Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

..."Abi akan jelaskan semuanya Sya, termasuk juga ente Mam !"...


"Rasya, abi sama ustadz Imam ini teman cukup dekat saat kuliah dulu. Dan pernah suatu hari kami mengobrolkan tentang masa depan, dimana saat abi memiliki anak laki-laki dan ustadz Imam memiliki anak perempuan atau sebaliknya, kami akan saling menjodohkan mereka. Tapi pernyataan abi dulu tidak terlalu menganggapnya dengan serius, menurut abi itu hanyalah obrolan biasa untuk menghibur diri satu sama lain. Ketika kamu dewasa, abi pernah menanyakan sekali tentang pilihan hidupmu Rasya, dan ternyata jawabanmu tidak ingin sama sekali dijodohkan. Maka dari itu menurut abi sangat percuma untuk membicarakan hal ini padamu waktu itu, yang sudah pasti kau akan menolak untuk dijodohkan," jelas ustadz Aqil.


Kini tatapan Aqil beralih pada teman lamanya, ia menghela nafas sedalam-dalamnya mencoba meminta maaf pada ustadz Imam.


"Mam, ana minta maaf kalau obrolan kita dulu nyatanya tidak akan pernah terjadi. Mohon mengertilah ! Ana tidak bisa memaksa kehendak untuk menjodohkan Rasya dengan putri ente, menurut ana kebahagian Rasya adalah hal yang terpenting Mam. Hanya dia anakku satu-satunya," jelas Ustadz Aqil pada sahabatnya.


"Tidak apa-apa, namanya juga belum jodoh. Tapi ana tidak yakin dengan anak ana Qil, setelah dia tau akan dijodohkan dia sudah sangat tertarik hanya dengan melihat foto Rasya. Tapi nanti akan coba ana kasih pengertian, mudah-mudahan saja dia mau mengerti !" Ucap ustadz Imam membuat udtadz Aqil menghela nafasnya dengan lega.


"Afwan abi, ustadz, sepertinya saya tidak bisa menemani kalian mengobrol," ucap Aqil yang mengerti dengan istrinya yang sedari tadi sudah tidak nyaman itu.


Ustadz Aqil tersenyum seraya mengangguk."Istirahatlah, kalian masih pengantin baru. Nikmatilah kebersamaan kalian !"


Rasya mengajak istrinya untuk kekamar mereka. Rasya sudah tau bagaimana raut wajah Aisya yang sudah pasti mendadak masam setelah mendengar bahwa ia akan dijodohkan, meskipun pada kenyataanya perjodohan itu belum pernah terjadi karna abinya tidak pernah membicarakannya.


"Sayang...."


"Hmmmm," hanya deheman yang Aisya jawab seraya melepas jarum pentul yang menghiasi jilbabnya.


"Adek marah ?" Tanya Rasya menatap istrinya yang tengah duduk di depan cermin itu.


"Marah untuk apa ?"


"Sayang, dengerin mas ! Mas gak tau sama sekali tentang perjodohan yang dibicarakan abi karna memang abi tidak pernah membicarakan hal perjodohan. Kalau pun mereka memaksa, mas gak akan mau sayang, mas sudah menikah dan memiliki istri seshalehah kamu untuk apa menerima yang lain lagi ?"


"Jadi maksud mas kalau kita belum nikah mas mau dijodohin ?"


Rasya beranjak dari duduknya dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Mendengar suara Aisya yang sudah berat dan sedikit gemetar, Rasya sudah pasti tau ketika mata Aisya yang ingin mengeluarkan air matanya.


"Tidak sayang, bahkan sebelum tau tentang perjodohan itu mas sudah lebih dulu menolaknya. Karna mas sudah merasakan jatuh cinta pada seseorang yang selalu mengusik pikiran mas, yaitu kamu !" Ucap Aqil berusaha meyakinkan istrinya bahwa tidak ada wanita yang ia cintai selain umi juga istrinya.


Rasya mengingat dimana ia dulu merasa tertarik dengan Aisya disaat pertama kali ia melihatnya di kantin. Namun melihat bagaimana penampilan Aisya saat itu membuat Rasya malu dan selalu menunduk tak berani menatapnya. Ia takut Allah akan marah dan menegurnya telah berani memandang lekat wanita yang bukan makhromnya itu.


Selalu bersikap dingin dan acuh meskipun saat ia tau ketika Aisya mengatakan secara terang-terangan mencintainya di depan umum. Sejujurnya hatinya cukup merasa senang saat itu, ternyata rasanya terbalaskan.

__ADS_1


Saat semakin yakin dengan perasaannya, di saat yang bersamaan pula Rasya harus merasakan patah hati karna sahabatnya yang juga menyukai Aisya.


"Tunggu sebentar, mas ada sesuatu buat kamu," ucap Rasya melapaskan pelukannya berjalan menuju lemarinya.


Ia mengambil sebuah kotak yang terbungkus kertas kado serta pita berwarna pink di atasnya.


"Ini buat kamu sayang !" Ucap Rasya memberikan hadiah itu pada istrinya.


"Ini apa mas ?" Tanya Aisya bingung dengan suaminya yang tiba-tiba memberikannya kado padahal ini bukanlah hari ulang tahunnya. Aisya membolak balikan hadiah itu semakin penasaran dengan isinya.


"Aisya boleh buka ?!" Rasya menjawabnya dengan anggukan seraya tersenyum.


Aisya mulai membuka pita berwarna pink yang sebagai hiasan kotak itu membuatnya semakin menarik. Perlahan mulai merobek kertas kado yang membungkusnya.


Dilihatnya sebuah Al-quran kecil dengan nama Aisya putri. Ternyata bukan hanya Al-quran saja yang ada di kotak itu, melainkan sebuah emogi tersenyum yang bisa bergerak dengan lampu LED yang menyala.


"Mas, ini...."


"Ini sebenernya sudah lama ingin mas kasih kekamu dek. Dimana waktu itu mas tiba-tiba ditelfon umi untuk membantu menjadi pengajar di pesantren yang kekurangan guru. Saat itu mas berfikir, jika mas mulai aktif di pesantren sudah pasti mas akan sangat jarang kejakarta. Dan yang buat mas agak kecewa adalah jauh dari kamu, makanya mas berniat memberikan kenang-kenangan ini."


"Waktu itu mas rasa semuanya gak ada gunanya dek. Disaat mas ingin menemuimu dan memberikan hadiah ini sebelum mas keruang dekan, ternyata mas melihatmu yang tengah berdiri di lapangan dengan Reza yang menyatakan perasaannya di depan banyak orang. Mas fikir kamu akan menerimanya, jadi ya sudahlah..mas nyerah dan memilih menyimpan kembali hadiah ini," Jelas Rasya membuat Aisya terharu lalu memeluknya.


"Maafin Ais mas...!"


"Tidak perlu minta maaf, semuanya sudah berlalu. Mas bersyukur sekali saat ini ternyata bisa memilikimu dan menyaingi mereka yang juga mencintaimu," ucap Rasya seraya tersenyum.


"Ana uhibbuka filla zauji..."


"Anna uhibbuka fillah zaujati."


"Jangan marah lagi ya sayang ?!" Aisya mengangguk dan kembali memeluk suaminya dengan erat.


Rasya tiba-tiba saja membopong tubuh istrinya itu ke atas ranjang. Aisya tidak menolaknya, ia semakin menatap Rasya penuh damba seolah ia yang lebih ingin segera disentuh mesra suaminya itu.


Cup....

__ADS_1


Keduanya saling menikmati heningnya malam dengan bercumbu mesra ala pasangan halal yang sedang romatis-romantisnya sebagai pengantin baru.


Cinta keduanya begitu erat, hingga Aisya merasa bahwa semua ini adalah hasil atas perjuangan juga kesabarannya selama ini. Mengejar cinta untuk seorang seperti Rasya itu tidaklah mudah bagainya, karna itu adalah tantangan tersendiri untuk Aisya bisa mendapatkan apa yang tengah ia niatkan, termasuk yakin jika Rasyalah jodoh yang telah Allah pilihkan untuknya. Keduanya larut dengan keromatisan malam, hingga tanpa sadar


pintu kamar mereka itu ternyata sedikit terbuka hingga siapa saja yang lewat di depan sana sudah pasti akan melihat adegan mereka yang lagi uwwunya.


"Astagfirullahhaladzhim...."


Sapa tuh yang lewat hi hi hi ?


****


Saat merasakan kesenangan, kamu harus bersyukur. Ketika kesusahan, maka ingatlah untuk selalu bersabar.


Sebab ketika kamu sudah mampu bersyukur atas semua yang didapatkan, maka di setiap detik kehidupanmu akan selalu diliputi oleh ketenangan jiwa.


Hasil tidak akan menghianati kerja keras sebuah proses, seperti itulah kira-kira...


Tidak ada penderitaan yang abadi, tidak ada kebahagiaan yang abadi. Kecuali bagi yang pandai bersyukur, selamanya ia akan merasakan kebahagiaan.


Bukan kebahagiaan yang menjadikan kita bersyukur, tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia.


Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.


Vote


Like


Komen


kalian yakk


Biar Author makin semangat buat upnya...


Happy Reading guys

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2