
Pertanyaan itu muncul seketika di benak Aisya, ia melirik suaminya yang masih fokus dengan kemudi seraya mengelus jari jemarinya.
"Apa mas Arkan juga mengajak Kia ta'aruf mas ?"
Pertanyaan Aisya sontak membuat Rasya menoleh kearahnya seraya mengangguk.
Aisya melirik Kia yang ada di belakang mereka tengah menundukan kepalanya.
"Afwan Is, jangan salah paham !" Ucap Kia.
"Salah paham untuk apa ? Mas Arkan orangnya baik, dan juga dia terlihat sangat akrab dengamu. Saranku terima ta'aruf mas Arkan Ki !"
Kia menghela nafasnya,"Akan aku pertimbangkan !" Ucapnya.
Kegelapan malam mulai menyapa, cahaya lampu mobil mereka memandu perjalanan yang cukup melelahkan itu.
Karna waktu magrib telah tiba, mereka mencari masjid dan menepikan mobilnya saat sudah menemukan tempat untuk menunaikan ibadah mereka.
Perjalanan kembali berlanjut setelah mereka usai melaksanakan shalat magribnya berjama'ah.
Tepat di jam 7 lebih yang hampir mendekati waktu isya itu mereka telah sampai di rumah masing-masing, termasuk juga Kia yang ikut menginap di rumah orang tua Aisya.
"Asalammualaikum..."
"Waalaikumsalam. Masya Allah sayang," bunda Elsa langsung berhambur memeluk anaknya yang saat ini bukan lagi Aisya yang harus ia manjakan seperti dulu.
"Bunda gak nyuruh kita masuk tapi malah nangis disini," ucap Aisya membuat bunda Elsa melepaskan pelukannya dan terlihat menyeka air matanya.
"Ayo masuk nak !" Pintanya pada Aisya, Rasya juga Kia.
Bunda Elsa mempersilahkan saudari ipar anaknya itu untuk menempati kamar tamu. Sementara Rasya susah pasti akan menempati kamar istrinya.
"Cukup rapi," ucap Rasya ketika memasuki kamar Aisya.
"Gini-gini juga Aisya gak suka berantakan mas," jawab Aisya seraya meletakan kopernya.
"Mas mau mandi sayang ! Badan mas udah bau acem," ucapnya seraya mencium bau badannya yang sudah sangat terasa lengket itu.
Aisya mengangguk. Segera ia keluarkan haduk, peralatan mandi juga baju ganti suaminya dari dalam koper.
"Ini mas !"
"Terima kasih sayang," ucap Rasya tersenyum mengambil semua keperluannya dari tangan sang istri. Sementara Aisya membalas senyumnya seraya mengangguk.
Setelah keduanya selesai membersihkan diri, mereka langsung saja melaksanakan shalat isya sebelum memutuskan untuk mengisi perutnya yang sudah sangat lapar itu.
"Sya, ayah dengar kamu punya usaha kafe di jakarta, apa itu benar ?" Tanya ayah Rama setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Benar yah, dan kafe Rasya tidak jauh dari kampus," jawabnya membuat kedua orang tua Aisya semakin kagum dengan kepribadian menantunya.
Selain pintar dan shaleh, ternyata ia cukup mandiri dan pandai dalam berbisnis.
__ADS_1
Tidak salah jika mereka percaya melepaskan Aisya untuk di jadikan menantu keluarga kyai yang tentunya sangat faham dengan norma-norma tugas suami yang baik dan benar dan juga sebaliknya.
"Seriusan mas ? Kafe mas deket dengan kampus kita ?" Tanya Aisya yang begitu sangat penasaran.
"Iya sayang, bahkan adek pun pernah kesana."
"Hah ? Apa nama kafenya mas ?"
"Besok kita kekampus sekalian mampir ya ?!" Rasya tidak ingin menjawab pertanyaan istrinya dengan terburu-buru.
Sudah dipastikan ia tengah menyusun rencana untuk memberikan istrinya itu kejutan.
"Kia, apa kamu tau kalau mas Rasya punya kafe di jakarta ?" Tanya Aisya kini beralih pada Kia.
"Iya aku tau."
"Apa nama kafenya ?"
Kia melirik kearah kakaknya dan mendapatkan kode kedipan mata membuat Kia mengerti bahwa Rasya tengah menyusun rencana untuk istrinya.
"Besok aja Is, sekalian makan disana juga biar gak penasaran," jawaban Kia tentu membuat Aisya kecewa.
"Iya deh," jawab Aisya dengan lirih juga pasrah.
Makan malam dengan diiringi beberapa obrolan kecil ini mengalihkan mata mereka yang sedikit lelah terjaga seharian. Kedua orang tua Aisya memilih untuk segera beristirahat setelah perut mereka merasakan kenyang.
Kemudian disusul dengan Kia yang sudah pasti akan malas melihat abangnya yang selalu bucin akut kepada istrinya.
Kini tinggalah sepasang suami istri yang tengah menikmati secangkir teh di malam hari.
"Hmm, kenapa sayang ?"
"Kebalkon yuk !"
"Adek suka duduk di balkon malam gini ?" Pertanyaan Rasya hanya dijawab dengan anggukan membuat Rasya menghela nafasnya kemudian berkata,"Angin malam itu gak baik buat kesehatan sayang."
"Ayolah mas...!" Rengek Aisya dan dengan terpaksa Rasya menurutinya dengan syarat tidak boleh terlalu lama menikmati udara malam di luar.
Saat berada di balkon kamar Aisya, Rasya begitu terpukai melihat pemandangan yang begitu indah memanjakan matanya. Matanya menatap lurus pemandangan indah di malam hari yang begitu terlihat jelas.
"Baguskan mas ? Makanya Ais betah kalau nyantai di balkon apa lagi malem gini," ucap Aisya yang mengetahui kalau suaminya begitu sangat menikmati apa yang tengah ia lihat.
"Lumayan."
"Ck, jawaban macam apa itu ? Sudah jelas-jelas mas menikmatinya," gerutu Aisya seraya menyebikan bibirnya yang tentu Rasya semakin gemas dengan tingkah istrinya itu.
Cup...
"Ih, kenapa mas selalu mencium tiba-tiba sih ?" Rasya terkekeh kecil melihat Aisya yang sedikit kesal karna ulahnya.
"Memangnya kalau mas izin, adwk ngebolehin ?"
__ADS_1
"Ya tentu dong mas, kan Ais juga mau.." jawabnya malu-malu.
"Ayo kita lanjutkan, tapi tidak disini !" Bisik Rasya dan langsung menggendong tubuh Aisya menuju ranjang.
Rasya yang selalu tidak bisa menahan dirinya saat Aisya mengizinkan untuk ia sentuh itu semakin bersemangat melancarkan aksinya.
Sesekali Rasya mengajak istrinya berbicara di sela-sela kegiatannya itu.
"Sayang, bagaimana menurutmu ?"
"(....)"
"Sayang, kok gak dijawab ?"
Karna penasaran, Rasya mengangkat sedikit kepalanya melihat apa yang tengah istrinya lakukan hingga pertanyaannya tak kunjung mendapat jawaban.
"Astagfirullah, pantes aja gak dijawab, biasanya juga kalau diajak anu-anu tangannya suka maen kemana-mana. Ternyata merem," Rasya menghentikan kegiatannya hingga harus menuntaskannya sendiri.
Ia tau istrinya itu terlihat sangat lelah hingga ia tidak tega melakukannya disaat Aisya tertidur.
"Ampun dah, solo-solo..."gumam Rasya seraya beranjak dari ranjangnya.
🤣🤣Sabar ya Sya, besok 8 ronde deh, gimana ?
Authornya sibuk ngerebus lontong wkwk🤣
***
Setiap manusia tentu tidak pernah lepas dari kesalahan. Baik kepada orang tua, keluarga, orang terdekat hingga sang pujaan hati. Meski begitu, kalian jangan sampai terlena dan melupakan kata-kata permintaan maaf.
Maaf dan memaafkan adalah suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan. Sudah seharusnya setiap orang mudah untuk mengucapkan kata maaf baik memiliki kesalahan ataupun tidak. Hal ini juga demi menjaga kerukunan serta kekompakan keluarga ataupun pertemanan.
Mengakui sebuah kesalahan dan minta maaf bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Tak sedikit orang yang gengsi dan mempunyai ego tinggi untuk meminta maaf terlebih dulu.
Namun, perlu dipahami, sangat penting untuk maaf dan memaafkan demi menjaga kerukunan dan kekompakan karena melalui kata-kata minta maaf bisa sedikit mendeskripsikan tentang penyesalan atas kesalahan yang telah diperbuat.
Maka dari itu Author mengucapkan
***Minalaidzhin wal'faidzhin, mohon maaf lahir dan bathin untuk semua kalian pembaca setia yang baru nongol atau pun yang selalu stay cun.
Selamat hari raya idul adha guys***...
**Jangan lupa
Vote
Like
Komennya yak
Segini dulu, dan afwan hari ini Author hanya up 1 bab
__ADS_1
Happy Reading guys**
Bersambung