
Iqbal masih setia menunggu Adiknya yang tengah melakukan operasi. Rasa panik dan khawatir membuat Iqbal mondar mandir seperti setrikaan rusak hi hi hi.
Ting....
Lampu hijau menyala tanda operasi pun telah selesai. Iqbal bisa sedikit bernafas namun belum begitu lega sebelum ia bener-bener tau bagaimana keadaan Adiknya selepas operasi.
Ceklek .....
Suara seseorang membuka pintu dengan memakai seragam hijau operasi. Dialah dokter yang baru saja keluar selepas menangani Safira.
" Dok bagaimana keadaan Adik saya ?" Tanya Iqbal yang begitu sangat penasaran.
Dokter pun tersenyum seraya menatap Iqbal.
" Alhamdulilah, Adik anda bisa melewati semuanya pak. Operasi berjalan dengan lancar dan sebentar lagi akan dipindahkan keruang rawat."
" Alhamdulilah, terimakasih banyak dok."
" Sudah tugas saya pak. Kalau begitu saya permisi, mari...." Ucapnya dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Iqbal seraya tersenyum.
" Alhamdulilah ya Allah, Safira....." Gumam Iqbal lirih seraya tersenyum.
Setelah Safira dipindahkan keruang rawat, Iqbal pun berniat melihat kondisi Adiknya yang masih terbaring lemah diatas brankar. Tentu saja ia pun masuk setelah mendapat izin dari dokter.
" Dek, ini Abang sayang. Cepet sadar ya, jangan buat Abang makin khawatir." Ucap Iqbal seraya menelus lembut pipi Adiknya.
" Assalammualaikum..." Ucap seseorang yang memasuki ruangan Safira.
" Waalaikumsalam wr wb."
" Bagaimana keadaan Adikmu Iqbal ?" Tanya Zafran.
" Alhamdulilah, semua lancar pak. Safira juga berhasil melewati masa kritisnya."
" Alhamdulilah kalau gitu. Perkenalkan ini istri saya, Rima..."
" Saya Iqbal Buk, karyawan pak Zafran direstaurantnya." Ucapnya sopan.
" Saya Rima nak Iqbal, istri Mas Zafran." Jawabnya seraya menangkupkan kedua tangannya.
" Ini saya bawakan makanan untukmu. Pasti belum makan kan ?" Ucap Rima lagi.
" Terima kasih banyak pak, Buk. Maaf apa bila saya merepotkan keluarga kalian."
" Tidak apa-apa nak, apa salahnya saling membantu."
" Asalammualaikum..." Tiba-tiba muncul dua orang yang kembali masuk kedalam ruang rawat Safira.
" Waalaikumsalam."
" Bagaimana keadaan Adikmu Bal ?" Tanya Ilham.
" Alhamdulilah pak, tinggal menunggu Fira sadar."
" Semoga adiknya lekas sembuh ya kak ?" Sambung Jihan.
" Syukron mbak ."
" Pernah jadi santri ya ?" Tebak Rima.
" Na'am buk, tapi hanya sebentar."
" Dimana ?"
" Dibandung Buk....."
__ADS_1
" Wah kebetulan, istri saya juga sama abdian pesantren dibandung." Sahut Zafran
" Sama tapi beda pesantren kali yah, kan banyak...." Sambung Ilham.
" Memangnya dipesantren mana Abdian nak Iqbal ?" Tanya Rima penasaran.
" Pesantren Nu____
Belum selesai menjawab, tiba-tiba suara ponsel Rima berbunyi.
" Sebentar nak Iqbal, saya angkat telfon dulu." Rima pun keluar ruangan untuk menerima telfon. Yang ternyata sahabat sekaligus Adik iparnya yang menelfon.
📞
" Assalammualikum Bul...."
" Waalalaikumsalam, heii apa kabar mu."
" Baik, Alhamdulilah. Kamu sendiri ?"
" Baik juga dong. Tapi ada yang tidak baiknya juga."
" Kenapa sih, cerita dong !"
" Ini masalah Aqila Rim, selama sebulan ini sikapnya tidak seperti Aqila yang kita kenal."
" Tunggu dulu, memangnya kenapa dengan keponakan cantikku itu ?"
" Satu bulan yang lalu, Ada rejal yang meminta Aqila pada kami Rim. Terlihat dari keduanya pun saling mengagumi, tapi Yahbinya Aqila tidak merestui karna kelatarbelakangannya. Jadilah Rejal itu pergi dari pesantren, dan ternyata kepergiannya itu sangat berpengaruh dalam diri Aqila."
" Apa rejal itu santri ?"
" Iya bisa dibilang Abdian baru pesantren kita."
" Siapa nama Rejal itu ?"
" Kamu gak mungkin kenal deh Rim,"
Ah iya, benar juga...
" Ya udah nanti kucoba nasehati Aqila lewat telfon. Sekarang masih dirumah sakit.'
" Astagfirullah, siapa yang sakit ?" Tanya Bul² terkejut.
" Karyawan restaurant, kasian tau...hidupnya hanya berdua dengan Adiknya. Mereka yatim piatu, dan Adiknyalah yang tengah dirawat karna mengidap Leukimia."
" Astagfirullah, semoga lekas sembuh ya."
" Amiin,"
" Ya udah kututup dulu telfonnya. Assalammualaikum..."
" Waalaikumsalam..."
Panggilan telfon pun berakhir.
Ada sesuatu yang mengganjal dibenak Bul² setelah sadar dan ingat apa yang Rima ucapkan melalui sambungan telfonnya.
Tunggu dulu, tadi Rima bilang karyawan restaurant hanya hidup berdua, yatim piatu dan Adiknya punya penyakit leukimia. Kenapa aku merasa seperti ciri-ciri Iqbal juga Safira ya ?
Ah, gak mungkin, bisa saja orang lain ' Gumam Bul² selepas sambungan telfon berakhir.
Rima pun kembali masuk kedalam setelah selesai berbincang dengan sahabatnya melalui telfon.
" Siapa yang telfon Mi...?" Tanya Zafran.
__ADS_1
" Adikmu mas...." Jawabnya dan Zafran pun hanya mengangguk-anggukan kepala.
Skenario yang Allah berikan sudah sangat jelas. Bahkan sudah hampir dan hampir sekali, Rima dan Iqbal mengetahui bahwa pesantren mereka adalah Abdian yang sama. Begitu juga dengan Bul² dan Rima, mereka hampir saja mengetahui rejal itu adalah Iqbal dan Iqbal yang tengah mereka cari berada didekat keluarganya. Entah peran apa lagi yang harus dimainkan hingga kebenaran terungkap nanti. Bagaimana reaksi semua orang saat takdir telah melangkah lebih dulu dengan jalan ceritanya sendiri. Terkhususnya rasa belenggu yang akan datang menghampiri Iqbal, tentunya dua pilihan yang akan diberikan pada Iqbal itu yang sangat sulit ia tetapkan.
Tak beberapa lama, Safira mulai menggerak-gerakan jarinya. Perlahan ia oun mulai membuka matanya.
" Bang, ha-haus...." Ucapnya lirih.
" Kak Iqbal, Adikmu sudah sadar.." Seru Jihan yang menyadari bahwa Safira telah membuka matanya.
" Alhamdulilah, Safira...kamu udah sadar dek ?"
" Bang, Fira haus...." Ucapnya lirih.
Iqbal langsung mengambil air minum yang ada dimeja tak jauh dari ranjang Adiknya berbaring.
Ia perlahan mengangkat kepala Adiknya untuk sedikit bersandar dikepala ranjang.
Iqbal pun membantu Adiknya yang sangat kehausan itu.
" Adek gak papa dek. Apa masih ada yang sakit ?" Tanya Iqbal beruntun.
Safira hanya menggeleng, tatapannya melirik kesemua orang yang tidak ia kenal tengah menemani kakaknya.
" Ini pak Zafran dek, bos Abang. Ini Ibu Rima, istrinya. Dan ini pak Ilham anaknya, yang satu lagi mbak Jihan anaknya juga." Jelas Iqbal yang mengerti dengan tatapan Adiknya segera memperkenalkan satu- persatu Anggota keluarga bosnya itu. Safira pun mengangguk paham.
" Namamu siapa cantik ?" Tanya Rima yang mendekati Safira.
" Sa-saya Safira Buk...."
" Nama yang manis, seperti orangnya." Tutur Rima tersenyum seraya mengelus rambut Fira yang tertutup hijab itu.
" Asslammualaikum Safira, aku Jihan. Boleh kita berteman ?"
" Bo-boleh kak Jihan...."
" Adek manis...." Ucap Jihan seraya mengelus pipi Safira.
Zafran melihat kebahagian mahkluk yang ada disana pun sempat berfikir untuk bisa menjadikannya sebuah keluarga yang untuh, damai dan bahagia.
Entah pemikiran darimana, ia pun sangat berniat untuk menjadikannya Iqbal sebagai menantunya, atau Safira yang sebagai menantunya.
" Kalau semuanya jadi keluarga, pasti bahagia yakan Mi....." Ucap Zafran tiba-tiba.
" Na'am Mas, keluarga yang lengkap." Sambung Rima tersenyum.
" Ma-maksudnya bagaimana pak Buk ?" Tanya Iqbal yang tengah bingung.
" Maksudnya, kita jadi keluarga yang utuh Iqbal. Kamu jadi menantu saya !"
Deg.......
Semuanya begitu terkejut, dengan apa yang mereka dengar. Termasuk seseorang yang bersangkutan dengan masalah hatinya masing-masing.
💕💕💕Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya !!!
Happy Reading guys...
Bersambung💕💕💕
__ADS_1