Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

"Ha..halo..." ucap Kia merasa gugup dengan kalimatnya.


"Ekhem, ya hallo. Apa yang ingin kamu tanyakan dek ?" Tanya Arkan dari sebrang sana.


Kia terdiam sejenak, merasa bingung harus memulai kalimatnya dari mana. Sejujurnya ia tak punya keberanian untuk bertanya langsung pada Arkan.


Hatinya masih bertanya-tanya, akan kah Arkan benar-benar serius kali ini ? Bukan hanya kalimat lelucon yang seperti biasa Kia dengar.


"A-a..apa yang a-bang minta sama bang Rasya ?"


Terdengar Arkan menghela nafasnya sebelum memulai dengan kalimat jawabannya.


"Kiki. Dengarkan abang, kali ini percayalah abang bener-bener serius ! Apa yang Rasya katakan itu bener adanya. Abang ingin menjalin hubungan lebih serius melalui jalur ta'aruf."


Deg....


Masya Allah, aku harus gimana sekarang..?


Permintaan ta'aruf dari dua lelaki sekaligus dalam waktu yang bersamaan.


"Abang gak akan maksa kalau Kiki gak mau, mungkin adek sekarang apa pilihan lain ?"


Ah, makin galau..


"Atas dasar apa abang Kan tiba-tiba mengajak Kiki ta'aruf ?"


"Abang ada rasa sama kamu dek, itu hal yang pasti. Dan sedikit besarnya, abang pengen membangun rumah tangga sakinnah, mawwadah, warokhmah bersamamu. Abang juga pengen menyempurnakan separuh agama kita hanya dengan kamu Azkya anjani !"


"Beri Kiki waktu bang ! Semua ini gak mudah buat Kiki," ucap Kia.


"Na'am, silahkan pikirkan sebanyak dan selama yang Kiki mau ! Abang siap menunggu," jawab Arkan dengan yakin.


"Kiki tutup dulu bang, asalammualaikum.."


"Waalaikumsalam cantik."


Aaaa masya Allah, gak pernah pacaran jadinya gampang baper kan ?


Kia mengakhiri panggilan telfonnya dan berlalu masuk kedalam rumah untuk mengembalikan ponsel itu pada Rasya.


"Abang............"


Panggil Kia sedikit berteriak membuat Rasya buru-buru keluar dari kamarnya.


"Jangan teriak-teriak dek, ini rumah bukan utan," gerutu Rasya.


Kia terkekeh melihat abangnya yang tengah kesal itu. Namun tawanya semakin kencang saat melihat ujung bibir Rasya yang terlihat jelas jiplakan bibir seseorang.


"Bang, perlu Kia ambilin tisu gak ?"


"Buat apa ?"


"Lap itu tuh..."


"Astagfirullah," Rasya langsung menyadarinya segera berlari kemeja makan, mengambil tisu disana. Sementara Kia terkikik geli melihat abangnya yang sudah pasti bucin akut dengan istrinya itu.

__ADS_1


"Ini hp abang," ucap Kia menyusul Rasya kemeja makan seraya memberikan ponselnya itu.


"Sudah ?" Kia menjawab dengan anggukan kepala.


Kia tau kakaknya itu akan bertanya tentang banyak hal, namun Kia juga tidak merasa keberatan untuk menjawab semua pertanyaannya dengan jujur.


Karna menurutnya, hanya Rasyalah orang yang bisa menjaganya ketika di luar pesantren. Jadi tidak mungkin Rasya akan membiarkan adiknya itu terluka sedikit pun.


"Kia belum menjawabnya bang," tambah Kia lagi sebelum Rasya lebih dulu bertanya.


"Meminta bantuan pada yang maha kuasa dek, sudah pasti pilihannya adalah yang terbaik diantara yang baik," ucap Rasya seraya mengelus pucuk kepala adiknya.


"Akan Kia lakuin bang. Tapi kalau menurut abang gimana ?"


"Abang sendiri bingung dek, kedua-duanya orang baik dan mereka juga sahabat abang."


"Abang bener, keduanya memang baik," Bahkan ucapan mereka terkadang membuatku baper dan memiliki rasa bahagia tersendiri" Lanjut Kia dalam hati.


"Kia pulang dulu bang, asalammualikum.."


"Waalaikumsalam wr wb.."


Rasya kembali kekamarnya sebelum shalat isya berkumandang. Dilihatnya Aisya yang tengah duduk dengan beberapa kitab yang tengah ia pelajari. Rasya tersenyum seraya berjalan menghampirinya dan duduk di samping sang istri.


"Makin rajin ya, istri mas."


"Eh, gak juga kok mas. Cuma pengen baca aja sambil nunggu waktu isya," jawabnya seraya tersenyum.


"Sini deh !" Rasya menarik Aisya kedalam pelukannya.


Hidupnya seakan terasa sempurna dengan hadirnya Rasya sebagai suaminya. Kenapa aku bisa tergila-gila dengan pria yang dulu begitu dingin itu ?


Jodoh dan takdir yang jalan beriringan ternyata mampu mengubah segala sisi. Sisi seorang Aisya yang kini sangat jauh berbeda dengan yang dulu.


"Mas, Ais baru inget kalau lusa kita harus hadir di kampus !" Ucap Aisya mengingat pesan grup kampusnya.


"Iya, mas juga lupa sayang. Inya Allah besok sore kita berangkat kejakarta. Mas juga udah lama gak kontrol kafe, jadi sekalian mampir nanti."


"Kafe ? Emang mas punya kafe ?" Tanya Aisya pensaran.


"Mas punya sayang, nanti kamu juga akan tau," jawab Rasya yang membuat istrinya semakin penasaran.


Masya Allah, suamiku ini selain tampan ternyata juga pinter nyari duit. Autho jiwa matreku meronta-ronta hi hi hi


"Jangan senyum seperti itu kalau di depan banyak orang dek, apa lagi para rejal !"


"Kenapa emang mas ?"


"Senyummu itu berpotensi membuat mereka baper," jawab Rasya membuat Aisya makin gemas dengan sikap suaminya yang mendadak posesif itu.


Setelah mengobrol dengan mesranya, Rasya dan Aisya memutuskan untuk segera ke masjid setelah mendengar adzan Isya berkumandang.


Masih sama seperti yang dilakukan sebelumnya, Aisya akan keluar masjid setelah para santri membubarkan diri dan akan pulang bersama dengan suaminya.


Melihat rumahnya ramai orang, membuat Aisya dan Rasya bertanya satu sama lain siapakah yang datang bertamu itu.

__ADS_1


"Siapa ya mas yang bertamu ?" Tanya Aisya pada suaminya.


"Mungkin kerabat Abi sama umi sayang," jawab Rasya dan Aisya hanya menganggukinya.


"Asalammualaikum..."


"Waalaikumsalam wr wb..."


"Masya Allah, ini benar nak Rasya Qil ?" Ucap tamu itu seraya melirik Rasya dengan kagum.


"Na'am, dia Rasya," jawab ustadz Aqil.


Rasya hanya terdiam saat bersalaman dengan tamu orang tuanya itu. Tidak mengenal sama sekali siapa mereka, membuat Rasya tidak mengucapkan sepatah kata pun.


"Sya, perkenalkan ini ustadz Imam, sahabat Abi waktu kuliah dulu," ucap ustadz Aqil memperkenalkan Rasya pada tamunya. Rasya hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Apa ini Azkya Qil, anak adikmu ?" Tanya ustadz Imam seraya melirik Aisya yang masih berdiri di samping suaminya.


Ustad Aqil terdiam sejenak, bagaimana ia akan mengatakan kalau anaknya saat ini sudah menikah ? Obrolan yang dulu Aqil hanya menganggapnya hanya sebuah obrolan biasa yang tidak jauh dari kata bercanda, namun Imam sendiri malah menanggapinya dengan serius.


Bahkan Aqil pun tau, jika Rasya tidak akan mau dijodohkan dengan pilihannya. Maka dari itu, tidak ada gunanya ia membicarakan hal yang sudah lalu itu pada Rasya.


Aisya dan Rasya masih terdiam menunggu sang Abi menjawab pertanyaan dari ustadz Imam.


Hingga beberapa menit, hal yang mereka tunggu itu tak kunjung tiba.


"Afwan ustadz, di samping saya ini bukan Azkya tapi beliau adalah istri saya," ucap Rasya yang akhirnya menjawab pertanyaan ustadz Imam yang tak kunjung Abinya berikan.


Ustadz Imam terdiam, pandangannya beralih menatap Aqil yang tertunduk seolah tak berani menatapnya.


"Aqil, bisa ente jelasin apa ini maksudnya ?" Tanya ustadz Imam dengan nada bicaranya yang datar.


"Abi, ada apa sebenernya bi ? Abi ada masalah ?" Tanya Rasya yang sangat penasaran melihat Abinya begitu enggan untuk bicara.


"Abi akan jelaskan semuanya Sya, termasuk juga ente Mam !"


****


**Terkadang kita harus mengucapkan kata IYA hanya untuk membuatnya merasa senang.


Bukan berarti kata IYA adalah arti yang sebenarnya, melainkan hanya kata-kata sepele yang orang bisa saja menganggapnya bercanda dan tak jarang juga yang menganggapnya serius.


Tentang bercanda, tentunya ada batasnya yang dapat kamu jadikan sebagai pengingat bahwa kita harus lebih berhati-hati ketika bercanda dan berkata.


Ada kalanya kita bercanda bersama dengan teman saat waktu luang atau saat break bekerja, sekolah, atau kuliah untuk menghibur diri agar tidak terlalu stres dengan pekerjaan atau tugas-tugas kuliah dan sekolah.


Namun, kamu harus selalu mengingat dengan siapa pun kamu bercanda, harus selalu berhati-hati agar tidak menyingung dan menyakiti hati orang lain.


Ada banyak hal yang dapat kamu jadikan sebagai bahan candaan. Asal tidak menyinggung agama, isu sara, dan ranah pribadi orang lain, bercanda akan selalu menjadi hal yang menghibur.


Jangan lupa votenya guys


Like dan komen juga yakk...


Happy Reading**..

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2