Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Aisya terdiam saat orang tuanya bertanya siapa Rasya seperti yang Mona katakan. Entah mulai dari mana ia menceritakan sampai pada akhirnya mencintai pria yang tidak pernah dekat dengan wanita yang bukan makhromnya itu.


"Tidak masalah kalau Ais gak mau cerita sama Bunda. Ais juga pasti butuh waktu kan ?"


"Tidak Bund, Ais akan ceritakan siapa Kak Rasya itu," Aisya menghela nafasnya mencoba mengatakan semuanya dari awal pada orang tuanya."Kak Rasya adalah pria yang Ais cintai Bund, bahkan saat pertama kali Ais bertemu dengannya. Sampai akhirnya tiba-tiba Kak Rasya hilang bagai ditelan bumi yang tidak pernah terlihat lagi kehadirannya di kampus. Saat itu Ais berfikir kalau kak Rasya tidak akan pernah suka sama Ais secara Ais bukanlah wanita shalehah seperti yang di harapkan kak Rasya. Pada akhirnya Ais meminta bantuan pada Kia, teman satu fakultas yang ternyata juga sepupu dari kak Rasya untuk belajar bagaimana caranya berhijrah. Asal bunda tau, saat kita mengunjungi rumah nenek Ais pernah pamit untuk melihat suasana sekitar bukan ? Pada saat itulah langkah Ais terhenti tepat di depan pesantren Nurul huda yang ternyata di depan gerbang ada beberapa lelaki yang tengah berbincang. Dan salah satunya adalah Kak Rasya. Namun yang membuat Ais sedih, saat itu Kak Rasya tidak mengenali siapa Ais bahkan dari suaranya sekali pun. Ais mulai bertekad setelah itu dan meminta izin pada kalian untuk masuk ke pesantren di mana kak Rasya berada saat ini. Namun pada kenyataannya sekarang kak Rasya sudah mengkhitbah wanita lain yang bahkan Ais tidak tau siapa wanita itu," jelas Ais panjang lebar dengan tatapan sendunya.


Bunda Elsa serta Ayah Rama juga kedua sahabat Ais itu tengah menahan senyum. Mata ke 4 manusia itu saling lirik seraya tersenyum dengan melihat Ais yang tertunduk sedih.


Tidak tega sebenernya, tapi setelah mendengar penjelasan Rasya bahwa ini juga demi kebaikan Aia sendiri, akhirnya mereka menyetujui untuk menyembunyikan hal ini sampai waktu yang tepat nanti tiba.


Kak Rasya, maafkan aku jika aku harus menyerah sampai di sini....


Saat kenyataan tidak berpihak padaku, aku tidak bisa lagi mengharapkan sesuatu hal yang memang bukan di takdirkan untukku...


Maafkan aku...


Bismillah, ini yang terbaik untukmu Ais !


"Bismillah, jika pilihan Bunda dan Ayah adalah yang terbaik untuk Ais, insyaallah Ais menerima pinangan dari Mas Faraz," ucap Ais lagi.


"Apa kamu yakin sayang ?" Tanya Bunda Elsa memastikan sekali lagi jawaban dari putri semata wayangnya itu.


Aisya mengangguk dengan mantap membuat sang Bunda memeluknya seraya berkata,"Yakinlah nak, Faraz akan jauh lebih baik dari seseorang yang kamu harapkan. Masalah cinta, akan datang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu."


***


Sunyi, tenang, dan damai. Suara rintik hujan menemani malam yang begitu dingin hawanya.


Tetes demi tetes air itu mulai membasahi jalanan yang kering bahkan terlihat sangat sepi. Hanya suara katak yang menjadi pengisi keramaian saat hujan turun dengan membawa melodi. Maka siapa saja yang mendengarnya akan terhipnotis dengan alunan merdu setiap tetesnya.


Jam sudah menunjukan jarum pendeknya tepat di angka 11 malam, namun Aisya masih terjaga dengan pemikirannya yang berkecamuk dalam otaknya itu.


Sementara Kia yang berada di sampingnya sudah terlelap jauh kealam mimpi.


*Ya Rabb..apakah keputusanku ini sudah tepat ?


Krukkk...krukk*...


Tiba-tiba saja perutnya merasa lapar karna sore tadi Aisya enggan untuk mengambil jatah makannya.


"Ya Allah, bagaimana pun keadaan hati tapi urusan perut tidak bisa dibohongi," gumamnya seraya meraba perutnya yang terasa lapar.


Aisya berjalan perlahan dan mengendap-endap layaknya maling karna takut Kia akan terbangun.


"Huh...aman..." gumamnya lagi seraya mengelus dadanya saat berhasil keluar dari kamar.

__ADS_1


Aisya berjalan di tengah malam menuju dapur umum untuk melihat masih adakah makanan yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya yang kosong.


"Alhamdulilah masih ada..." gumamnya saat membuka tudung saji dan terlihat ada nasi dengan lauk tempe oreg serta ikan asin yang tersisa di sana.


Saat tengah menikmati makan malamnya, eh ralat bahkan makan hampir di tengah malam. Ais mendengar suara langkah seseorang yang membuatnya menghentikan suapannya seraya berjaga-jaga.


Buru-buru ia memakai kembali niqabnya dan berjalan kearah pintu untuk mengintip siapa yang datang ke dapur umum di tengah malam seperti ini.


Ceklek....


Pintu terbuka. Ais yang sudah menggenggam sapu sebagai senjatanya itu seketika memukul seseorang yang hendak memasuki dapur umum.


Buuk...buuk...


"Mau maling ya ?"


Buk...pluk...prakkk...Awwwwww


"Mbak, mbak hentikan ini saya, Gus Rasya !"


Aisya menghentikan pukulannya saat mendengar nama Rasya. Lampu dapur yang sengaja di pasang cahaya temaram itu membuat Aisya tidak begitu jelas melihat wajahnya.


Cetek....


Aisya berjalan menghidupkan lampu utama yang cahayanya begitu terang.


"Astagfirullahalazhim, mas Rasya. Maaf mas, Putri gak tau kalau itu mas Rasya," ucap Aisya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa mbak. Tapi kenapa malam-malam begini mbak Putri ada di dapur ?" Tanya Rasya seraya meliriknya sekilas sebelum ia berjalan mengambil minum.


"Eh, itu..emm saya lapar Mas," jawab Aisya malu.


Rasya menyunggingkan senyum tipisnya membelakangi Aisya.


Senyuman yang sangat jarang terlihat itu seketika mengembang saat bertemu dengan pujaan hatinya tanpa disengaja.


"Apa masih ada makanan mbak ?"Tanya Rasya seraya membalikan badan menatap wanita di depannya.


Aisya yang melihat Rasya menghadap padanya buru-buru ia menundukan pandangannya tak berani menatap lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta sekaligus patah hati.


"Ma-masih mas, a-apa mas Rasya juga lapar ?" Tanya Aisya sedikit gugup. Rasya mengangguk. Ia melirik piring yang tak jauh darinya dan mengambil piring itu yang sudah lengkap dengan isinya.


"Mas, itukan punya saya !" ucap Aisya sedikit kesal melihat Rasya yang seenaknya sendiri mengambil jatah makannya.


"Oh punya mbak Putri, kalau begitu barengan aja !" jawabnya enteng tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


Aisya begitu geram melihat tingkah Rasya yang cukup membuat adrenalin kedongkolannya naik.


"Mas.....!"


"Apa ?" Tanya Rasya dengan tangan yang sibuk menyuap makanan kedalam mulutnya.


"Mas Rasya kan bisa ambil sendiri mas. Itu makanan bekas saya..!"


"Lalu kalau bekas kamu masalahnya di mana ?" ucap Rasya dengan tenangnya seraya menikmati makanan itu yang hampir habis.


"Ya-ya kata orang secara gak langsung kita...." Aisya menghentikan ucapannya setelah melihat Rasya beranjak dan mulai mendekatinya.


"Kita apa ?" Rasya berjalan mendekati Aisya, sontak Aisya melangkah mundur hingga tubuhnya terpentok tembok.


"Kita apa ?" Tanya Rasya kembali dengan menatap lekat wanita itu dari dekat.


*Ya Allah, bolehkah aku pikul wanita ini untuk dibawa pulang ? Dan akan kujadikan dia sebagai guling di kamarku*. Gumam Rasya begitu terhipnotis melihat mata Aisya yang membuatnya lupa diri.


Kak Rasya, aku mohon jangan melihat ku seperti itu..


Tatapanmu membuatku semakin tidak bisa berpaling Kak..


Rasya mendekat, semakin mendekat, wajah keduanya hanya berjarak beberapa cm saja. Aisya memejamkan matanya merasakan hembusan nafas Rasya yang begitu jelas ia rasakan pada wajahnya.


"Berciuman maksudmu ?" Bisik Rasya di telinga Aisya yang membuat yang empunya mendelik tajam. Sementara Rasya memundurkan tubuhnya seraya tersenyum melihat bagaimana tingkah Aisya yang menurutnya begitu imut.


Sungguh menggemaskan....


Astagfirullah, khilaf malam ini saja boleh kan ?


Ah, babang Rasya...buruan halalin geh...


Jangankan berbisik....


Mau dipikul dan dijadikan guling pun boleh🤣🤣


**Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian yakk


Happy reading guys**...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2