Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Rasya dengan keterkejutannya mengedipkan matanya berkali-kali seraya memandang Aisya dengan serius.


Bukan tidak bahagia ia akan segera menghalalkan wanita yang dicintainyaitu, namun sanggupkah ia mempersiapkan segala sesuatunya hanya dalam waktu semalam ?


"Apa kamu yakin dek ?"


"Ya, aku yakin. Apa kak Rasya keberatan ?" Tanya Aisya dan Rasya langsung menggeleng cepat.


"Tidak, tidak sama sekali. Memangnya tidak apa-apa kalau pernikahan kita hanya sederhana ?"


"Tidak masalah, yang penting sah kan ?" Ucap Aisya mengedipkan sebelah matanya berniat menggoda pria yang ada di hadapannya itu.


Berhentilah menggoda ku Dek ! Apa kau sedang menguji imanku sebelum kita sah ? Bathin Rasya yang sudah tidak tahan melihatnya.


"Ah, iya yang penting sah dulu, untuk surat bisa menyusulnya nanti," ucapnya sedikit gelagapan.


Aisya mengangguk seraya terkekeh kecil melihat Rasya yang salah tingkah karena ulahnya.


Setelah keputusan yang menurutnya final, Rasya segera memberitahukan tentang niatnya itu pada kedua orang tuanya juga keluarga besar pemimpin pondok pesantren Nurul huda.


Tak lupa juga Aisya segera memberitahu kedua orangtuanya sekaligus meminta menguruskan semua pakaian untuk melangsungkan akad nikahnya besok pagi.


Tak menginginkan hari spesial anaknya itu terlewat, mau tak mau Bunda Elsa harus sampai ke pesantren malam ini juga.


Setelah mendapat kabar dan cerita dari Putrinya, Bunda Elsa dengan segera menghubungi butik terkenal di jakarta,


meminta menyiapkan kebaya serta jas yang paling mewah dan cocok dengan ukuran Aisya maupun Rasya.


Di asrama putri, terlihat teman sekamar Aisya itu tengah meledeknya termasuk juga Kia.


"Cie, cie nikah. Cha, temen kita besok bakalan sold out satu nih," ucap Mona.


"Ah, iya. Ehem, gimana Is rasanya yang mau di halalin sama pangeran cinta ?" Sambung Icha seraya terkekeh.


"Ih, kalian apaan sih, jangan ngeledek deh !" gerutu Aisya dengan bibir yang sudah mengerucut.


"Udah-udah, jangan ngeledekin Aisya mulu, dia sampe sampe malu tuh," sambung Kia.


Obrolan mereka berlanjut hingga waktu magrib tiba. Setelah shalat berjama'ah di masjid usai, Aisya tidak langsung beranjak dari duduknya, ia memperhatikan sekeliling masjid itu seraya bergumam,"Besok pagi tempat ini adalah tempat paling bersejarah untukku. Tempat dimana aku melepaskan status gadisku pada kak Rasya, menyerahkan segala tanggung jawab orang tuaku padanya. Bismillah, ku mulai hidup baruku di tempat ini bersama suami yang sangat aku cintai, yaitu kamu kak Rasya !"


Aisya masih betah berada di sana, suara merdu santri mengaji membuat pikirannya begitu tenang.


Setiap ayatnya begitu ia dengarkan dengan seksama, memahami arti setiap surah yang dilantunkan dengan merdunya.


Hingga kedatangan ketiga sahabatnya, membuyarkan konsentrasi yang sudah ia kumpulkan sejak tadi.


"Asalammualaikum.."


"Waalaikumsalam.."

__ADS_1


"Pantes di tungguin gak ada nongol, rupanya lo masih anteng dan betah duduk di atas sajadah," ucap Mona yang langsung diangguki Kia dan Icha.


"Maaf, aku terbawa suasana santri yang lagi ngaji. Adwm dan tenang rasanya," jawab Aisya seraya menggulung sajadahnya.


"Is, kamu di minta kerumah Abang !" Ucap Kia.


"Ada apa ?"


"Lo aneh banget Is, yang namanya mau nikah perlu persiapan dong. Gimana sih, calon pengantinnya malah gak peka," sambung Mona.


"Iya ya, he he he," jawab Aisya terkekeh seraya mengusap lehernya yang tidak gatal itu.


"Buruan ! Jangan sampe karna lo telat, kak Rasya jadi berubah pikiran. Gak mau nikahin lo tapi malah nikahain gue," ucap Icha membuat Aisya melotot tajam.


"Kak Rasya gak mungkin mau sama cewek urakan kayak lo Cha, hi hi," ledek Mona dan disambut kekehan dari Aisya dan Kia. Sementara Icha menatap Mona dengan jengah seraya mengerucutkan bibirnya.


"Temenin aku dong !" Pinta Aisya pada sahabatnya.


"Aduh maaf ya Is, untuk masalah ini bukannya kita gak mau nemenin, tapi ini urusan pribadi antara mempelai wanita juga pria. Kalau butuh bantuan, kamia siap membantu. Lagian tadi Abang bilangnya kamu sendirian aja !" Ucap Kia.


"Ya sudah, aku duluan ya. Asalammualaikum.."


"Waalaikumsalam wr wb.."


Aisya meninggalkan masjid lebih dulu untuk pergi kerumah Rasya sesuai amanah yang ia titipkan pada Kia.


Namun sayangnya, suara langkah seseorang di belakangnya itu membuat ia harus sedikit berlari untuk sampai lebih dulu.


"Jangan lari-lari dek, kalau jatuh itu sakit loh !" ucapnya sedikit berteriak berharap Aisya akan mendengarnya.


Tidak perduli dengan teriakan Rasya, Aisya semakin melangkahkan kakinya dengan cepat.


Namun sialnya, batu yang ada di jalanan itu tidak memberitahunya kalau ia tengah bergelatakan di sana.


"Aw, astagfirullah..." gumam Aisya lirih seraya memegangi kakinya yang kesakitan.


Rasya yang melihat Aisya tersandung itu tanpa berpikir panjang, ia segera lari menghampirinya, takut terjadi sesuatu dengan wanita yang sebentar lagi akan menjadi halal untuknya.


"Kamu gak papa dek ? Ya Allah Aisya kakimu berdarah sayang," ucap Rasya panik tanpa sadar dengan nama panggilannya itu.


"Ah gak papa kok kak, cuma lecet dikit doang," jawabnya.


"Lecet apanya, itu luka dek makanya keluar darah. Lagian kenapa harus lari-lari sih, aku gak gigit kok. Besok mungkin iya," ucapnya lagi melemahkan kalimat akhirnya.


"Hah, apa ?"


"Sudahlah, ayo aku gendong !"


"Jangan macem-macem deh kak, ini pesantren bukan kamar. Maen gendong aja," gerutu Aisya membuat Rasya terkekeh kecil.

__ADS_1


"Iya, iya. Jangan marah-marah dek, gak baik."


"Afwan kak," jawab Aisya merasa bersalah.


"Na'am. Tunggu di sini ya, aku panggilkan Umi dulu !" Ucapnya dan langsung diangguki Aisya.


Tidak terlalu jauh dari rumahnya, Rasya langsung berlari memanggil Uminya untuk membantu memapah Aisya yang kakinya tengah terluka itu.


"Ya Allah Aisya, kamu tidak apa-apa nak ?"


"Tidak apa-apa ustazah, hanya lecet sedikit," jawabnya.


"Jangan percaya mi, kalau cuma lecet gak akan ngeluarin darah gitu," sambung Rasya tidak setuju dengan jawaban Aisya yang menganggap dirinya tidak kenapa-napa.


Ustazah Bila langsung memapah calon menantunya itu menuju rumah dan diikuti Rasya di belakangnya.


Mendudukkan Aisya di sofa kemudian ia beranjak mencari kotak p3k.


"Biar Rasya saja Mi !" pintanya.


"Jangan macam-macam Sya, kalau tidak mau anumu Umi potong !" Ancamnya.


"Umi kenapa selalu mengancam akan memotong anu ku sih ? Marahin dek, bagaimana nanti kita akan punya anak kalau anu ku di potong ?" Ucap Rasya tanpa sadar.


"Rasya, kamu waraskan ? Sadar gak ngomong gitu di depan siapa ?"


"Aisya. Memangnya kenapa Umi ?"


"Masih nanya kenapa, lagi. Astagfirullah, Abiiiiiiiiiiiii...." Teriak Bila memanggil suaminya.


Ustadz Aqil berlari tergopoh-gopoh seraya membenarkan sarungnya."Kenapa Mi ?" Tanyanya panik. ( Bisa bayangin gak, ustadz Aqil yang lari terbirit-birit dengan sarungnya yang melorot hi hi hi🤣 )


"Lebih baik Abi nikahkan anak Abi itu malam ini juga !"


"Apaaaaaaaaaaa.......?"


**Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian ya


Happy Reading guys...


Jangan lupa siapin Amplop buat kondangan kecalon mempelai kita yang sudah tidak sabaran minta segera di halalkan🤣**


Beraambung

__ADS_1


__ADS_2