Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Walau hampir setiap harinya Aisya merasakan sesak dengan pertanyaan-pertanyaan yang selalu menanyakan tentang kehamilannya, tapi di sisi lain sikap romantis dari Rasya mampu melunakkan keadaan hatinya yang tidak dalam keadaan baik.


Seperti saat ini, Rasya dengan telaten menyuapi nasi goreng yang ia buat atas permintaan istrinya itu.


"Gimana, enak ?" Tanya Rasya melihat Aisya begitu sangat lahap menerima suapan dari tangan suaminya.


Aisya mengangguk."Sangat enak, mas belajar masak dari mana ?"


"Mas punya kafe sayang, kalau kamu lupa. Sejak kecil hobi mas selalu bantu umi saat di dapur," jelasnya.


Aisya semakin bangga dengan kepribadian suaminya yang menurutnya serba bisa itu. Bukan hanya suami yang bisa melindungi istrinya, tapi ia juga paham bagaimana cara membuat istrinya merasakannya bahagia walau dalam hal sekecil apapun bahkan hal yang sepele sekali pun.


"Sudah cukup mas, Aisya sudah kenyang !" Pintanya pada Rasya untuk tidak lagi menyuapinya.


Rasya mengangguk tidak ingin memaksa Aisya untuk menghabiskan makanannya. Jika tidak, sudah pasti Aisya akan marah-marah dan menyalahkannya karna berat badannya yang tiba-tiba naik drastis.


Namun beberapa saat kemudian, Rasya panik melihat Aisya yang tiba-tiba berlari kekamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang baru saja ia makan tanpa tersisa.


Hoek...hoek...


"Astagfirullah, sayang kamu gak papa ?" Tanya Rasya panik dengan tangan yang berusaha memijat tengkuk leher istrinya.


"Mash...." panggil Aisya lirih seraya terduduk lemas menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi.


Rasya berjongkok menatap iba istrinya yang terkulai lemas setelah mengeluarkan semua isi perutnya.


Tanpa aba-aba, Rasya langsung menggendong Aisya dan membaringkannya di atas ranjang.


"Kita kedokter ya !" Pinta Rasya merasa sangat khawatir dengan kondisi Aisya saat ini.


Aisya menggeleng."Aku tidak papa mas, cuma sedikit mual dan pusing. Mungkin dengan istirahat akan baikan," tolaknya pada Rasya.


Rasya menghela nafasnya dengan berat, ia menganggukinya dan meminta Aisya beristirahat di kamar.


Rasya meninggalkan Aisya yang tengah tertidur pulas, menuju asrama karna masih ada jadwalnya untuk mengajar para santri.


***


Saat senja atau sore hari jadi favorit bagi sebagian orang. Pemandangan langit yang kemerahan dan matahari yang tenggelam, memang sangat indah dan menenangkan. Terlebih, jika pemandangan itu dinikmati di tempat spesial seperti di gunung atau tepi pantai. Tanpa sadar, pemandangan indah itu lantas memancing kita untuk merangkai kata-kata senja sore.


Tidak saja indah, langit senja juga identik dengan suasana romantis. Tak heran, jika kemudian kata-kata senja sore ditulis dengan bahasa yang indah, puitis, dan menyentuh. Keindahan kata-kata yang menggambarkan senja di sore hari juga bisa memberikan ketenangan, setelah lelah beraktivitas seharian.


Tapi tidak untuk seseorang yang satu ini, jika sebagian orang menggambarkan suasana sore hari dengan romantis dan puistis, tapi tidak untuk Reza.


Semenjak hari di mana Kia telah menentukan pilihannya pada Arkan, Reza seolah berubah dingin terlebih lagi pada wanita.

__ADS_1


Menutup hatinya yang telah berlumur dengan luka, tanpa berniat mengobatinya ia hanya bisa menikmati apa yang saat ini dirasakan.


"Ck, aku memang tidak beruntung jika tentang asmara," gumamnya lirih menerawang masa yang sudah pernah ia lewati.


"Ngelamun lo," ucap Amar sedikit membuat Reza terkejut dan membuyarkan lamunannya.


"Gak," jawabnya datar tanpa ekspresi apapun.


"Udahlah Za, gara-gara cewek lo berubah gini. Mana Reza yang gue kenal ? Yang banyak bicara dan tidak terpuruk sebegitunya," ucap Amar seraya menepuk pundak sahabatnya.


"Sok tau lo," jawabnya dengan ketus.


"Masih ada Mona sama Icha noh, mereka juga gak kalah cantik kok. Ya walaupun agak petakilan, tapi sesuailah sama pribadi kita," saran Amar membuat Reza mendelik tajam kearahnya.


"Ck, segitunya lo Za," tambah Amar lagi dan berlalu pergi meninggalkan sahabatnya yang masih setia dengan posisinya saat ini.


***


Rasya yang tengah mengajar tiba-tiba menghentikan belajarnya karna seorang santri yang tiba-tiba datang memberitahunya dengan raut wajah yang panik.


"Ada apa ?"


"Ning putri gus, ning putri pingsan !"


Rasya meninggalkan begitu saja kelas belajarnya dengan memberi para santri sebuah pr. Ia berlari dengan sekencang-kencangnya menuju rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Umi bila seraya menoleh kearah sumber suara.


"Astagfirullah Aisya, kamu kenapa sayang ?" Tanya Rasya dengan panik seraya memeluk tubuh istrinya yang terlihat begitu lemas tak berdaya.


"Umi, sebenarnya ini kenapa ? Rasya meninggalkan Aisya karna dia lagi istirahat di kamarnya. Dek, jawab mas ! Bukannya tadi adek tidur ?" Tanya Rasya beralih menatap istrinya yang tengah berbaring itu.


"Iya tadi Ais tidur mas, tapi setelah bangun Ais ngerasa bosen dan akhirnya bantu cuci piring di dapur," jawab Aisya berharap suaminya tidak banyak pertanyaan dan curiga.


"Kejadian sebenarnya bukan seperti itu Sya," sahut abi Aqil yang tiba-tiba datang membuat Rasya menoleh seraya terkejut dan menatap abinya penuh tanda tanya.


"Jelaskan bi ! Ada apa sebenarnya ?"


"Umimu yang sudah membangunkan neng Aisya meminta untuk membantunya di dapur !" Jelas abi Aqil membuat Rasya menatap sang ibu merasa tidak habis pikir dengan sikap uminya yang berubah saat ini.


"A-apa itu benar umi ?" Tanya Rasya sedikit gugup, benar-benar ingin memastikan apa yang diucapkan abinya adalah benar.


"Apa salahnya, bukankah seharusnya menantu membantu ibu mertuanya untuk urusan dapur ?" jawab umi membela diri.


"Itu kalau Aisya sehat umi, istri Rasya saat ini sedang tidak enak badan. Apa umi tau ?" Ucap Rasya sedikit berteriak merasa tidak habis pikir istrinya akan diperlakukan seperti ini oleh uminya.

__ADS_1


"Umi, walau bagaimanapun apa yang umi lakukan itu salah. Tidak seharusnya umi mengganggu istirahat neng Aisya yang sedang tidak enak badan," sambung abi Aqil yang ikut menasehati istrinya.


"Ya umi mana tau kalau Aisya sedang tidak enak badan. Kenapa kalian malah menyalahkan umi ?"


"Mas, sudahlah Aisya gak papa mas !" Ucap Aisya tidak ingin suaminya memperpanjang masalah.


Walau bathinnya merasa sangat sesak diperlakukan seperti itu oleh ibu mertuanya yang dulu begitu menyayanginya layaknya anak kandung. Aisya memahami umi Bila yang sangat tidak sabar untuk segera menimang cucu, hingga sikap uminya berubah dingin padanya. Ia menerawang kejadian yang baru saja terjadi, merasa tidak kuat dan ingin menenangkan diri jauh dari keramaian orang.


Flash back On


Aisya tertidur pulas setelah Rasya memijat pelan pelipisnya.


Hingga ketukan pintu berkali-kali membuat tidurnya terusik dan mulai mengerjapkan matanya untuk berusaha beranjak dari ranjang walau rasa pusing masih belum juga hilang.


Ceklek...


"Afwan umi, Aisya sedang tidak enak badan. Maaf kalau Aisya lebih sering di dalam kamar," ucap Aisya dengan lirih merasakan pusing di kepalanya cukup membuat ia sakit dan tidak betah berdiri lama-lama.


"Umi perlu bantuanmu, ayo kedapur, tolong bantu cucikan piring !" Titah umi. Walau dengan nada yang biasa, tapi menurut Aisya nada bicara umi padanya sekarang cukup dingin dan datar dibandingkan dengan umi yang bicara dengan penuh kelembutan dan kemaklumannya dahulu.


Aisya tidak bisa menolak. Ia memaksakan dirinya untuk terjun kedapur membantu umi Bila.


"Astagfirullah, ya Allah rasanya sakit sekali !" gumam Aisya seraya memegangi kepalanya.


Rasa pusing dan sakit di kepalanya itu semakin bertambah. Pandangannya yang mulai gelap, hingga ia terjatuh dan tak sadarkan diri.


Umi Bila berteriak memanggil suaminya. Setelah abi Aqil datang dan membantu membopong menantunya, ia memerintahkan salah satu santri untuk segera memanggil Rasya di kelas belajarnya.


Flash back Off


Harap sabar untuk penderitaan Aisya saat ini.


Tolong komentarnya jangan mencak-mencak ya ! Author takut tauk😭😭😭


**Tinggalkan


Vote


Like


Komen


Kalian yakk


Happy Reading guys**

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2