
"Apa yang kalian lakukan, hah ?"
Kak Rasya...
"Mas..."
Rasya mendekati Aisya dan langsung memeluknya. Aisya menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Rasya.
"Kak Rasya pasti digoda sama perempuan ini kan ?"
"Iya, pasti Aisya udah kegatelan deh," tambah yang lainnya.
"Semuanya ikut saya kelapangan, disanalah kalian akan tau yang sebenarnya !" Ucap Rasya berlalu mengajak Aisya pergi dari tempat itu.
"Mas...hiks hiks, kenapa mereka semua menghina kita mas ?"
"Sttt, adek tenang dulu ya. Dengerin mas, semuanya pasti akan baik-baik saja, percayalah sayang !"
"Sekarang, ayo ikut mas !"
Rasya mengajak Aisya ketempat yang akan menjelaskan semua kesalahpahaman mereka yang mengira Rasya dan Aisya telah melakukan zina di lorong kampus yang terlihat sangat sepi itu.
Terlihat semua mahasiwi telah berkumpul di lapangan dan sudah ada beberapa dosen dan Rektor yang akan menjelaskan semua berita tentang foto yang tengah beredar di sosial media.
"Asalammualaikum wr wb..."
"Waalaikumsalam wr wb.."
"Saya selaku Rektor di kampus ini sangat menyayangkan dengan sikap mahasiswi yang mudah percaya dengan hal apapun itu tanpa tau kejadian yang sebenar-benarnya. Bukankah kalian semua diajarkan untuk tidak saling memfitnah tanpa tau faktanya ? Sejujurnya saya sungguh amat kecewa, karna saya rasa semua pendidikan yang telah diberikan untuk kalian itu hanya sia-sia. Tidak ingin bertele-tele, saya ingin tegaskan mengenai foto yang tengah kalian gosipkan. Maka dengarkan saya baik-baik, jangan sampai setelah ini kalian masih mempermasalahkan foto yang tengah beredar itu.
Fakta yang sebenarnya mengenai foto itu, tidaklah salah. Rasya dan Aisya tidak melakukan zina seperti yang kalian sebutkan, karna faktanya mereka adalah sepasang suami istri. Bahkan ada salah satu dosen kampus kita yang juga menghadiri acara pernikahannya. Dan untuk orang yang bersangkutan, saya harap tolong lebih berhati-hati dalam melakukan apapun, apa lagi di area kampus. Jangan sampai mengulangi hal yang sama, meskipun kalian adalah suami istri. Saya rasa apa yang saya ucapkan sudah sangat jelas, maka tolong berhenti memfitnah apapun itu pada orang yang bersangkutan. Asalammualaikum wr wb."
"Waalaikumsalam wr wb..."
Setelah menjelaskan fakta yang sebenarnya, mereka yang memfitnah Aisya segera meminta maaf padanya. Namun tak jarang juga ada yang tidak percaya meskipun pada kenyataannya mereka memanglah suami istri.
"Gimana sekarang, udah lega ?" Tanya Rasya seraya mengelus pucuk kepala Aisya.
Aisya mengangguk dengan mata yang kembali berkaca-kaca."Terima kasih mas."
Aisya merasa sangat beruntung memiliki suami yang bisa melindunginya, bisa memberikan penjelasan yang sangat ia pahami. Bagaimana pun dan apa yang Rasya lakukan adalah demi kebaikannya karna merasa sangat khawatir dengan Aisya, maka Rasya memilih untuk menyembunyikan semua ini dari istrinya.
Suami yang siap siaga tanpa banyak bicara namun pembuktian yang Rasya berikan cukup membuatnya merasa terharu.
__ADS_1
Bukan hanya merasa dicintai, tapi juga ia merasa terlindungi berada dekat dengan Rasya. Rasa nyaman dan aman yang suaminya berikan mampu membuat Aisya tenang tanpa perlu khawatir.
"Sudah tanggung jawab mas dek, bukankah mas sudah berjanji pada orang tuamu untuk selalu melindungi anaknya ? Bahkan saat ini mas selalu ingin yang terbaik untuk istri dan juga kehidupan kita kedepannya. Cukup doakan suamimu ini, sayang !"
Aisya mengangguk tanpa merubah posisinya saat ini. Namun Rasya melepas pelan pelukannya seraya berkata,"Lebih baik kita pulang sekarang !"
"Tapi kan kegiatan kita belum selesai mas," ucap Aisya merasa masih punya tanggung jawab yang harus ia kerjakan di kampus.
Rasya tersenyum mengangguk."Tapi Rektor sendiri yang menyarankan kita tidak perlu mengikutinya. Dan mas rasa hari ini kamu cukup lelah sayang," ucap Rasya dan langsung diangguki oleh istrinya.
"Tapi Ais pengen makan yang seger-seger deh mas," ucapnya antusias membayangkan sesuatu yang sangat menggiurkan lidahnya itu.
"Kita beli es deh, gimana ? Mau ?" Tawar Rasya. Namun Aisya menggeleng cepat, sesuatu yang seger dimaksudnya bukanlah minuman dingin atau sejenisnya.
"Ais pengen manisan kedondong mas, pasti enak banget deh," ucapnya dengan mata berbinar dan membayangkan betapa nikmatnya manisan itu.
Rasya melirik Aisya dengan tatapan tidak percaya. Tidak seperti biasanya Aisya meminta sesuatu yang bahkan ia sendiri belum tau bagaimana rupanya manisan kedondong itu.
Makanan apa itu ? gumamnya seraya mengelap dahinya walaupun merasa tidak berkeringat.
"Kita cari ya mas !" Pintanya lagi seraya mengerjapkan matanya berniat memohon pada Rasya untuk mencarikan apa yang tengah ia mau.
"Adek sehat ?"
"Manisan kedondong mas gak tau rupanya sayang. Kalau cuma kedondongnya mas tau," jawab Rasya.
"Jadi mas gak mau nyariin manisan kedondong ?" Tanya Aisya dengan mata yang sudah berair.
"Kalau yang lain aja gimana ? Rujak deh rujak, mau ?"
Aisya kembali menggeleng. Keinginannya saat ini tetaplah satu, yaitu memakan manisan kedondong yang harus Rasya cari untuknya.
Bukan Rasya tidak mau mencarinya, namun ia belum pernah melihat apa lagi merasakan bagaimana manisan yang istrinya maksud itu. Terlihat Rasya tengah berfikir keras bagaimana dan dimana ia mendapatkan apa yang Aisya mau, sekaligus rasa penasarannya pada makanan yang baru saja ia dengar namanya.
"Pokoknya Ais cuma mau manisan kedondong mas !" Kekeh Aisya dengan tetap pada keinginannya.
"Iya. Ayo kita cari !"
Mobil Rasya meninggalkan area kampus, mereka berniat untuk pulang sekaligus mencari manisan kedondong. Tak lupa Aisya mengabari Kia untuk ikut pulang bersama Mona dan Icha, mengingat saat ini tidak mungkin ia harus menunggu Kia menyelesaikan kegiatannya. Sementara keinginan untuk memakan manisan kedondong tiba-tiba saja memuncak, meminta untuk segera dipenuhi.
“ Tidak ada hari dimana aku tidak bersyukur kepada Allah SWT karena telah memberiku suami yang peduli dan pengertian sepertimu. Terima kasih telah bersamaku selama ini, sayang.
Terima kasih atas waktu tak terbatas yang telah kamu habiskan untuk membuatku merasa bahagia setiap hari. Aku sangat bersyukur mempunyai suami luar biasa sepertimu, cintaku
__ADS_1
Seberapa berat masalah yang ada, kamu selalu membuatku merasa tenang dan damai. Kamu berjalan beriringan bersamaku melewati semua masalah. Aku sungguh bersyukur atas hadirmu di dalam hidupku.” Gumam Aisya seraya melirik suaminya yang tengah fokus mengemudi.
"Kenapa ngeliatin mas segitunya ?"
"Mas kepedean deh, jangan gampang baper mas. Salah pahamkan malu sendiri," jawab Aisya terkekeh.
Rasya mengelus pucuk kepala Aisya dengan tangan kirinya."Gak papa, yang penting mas cinta."
Aaaa sweetnya suamiku...
"Sayang tunggu sebentar ya ?"
Aisya mengangguk. Rasya turun dari mobilnya berniat menghampiri dan mencari sesuatu yang sejak tadi Aisya ingin makan.
"Permisi buk, apa ada manisan kedondong ?"
Bukannya menjawab, ibu itu hanya terkekeh seraya geleng-geleng kepala.
"Masnya salah alamat mas, kalau mau cari manisan kedondong jangan di warung, segaknya cari di tukang penjual buah atau rujak buah. Hi hi masnya ada-ada aja, warung saya memang manisan, tapi bukan manisan buah yang seperti mas cari itu," jawab ibu pemilik warung seraya tersenyum dan sedikit menahan tawanya.
Rasya hanya mengangguk dan tersenyum canggung seraya mengusap-usap lehernya yang tidak merasa gatal itu."Maaf buk, kalau gitu saya permisi."
"Mas beli apa, kok mampir kewarung ?" Tanya Aisya setelah Rasya masuk kedalam mobil.
"Nyari manisan kedondong."
"Mas nyari manisan kedondong di warung ?" Rasya langsung menganggukinya dan seketika Aisya terbahak mendengar jawaban sang suami.
"Buahahhaha😂, kenapa gak sekalian beli mobil jugaa di warung mas ?"
😂😂😂
Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian yakk
Happy Reading guys..
Bersambung
__ADS_1