Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

"Mas, kalau yang di katakan umi bener coba dong lakuin ! Aisya pensaran mas. Kalau mas gak mau biar Aisya minta Abi aja deh, ya kan Bi ?!'


"Apa......?" Semuanya terkejut mendengar apa yang Aisya ucapkan.


"Nanti aja mas jelasin ya. Jangan minta Abi melakukannya, biar mas aja !"


Aisya mengangguk. Percakapan tentang hujan lokal pun berakhir dengan mereka yang memulai untuk sarapan.


***


Aktifitas pagi seorang Aisya kini sangat berbeda dengan yang dulu disaat masih sendiri.


Setiap paginya kewajiban seorang istri juga menantu harus ia lakukan sebelum mengikuti aktifitasnya sebagai seorang santri.


Tak lupa juga meskipun statusnya saat ini ia sudah menikah, tapi tanggung jawabnya sebagai seorang anak pada orang tuanya harus tetap ia jalani.


Tidak ada yang bisa mengukur rasa sayang seorang ayah pada anaknya. Berbeda dengan ibu, seringkali ayah tak pernah memperlihatkan rasa sayang mereka yang sangat besar kepada buah hatinya.


Sedari kecil, seorang anak memang dekat dengan ibunya. Dari ibulah asupan pertama lewat ASI diterima. Namun tahukah kamu jika air susu itu adalah hasil dari peluh seorang ayah yang berjuang mencari rezeki yang halal.


Dialah seorang ayah yang mengajarkan kita tentang kebaikan. Sosok yang menjelaskan pada kita tentang makna kehidupan, dan mendidik kita dengan penuh kasih sayang.


Dan ketika anak perempuannya bakal menjadi istri orang lain, seorang ayah akan memiliki perasaan yang bercampur baur antara gembira dan sedih.


Gembira karena anaknya bakal mendirikan rumah tangga, sedih karena harus melepas wanita yang selama ini dicintainya.


"Rasya, dengarkan ayah baik-baik nak ! Ayah orang pertama yang memeluknya, bukan kamu. Ayah adalah orang pertama yang menciumnya, bukan kamu. Ayah orang pertama yang mencintainya, bukan kamu," ucap ayah Rama sambil terlihat menyeka air matanya.


"Tapi ayah harap kamu adalah orang yang bisa bersamanya selamanya, menemani hingga diakhir hayatnya, juga membimbingnya kejalan yang benar. Jika suatu hari kamu tidak mencintainya lagi, jangan katakan itu kepadanya. Sebagai gantinya, katakan kepada ayah. Maka saat itu juga, ayah akan datang dan membawanya pulang," tambahnya.


Tangis haru antara anak dan orang tua itu seketika pecah. Aisya tidak menyangka dengan ayahnya yang ternyata sangat menyayanginya itu, melihat sikap ayahnya yang selama ini tau namun pada hari ini berbanding terbalik hingga membuat ia menangis haru dalam pelukan sang bunda.


"Rasya tidak bisa janji yah. Tapi Rasya ingin berusaha membahagiakan putri ayah yang cantik itu, hidup bersama hingga akhir hayat juga membimbingnga ke jannah Allah. Rasya hanya bisa berjanji satu hal, dan itu adalah masalah hati. Insya Allah Rasya akan tetap mencintainya sampai ajal menjemput kami. Rasya berjanji akan selalu mencintai Aisya dengan tulus dan ikhlas !" Ucap Rasya mantap membuat ayah mertuanya mengangguk kagum.


"Ayah percaya padamu, Rasya."


"Sayang..."


"Ayah...hiks hiks. Maafin Ais yang selama ini selalu menyusahkan kalian, maafin Ais yang selalu jadi anak bandel," ucap Aisya memeluk ayahnya dengan tangis yang mengiringi.


"Stttt, dengerin ayah Aisya ! Sekarang Ais bukan lagi tanggung jawab ayah nak, maka berbaktilah pada suamimu seperti kamu berbakti pada ayah juga bunda !" Ucap ayah Rama menasehati putrinya seraya membalas pelukannya itu.


"Jaga diri baik-baik ya sayang. Rasya, bunda titip Aisya ya ?!"


"Insya Allah bund, Rasya akan jadi Aisya dengan baik !"


Bunda Elsa mengangguk yakin dengan menantunya itu, ia tidak perlu khawatir tentang Aisya yang sudah pasti Rasya akan menjaganya dengan benar.


"Ayah pamit pulang ya nak, jaga dirimu kalau ada apa-apa cepat hubungi kami !" Pinta ayah Rama setelah melepaskan pelukannya.


"Iya ayah."


"Besan, dan semuanya saya mohon pamit. Jika boleh meminta, tolong jaga putri saya dengan baik !"

__ADS_1


"Insya Allah pak Rama, kami siap menjaga amanah dari bapak," jawab ustadz Aqil selaku besan juga mertua dari Aisya.


"Asalammualaikum..."


"Waalaikumsalam wr wb..."


Aisya masih terisak yang saat ini dalam dekapan suaminya. Ia menatap mobil keluarganya itu pergi menjauh dari pesantren hingga tak terlihat lagi.


Momen yang sangat-sangat mengharukan untuk setiap anak perempuan juga orang tua yang melepaskan tanggung jawab anak mereka pada suaminya.


"Jangan nangis sayang, insya Allah kalau ada waktu kita akan kejakarta," ucap Rasya berusaha menenangkan istrinya.


Aisya menyeka air matanya seraya mengangguk. Setelah tenang dari semua isak dan tangisnya tadi, Aisya memilih untuk menemui sahabatnya di asrama.


"Asalammualaikum.."


"Waalaikumsalam..."


"Weh-weh-weh, pengantin baru kita datang Ki. Ada apa gerangan ?" Ucap Mona dengan nada bicara sesikit meledek.


"Gak boleh gitu ?"


"Aelah, lo nikah baru juga sehari udah sensi aja Is, gue cuma becanda kali..." tambah Mona.


"Gak lucu," gerutu Aisya yang langsung mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Ada masalah ?" Tanya Kia kali ini. Aisya menggeleng, tapi kesedihan terlihat jelas di matanya.


"Jangan nganggep kita sahabat kalau lo gak mau cerita !" Ancam Icha.


"Mungkin tanggung jawab orang tua terhadap anak perempuannya akan berpindah tangan Is. Tapi, tanggung jawab anak perempuan terhadap orang tuanya itu masih termasuk wajib meskipun sudah menikah. Tapi untuk itu, kamu perlu persetujuan dari suami," jelas Kia dan langsung mendapat anggukan dari ketiga sahabatnya.


"Alhamdulilah dapet ilmu baru," ucap Mona seraya tersenyum.


"Insya Allah, sedikit banyaknya aku paham," tambah Kia lagi.


Membicarakan tentang pernikahan, membuat Kia menerawang jauh bagaimana kehidupannya. Akan tetapi bukan kehidupan yang paling ia pikirkan, tetapi jodoh yang masih berada di angan dan entah kapan akan datang kepadanya.


Aku yakin Allah telah mempersiapkan jodoh yang terbaik untukku. Bathin Kia dalam hati.


"Ngelamun ?" Tanya Aisya yang menyadari Kia terdiam seolah memikirkan sesuatu.


Kia menggeleng seraya tersenyum dari balik niqabnya.


"Udah mau sore nih, hari ini bukannya tugas kita di dapur umum ya ?"


"Astagfirullah, iya aku lupa he he...." jawab Kia seraya terkekeh.


Mereka ber-empat menuju dapur umum untuk memulai eksekusi sayuran dan bumbu yang perlu di siapkan.


Kia yang berjalan paling belakang itu tidak menyadari jika seseorang mengikutinya dari belakang.


"Ekhem..."

__ADS_1


"Asalammualaikum..." sapanya setelah Kia menghentikan langkahnya namun tetap pada posisinya.


"Waalaikumsalam.."


"Mau kemana ?"


"Ma-mau kedapur kak," jawabnya sedikit gugup.


"Kia, boleh aku tanya sesuatu ?"


"Na'am silahkan !"


"Apa saat ini ada lelaki yang tengah berta'aruf dengamu ?"


*Deg ....


Ada angin apa dia* ?


"Tidak ada kak."


"Bagaimana kau tau kalau itu aku ? Sementara kau saja berdiri membelakangiku," tanyanya.


"(.....)"


"Azkya, bolehkah aku menjagamu dari kejauhan sebelum waktu yang tepat itu tiba ?"


*Deg.....


Ya Allah, apa lagi ini* ?


Memang, tak mudah untuk selalu menuruti kata hati. Ada beragam hal yang membuatmu bimbang. Juga, mungkin tak memiliki keberanian untuk menanggung risikonya.


Belum lagi jika kata hatimu itu bertentangan dengan kehendak atau pendapat orang-orang di sekitarmu. Kamu mungkin akan makin ragu.


Namun, tidak ada yang salah dengan menuruti kata hatimu. Kamu akan belajar banyak hal, begitu kamu melakukan apa yang menjadi kata hatimu.


Biarkanlah diri ini seperti karang dan engkau sebagai ombaknya. Meskipun kau hempaskan aku secara berulang, namun diri ini akan tetap tegar untuk berjalan.


Dan jangan terpuruk hanya karena sikap seseorang yang mengecewakanmu. Diluar sana, masih banyak yang sedang menanti senyum manismu


Pernah menahan kecewa. Pertemuan yang harusnya penuh tawa rupanya hanya tersimpan dalam angan-angan


Azkya anjani


**Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian yak


Happy Reading guys**

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2