Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

1 Tahun kemudian, seseorang tengah menggendong bayi kecil yang baru berumur 5 bulan. Cantik dan manis serta bulu mata yang lentik begitu mirip dengan sang ibu. Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan sudah mulai terlihat pada diri bayi mungil yang bernama Aishi Qianadira itu. Hingga siapa saja yang menggendongnya sudah pasti akan merasa sangat gemas.


"Ow, sini sayang sama nenek ! Utututu, cucu oma sudah pinter ya," ucap umi Bila mengambil alih baby Ici dari gendongan sang ayah.


"Pergilah mengajar ! Biar Ici umi yang urus," ucapnya pada Rasya.


"Na'am umi, Rasya nitip Ici. Abi kerja dulu ya nak, sayang jangan nakal sama nenek ya ! Asalammualaikum," ucap Rasya setelah mencium pipi anaknya.


Rasya melangkahkan kakinya keluar rumah dengan tentengan beberapa kitab untuknya mengajar hari ini.


Setelah 5 bulan berlalu, Rasya mulai terbiasa dan harus membiasakan diri hidup dengan kemandirian. Dari mengurus sang anak sampai mengurus keperluannya sendiri, semua Rasya lakukan tanpa meminta bantuan siapapun.


Dengan begini, ia bisa menikmati kehidupan sebagai ayah sekaligus ibu untuk Ici.


Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi ? Takdir telah merenggut separuh hatinya.


Seperti biasa, Rasya akan buru-buru pulang saat jam mengajarnya telah selesai.


"Asalammualaikum," sapanya pada Rasya.


"Waalaikumsalam."


"Afwan, kak Rasya mau kemana ?"


"Mau pulang, kangen sama Ici," jawabnya seraya tersenyum.


"Boleh aku ikut kerumah kakak ? Aku juga kangen pengen gendong baby gemes satu itu," ucapnya antusias.


"Na'am, silahkan !"


Baby Ici sudah terbiasa dekat dan anteng dalam gendongan Zahra. Terlebih lagi Zahra sering datang kerumah Rasya untuk membantu umi Bila di rumahnya. Hal itu membuat baby Ici merasa dekat bahkan sepertinya Ici menganggap Zahra adalah ibunya.


"Asalammualaikum," sapa keduanya saat sampai rumah.


"Waalaikumsalam, eh ada nak Zahra juga."


"Na'am ustazah, saya kangen pengen gendong baby Ici. Kemana baby gemes itu ?" Tanya Zahra seraya celingukan mencari keberadaannya.

__ADS_1


"Baru aja tidur, biasa sudah jamnya," jawab Umi Bila seraya tersenyum.


Zahra melirik ke arah jarum jam, dan benar saja saat ini adalah waktu biasa baby gemes tidur siang."Yah, Zahra telat dong ya ?"


Umi Bila tersenyum."Makan siang bareng aja yuk !" Ajaknya pada Zahra.


"Eh, gak usah ustazah..."


"Gak papa, gak usah malu. Ayok !" Umi Bila menarik tangan Zahra menuju meja makan.


Kemudian di susul oleh Rasya yang baru saja membersihkan dirinya lebih dulu.


Tidak ada percakapan di meja makan itu, hanya suara dentingan piring dan sendok yang saling beradu.


Umi Bila yang lebih dulu menyelesaikan makanannya, ia melirik kearah Rasya yang saat ini terlihat sedikit kurus. Ia tau bagaimana beratnya hidup Rasya saat ini, namun tetap saja mereka tidak bisa melawan takdir walau sebenarnya hal itu tidak akan terjadi jika saja seseorang tidak melukainya.


Kasihan kamu Rasya. Bathin Umi bila menerawang menatap Rasya dengan lekat yang tengah menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Sya, em...boleh umi tanya sesuatu ?" Tanya umi Bila. Rasya mengangguk tanpa berbicara.


Uhuk...uhuk....


Rasya tersedak, buru-buru Zahra memberikan segelas air minum pada Rasya."Terima kasih !" Ucap Rasya sekilas melihat Zahra. Zahra sendiri hanya mengangguk seraya tersenyum canggung.


"Istri Rasya masih ada Umi, lalu buat apa Rasya harus mencari ibu sambung untuk Ici ?"


"Sampai kapan kamu akan menganggap Aisya masih ada Rasya, sampai kapan ? Sadarlah nak, dokter sendiri yang menyatakan kalau Aisya sudah meninggal," ucap Umi tegas merasa tidak tega dengan putranya yang selalu menganggap bahwa istrinya itu masih hidup.


"Dokter yang menyatakannya, bukan Rasya !" Rasya merasa kehilangan nafsu makan setelah mendengar perkataan uminya. Ia pergi meninggalkan meja makan dan saat ini langkahnya tertuju pada kamarnya. Di sana ada baby mungil tengah tidur dengan nyenyaknya di box bayi berukuran cukup besar.


Ditatapnya bayi mungil itu kemudian mengecup keningnya cukup lama. Ada buliran air bening luruh dari sudut mata Rasya, ia terisak, dadanya cukup sesak melewati 5 bulan terakhir ini tanpa sang istri. Rasya menangis di dekat sang anak, merasa cukup lelah sekaligus rindu dengan sosok pemilik separuh jiwa dan nafasnya. Aku lelah sayang, aku rindu dengan kehadiranmu, anak kita sangat membutuhkan ibunya. Aisya, tidak kah kau melihat bagaimana rapuhnya aku saat ini ? Bagaimana terlukanya hatiku sekarang ini ?


Rasya menepuk-nepuk dadanya yang sakit bahkan amat sakit. Ingatannya menerawang bagaimana kali terakhirnya Aisya berbicara dengannya. Terakhir kalinya ia bercumbu mesra dengannya, tapi kini semua itu direnggut dari hidupnya dengan paksa.


Rasya mengulang memory bahagianya bersama sang istri hanya lewat ingatan juga pikirannya.


Hanya ada Aisya yang telah bersemayam dalam hati seorang Rasya. Bahkan ia berjanji untuk tidak memiliki yang kedua, ketika atau bahkan seterusnya, karna hanya ada Aisya yang pertama dalam hatinya saat ini, esok dan selamanya.

__ADS_1


"Sya....." panggil umi Bila seraya mengetuk pintu kamar Rasya yang sedikit terbuka itu.


Umi Bila langsung masuk kedalam kamar, ia melihat Rasya memalingkan wajahnya dengan menyeka sisa air mata.


Umi bila langsung berhambur memeluk sang anak, ia begitu paham bagaimana rapuhnya hidup Rasya saat ini."Maafkan umi Sya, bukan maksud umi memintamu untuk melupakan Aisya. Percayalah Sya, umi hanya ingin melihatmu bahagia dan lepas dari kesedihan selama ini," jelas umi Bila.


"Bahagia Rasya hanya Aishi dan Aisya umi, jadi tolong jangan menanyakan atau meminta Rasya untuk mencari pengganti Aisya, karna jika sampai terjadi bukan bahagia yang akan Rasya rasakan, tapi perasaan semakin bersalah," jawab Rasya yang terlihat kembali menitikan air matanya.


"Tapi Sya....."


"Pergilah ! Jika umi hanya ingin membicarakan masalah ini, sampai kapanpun jawaban Rasya akan tetap sama, yaitu Tidak !"


Umi Bila memilih keluar dari kamar anaknya. Mungkin saat ini Rasya butuh ketenangan dengan menyendiri. Umi Bila mengalah, namun sebagai seorang ibu ia merasa sangat sedih dan tidak tega melihat Rasya yang saat ini berubah menjadi pendiem, bahkan badannya terlihat kurus dengan penampilan yang sedikit kucel dan acak-acakan setiap harinya.


***


Rasya mengambil ponselnya di atas ranjang, melihat foto pernikahan mereka dulu yang ia jadikan sebagai wallpaper di layar ponselnya.


Semakin mengingat semuanya, semakin terasa sesak dan panas dalam dadanya


Kenapa kamu harus meninggalkan kami secepat ini sayang ? Apakah kamu tidak ingin melihat puteri cantik kita ? Mas rindu kamu Aisya, kembalilah sayang mas mohon !


Mas tidak tahan Aisya, mas tidak kuat menjalani hidup dengan seperti ini. Hiks hiks, mas lelah menunggumu sayang !


**Sumpah, Author mewek di part ini.


Next flashback Aisya yak...


Vote


Like


Komen kalian oke


Happy Reading guys**


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2