
"Yaps, yang dikatakan abang Arkan bener bang. Jadi gini, Aisya cuma perlu menelfon nomor seseorang itu dengan bahasa anak jakarta lalu mengaku kalau Aisya adalah Mona dan memintanya untuk bertemu di danau belakang !" Jelas Kia menceritakan rencana yang harus Aisya lakukan.
"Ente gak usah khawatir Sya, kita bakalan ada disana juga tapi sedikit jauh dari Mbak Aisya. Biar gak ketauan !" Sambung Arkan yang mengetahui kekhawatiran sahabatnya.
Rasya menatap istrinya. Aisya yang sangat paham dengan tatapan itu tersenyum mengangguk."Aku akan melakukannya mas ! Selama kalian ada untuk menjagaku, untuk apa khawatir ?"
"Berjanjilah untuk berhati-hati sayang, mas gak mau kandungan kamu sampai kenapa-napa," ucap Rasya seraya mencium tangan Aisya.
"Aisya janji mas !" Jawabnya seraya mengangguk.
"Sekarang telfonlah ! Sudah aku siapkan semuanya," ucap Kia memberikan ponsel dengan nomor baru supaya tidak dicurigai.
Aisya menerima ponsel serta secarik kertas yang tertulis sebuah angka 12 digit.
Tak lama kemudian...
"Hallo, siapa ni ?" Tanyanya dari sebrang sana.
"Gue Mona !" Jawab Aisya dengan santainya.
"Ke-kenapa Mon, kenapa nomor kamu ganti ?"
"Bodoh ! Pertanyaan lo gak penting. Setengah jam lagi temui gue di danau belakang pesantren !"
"Ba-baiklah," jawabnya sedikit terbata.
Panggilan telfon berakhir. Aisya bernafas lega karna semua rencananya berjalan dengan mulus. Kia tersenyum seraya memberikan dua jempol pada sahabatnya itu.
Rahasia yang sebentar lagi akan terbongkar, hawanya kian memanas.
Kini giliran Aisya mengajak Mona untuk bertemu di danau belakang karna ia ingin menceritakan sesuatu pada dua sahabatnya itu. Sekaligus bernostalgia diantara tiga sahabat yang sudah sangat lama tidak menikmati waktu bersama.
"Ayolah Mon, Cha ! Aku pengen banget ngobrol dan bernostalgia dengan kalian. Di danau belakang adalah tempat yang pas, selain adem disana juga sangat nyaman dan tenang suasanya," ajak Aisya pada dua sahabatnya.
Tapi aku akan rubah suasana yang nyaman dan tenang itu menjadi sebuah mimpi buruk untuk kamu Mona, bathin Aisya bermonolog.
"Buat lo apa sih yang gak, ya kan Mon ?" Jawab Icha melirik Mona, sementara yang dilirik hanya tersenyum dengan mengangguk.
Pinter banget kamu nyembunyiin semua ini dengan kepribadian ganda. Ck, senyuman itu hanyalah palsu Mona
Kia, Arkan, dan Rasya saat ini sudah lebih dulu ada di tempat yang sudah direncanakan dengan matang dan sangat rapi.
Tak lama kemudian, datanglah Aisya dan kedua sahabatnya yang terlihat saling mengobrol seraya melangkah.
__ADS_1
"Lo mau cerita apa ke kita Is, pasti kita bakal dengerin," tanya Icha setelah memposisikan diri dengan duduk di tepi danau dan melempar bebatuan kecil itu kesungai.
"Hidupku sekarang hancur Cha, sekarang aku dibenci oleh umi Bila. Entah kenapa dan apa sebabnya, umi Bila sekarang sikapnya sangat dingin. Menurut kalian umi Bila kenapa bisa berubah gitu ya ? Atau jangan-jangan ada yang menghasutnya ?" Tebak Aisya dengan melirik kearah Mona yang masih terlihat tenang dan santai seolah memang bukan dialah pelakunya.
"Tapi siapa yang menghasut ustazah Bila ? Gue rasa kita gak punya musuh disini," jawab Icha merasa aneh dengan dugaan Aisya itu.
"Mungkin saja kan, orang terdekat kita," jawab Mona.
"Bener banget. Aku setuju sama kamu Mona, pengkhianat tidak memandang sahabat atau saudara sekalipun !" Ucap Aisya membenarkan apa yang Mona katakan dengan sedikit menekan kalimat sahabat.
Saat sedang asyiknya menikmati suasana tenangnya danau itu.
Aisya sengaja pamit sebentar untuk membeli minum karna merasa sangat haus.
Saat ini, tinggalah Mona dan Icha yang masih dengan santainya mengobrol disana.
Apa yang Aisya katakan bukanlah hal yang sebenarnya, namun ia ingin menghampiri ketiga orang yang tengah mengintainya dari kejauhan.
"Gimana Is ?" Tanya Kia.
Aisya tersenyum mengangkat kedua jempol tangannya."Sip, sesuai rencana !" Jawabnya.
Tak selang berapa lama Aisya pergi, datang lagi seseorang yang menghampiri Mona dan Icha. Sudah dipastikan jika seseorang itu adalah pemilik nomor yang Aisya telfon sebelumnya.
"Ngapain lo kesini ?" Tanya Mona kaget dan langsung berdiri setelah melihat bukanlah Aisya yang datang.
"Telfon ? Kapan gue nelfon lo ?"
"Tadi kan setengah jam yang lalu. Kamu bilang minta ketemuan di danau belakang setengah jam lagi," jawabnya.
Mona pulai manik, raut wajahnya terlihat sangat khawatir. Hal itu membuat Icha bingung sebenarnya ada apa dengan sahabatnya itu ?
"Ini sebenernya ada apa sih ? Lo tadi telfon Zahra Mon ?" Tanya Icha pada Mona.
Ya, pemilik nomor misterius itu adalah Zahra.
Apa itu artinya Zahra adalah wanita yang sekongkol dengan Mona untuk menghancurkan pernikahan Aisya ?
Tapi kenapa harus Zahra ?
"Gue gak telfon Zahra Cha, sumpah gue bahkan gak ngerti siapa yang udah nelfon lo sebenarnya," jawab Mona dengan raut wajah yang berubah menjadi cemas.
"Terus lo kenapa panik gitu ?" Tanya Icha akhirnya yang memang kepanikan Mona terlihat sangat jelas.
__ADS_1
"Gu-gue.......
"Emangnya kamu gak tau apapun Cha ?" Tanya Zahra pada Icha dan langsung dijawab dengan gelengan kepala.
"Jadi, rahasia ini cuma kita yang tau Mon ?" Tatap Zahra beralih pada Mona.
"Tunggu dulu, rahasia apa memangnya ? Kalian berdua nyembunyiin apa dari gue ? Mon....!" Icha menatap Mona dengan tatapan penuh tanya.
Prok...
Prok..
Prok....
"Dua pengkhianat telah tertangkap basah. Bagaimana, apa permainanku ini cukup bagus ? " Ucap Aisya dengan sedikit meledek.
"Sebenarnya ada apa sih Is ? Dua pengkhianat maksud lo siapa ?" Tanya Icha benar-benar tidak mengerti sekaligus sangat penasaran.
"Kamu tanya aja sama Sahabat kita yang satu ini ! Rahasia apa yang sudah ia sembunyikan. Dan asal kamu tau Cha, Mona telah mengkhianati ku dengan cara yang sangat menjijikkan dan kotor !" Ucap Aisya dengan sedikit lantang.
"Gue tanya sama lo Mona, apa yang sudah lo lakuin sama Aisya, sahabat kita ? Jawab gue Mon !" Bentak Icha merasa sangat kecewa dengan sikap Mona yang halus di luar namun busuk di dalam.
"Ya, gue emang udah ngekhianatin lo. Asal lo tau, gue juga cinta sama kak Rasya. Lo puas ?!!!!" Teriak Mona yang membuat Aisya menitikan air matanya.
"Salahku apa Mon ? Kenapa kamu tega mengkhianati sahabatmu sendiri, kita bertiga bukan hanya sahabat Mona, tapi juga saudara. Kenapa Mon, kenapa ?"
"Karna lo udah ngerebut kak Rasya dari gue ! Jadi apa salahnya gue berusaha memperjuangin apa yang harusnya jadi milik gue," jawab Mona dengan santainya dan menatap Aisya dengan senyum sinisnya.
Bukannya merasa bersalah, tapi Mona malah semakin bertingkah dengan pengakuannya yang juga menginginkan Rasya untuk jadi suaminya.
Plakkkkk........
**Tinggalkan
Vote
Like
Komen
Kalian yakk
Biar author makin semangat upnya
__ADS_1
Happy Reading guys**
Bersambung