
Rasya tertegun saat wanita yang tengah merasakan perih di kakinya itu melirik sekilas ke arahnya.
Bola mata dan netra nya mengingatkan ia pada seseorang. Atau mungkin orang itu sendiri adalah Aisya ? Rasya masih bertanya-tanya dalam benaknya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ehem, maaf kak, kalau gitu saya tinggal dulu. Permisi !" Ucap mbak Dewi yang ternyata membuat Rasya salah tingkah kemudian mengangguk.
"Mau ke rumah sakit ?" Tawar Rasya.
Wanita itu hanya menggeleng,"Tidak perlu pak, sudah sedikit lebih baik," tolaknya dengan sopan.
Wanita itu berusaha berdiri dari duduknya, namun ternyata kakinya tak mampu berdiri dengan benar hingga tubuhnya terhuyung, memegang tangan untuk menopangnya.
Deg...
Tatapan mereka kembali bertemu, menikmati bayangan yang terlintas dari penglihatan masing-masing.
Jantung kedunya berdetak tak biasa, merasakan ada getaran aneh saat tangan putih menyentuh kulit tangannya.
"Astagfirullah," wanita itu segera tersadar dan melepaskan dengan cepat tangannya yang masih memegang tangan Rasya.
"Ma-maf pak !" Ia tertunduk merasa bersalah telah lancang memegang tangan pria yang sama sekali tidak dikenalnya.
Rasya mengangguk, ia masih menatap tangannya yang baru saja di sentuh oleh wanita pemilik mata indah itu. Masih terasa hangat dan bahkan sedikit meninggalkan bekas karna wanita itu memegangi tangannya begitu erat.
"Tunggulah sebentar !" Ucap Rasya memintanya untuk menunggu.
Wanita itu menyipit, ia merasa bingung kenapa harus menunggu ? Memangnya apa yang akan di lakukan pria itu ?
Tak berapa lama, Rasya kembali dengan di ikuti seseorang wanita yang tadi menolongnya. Tak lain adalah mbak Dewi.
"Tolong bantu papah dia masuk mbak !" Pinta Rasya pada mbak Dewi.
"Eh, tapi...."
"Kenapa ? Mau berusaha sendiri ? Jangankan berjalan, untuk berdiri saja kau seperti orang mabuk." Tatapan Rasya beralih pada mbak Dewi,"Bantu Ukhty ini, mbak !" Titahnya lagi pada mbak Dewi.
Aisya tak mampu lagi menolak setelah tangan mbak Dewi mulai menyentuh lengannya. Ia berjalan dengan di bantu mbak Dewi, melangkah sedikit terpincang-pincang menahan lukanya yang terasa sakit dan perih.
Kalau saja tau akan mengalami kecelakaan seperti ini, ia lebih memilih mengurungkan niatnya untuk mencari pekerjaan di hari ini.
__ADS_1
Mungkin keluarga Evan tidak mempermasalahkan harus mengeluarkan biaya kebutuhan sehari-hari calon menantu mereka, namun Aisya harus menahan rasa tidak enak hati selama bertahun-tahun bergantung hidup pada orang lain, ya meskipun nantinya mereka juga akan menjadi bagian dari keluarga, tapi tetap saja, Aisya merasa tidak pantas diperlakukan bak tuan putri yang kebutuhannya selalu terpenuhi tanpa harus bekerja keras. Do you know ? Itu bukanlah hidup Aisya. Yang bergantung pada orang lain demi memenuhi kebutuhannya.
"Ini !" Rasya memberikan salep pada Aisya."Obati lukamu !" Lanjutnya lagi.
"Terima kasih," jawab Aisya setelah menerima pemberian Rasya.
Rasya memutar badan dan melangkahkan kaki berniat kembali keruang kerjanya. Namun ia menghentikan langkahnya saat Aisya mengajaknya kembali bicara.
Rasya kembali memutar badan menatap penuh tanya wanita itu.
"Apa disini ada lowongan pekerjaan ?"
Rasya menggeleng,"Semuanya sudah terisi," jawabnya.
Aisya menghela nafasnya kasar, ia harus mencari pekerjaan dimana saat ia benar-benar membutuhkan sebuah pekerjaan.
Rasya melihat dengan jelas Aisya tampak kecewa setelah mendengar jawabannya.
"Afwan, memangnya siapa yang ingin bekerja ?" Tanya Rasya yang tiba-tiba saja rasa penasarannya itu muncul.
"Saya !"
Mata Rasya membulat tak percaya. Ukhty ini ingin bekerja ? Kenapa ? Bahkan terlihat dari pakaiannya ia adalah orang berada, lalu kenapa harus mencari pekerjaan ?
Rasya menarik kursi dengan meja di tengahnya sebagai pembatas dan jarak antara ia dengan seseorang yang bukan mahramnya.
"Ukhty yakin mau bekerja ?"
Aisya terdiam tidak berbicara, namun anggukan kepalanya sudah dipastikan bahwa itu adalah jawaban dari pertanyaan Rasya.
"Kenapa ?"
"Apa pentingnya bapak tau kehidupan saya ? Kenapa bertanya sedetail itu ?"
Ah, iya benar juga. Rasya menggerutu dalam hati merasa seperti sudah kehabisan kata-kata sampai harus menanyakan hal privat yang tidak sepantasnya ia tau.
"Ah, maaf, saya hanya ingin memastikan kalau seseorang itu memang benar-benar membutuhkan pekerjaan," jawabnya.
Alasan yang logis. Bathin Rasya tersenyum.
__ADS_1
"Jika bapak berkenan memberikan pekerjaan kepada saya, insyaallah saya tidak akan mengewakan bapak, terlebih pelanggan di kafe ini," ucap Aisya meyakinkan Rasya bahwa niatnya itu bukanlah main-main. Aisya tidak bisa harus menceritakan kenapa ia mencari pekerjaan sementara semua kebutuhannya terpenuhi tanpa kekurangan apapun. Ya, semoga saja pria yang ada di depannya saat ini mau berbaik hati memberikannya sebuah pekerjaan.
"Apa yang harus saya percaya darimu ?"
"Saya memang belum berpengalaman bekerja pak, tapi saya yakin kali ini kinerja saya akan memuaskan bapak dan juga pelanggan. Cukup berikan saya kesempatan untuk bekerja disini ! Sisanya, insyaallah saya akan membuat bapak percaya dengan niat saya," jawab Aisya penuh dengan keyakinan.
"Baiklah, saya akan memberikanmu pekerjaan disini. Apapun masalahnya, semoga cepat terselesaikan. Selamat bergabung di kafe R.S sya !"
Aisya mengangguk, ia tersenyum bahagia di balik wajahnya yang tertutup cadar."Terima kasih banyak, pak !"
Rasya mengangguk, ia ikut merasakan kebahagiaan wanita itu yang baru saja mendapat pekerjaan di kafenya.
"Saya Rasya, pemilik kafe ini. Jangan pernah sungkan jika ada hal yang ingin di tanyakan. Saya tidak pernah menganggap kalian itu bawahan saya, kita semua sama di mata Allah dan saya pun menganggap kalian sama seperti itu," ucap Rasya yang tidak ingin kalau sampai karyawannya merasa atau beranggapan sangat rendah di mata bosnya.
Aisya mengangguk paham.
"Boleh saya tau nama ukhty ?"
"Saya Isya, pak !"
"Isya ?" Rasya kembali mengulang kalimat Aisya. Aisya mengangguk membenarkan. Sedikit bingung dengan tatapan Rasya padanya, terlebih lagi saat ini Rasya berjalan semakin mendekat ke arahnya.
Kenapa pria ini, apa ada yang salah dengan namaku ? Bathin Aisya berkutat.
"A-apa ada yang sa-salah, p-pak ?" Tanya Aisya terbata dan gugup saat Rasya sudah berada di depannya, bahkan kali ini jaraknya begitu dekat.
Rasya tidak menjawab pertanyaan Aisya. Ia masih fokus menatap netra wanita itu dengan lekat. Bayangan masalalu tiba-tiba melintas di pikiran Rasya, mata yang teduh dan adem itu membuat ia betah berlama-lama menatapnya.
Masabodoh yang ditatap mahramnya atau bukan, tapi yang jelas, ada kedamaian tersendiri saat menatap manik mata wanita yang baru saja menyebutkan namanya.
"Namamu, dan matamu, begitu mirip dengan Aisya," ucap Rasya lirih namun masih terdengar dengan jelas di indra pendengaran Isya.
**Tinggalkan
Vote yang banyak
Komen seng wuakeh
Like segunung oke !
__ADS_1
Happy Reading guys**
Bersambung