
"Apa dugaan saya benar dokter ? Kalau Isya yang kau anggap sebagai calon istrimu sebenarnya adalah Aisya, istriku !"
Deg.....
Suara yang tiba-tiba terdengar di belakangnya membuat ia terkejut.
Detak jantung yang tak biasa, merasakan sebuah ketakutan yang sangat amat ia wanti-wanti.
Evan masih mematung diam tanpa mengalihkan pandangannya. Namun kali ini ia tidak memikirkan antara anak dan ibu yang tengah berbincang itu, melainkan memikirkan sebuah jawaban yang harus ia berikan pada Rasya.
"Maksud anda apa ?" Ucap Evan dengan posisi yang sama.
"Begini saja dok, coba anda bayangkan dengan benar, bagaimana jika yang ada di posisi anak saya adalah anda ? Selama bertahun-tahun hidup tanpa seorang ibu dan tiba-tiba anda dipertemukan dengan sosok wanita yang anda yakini itu adalah ibu anda. Jangan terlalu tegang dokter, ini hanya perumpamaan, dan menurut saya memang bathin antara anak dan ibu sangatlah kuat. Walau nyatanya ada jarak di antara mereka," jawab Rasya dengan santainya.
Melihat sikapmu yang mendadak seperti ini membuat saya semakin yakin, dokter. Aisya sebenarnya belum meninggal, dan saat ini kami telah dekat dengannya, aku pun semakin yakin kalau Aisya adalah kamu Isya. Bathin Rasya seraya memperhatikan setiap kecemasan yang sesekali Evan tunjukan di raut wajahnya.
"Ck, perumpamaan anda terlalu jauh pak Rasya. Jangan karna calon Istri saya sama bercadarnya dengan istri anda, bukan berarti dia adalah Aisya yang kau sebut istrimu itu. Dan ya, jika posisi anak anda saya alami, saya akan tetap berfikir dengan logika. Mana mungkin orang meninggal bisa hidup kembali, terlebih lagi jika saya benar-benar menyaksikannya sendiri. Anda jangan terlalu berkhayal terlalu tinggi, apa lagi sampai mengharapkan Isya menjadi Aisya, itu tidak akan pernah terjadi !" Tegas Evan kemudian berlalu pergi meninggalkan Rasya.
Rasya sendiri enggan beranjak dari sana. Sungguh, pemandangan di depan matanya tidak ingin ia sia-siakan begitu saja.
Canda dan tawa Aisya dan Aishi membuat ia mengulum senyum tipisnya. Andai saja, jika kecurigaannya saat ini adalah benar, bagaimanapun caranya ia pasti akan membawa Aisya kembali.
****
Hari semakin siang, Rasya harus ke rumah mertuanya lebih dulu sebelum ia melanjutkan perjalanan pulang ke bandung.
Ini adalah cara satu-satunya untuk bisa mengenal Isya lebih jauh, dengan arti ia ingin membuktikan semua kecurigaannya. Bahwa Isya sebenarnya adalah Aisya, belahan jiwa dan hidupnya yang selama 6 tahun ini pergi.
"Begini saja, dokter Evan bisa mengikuti mobil saya dari belakang ! Dengan begitu tidak akan kehilangan jejak," usul Rasya dan langsung mendapat anggukan dari mereka.
"Kamu hati-hati ya sayang, mama percaya dengan pesantren yang akan menjadi tempatmu nanti. Karna mama dan papa dulu abdian pesantren itu. Nak Rasya, saya titip calon menantu dan sampaikan salam saya pada orang tuamu," ucap mama Evan.
"Insyaallah bu, akan saya sampaikan. Kalau gitu kami permisi, asalammualaikum !"
"Waalaikumsalam wr wb."
Mobil Rasya melaju meninggalkan kediaman Anggara dengan di ikuti mobil Evan dari belakang.
20 menit mobil mereka melaju di jalanan, dan kini mobil Rasya berhenti tepat di halaman rumah bunda Elsa.
"Asalammualaikum," ucap Rasya dan di ikuti orang-orang di belakangnya.
"Waalaikumsalam," jawab bunda Elsa dari dalam rumah sebelum ia membuka pintu.
Ceklek...
__ADS_1
"Kok sudah pul...ang," tanya bunda Elsa namun kalimat terakhirnya melemah.
Bunda Elsa menatap kedepan dengan mata yang berkaca-kaca. Namun tatapan itu bukan ia tunjukan untuk Rasya, melainkan seorang wanita yang berdiri di belakangnya.
Bukan hanya Rasya yang menyatakan jika mata Isya sangatlah mirip dengan Aisya, tapi bunda Elsa pun merasa demikian.
"A-aisya, masyaallah ini beneran kamu nak ?" Bunda Elsa sedikit memajukan kakinya demi bisa mencapai wanita itu.
Tangannya meraba bagian wajah Aisya seraya menatap lekat manik matanya. Ia berhambur memeluk Aisya dengan isak tangis.
Nyaman dan tenang
Aisya merasakan kenyamanan dalam pelukan wanita paruh baya yang ia sendiri tidak mengenalnya.
Ia tidak membalas pelukan itu. Rasa keterkejutannya dan bingung membuat Aisya diam mematung. Kenapa dengan wanita paruh baya ini, apa sebegitu miripnya aku dengan perempuan yang bernama Aisya itu ? Hingga keluarga pak Rasya selalu memanggil ku dengan nama Aisya. Bathinnya bertanya-tanya.
"Maaf, ibu siapa ?"
Deg....
Bunda Elsa melepaskan pelukannya seketika, ia kembali menatap lekat manik mata Aisya.
Apa yang terjadi ? Kenapa Aisya tidak mengenalinya ? Dia adalah ibunya, wanita yang bersusah payah berkorban dan menaruhkan nyawanya demi lahirnya sang anak ke dunia ini.
"Ini bunda sayang, ibu kamu Aisya, ini adalah Rasya, suamimu ! Dan gadis kecil nan cantik ini adalah anak kalian. Aisya, apa yang terjadi nak ? Kenapa kau tidak mengingat kami ?"
"Ehem, maaf tante, tapi yang tante ajak bicara bukanlah Aisya seperti yang tante kira. Dia adalah Isya, calon istri saya !" Sahut Evan.
"Dokter, bukanlah kau adalah dokter yang menangani putriku 6 tahun lalu ?"
"Iya saya Evan, tante. Apa tante tidak mengingat saya ?"
"Evan dimas Anggara ?"
Evan mengangguk, tidak ada salahnya jika ia mengaku kalau dirinya adalah Evan dimas, lelaki yang sejak kecil selalu menjadi teman main Aisya.
"Jadi ini ?" Bunda Elsa kembali melirik Aisya.
"Saya Isya, ibu. Dan saya tidak mengenal ibu, untuk pak Rasya dan Aishi, saya memang bekerja dengan pak Rasya. Menjadi pengasuh anaknya," jawab Aisya dengan lembut.
Bunda Elsa mengusap pipinya yang sempat tersiram air mata. Ia mengangguk,"Maafkan saya nak, matamu sangat mirip dengan putriku. Mari silahkan masuk !" Titahnya.
Aisya dan Evan mengangguk. Berhubung waktu telah memasuki dzuhur, mereka menunda keberangkatan dan akan di lanjut setelah shalat Dzuhur.
Bunda Elsa meminta Isya mengambil air wudhu di kamar putrinya dulu.
__ADS_1
"Jangan sungkan nak Isya, anggaplah rumah sendiri," ucapnya seraya tersenyum.
"Terima kasih bu !"
Bunda Elsa menganggukinya,"Saya tinggal sebentar, kalau butuh sesuatu panggil saja !"
Aisya mengangguk. Ia menatap sekeliling kamar itu dengan sangat teliti. Desain warna cukup dominan kewanitaan, foto-foto terpajang dengan rapi di dinding kamar itu.
Melihat adanya pintu lagi di kamar itu, Aisya berjalan mendekatinya.
Sudah di pastikan bahwa itu adalah kamar mandi. Namun sebelum ia memasukinya, Aisya melepaskan sesuatu dan meletakkannya di atas meja rias.
Sementara Rasya yang belum membereskan pakaiannya, ia segera beranjak naik meninggalkan Evan yang masih berbincang dengan bunda Elsa.
Tanpa ia tahu, ada seseorang di kamar itu selain dirinya. Dengan santainya Rasya masuk kedalam kamar dan langsung meraih koper miliknya dari atas lemari.
Ia menghentikan kegiatannya saat mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi.
Rasya berjalan mendekatinya, suara gemercik air itu makin terdengar jelas di telinganya.
Rasya berdiri tepat di depan pintu dengan niat ingin mengetuknya, namun sesuatu benda di atas meja rias menyita perhatian Rasya.
Rasya mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar mandi, ia lebih tertarik dengan benda yang ia lihat di atas meja rias.
Deg.....
Sebuah cincin berlian tergeletak disana, yang menjadi pertanyaan hatinya adalah kenapa cincin mahar pernikahannya ada disana ?
Karna Rasya paham betul bagaimana cincin yang ia beli untuk mahar saat pernikahannya dengan Aisya.
"Apa itu artinya....." Rasya melirik ke arah pintu kamar mandi seraya bergumam.
Makin seru kan gengs
Cerita lengkapnya ada di ( Ikrar Cinta Gus Rasya ) ya...cusssssss
mungkin Author up sakpe sini aja....
yang penasaran buruan ke ( Ikrar Cinta Gus Rasya ) okeee !!! Author tunggu disana !
Votenya jangan lupa ya !!!
Happy Reading guys
TBC
__ADS_1