
Rasya beserta Aisya juga adik sepupunya tengah bersiap menuju kampus setelah menyelesaikan sarapannya.
Aisya yang begitu sangat antusias itu merasa tidak sabar untuk segera sampai di tempat yang akan mereka tuju mengingat sudah sangat lama ia tidak menginjakkan kakinya di kampus kebangaannya.
"Ayo mas sekarang kita berangkat !" Ucap Aisya menghampiri suaminya yang tengah memanaskan mobil.
"Sabar sayang, Kia belum selesai tuh," Rasya melirik Kia yang tengah memakai sepatunya.
"Cepetan Ki ! Lama amat," gerutu Aisya.
"Kenapa sih, buru-buru banget ?" jawab Kia berjalan menghampiri mereka.
"Aku kangen kampus kita Ki."
"Ya udah kita berangkat sekarang. Izin dulu sama bunda, sayang !"
"Iya mas."
Mereka berpamitan dengan bunda Elsa juga ayah Rama sebelum melajukan mobilnya menyusuri jalanan luas.
Tidak banyak percakapan di dalam mobil itu, masih seperti biasanya Rasya selalu menunjukan sisi sikap romantisnya pada sang istri dan terkadang membuat Kia yang melihatnya sedikit tidak percaya bahwa kekutuban yang ada dalam diri kakaknya itu meleleh seketika karena seorang Aisya, yang dulu adalah seorang primadona kampus mereka.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, kini mobil Rasya berhenti tepat di pelataran area parkir di kampusnya.
"Ayo turun !" Titah Rasya pada dua wanita yang ada di dalam mobilnya itu.
Aisya terdiam, tiba-tiba saja tangannya gemetar merasakan sesuatu yang cukup membuatnya cemas. Rasya memahaminya, ia mengusap jari-jemari lentik milik istrinya seraya berkata,"Jangan khawatir, semuanya pasti baik-baik saja," ucap Rasya menenangkan Aisya.
"Ais cuma takut mas, mahasiswi kampus kita gak ada yang tau kalau kita sudah menikah, selain jajaran para pengajar," ucapnya mengeluarkan apa yang tengah ia rasakan.
Memang benar adanya, mahasiswi kampus mereka tidak ada yang tau kalau Rasya dan Aisya sudah menikah. Selain mereka para sahabat terdekat dan jajaran para pengajar.
Menurut Aisya, sebelum pernikahannya resmi di mata hukum, sebisa mungkin untuk menyembunyikan hubungan keduanya sementara waktu.
"Insyaallah gak akan terjadi apa-apa Is. Abang ada di garda terdepan kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu," sambung Kia yang juga ikut menenangkan kecemasan Aisya.
Aisya mengangguk seraya mengucapkan bismillah dalam hatinya.
Kampus yang ramai, melihat mobil yang sangat mereka hafal itu seketika pandangannya tak pernah lepas dari mobil Rasya.
Mereka yang melihat dua wanita yang turun lebih dulu dari mobil Rasya seketika terkejut bukan main. Pasalnya di kampus mereka saat ini yang menggunakan pakaian tertutup hanyalah Aisya dan Kia.
Meskipun banyak yang lainnya juga berhijab, tapi mereka tidak sampai menutupi wajahnya dengan cadar.
"Omg, beneran gak sih kalau yang turun dari mobil kak Rasya itu Aisya dan Kia ?" Seru salah satu mahasiswi perempuan yang juga sangat terpesona dengan Rasya.
"Apa mereka pacaran ?" Sambung yang lainnya juga ikut penasaran.
"Asalammualaikum kak Rasya," mereka menghampiri Rasya yang baru saja turun dari mobil.
Apaan sih, sok kecantikan banget..
Awas aja kamu mas, sampe merespon rayuan mereka.
Aisya sedikit kesal melihat suaminya yang selalu dikerubungi para wanita.
Terkadang ia juga menyalahkan suaminya yang memiliki wajah tampan yang selalu diidamkan para kaum hawa.
__ADS_1
"Ayo Ki !" Aisya menarik tangan Kia dengan kesal. Rasya menyadari kalau istrinya itu tengah cemburu.
Hi hi hi, ternyata kamu bisa juga cemburu ya sayang.
Rasya bergumam, betapa gemasnya ia melihat tingkah istri nya itu.
"Maaf semuanya saya, saya duluan. Asalammualaikum.."
"Yahhhhh, kak kita kan masih kangen," ucap mereka yang terlihat kecewa.
Rasya tidak memperdulikan mereka yang selalu mengejarkan bahkan secara terang-terangan mengatakan cinta padanya. Ada hati yang harus ia jaga saat ini, esok dan selamanya. Maka sebisa mungkin Rasya berusaha tidak membuat istrinya merasa kecewa apa lagi sampai terluka karna ulahnya.
***
"Tenang Is, aku yakin abang gak akan tergoda kok," ucap Kia.
"Aku cuma kesel tau gak, kenapa sih mas Rasya gak punya wajah jelek aja, biar cuma aku yang bisa menikmati keindahan nya itu," jelas Aisya yang membuat Kia menahan tawanya.
"Itu rezeki yang Allah kasih Is, mana bisa kita menyalahkan anugrahnya."
"Tapi seharusnya mas Rasya itu gak perlu dandan cakep-cakep amat, enak aja mereka menikmati wajah tampan suamiku," gerutu Aisya.
Apa cemburu itu seperti itu ya ?
"Sudahlah, yang penting abang gak akan berpaling," ucap Kia.
Perbincangan mereka berakhir disana. Kia mengajak Aisya berjalan-jalan keliling kampus untuk sedikit menenangkan kekesalannya itu.
Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa menginjakkan kakinya kembali di kampus kesayangan.
Banyak para fans Aisya yang masih menyapanya dan sedikit berbincang, namun tak jarang juga mereka yang perlahan menjauhi primadona kampus itu karna perubahan penampilannya yang menurut mereka sudah tidak pantas dijadikan miss kampus.
"Mas Rasya ngobrol sama siapa Ki ?" Ucap Aisya mengajak Kia berbicara.
"Samperin aja yuk !" jawab Kia dan langsung diangguki oleh Aisya.
Aisya dan Kia berjalan menghampiri Rasya yang terlihat tengah mengobrol dengan seseorang. Yang membuat Aisya penasaran adalah seorang wanita yang berada disana juga ikut mengobrol dengan suaminya.
Mereka siapa sih ? Gumam Aisya bertanya dalam hatinya.
"Asalammualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Siapa bang ?" Tanya Kia penasaran.
"Ini kerabat abi dek, ustadz Imam.."
Mendengar nama ustadz Imam, Aisya langsung mengangkat kepalanya memastikan bahwa seseorang yang Rasya katakan adalah benar.
Ustadz Imam, berarti perempuan tadi adalah anaknya yang dulu akan dijodohkan dengan mas Rasya ? Itu artinya beliau kuliah di kampus yang sama ? Ya Allah semoga ini bukan pertanda buruk.
"Ini Kia ya ?" Tanya ustadz Imam melirik.
"Na'am ustadz saya Kia," jawabnya dan terlihat ustadz Imam mengangguk seraya tersenyum.
Ada hal yang Rasya takutkan saat ini, tapi tidak mungkin ia katakan di depan ustad Imam.
__ADS_1
"Sendiri ustadz ?" Tanya Aisya.
"Dengan anak saya mbak, kebetulan ada urusan dengan dekan," jawab Ustadz Imam.
"Kuliah di sini juga ?" Tanya Aisya lagi.
"Na'am, tapi sebentar lagi tidak. Beliau lagi beli minum sebentar," jawabnya lagi.
Aisya mengangguk. Ia semakin dibuat penasaran siapa anak ustadz Imam yang ternyata kuliah di kampus yang sama. Raut wajah Rasya semakin tegang mendengar istrinya yang terus bertanya tentang anak ustadz Imam yang dulu akan dijodohkan dengannya.
Rasya tidak mau jika sampai istrinya itu salah paham.
Tidak ada niat sedikit pun menduakannya apa lagi sampai bermain serong si belakang.
Saat keheningan melanda, tiba-tiba saja datang seseorang yang membuat ke empat manusia ini sedikit terkejut.
"Abi, kak Rasya ini min...." kalimatnya terhenti setelah melihat dua orang yang sangat ia kenal."Kia, Aisya...."
Deg....
"Zahra,"
****
Huahhhh, masih inget dengan sosok Zahra guys ?
Dalam menjalani hidup, kerap kali kita mengalami ketakutan kehilangan seseorang. Entah itu orang tua, keluarga, saudara, pasangan atau pacar.
Rasa takut kehilangan tersebut menandakan kita tulus menyayangi seseorang. Kadang rasa takut yang paling sering terjadi adalah takut kehilangan pasangan.
Saat sudah terlalu sayang dan nyaman, kita pastinya berharap bisa selalu berharap bersama dan berharap dia tidak pernah pergi. Meski, kadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Saat menjalin hubungan bersama pasangan, kerap kali ada masalah yang mengganggu. Bisa saja dia merasa bosan atau merasa tak cocok, dan si dia pun tiba-tiba menghilang dari kehidupan kita. Atau bahkan yang kerap kali terjadi adalah perselingkuhan.
Mas Rasya, ku mohon Jangan pergi tanpa pamit. Itu akan membuat setiap kenangan indah kita menjadi luka.
Jika Mas bosan bilang, aku akan perbaiki sikapku. Jika mas sudah tak ingin bersama bilang, jangan hanya karena bosan mas memilih hilang
Jika bosan dan tak ingin bersamaku, pergilah. Namun aku ingin mas pergi dengan diskusi, jangan pergi tanpa pamit.
Aku mencintaimu suamiku...
Aisya putri
Alhamdulilah masih bisa up...
Jangan Lupa
Vote
Like
Komen kalian yakk
Happy Reading guys..
Lebaran ini, kemana aja ? Boleh Author tau, biar makin akrab 😄😄😄
__ADS_1
Bersambung