Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Extra part 29


__ADS_3

...Ma-maksudnya bagaimana pak Buk ?" Tanya Iqbal yang tengah bingung....


..." Maksudnya, kita jadi keluarga yang utuh Iqbal. Kamu jadi menantu saya !"...


...Deg..........


...Semuanya begitu terkejut, dengan apa yang mereka dengar. Termasuk seseorang yang bersangkutan dengan masalah hatinya masing-masing....


" Ayah, Jihan gak mau ya dijodoh-jodohin. Tanpa ikatan pun kak Aqil dan Safira bisa kok jadi keluarga kita." Jelas Jihan.


" Iya Ilham juga sama..." Sambung Ilham.


" Itukan baru rencana, kenapa kalian sudah marah-marah sih ?"


" Udah, udah. Nak iqbal maafin suami saya ya. Dia memang suka bercanda." Ucap Rima.


" Tidak apa-apa Buk."


" Tapi kalau suatu saat nanti kalian ada saling mengagumi, jangan ditunda lagi ya !"


" Ayah......" Geram Ilham juga Jihan bersamaan.


" He he he...." Zafran hanya terkekeh menanggapi pelototan kedua anaknya.


Iqbal hanya terdiam mencerna kembali ucapan bosnya itu. Sampai kapanpun, hatinya tidak akan goyah dengan wanita lain selain Aqila. Nama itu sudah tertancap dalam direlung hatinya, bahkan saat ini pun yang ada dipikiranya hanyalah Safira dan Aqila.


Ia tidak bisa membayangkan kalau ia akan menikahi anak gadis dari bosnya itu, bagiamana dengan penantian akhwat yang tengah mengharapnya ? Bukankah kepergiannya hanya untuk meminta waktu memantaskan diri bersanding dengan wanita pujaannya ?


Safira yang mengerti lamunan kakaknya itu sungguh miris melihatnya. Disini, ia berjuang memantaskan diri untuk Aqila, namun aku malah membuatnya harus berhutang budi pada bosnya itu, pikir Safira.


" Bang....."


" Kenapa dek ?"


" Abang pasti belum makan. Makan ya bang, demi Safira." Ucap Safira seraya memohon.


Memang benar, Iqbal tidak sempat memikirkan isi perutnya dengan pikiran yang khawatir tentang Adik semata wayangnya itu.

__ADS_1


" Iya dek, Abang akan makan." Jawab Iqbal pasrah.


Jihan memperhatikan dua kakak beradik itu yang sangat saling menyayangi. Ia pun terlihat mengulas senyumnya melihat Iqbal begitu pasrah saat Adiknya meminta ia untuk segera makan.


" Iqbal, saya pamit dulu ya, udah mau magrib. Safira semoga cepet sembuh ya nak !" Ucap Rima seraya mengelus tangan Fira.


" Terima kasih banyak Bu, maaf kami merepotkan."


" Tidak sama sekali sayang." Ucap Rima tersenyum.


" Mi, jihan sama Abang boleh disini dulu gak ?" Tanya Jihan pada Ibunya.


" Boleh sayang, Bang jangain Adiknya ya !" Pintanya.


" Siap Mi..." Jawab Ilham dengan hormat.


" Assalammualaikum..."


" Waalaikumsalam..."


Selepas perginya Zafran serta sang istri, Jihan begitu sangat akrab dengan Safira. Terlihat dari keduanya yang saling mengobrol seraya tertawa. Begitu pun dengan Ilham yang mengajak Iqbal berbincang.


" Baiklah, tentu saja kita seumuran. Tapi Adikmu lebih tua dari Adikku..." Jawab Iqbal hingga membuat Ilham tertawa.


" Heiiii kalian, ngomongin kami ya ?" Tebak Jihan.


" Eh, tidak mbak."


Sementara Ilham hanya cengengesan melihat Iqbal yang tengah diomeli oleh Adiknya itu.


' Kak Iqbal tidak terlalu buruk. Dia shaleh, baik, perhatian dan kayaknya sayang keluarga ?' Gumam Jihan dalam hati.


" Astagfirullah, kenapa aku ini."


" Kenapa kak ?" Tanya Safira.


" Eh, bukan apa-apa." Jawabnya seraya tersenyum.

__ADS_1


Dan semenjak saat itu, Jihan begitu akrab dengan Safira hingga ia pun selalu bertemu dengan Iqbal.


Iqbal hanya merasa bersyukur, jika Adiknya saat ini telah sembuh dan kembali ceria seperti dulu. Yang kini tengah ia pikirkan, bagaimana mengembalikan uang yang sudah Zafran pinjamkan untuk biaya pengobatan Safira.


Hari demi hari bulan demi bulan, sudah setengah tahun lamanya Iqbal mengabdikan diri kekeluarga Zafran. Saat ini pun Jihan telah kembali melanjutkan kuliahnya dikairo, namun meskipun begitu, keakraban yang telah terjalin dengan Adik Iqbal itu sama sekali tidak berubah. Setiap malam, Jihan selalu menelfon Safira walau hanya sekedar ingin tau bagaimana keadaannya.


***


Dikairo, Jihan tengah berbaring diatas ranjangnya seraya membuat sidang skripsinya didepan laptop.


Namun entah kenapa, ingatannya melayang pada sosok seseorang yang selalu ia anggap kakak 6 bulan lalu.


' Kenapa aku malah mengingat kak Iqbal ya..? Padahal hampir tiap malem aku berbicara dengan Safira lewat telfon. Apa mungkin ini yang namanya rindu ? ' Gumam Jihan seraya terkekeh sendiri.


" Astagfirullah, masa iya sih aku rindu kak Iqbal ? Ah, gak mungkin kan..."


Jihan bergulang-guling diatas tempat tidurnya seraya tersenyum-senyum mengingat seseorang itu.


Sementara diindonesia, Iqbal tengah bertahajud disepertiga malamnya.


' Ya Allah ya Rabb, jika berkata rindu...Aku memang merindukannya. Jika berkata berharap, aku memang mengharapkannya.


Nama yang selalu kusebut dalam setiap sujudku, nama yang selalu aku hiasi bunga dalam hati, nama yang selalu aku ingat bahkan nama itu adalah yang paling kuharapkan untuk bersanding bersama, berjalan bersama, membina dan membangun bersama hingga kejannahmu. Aqila Audya...Anna uhibbuka fillah ya Ukhty '


" Astagfirullahaladzhim...." Seseorang terbangun dari tidurnya dengan keringat yang sudah membasahi dahinya.


' Siapa yang mengucapkan kata itu dan cincin dari siapa yang kupakai '


💕💕💕Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian ya !!"


Happy Reading guys...

__ADS_1


*Bersambung***💕💕💕**


__ADS_2