
Hari yang paling Kia tunggu, mengetahui semua kebenaran yang selama ini di sembunyikan mereka yang telah mengkhianati arti kata persahabatan.
Namun kali ini ia tidak sendiri, Kia melakukan semua rencananya bersama dengan Arkan.
Awalnya ia tidak ingin memberitahu siapapun tentang misinya, tapi Arkan selalu menanyakan kenapa akhir-akhir ini Kia selalu saja sibuk dengan alasan menjadi detektif dadakan. Hal itu membuat Kia jengah dengan semua pertanyaan dari calon suaminya dan pada akhirnya Kia menceritakan semuanya pada Arkan.
Pagi sekali Arkan sudah sampai di pesantren nurul huda. Mencari Kia dan menanyakan hal apa yang akan dia lakukan setelah ini.
"Asalammualaikum."
"Waalaikumsalam, masuk nak !" Titah bunda Qila.
Arkan mengangguk, ia duduk di ruang tamu seraya menunggu Kia kembali dari asrama.
Tak berapa lama, seseorang mengucapkan salam yang ternyata adalah Kia.
"Waalaikumsalam."
"Bang...!" Panggil Kia.
"Kenapa ?"
"Telfon abang Rasya dan minta saat ini juga dia harus kembali kepesantren !" Pinta Kia dengan serius.
"Emangnya Kiki udah tau siapa kawanannya ?" Tanya Arkan dan Kia langsung menggeleng.
"Kita akan buktikan di depan abang Rasya dan Aisya langsung bang ! Biar cepet kelar urusannya," ucap Kia dan Arkan pun mengangguk paham.
Arkan mengambil ponselnya dan langsung menghubungi sahabatnya itu.
***
Sementara di kota jakarta, Aisya tidak mengerti kenapa harus mendadak mereka kembali kepesantren. Bukankah Rasya meminta Aisya untuk tinggal sementara waktu di jakarta ? Lalu kenapa harus kembali ke pesantren secepat itu ?
Tentu saja karna Rasya tau Kia sudah mengantongi bukti yang cukup kuat untuk meyakinkan Aisya kalau pelaku sebenarnya adalah sahabatnya sendiri.
"Tapi kenapa sih mas, kenapa harus secepat itu kita balik ke pesantren ?" Tanya Aisya yang merasa sangat penasaran.
"Ada hal penting yang akan adek tau nanti. Sekarang bersiaplah, setengah jam lagi kita harus berangkat !" Ucap Rasya yang membuat Aisya menghela nafasnya.
Aisya seraya bertanya-tanya dalam hati, ia membereskan semua barang miliknya juga milik Rasya memasukkan kedalam koper.
Setelah semuanya siap, kini mereka berpamitan dengan ayah Rama dan bunda Elsa.
"Sayang, jangan capek-capek ya ! Pokoknya kamu harus jaga cucu bunda jangan sampai dia kenapa-napa !" Ucap bunda Elsa setelah melepas pelukannya.
"Insyaallah bund, Aisya akan menjaganya dengan baik. Bunda sama ayah harus jaga kesehatan, oke !"
__ADS_1
"Iya sayang."
"Ayah, bunda, kami pamit dulu. Asalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mobil Rasya melaju meninggalkan rumah besar milik mertuanya.
Meskipun Rasya tau kalau Kia sudah mendapatkan bukti selanjutnya, tapi tetap saja ia merasa penasaran dengan bukti itu. Karna Arkan tidak memberitahunya tentang bukti selain hanya memintanya untuk pulang ke pesantren hari ini juga.
Hampir 3 jam di perjalanan, akhirnya mereka sampai di pesantren dengan selamat.
Rasya menurunkan koper dari bagasi mobilnya, kemudian membukakan pintu mobil untuk Aisya.
"Asalammualaikum," ucap mereka sesampainya di rumah.
"Waalaikumsalam wr wb. Alhamdulilah akhirnya kamu kembali nak," ucap abi Aqil.
"Memangnya kenapa bi ?"
"Umimu sudah dua hari ini merasa kurang enak badan Sya. Bahkan badannya sangat panas sekali," jelas abi Aqil.
"Astagfirullah, umi dimana sekarang bi ?"
"Ada di kamar."
"Asalammualaikum umi..." ucap keduanya setelah mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam. Rasya...ini beneran kamu nak ?" Ucap umi dengan lirih, berusaha bangun dan langsung dicegah oleh Rasya.
"Umi sedang tidak sehat, jadi berbaring saja !" Pinta Rasya dan terlihat umi hanya mengangguk kecil.
"Jangan pergi lagi nak, kamu adalah anak umi satu-satunya. Bagaimana hidup umi kalau kamu pergi ?" Ucap umi dengan tetesan air dari sudut matanya.
"Rasya tidak akan pergi mi, tapi tolong hargai istri Rasya ! Dia wanita pilihan hati Rasya mi, selain umi dialah wanita yang bisa membuat Rasya bahagia. Kalian berdua adalah wanita yang paling berharga dalam hidup Rasya, jangan meminta Rasya untuk memilih salah satu diantara kalian, karna Rasya tidak mungkin bisa memilih salah satunya," jelas Rasya.
"Aisya, sini nak !" Pinta umi Bila pada menantunya itu.
Aisya dengan sedikit takut melangkah mendekati umi dan duduk di tepi ranjang seraya menatapnya.
"Maafkan umi nak, maafkan umi yang selama ini membuat kamu merasa tertekan. Umi sekarang sadar kalau apa yang umi lakukan padamu itu sangatlah salah. Maafkan umi Aisya !" Ucap umi Bila menangis bersalah pada menantunya.
Aisya pun ikut menitikan air mata. Dadanya sangat sesak merasa terharu sekaligus sakit mengingat saat ia di perlakukan dengan tidak baik oleh mertuanya.
Aisya menghela nafasnya yang menghimpit dadanya itu, ia mengangguk pelan dan menyeka air matanya.
"Aisya memaafkan umi. Dan Aisya juga minta maaf kalau selama menjadi menantu umi Aisya kurang berkenan di hati umi. Tapi Aisya akan berusaha menjadi menantu dan istri yang baik untuk kalian !" Jawabnya.
__ADS_1
"Sini sayang !" Umi merentangkan kedua tangannya meminta Aisya masuk kedalam dekapannya.
Aisya memeluk ibu mertuanya dengan erat. Allah benar-benar memberikan hasil yang memuaskan dari kesabarannya selama ini. Rasya menitikan air matanya merasa terharu melihat dua wanita yang amat berarti dalam hidupnya itu tengah berpelukan.
"Umi, boleh Rasya tanya sesuatu ?" Tanya Rasya yang memang sejak tadi ia menahannya.
"Kia sudah menceritakan semuanya sama Rasya mi. Tolong jawab Rasya dengan jujur, siapa yang sudah menawarkan diri untuk menjadi istri kedua Rasya ?"
Deg.....
Aisya langsung melepaskan pelukannya dan berdiri menatap suaminya dengan lekat.
"Siapa ? Apa kamu ingin memaduku mas ?" Tanya Aisya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sayang dengerin dulu ! Ada seseorang yang ingin merusak rumah tangga kita bahkan menawarkan diri untuk menjadi madumu," jelas Rasya membuat Aisya melongo tidak percaya. Siapa orang itu yang begitu sangat terobsesi dengan suamiku hingga rela dirinya dijadikan istri kedua ?
"Karna masalah inilah, mas minta kita pulang ke pesantren hari ini juga !" Tambah Rasya lagi.
"Siapa mas ? Siapa yang beraninya mengusik kehidupan kita ?"
"Kita dengarkan umi dulu sayang, karna umi yang tau semuanya," ucap Rasya beralih menatap umi Bila yang masih terdiam.
"Tolong bantu umi untuk duduk !" Pinta umi pada Rasya. Rasya langsung membantu uminya untuk bersandar di ranjang.
"Semua ini salah umi, umi sudah termakan dengan omongannya hingga bila umi mengingatnya, rasa benci itu muncul. Maafkan umi neng !" Ucap umi kembali menangis merasa sangat berdosa pada menantunya itu.
"Aisya sudah memaafkannya umi, bahkan Aisya memaklumi kebencian umi pada Aisya yang tidak kunjung hamil. Aisya sangat paham dengan umi yang sangat tidak sabar untuk segera menimang cucu," jawab Aisya.
"Katakan umi, siapa orangnya ? Karna Aisya berhak tau semua ini !" Ucap Rasya lagi merasa sangat tidak sabar.
"Dia sahabat kamu neng, kalau umi tidak salah namanya adalah Mona !"
*Deg.....
Mo-mona, tidak mungkin* !
**Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian
Yakk
Happy Reading guys**
__ADS_1
Bersambung