Allah, kerinduan macam apa ini ? Kenapa aku harus melihat Aisya di mata wanita lain yang jelas dia bukanlah Aisya.
Kenapa jantungku bergetar saat menatap lekat manik matanya, saat berada dekat dengannya. Apa mungkin aku jatuh cinta lagi ?
Tidak ! Hal itu tidak akan pernah terjadi ! Dan tidak boleh terjadi.
Aku mencintai sepenuh hati istriku, hanya ada nama Aisya di dalam sini.
Aku tidak bisa mengkhianatinya, kesetiaan telah aku ucapkan untuknya, hanya untuk Aisya sampai kapan pun !
"Maaf, tadi ada kucing yang tiba-tiba lewat," ucap Rasya.
"I-iya pak."
Rasya kembali melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah di arahkan oleh Aisya.
Hingga akhirnya mobil Rasya berhenti tepat di depan rumah megah kediaman Anggara.
"Mari masuk pak !" Pinta Aisya mempersilahkan Rasya memasuki rumah calon suaminya.
"Asalammualaikum mama."
"Waalaikumsalam, kok udah pulang ?"
Aisya mengangguk,"Ada hal yang harus Isya bicarakan dengan mama dan kak Evan," ucapnya.
__ADS_1
Mama Evan melirik seseorang yang menggendong anak kecil berdiri di ambang pintu. Aisya yang mengerti tatapan dari mama mertuanya itu segera membuka suara."Beliau bos Isyq ma, pak Rasya," ucapnya.
Mama Evan hanya mengangguk,"Silahkan masuk nak !" Pintanya.
"Terima kasih bu," jawab Rasya seraya melangkahkan kakinya masuk ke rumah megah itu.
"Silahkan duduk, bawa saja anaknya ke kamar tamu nak ! Kasihan. Sepertinya tidurnya nyenyak sekali," ucap mama Evan.
"Biarkan tidur di pangkuan saya saja bu, terima kasih tawarannya,"
"Ya sudah kalau seperti itu. Oh ya, tadi Isya mau bicara apa sama mama ?" Tatapannya kini beralih pada Aisya.
"Isya panggil kak Evan dulu ma," pamitnya, mama mertuanya hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tak lama kemudian, suara derap kaki menuruni anak tangga mulai terdengar. Lelaki tampan dengan postur tubuh yang ideal menuruni tangga dengan di susul Aisya di belakangnya.
Ia menghampiri meja tamu yang sudah ada mamanya dan seorang lelaki dengan anak kecil yang tertidur di pangkuannya.
Deg.....
Mata Rasya membulat sempurna saat melihat seseorang yang menghampirinya itu. Seseorang yang dulu pernah menjadi tempat pelampiasan amarahnya karna telah berani mengatakan kalau istrinya telah meninggal.
Ya, ia ingat betul dengan wajah
Dokter yang dulu menangani istrinya, meskipun ia tak pernah fokus nama Dokter itu.
"Bukankah, kau adalah Dokter yang dulu menangani istriku, Aisya ?"
**Huah, makin seru kan...
Sabar yak...
Votenya jangan lupa
Happy Reading guys**
__ADS_1
Bersambung