Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

"Apa ? Abang Kan juga sama Putri ?" Tanya Kia dengan keterkejutannya.


Rasya mengangguk membenarkan. Bahkan Rasya pun sama kagetnya seperti Kia setelah mengetahui bahwa sahabatnya juga mengagumi wanita yang sama.


Flashback ON


Tring...


Bunyi pesan whatsaap di ponsel Rasya membuat yang pemilik ponsel segera membuka pesan itu dan membalasnya.


Sohib Arkan


Asalammualaikum Sya...


Maaf ana tidak bisa menemani perjalanan khitbahmu.


Ada urusan mendadak yang harus segera ana selesaikan..


Ana doakan semua langgeng sampai halal..Amiin.


Rasya


Waalaikumsalam. Tidak apa-apa Kan


Syukron atas doanya, lain kali mampirlah lagi kepesantren jika waktumu senggang !


Sohib Arkan


Na'am insyaAllah...


Ana juga ingin bertemu dengan akhwat yang sempat ana temui kemarin.


Sepertinya Ana tertarik dengan perempuan itu.


Rasya


Siapa ? Siapa tau ana mengenalnya.


Sohib Arkan


Putri, ya namanya Putri.


Dia gadis berniqab, walaupun begitu tapi matanya sangatlah teduh dan pasti akhlaknya juga baik.


Rasya terkejut setelah pengakuan Arkan yang juga ternyata mengagumi wanita yang telah ia khitbah.


Tidak lagi berniat membalas pesan dari sahabatnya, Rasya meletakan kembali ponselnya di atas meja yang tidak jauh dari ranjang.


Ya Allah...begitu banyak ujianku untuk bisa menghalalkanmu Dek.


Bagaimana kalau Arkan maju melangkah dan Putri jatuh cinta padanya ? Secara yang Putri tau bahwa lelaki yang ia cintai telah mengkhitbah wanita lain. Bagaimana nanti kalau ia berpaling dariku ?


Astagfirullah, hamba harus bagaimana ya Allah...


Kia....ya lebih baik aku temui Kia sekarang !


Flasback Off


"Walaupun begitu tahanlah dulu Bang ! Jangan biarkan usaha kita sia-sia."


"Tapi Abang takut Dek," ucap Rasya khawatir.


"Percaya dan yakin Bang. Jodoh gak akan kemana, Abang sendiri yang menginginkan Putri berubah jadi wanita shalehah, tapi kenapa Abang sendiri sekarang yang gak yakin ?"


"Iya Abang yakin Dek, dan setelah ini Abang minta kamu tinggal di asrama bareng Putri !"


"Tugas kuliah Kia bagaimana Bang ?"


"Bukannya kamu sama Putri itu satu kelas, lewat online kan bisa dek. Itung-itung belajar bareng, ya gak ?" Ucap Rasya dengan menaik turunkan alisnya membuat Kia begitu jengah seraya menyebikan bibirnya.


Kia tidak dapat menolak permintaan dari Kakaknya itu. Setelah kepergian Rasya dari rumahnya, Kia mulai bersiap-siap menuju asrama kamar Aisya.


***


Keesokan harinya seperti yang sudah ia janjikan pada anak gadisnya, Bunda dan Ayah Aisya tengah bersiap-siap untuk menyambangi anaknya ke pesantren. Tak lupa juga mereka meminta kedua sahabat Aisya untuk ikut bersamanya sesuai permintaannya kemarin.


"Asalammualaikum Bund, Yah..." sapa Mona dan Icha bersamaan saat baru saja sampai di rumah Aisya.


Kedua orang tua Mona dan Icha juga sahabat dari Ayah Rama dan Bunda Elsa. Maka tak heran jika kedekatan mereka layaknya seperti saudara, dan bahkan kedua orang tua Aisya meminta kedua sahabat anaknya itu memanggilnya dengan Bunda dan Ayah sama seperti Aisya.


"Waalaikumsalam. Eh Mona sama Icha, masuk dulu yuk nak, kita sarapan !"

__ADS_1


"Ah, bunda tau aja kalau kita belum sarapan," Ucapan Mona sontak membuat Icha mencubit lengannya. Sementara Bunda Elsa hanya tersenyum menanggapinya.


"Ya udah yuk masuk !" Ajak bunda lagi. Keduanya mengangguk dan melangkahkan kakinya memasuki rumah.


Namun Bunda Elsa memintanya untuk pergi kemeja makan. Terlihat sudah ada Ayah Rama yang tengah menyeruput teh hangat di sana.


Mereka memutuskan untuk sarapan terlebih dulu sebelum memulai perjalanannya menuju pesantren.


"Ya ampun Cha, gue gak sabar deh ketemu Ais," ucap Mona antusias.


"Sama gue juga. Bund apa Ais sekarang sudah jadi ustazah ?"


Bunda Elsa tersenyum kemudian berkata,"Belum sayang, untuk menjadi ustazah tidak segampang itu. Ais belum mampu sampai ke sana, doakan saja semoga sahabat kalian itu bisa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya !"


"Amiin...." jawabnya kompak mengaminkan ucapan Bunda.


Perjalanan yang cukup memakan waktu tapi juga tidak membosankan karna disuguhkan pemandangan alam yang begitu sejuk dibandingkan kota Jakarta.


Mobil mereka kini sampai tepat di pelataran pondok pesantren Nurul Huda.


Bunda mengajak Mona dan Icha untuk turun dan mengikutinya.


"Bund, Icha malu.."


"Kenapa sayang ?"


"Lihat, mereka semua pada pake hijab. Sedangkan kami, seperti kadal yang gak pake baju," gerutunya seraya menyebikan bibir.


Bunda Elsa terkeheh."Tenang, bunda selalu bawa hijab cadangan di mobil. Pilihlah yang cocok dengan baju kalian !"


Bunda dan Ayah masih setia di dalam mobil menunggu anak dari sahabat mereka yang tengah memilih hijab.


"Siap....cantik gak bund ?" ucap Mona dan Icha dengan kompak.


"Anak-anak Bunda pasti cantik. Ayo kita turun !"


Bunda menghentikan langkahnya dan membalikan badan menatap kedua sahabat anaknya itu.


Apa yang terjadi pada Aisya, Bunda sudah mengatakan semuanya pada mereka. Namun dengan syarat, Aisya tidak boleh tau untuk sementara waktu karna ini permintaan dari Rasya, calon suaminya.


"Dengar Icha Mona, pura-puralah tidak mengenal Rasya, dan panggilah Aisya dengan nama Putri !"


"Bagus, Bunda percaya sama kalian," ucapnya sebelum kembali melangkah.


"Asalammualaikum..."


"Waalaikumsalam, masyaallah Bu Elsa Pak Rama. Mangga atuh silahkan masuk !" Pinta Umi Bul-bul.


"Terima kasih Bu Nyai."


"Ini ada sedikit oleh-oleh dari jakarta Umi," Bunda memberikan beberapa paperbag pada Umi Bul-bul.


"Masyaallah, tidak perlu repot-repot atuh Buk. Terima kasih," Ucap Umi seraya menerima paperbag itu.


"Kami kesini ingin bertemu dengan Putri Umi, apa bisa dipanggilkan ?!"


"Bisa buk pak, tunggu sebentar...!"


Umi Bul-bul berlalu menuju dapur yang ternyata memerintahkan santriwatinya untuk memanggil Putri.


"Silahkan diminum pak buk, dan ini...."


"Mereka sahabat Putri, Umi," jelas Bunda Elsa dan Umi pun hanya mengangguk seraya tersenyum.


Tak lama kemudian terdengarlah seseorang mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam..."


"Bunda Ayah, Putri kangen..." Ia berhambur memeluk Ayah dan Bundanya bergantian.


"Sama sayang, kami juga. Sehat nak ?" Putri mengangguk sebelum beralih menatap kedua sahabatnya yang tengah berkaca-kaca itu.


"Mona Icha....."


"Hiks hiks, Putri kita kangen tau. Lo itu jahat gak ngabarin gue kalau lo mau masuk pesantren," celoteh Mona.


"Bener banget Mon, kita kek udah gak dianggap sahabat lagi sama Putri." sambung Icha.


"Maaf ya, aku salah. Jangan marah dong !"


"Maaf diterima....." Jawab Mona membuat semuanya terkekeh.

__ADS_1


"Umi, boleh saya bawa Putri keluar sebentar ?"


"Silahkan pak, asalkan pulang tepat waktu !" Jawab Umi.


Ayah Rama mengangguk, kemudian mengajak Putri untuk keluar pesantren.


Ketiga sahabat itu saling melepas rindu dengan banyaknya mereka berbincang dan menceritakan kegiatan masing-masing selama ini.


Mobil pun berhenti di sebuah taman yang begitu banyak permainan anak-anak.


"Ayok turun !" Titah Bunda pada ketiga anaknya itu.


"Kok kesini Bund ?" Tanya Aisya bingung.


"Udah lama kan kita gak kumpul bareng dan menikmati pemandangan ini ?"


"Bunda bener Is, terakhir kita kumpul bareng di taman waktu kita SMP. Apa salahnya sekarang kita bernostalgia," ucap Mona seraya menaik turunkan alisnya.


Aisya mengangguk. Ia mengingat kembali masa dulu saat mereka berkumpul bersama saat wekeend.


Aisya tersenyum tipis mengingat masa-masa yang begitu menyenangkan itu. Masa-masa di mana saat ia remaja dan belum mengenal apa itu jatuh cinta.


Andai waktu bisa diputar, aku ingin memilih menjadi anak remaja yang tidak tau apapun selain bermain dan liburan. Tidak mengenal apa itu cinta atau bahkan patah hati.


"Ais, boleh bunda bicara sesuatu nak ?" Tanya Bunda memastikan dan Aisya mengangguk setuju.


"Begini sayang, bagaimana menurutmu kalau ada lelaki yang memintamu pada kami ?"


"Maksud Bunda ?" Tanya Aisya bingung.


"2 Hari yang lalu, ada pemuda yang datang pada kami untuk melamarmu nak. Bunda dan Ayah mengenal pemuda itu, dia anak yang baik serta shaleh. Kami pribadi selaku orang tua tidak keberatan melepaskan Ais pada lelaki yang sudah pasti akan membuatmu bahagia sayang. Tapi kami juga tidak bisa memutuskan sepenuhnya karna Ais sendiri yang akan menjalaninya. Menurut Ais bagaimana, apa lamaran pemuda itu diterima nak ?"


Deg.....


Aisya terdiam. Hidupnya seolah penuh dengan kerumitan karna masalah hati. Di sisi lain ia patah hati karna pria yang dicintainya selama ini telah meminang gadis lain, dan sekarang Bundanya mengatakan ada pemuda yang melamarnya begitu saja tanpa ia tau siapa orangnya dan baagimana karakternya.


Apakah ini takdir yang sesungguhnya ?


Saat kehilangan 1 orang yang kita cintai, datang orang lain yang mencintai kita.


Kenapa jalan cinta harus serumit ini ?


Apakah aku bisa menjalani hidup dengannya tanpa adanya rasa dan saling mengenal ?


Begitu banyak pertanyaan Aisya dalam hatinya. Siapa yang akan membantu ia menemukan jawaban itu.


"Apa Ais boleh tau siapa nama lelaki yang melamar Ais Bund ?"


"Namanga Faraz, sayang. Dia anak kerabat Bunda dan Ayah, anaknya tampan, sopan, baik juga shaleh. Bunda yakin kalau Ais menerimanya, hidup Ais akan bahagia nanti," ucap Bunda meyakinkan putrinya itu.


"Mona Icha, apa lo tau tentang ini ?"


"Ya gue tau, Bunda sudah cerita sama kita. Tapi untuk pemuda yang melamar lo gue gak tau gimana rupanya Is," jawab Mona penuh drama.


Andai ya Allah....andai....


Yang di posisi Faraz saat ini adalah Kak Rasya...


Maka akulah orang yang baling beruntung dan bahagia di dunia ini....


Ya Allah ya rabb...


Aku harus bagaimana ? Melupakan Kak Rasya dan menerima pinangan Faraz, atau menanti Kak Rasya bagai hal yang tidak pasti ?


"Lo gak perlu ngarepin orang yang gak pernah cinta sama lo Is. Pepatah mengatakan, lebih baik menikah dengan orang yang mencintai kita dari pada menikah dengan orang yang kita cintai tapi tidak mencintai kita. Lo masih ngarepin Kak Rasya ?" Pancing Mona membuat Aisya mendelik tajam meminta Mona untuk tidak lagi melanjutkan hal tentang Rasya di depan orang tuanya.


"Siapa Rasya, sayang ?"


**Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian yakk...


Happy Reading guys...


Kasih Vote dan hadiah yang banyak ya ! Biar Author makin semangat up nya**.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2