
Dikota jakarta, terlihat seorang pedagang asongan yang tengah duduk dihalte bis.
Ia terlihat menjajakan dagangannya menunggu pembeli. Namun pagi hingga petang, tak ada satupun dagangan nya yang laku terjual.
Hingga adzan magrib berkumandang, ia membereskan dagangannya dan disusun rapi kedalam sebuah box. Dilanjut lagi dengan berjalan kaki menyusuri trotoar, ia mencari masjid untuk menunaikan kebawajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah berjalan kurang lebih 5 menit, ia menemukan sebuah masjid yang berdiri megah dan besar yang bertuliskan Masjid Agung Al-Azhar. Dengan segera ia mengambil air wudhu dan shalat berjamaah. Shalatnya begitu khusuk, hingga selesai pun ia tak langsung beranjak dari duduknya. Ia berdoa, memohon pertolongan pada yang maha kuasa atas hidup yang ia jalani bersama sang istri. Dengan diiringi isak dan tangis ia pun mulai berdoa.
*Ya allah ya rabb ya tuhanku...
Hamba memohon kepadamu, pencipta alam semesta. Berilah hamba ketabahan dan senantiasa sabar dalam menghadapi semua nya tanpa terkecuali. Berilah jalan, supaya mendapat rizky yang halal serta cukup.
Ada kehidupan didalam perut istri hamba yang harus hamba nafkahi. Berilah petunjukmu ya rabb....
Amiin amin yaraballalamin*.
Tanpa ia sadari, ada sepasang mata dan telinga yang menjadi saksi atas doanya itu. Hingga ia melihatnya dengan mata yang berkaca kaca dan segera menghampiri orang yang tengah khusuk dalam berdoa itu.
" Assalam mualaikum..." Sapa seseorang itu.
Bapak yang selesai berdoa, akhirnya menoleh arah sumber suara.
" Waalaikumsalam wr wb...," Jawabnya.
" Ada yang bisa dibantu pak?." Sambungnya lagi.
" Boleh saya duduk ?." Tanya nya dan langsung diangguki oleh bapak itu.
" Sebelumnya perkenalkan nama saya Lutfi mas." Ucap Lutfi menyodorkan tangan nya.
" Saya Zaki Hasannudin pak, biasa dipanggil Zaki." Jawab Zaki membalas salaman tangan Lutfi.
" Saya mendengar mas nya tadi berdoa khuuuuusukkkk sekali, apa ada masalah?." Tanya Lutfi.
Zaki terdiam seketika, ia merasa tak mampu lagi membawa beban berat yang dipikulnya. Demi Istri dan calon buah hati yang didalam perut, ia rela merantau menjadi pedagang asongan dijakarta. Dengan mata yang berkaca kaca, bibir gemetar ia menjawab pertanyaan lelaki yang dihadapan nya itu.
" I-iya pak. Istri saya dikampung sedang hamil, dan sebentar lagi akan melahirkan. Saya bingung harus mencari biayanya kemana, sudah seminggu ini jualan saya sepi. Dan hari ini dari pagi hingga petang, jualan saya belum ada satu pun yang laku." Jawab Zaki menitikan air matanya.
Lutfi yang tidak tega melihat Zaki menangis, ia pun mengusap punggung yang telah lelah itu.
" Sabar mas, insya allah semua akan ada jalan nya. Saya akan bantu.." Ucap Lutfi.
" Benarkah pak, masya allah terima kasih banyak pak. Harus dengan apa saya membalas kebaikan bapak Lutfi." Ucap Zaki memeluk Lutfi.
" Sudah sudah, saya ikhlas membantu. Kalau gitu mari ikut saya pulang kerumah !." Ajaknya.
" T-tapi pak, saya tidak enak kalau harus merepotkan bapak serta keluarga."
__ADS_1
" Tidak mas, saya tinggal dengan anak dan menantu saya. Istri saya baru beberapa bulan lalu telah meninggal."
" Inalilahiwainailaihiroziun, saya turut berduka cita ya pak. Semua amal ibadahnya diterima yang maha kuasa,dan beliau ditempatkan disisinya." Amiiin jawab keduanya kompak.
Zaki yang diminta ikut pulang kerumah Lutfi pun menurut. Dengan menggunakan mobilnya, ia hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai kerumah. Zaki begitu terkagum kagum saat mobil telah memasuki pekarangan rumah mewah dan besar itu. Ia dan Lutfi pun segera turun dari mobilnya.
Tok..tok...tok...
" Assalamulaikum..."
Ceklek..
" Waalaikumsalam..." Jawab seseorang dari dalam membukakan pintu.
" Sudah pulang yah...?." Ucap anak Lutfi.
" Iya..., ayooo mas mari masuk!." Titah Lutfi pada Zaki. Sementara anak dan menantu Lutfi hanya menatap bingung, siapa orang yang Ayahnya bawa itu.
Mereka ber 4 duduk diruang keluarga dan ada anak kecil laki laki yang usia nya sekitar 1 tahun lebih yang tengah dipangku oleh Lutfi.
" Zaki perkenalkan ini anak saya Herman, dan ini menantu saya Wati. Serta ini cucu saya Zafran." Lufti memperkenalkan anggota keluarganya satu persatu.
" Zaki...."
" Herman..."
" Zaki...mbak." Setelah perkenalan dengan keluarga Lutfi, Zaki pun diajak mereka untuk makan malam. Setelah makan malam selesai, Lutfi serta semua orang kini berada diruang keluarga.
" Man..Zaki ini perlu biaya untuk istrinya yang sebentar lagi mau melahirkan. Bisa kah kamu ajak dia bekerja direstaurant kita?." Tanya Lutfi.
" Baik Ayah, kebetulan tenaga karyawan disana kurang." Jawab Herman.
" Nah Zaki, kamu bisa bekerja direstauran anak saya. Untuk itu kamu tinggal disini saja bersama kami !." Titah Lutfi.
" Tapi pak, saya takut merepotkan kalian. Lebih baik saya ngontrak saja." Jawabnya.
" Tidak Zak, kamu disini saja bersama kami, anggaplah kami keluargamu juga." Ucap Herman.
" Jika kalian memaksa, baiklah saya bersedia tinggal disini." Jawab Zaki. Dan semua orang pun mengangguk.
Hari hari Zaki bekerja dengan giat demi bisa membawa pulang uang untuk biaya lahiran istrinya nanti. Hingga tak terasa waktu telah berlalu hingga akhirnya, Zaki mendapat kabar dari tetangganya bahwa istrinya hendak melahirkan.
" Pak, saya izin pulang kampung. Istri saya sudah mau melahirkan." Ucap Zaki pada Lutfi.
" Duduk dulu Zak, tenang saja nanti akan diantarkan supir sampai langsung depan rumahmu!." Zaki pun mengangguk, ia akhirnya duduk berhadapan dengan Lutfi.
" Begini Zaki, saya sudah menganggapmu sebagai anak saya. Dan untuk sekarang hingga seterusnya, anggaplah kami sebagai keluargamu dan saya mintak, kamu panggil saya Ayah sama seperti Herman dan Wati." Ucap nya.
__ADS_1
" T-tapi pak, saya rasa tidak akan pantas jika saya menjadi keluarga orang yang terhormat seperti bapak dan Herman." Jawab Zaki.
" Saya mohoonnnn Zakii, anggaplah ini balas budimu kepada saya!."
" B-baiklah pak, eh A-ayah. Baiklah Ayah." Jawab Zaki terbata bata, sementara Lutfi tersenyum bahagia.
" Seorang Ayah ingin bertanya pada anaknya. Sebenernya apa keinginanmu Zaki selain untuk biaya kelahiran anak pertamamu?." Tanya Lutfi.
Zaki terdiam menunduk, kemudian ia memberanikan diri menatap seseorang yang kini menjadi Ayahnya.
" Zaki ingin membangun pesantren dikampung Yah. Kebetulan tanah yang kami tempati sangat luas." Ucap Zaki kemudian Lutfi pun mengangguk.
" Baiklah setelah anakmu lahir, kembalilah kesini bawa anak dan istrimu !," Titah Lutfi.
..." Kamu akan membantu Herman mengelola Restaurant disini. Dengan begitu hasil nya bisa kau gunakan untuk membangun pesantren serta ternak yang kau inginkan." Ucap Lutfi....
" Masya allah , terima kasih Ayah. Apa yang bisa Zaki lakukan untuk Ayah." Tanya nya.
" Ayah cuma meminta 2 hal nak, Ayah ingin jika nanti punya cucu perempuan, dia harus mengabdi di pesantren mu hingga menjadi hafidzoh."
" Lalu kedua Ayah..?." Tanya Zaki.
" Yang kedua, Ayah ingin supaya persaudaraan kita tidak pernah putus Zaki. Antara kamu dan Ayah, serta kamu dan Herman. Maka dari itu Ayah ingin kau berjanjilah, jika anakmu lelaki dan anak kedua Herman perempuan. Maka mereka berdua harus menikah." Ucap Lutfi.
Sementara Zaki terdiam, ia memikirkan bagaimana jiia anak nya adalah perempuan dan bukan laki laki. Namun Lutfi dapat membaca diamnya Zaki.
" Namun jika anakmu perempuan, maka harus kau nikahkan dengan anak pertama Herman. Berjanjilah Zaki, seorang Ayah meminta anaknya untuk mengabulkan keinginan orangtuanya. Buatlah keturunan mu dan Herman salah satunya harus menikah, demi melanjutkan persaudaraan kalian ketika Ayah telah tiada nanti !!." Ucap Lutfi lagi.
Dengan helaan nafas yang panjang Zaki berkata ." Aku Zaki Hasannudin berjanji kepadamu yang telah menjadi Ayah ku untuk menikahkan salah satu keturunanku dan keturunan Herman. Aku berjanji kepadamu Ayah, seorang anak telah berjanji dan akan menepatinya diwaktu yang telah ditentukan." Jawab Zaki tegas menatap sang Ayah. Dan dibalas senyum serta anggukan oleh Lufti.
Flasback Off
💞💞💞💞 Alhamdulilah
balik Up lagi nih
Tinggalkan jejak
Vote
Like
Komen kalian ya !!!
Happy Reading guys...
Bersambung💞💞💞💞
__ADS_1