
"Buat apa penjelasan itu mas ? Kalau besoknya akan terulang lagi. Apa mas nyesel sekarang, perjodohan kalian dibatalkan ?"
"Astagfirullah, gak sama sekali sayang. Mas malah bersyukur bisa menikahi perempuan seperti kamu," jawab Rasya terus berusaha menjelaskan pada istrinya.
"Tapi kenyataannya gak gitu mas, hiks hiks.."
"Dek, Zahra hanya berniat membantu memberikan nasi yang letaknya jauh dari jangkauan tangan mas sayang. Tidak lebih dari itu, percayalah sama mas dek !"
"Aisya hanya takut mas akan berpaling dari Ais mas," jelasnya mengeluarkan apa yang tengah ia rasa.
"Insyaallah tidak akan sayang, Mas janji !" Rasya menarik Aisya kedalam pelukannya.
Kini Rasya berhasil membujuk istrinya untuk ikut makan siang bersama di meja makan.
Terlihat disana masih ada Zahra yang belum menyelesaikan makanannya.
"Apa karna adanya Zahra, Aisya jadi gak mau makan bareng ?" Tanya Zahra melirik Rasya juga kedua orang tuanya bergantian.
"Gak nak, mana mungkin seperti itu," jawab Umi Bila.
"Kamu gak keberatan kan Is kalau aku juga disini ?" Tanyanya beralih menatap Aisya yang masih terdiam.
Aisya menggeleng, walau hatinya begitu berat untuk mengatakan kalau ia sedikit keberatan dengan hadirnya Zahra di pesantren saat ini.
Tapi tidak mungkin juga Aisya mengatakan di depan kedua mertuanya.
Karna bagaimana pun Zahra adalah tamu, yang sudah pasti akan diperlakukan istimewa oleh tuan rumahnya.
"Kita makan satu piring berdua, bagaimana ?" Tawar Rasya mencoba menghibur istrinya yang tengah galau itu.
Aisya mengangguk. Ia tersenyum penuh kemenangan karna bagaimana pun Rasya sudah pasti akan bersikap lebih romantis kepada istrinya.
Sementara Zahra menatap Aisya dengan tatapan tidak suka, meskipun ia tau kalau keduanya sudah menikah, tapi Zahra tidak berniat menghentikan usahanya sampai di sini.
"Gimana kak Rasya mau kenyang kalau makannya sepiring berdua ?"
Rasya tersenyum."Melihat istri saya makan lahap pun saya sudah merasakan kenyang," jawaban Rasya membuat Aisya tersenyum bahagia.
__ADS_1
Sisi keperdulian Rasya tetaplah ada meskipun terkadang sifat kakunya masih melekat dalam dirinya.
Begitulah Rasya, tidak menunjukan sikap perdulinya namun tindakan yang ia lakukan itulah sebagai bukti keperduliannya.
Zahra memutar bola matanya malas setelah mendengar jawaban dari Rasya. Sementara abi dan umi hanya bisa tersenyum melihat tingah sepasang suami istri muda itu yang selalu menunjukan sikap romantisnya saat di meja makan. Menurut umi Bila itu adalah hal yang wajar, mengingat ia pun pernah merasakannya saat awal menikah dulu.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Aisya berniat kembali ke asrama karna masih ada tugas yang harus ia selesaikan bersama Kia juga kedua sahabat lainnya.
"Mau kemana sih ? Gak bisa ya, anteng sehari aja di rumah dek !" Ucap Rasya merasa cemburu dengan Aisya yang selalu saja sibuk dengan tugasnya sebagai seorang santri.
"Mas, walau bagaimanapun Aisya adalah santri yang wajib mengikuti kegiatan di asrama. Lagian mas ini kenapa ? Gak seperti biasanya," ucap Aisya merasa aneh dengan sikap Rasya yang mendadak posesif.
"Mas juga pengen berduaan sama kamu sayang. Waktu 2 jam, lumayan kenyanglah untuk ber ehem-ehem sama kamu," goda Rasya seraya terkekeh.
"Mesum. Malemkan waktunya panjang mas, Aisya juga gak ada kegiatan. Jadi bisa ber ehem-ehem seperti yang mas bilang itu," jawab Aisya yang juga ikut terkekeh.
"Udah ya, Aisya keasrama dulu. Asalammualaikum," tambahnya lagi.
"Waalaikumsalam." Jawab Rasya seraya menatap istrinya yang mulai menjauh.
***
Aisya pun ikut berpartisipasi dalam membersihkan masjid sebelum pindah kebagian Aula.
"Is, menurut lo siapa sih yang nyebarin foto kemarin itu ?" Tanya Icha di sela-sela kegiatannya.
"Entahlah, tapi sepertinya orang itu tidak menyukaiku," jawab Aisya sedikit curiga.
"Bener Is, curiga boleh tapi jangan berburuk sangka sebelum fakta yang sebenarnya terungkap," sambung Kia.
"Tapi kalau boleh komen nih ya, foto lo kemarin itu ya ampun sweet banget tau. Ah, beruntung banget yang lihat ya, bisa melihat live drama korea hi hi," ucap Icha mulai membayangkan drakor yang dulu selalu mereka tonton saat hari wekeend.
"Kamu kenapa Mon, sakit ?" Tanya Kia yang menyadari Mona terlihat sedikit tidak bersemangat untuk mengobrol.
Aisya dan Icha pun ikut melirik Kia dan menghampirinya.
"Lo gegana amat Mon, kenapa ?" Tanya Icha yang juga cukup penasaran.
__ADS_1
"Ah, gue gak kenapa-napa. Sedikit capek aja, lo pada tau kan kegiatan kemarin di kampus itu lumayan nguras tenaga," ucapan Mona langsung diangguki ketiga temannya.
Memang benar adanya kegiatan kemarin saat di kampus selain memakan waktu, cukup menguras tenaga. Tapi apa diamnya Mona karna itu ? Aisya memperhatikan dari raut wajah Mona yang tidak biasa, selain rasa lelah ada sesuatu yang tengah ia rasakan. Tapi apa ? Ah, sudahlah mungkin hanya perasaanku saja. Gumam Aisya kembali melanjutkan lagi aktivitasnya.
Dari kejauhan, ada Zahra yang tengah memperhatikan kebersamaan mereka yang begitu kompak dan rukun sebagai sahabat.
Ada perasaan iri dalam hatinya, dulu ia juga mempunyai sahabat yang sangat dekat layaknya saudara kandung. Namun karna kejadian yang sangat tidak bisa dimaafkan membuat Zahra menjauhinya dan rasa sakit itu masih tersimpan dalam hati hingga saat ini.
Andai dulu kau tidak mengkhianati ku Ra, mungkin sekarang kita masih bersahabat seperti mereka. Bathin Zahra mengingat kejadian yang Laura lakukan hingga kebencian begitu mendarah daging hingga saat ini.
"St..st...st, Zahra tuh !" Ucap Icha memberi kode kepada sahabatnya bahwa ada Zahra di sebrang sana yang tengah memperhatikan mereka.
"Biarin ajalah, palingan cuma bikin rusuh doang," ucap Mona sedikit tidak suka dengan hadirnya Zahra di pesantren ini.
"Gak boleh gitu Mon, bagaimana pun Zahra adalah temen sekelas kita. Di tambah lagi sekarang ia juga santri di pesantren ini, kita saudara se iman," ucap Aisya menasehati.
"Emang lo gak ngerasa sakit hati gitu kalau kak Rasya lagi deket ama tu anak ?" Tanya Mona yang berhasil membuat Aisya terdiam.
"Cemburu itu pasti ada Mon, tapi aku percaya sama mas Rasya. Dia gak akan mungkin mengkhianati ku apa lagi sampai mempoligami. Aku rasa itu tidak akan mungkin," jawab Aisya.
"Sebegitu yakinnya lo sama kak Rasya," gumam Mona lirih.
Aisya yang masih mendengar itu hanya mengangguk. Kepercayaan dalam hubungan itu sangatlah penting untuk menjaga keharmonisan pernikahan. Bahkan, kejujuran itu adalah hal yang utama sebelum rasa percaya itu di berikan. Kalau kebohongan yang diciptakan, untuk apa kita percaya akan hal yang sudah pasti bohong, tidak sesuai dengan fakta dan kenyataannya.
Tapi gue gak yakin !
**Tinggalkan
Vote
Like
Komen
Kalian yakk
Happy Reading guys**...
__ADS_1
Bersambung