
"Astagfirullahhaladzhim...."
Suara seseorang dari luar kamar membuat Rasya menghentikan kegiatannya dan beralih dari atas tubuh istrinya.
"Enak sih enak Sya, tapi menutup pintu itu hal utama sebelum permainan dimulai," ucap umi Bila membuat Rasya mengangguk malu kemudian menutup pintu.
"Kenapa bisa sampe lupa nutup pintu sih mas, Aisya malu tau. Gimana kalau umi ternyata udah lihat kita ? Ah, Aisya malu mas," rengeknya membuat Rasya semakin tidak bisa berpaling dari tingkah gemas istrinya.
"Umi udah pengalaman dari kita sayang, jadi gak heran kalau dia gak sengaja lihat," jawab Rasya dengan santainya.
"Ya tapi kan.."
"Stttt, gak ada tapi-tapi, sekarang mas mau ngelanjutin ngasah !"
"Ngasah apa ?" Tanya Aisya yang memang tidak mengerti dengan bahasa isyarat suaminya.
Rasya mendekatkan bibirnya di telinga Aisya dan berbisik,"Ngasah senjata yang tumpul namun sangat membahayakan !"
Cup...
Tanpa aba-aba, Rasya langsung mengkungkung istrinya kembali. Melanjutkan pekerjaan mereka yang terhenti karna drama pintu terbuka.
(Untuk kali ini, Author minta gak usah kepooo !)
***
Hari ini adalah hari dimana pasangan Rasa ( Rasya Aisya ) beserta teman-temannya yang status sebagai mahasiwi akan berangkat kejakarta mengingat besok seluruh mahasiswi wajib hadir di kampus.
Aisya yang memang sengaja ingin menginap beberapa hari di rumah orang tuanya itu membawa keperluannya cukup banyak. Biasanya jika ingin bepergian kemana pun ia hanya menyibukan dengan keperluannya seorang diri, namun kali ini sangat berbeda mengingat status Aisya sekarang adalah seorang istri maka wajib baginya menyiapkan keperluan sang suami.
"Mas, biasanya mas bawa apa aja kalau kejakarta ?" Tanya Aisya seraya memasukan beberapa bajunya kedalam koper kecil.
"Tidak banyak sayang, tapi peralatan mandi wajib bawa ya ! Karna mas gak bisa jika harus memakai punya orang lain, walau baru sekali pun," jawab Rasya membuat Aisya mengangguk paham.
Setelah menyiapkan keperluan pribadinya, kini Aisya beralih menyiapkan baju Rasya sesuai dengan instruksinya itu.
"Sayang, tolong masukan juga al-quran ini !" Pinta Rasya seraya memberikan al-quran kecil pada istrinya."Mas selalu bawa al-quran juga, karna menurut mas itu hal yang wajib !' Tambahnya lagi.
Aisya hanya memgangguk mengerti dengan ucapan suaminya. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, Aisya bisa memahami sosok Rasya dengan singkat. Jika dulu ia hanya mengenal sosoknya dari sikapnya yang dingin pada perempuan, tapi kini berbeda dengan setelah menikah, Aisya bisa menguasai prinsip kehidupan suaminya yang tentu ia tidak akan bisa dan bahkan tidak akan pernah untuk jauh dari agamanya.
Maka sepatutnya sebagai seorang istri juga perempuan, Aisya sangat ingin mencontoh kepribadian juga ketaatan suaminya.
"Mas, kita mau nginep di rumah bunda berapa hari ?"
__ADS_1
"2 Hari aja gimana ? Di pesantren lagi sibuk-sibuknya sayang," jawab Rasya dengan harapan istrinya akan mengerti.
Aisya mengangguk seraya berkata,"Gak papa deh, dari pada gak sama sekali."
"Maafin mas ya sayang. Mas janji, kalau kerjaan di pesantren agak senggang, kita akan nginep lagi di rumah bunda selama yang kamu mau !"
"Janji ya mas ?" Tanya Aisya untuk lebih merasa yakin.
Rasya mengangguk seraya tersenyum."Mas janji !"
Semua keperluan yang mereka butuhkan selama di jakarta telah siap tersusun rapi di koper kecil milik Aisya. Kini saatnya mereka memulai perjalanan mengingat hari yang sudah semakin sore.
Dua mobil keluar dari pesantren dengan membawa penumpang masing-masing.
Menikmati suasana sore hari di perjalanan cukup memanjakan mata mereka yang telah lama berdiam diri di pondok pesantren.
"Daebak, sumpah demi apa, gue ngerasa bebas banget sekarang," ucap Mona antusias.
"Lo bener Mon, gue ngerasa lagi menghirup udara baru sekarang setelah sekian minggu kita berada di penjara suci," sambung Icha yang tak kalah bahagianya begitu setuju dengan ucapan Mona.
"Kalian pada lebay tau gak," ejek Amar yang tengah fokus dengan kemudinya.
"Is, kak amar ganggu aja. Kita lagi bahagia tau," gerutu Icha seraya menyebikan bibirnya.
"Iya. Asal lo tau ya kak, inilah yang dinamakan bahagia itu sederhana tanpa modal banyak," sambung Mona.
"Timbang nyetir doang, ribet amat lo kak jadi laki," gerutu Icha lagi.
"Ya iyalah. Nih dengerin ya, nyetir itu perlu tenaga dan konsentrasi. Tenaga di dapetnya dari mana, makanan kan ? Konsentrasi perlu ketenangan, lah lo pada udah bikin nyetir gue gak tenang ! Kalau tiba-tiba kecelakaan gimana ? Masuk rumah sakit biayanya gede," ucap Amar.
"Astagfirullah, jangan nyumpahin gitu dong kak ! Inget ya lo itu harus fokus nyetir, karna ada 3 nyawa yang perlu lo lindungi !"
"Eh cempreng, di sini ada 4 nyawa. Enak aja lo, emang gue mahkluk apaan ?"
"Mahkluk astral, eh salah lebih cocoknya makhluk aspal," ucap Icha membuat Amar mendelik tajam.
"Kalian ini ribut mulu, nanti jodoh loh," goda Reza.
"Dih, amit-amit gue jodoh sama tu mahkluk. Kayak gak ada yang lain aja," gerutu Icha.
"Gue juga ogah punya pasangan cempreng kayak lo," ucap Amar tak mau kalah.
Perdebatan kecil terjadi di mobil yang di bawa oleh Amar, berbeda lagi dengan suasana di mobil yang Rasya bawa.
__ADS_1
Kia yang duduk di kursi tengah memutar bola matanya malas melihat bagaimana abangnya itu yang ternyata adalah pebucin akut. Dua insan yang tengah sayang-sayange itu selalu menunjukan keromantisan mereka membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri, termasuk juga Kia saat ini yang begitu jengah dengan sikap kakaknya yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Nyesel Kia ikut mobil kalian," ucap Kia membuat Aisya juga Rasya meliriknya sekilas.
"Kenapa Ki, apa mobil mas Rasya gak nyaman ?"
"Mataku yang gak nyaman. Serasa sepet lihat kalian yang selalu saja bermesraan dimana pun tempatnya. Segaknya inget Kia yang jomblo dong !" Gerutunya seraya menyilangkan tangannya di dada.
Rasya dan Aisya saling lirik, kemudian saling melepaskan senyuman membuat Kia semakin kesal dengan tingkah mereka yang terkadang membuatnya tidak sabar untuk menikah.
"Abang...."
"Apa sih dek ? Udah diem, anteng jangan petakilan !" Jawab Rasya dengan santainya.
"Lihat kalian gitu, Kia jadi pengen punya suami," ucap Kia membuat Aisya menoleh kebelakang tidak percaya dengan ucapan yang mendadak keluar begitu saja dari bibir adik iparnya yang sekaligus juga sahabatnya.
"Ada Arkan yang sudah siap dek, gak perlu bingung !" Jawab Rasya masih dengan santainya.
Aisya semakin terkejut lagi dengan suaminya yang tiba-tiba menyebut nama Arkan. Bukankah Arkan dulu pernah memintanya berta'aruf ? Lalu sekarang, apa hal itu juga ia katakan pada Kia ?
Pertanyaan itu muncul seketika di benak Aisya, ia melirik suaminya yang masih fokus dengan kemudi seraya mengelus jari jemarinya.
"Apa mas Arkan juga mengajak Kia ta'aruf mas ?"
***
Dalam hidup ini, kepercayaan memegang peranan penting. Bahkan dalam keberhasilan sebuah hubungan, kepercayaan menjadi pondasi. Kepercayaan dalam konteks ini ialah harapan dan keyakinan akan kejujuran, kebaikan, dan sebagainya.
Dengan kepercayaan tersebut, kita bisa lebih terbuka kepada orang yang kita percayai. Begitu pula sebaliknya.
Kepercayaan tidak datang begitu saja, melainkan sesuatu yang diupayakan dan dibangun terus-menerus. Kepercayaan harus tetap dijaga karena begitu hal itu hancur, sulit bagi kita untuk membangun atau mendapat kepercayaan lagi.
Di sisi lain, tabiat orang yang berbeda-beda membuat kita sebaiknya tidak begitu saja percaya pada orang lain. Kita harus membekali diri dengan kemampuan untuk 'melihat' orang lain apakah mereka bisa dipercaya atau tidak.
Kita bisa saja terbuka pada orang-orang yang kita jumpai, namun sebaiknya simpan hal-hal yang sifatnya privat untuk diri sendiri.
Aisya putri
Happy Reading guys
Vote
Like
__ADS_1
Komennya jangan lupa !!!
Bersambung