Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

Tak lama dari itu, Aisya meminta Kia menemaninya untuk menemui Arkan di taman yang sudah di janjikan.


Bahkan Kia merasa semangat sekaligus penasaran dengan Arkan yang tiba-tiba mengajak sahabatnya untuk bertemu.


"Abang Kan mau ngomong apa ya Is ?" Tanya Kia di sela-sela langkahnya.


"Aku bahkan tidak tau apapun Ki. Kita lihat saja nanti," jawab Aisya yang membuat Azkya mengangguk pasrah.


Kini sampailah mereka di taman pondok pesantren dan mendudukan diri di bangku panjang yang ada di sana.


Seraya menunggu Arkan datang, mereka masih setia mengobrol dan sesekali berbincang tentang tugas kuliah.


"Asalammualaikum.." sapa Arkan yang baru datang membuat Kia juga Aisya menoleh.


"Waalaikumsalam wr wb.."


"Afwan mas, ada kepentingan apa Mas Arkan mengajak saya untuk bertemu di sini ?" Tanya Aisya mengawali percakapan.


Arkan tersenyum, sebelum ia menghela nafasnya mencoba mengatakan hal yang cukup membuatnya kepikiran.


"Begini, aku tau kalau kita itu baru kenal, bahkan pertemuan kita baru dua kali terjadi. Tapi sejujurnya sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah tertarik denganmu Putri. Di sini aku tidak ingin membebankanmu, tapi bolehkah kalau aku memintamu untuk berta'aruf ?"


Deg...


Aisya terkejut tidak percaya, bahkan Kia pun sama tak kalah terkejutnya dengan Aisya meskipun ia sudah tau kalau Arkan memang ada rasa pada sahabatnya itu.


Kenapa semuanya jadi kayak gini sih ? Pikir Aisya.


"Sebelumnya saya minta maaf Mas, tapi...."


Belum sempat Aisya menyelesaikan kalimatnya yang harus terpangkas oleh Arkan."Tidak masalah Put. Tidak perlu menjawabnya terburu-buru. Aku tau kau butuh waktu untuk itu secara perkenalan kita baru saja terjadi."


"Bukan begit...."


"Aku akan tunggu sampai kau siap menjawabnya ! Aku permisi, asalammualaikum.."


"Waalaikumsalam wr wb.."


"Kenapa gak di terima aja sih Is ? Abang Kan juga baik kok, bahkan gak kalah cakepnya sama Bang Rasya, iya kan ?"


Aisya mengangguk. Memang tak dapat di pungkiri kalau Arkan pun tak kalah tampan juga shalehnya seperti Rasya.


Namun bukan itu alasannya. Aisya tidak bisa mengatakan kalau ia menerima pinangan dari Faraz pun sejujurnya karna terpaksa. Hatinya masih terpaut lekat dengan Rasya seorang, namun karna kenyataan dan takdir tak berpihak padanya, Aisya memilih mundur dan menerima semua saran dari orang tuanya.


"Aku tidak bisa menerima pinangan dan ta'aruf dari siapapun Ki, karna setatusku saat ini adalah makhthubah,' jelas Aisya.


Oke, Kia...mainkan dramamu !


"Apa..? Kamu sudah di khitbah seseorang ? Siapa Is ?" Kia terkejut seraya mengatakan serentet pertanyaan yang membuat Aisya bingung harus menjawabnya dari mana.


"Satu-satu kali, ki !" Aisya hanya menggeleng melihat Kia yang hanya cengengesan.


"Ayo jelaskan ! Aku pengen tau kenapa seorang Aisya Putri yang begitu mencintai Bang Rasya tiba-tiba nyerah gitu aja dan malah menerima pinangan dari lelaki lain."


"Aku terpaksa Ki.." jawab Aisya menunduk sedih mengingat takdirnya tak sejalan dengan harapan.

__ADS_1


"Maksudnya ?"


"Beberapa hari yang lalu, orang tua ku datang menjengukku sekaligus membawa berita yang juga membuatku terkejut. Ada rejal yang mengkhitbahku di hari yang bersamaan dengan khitbahan Kak Rasya, awalnya aku sangat berharap bahwa yang mengkhitbahku itu adalah kakakmu Ki, tapi nyatanya semua itu tidak terjadi. Aku menyerah mengejar kak Rasya yang saat ini menjadi calon suami orang lain. Aku tidak ingin merusaknya, aku juga sadar mungkin inilah jalan takdirnya yang memang Kak Rasya bukanlah jodohku ," jelas Aisya membuat Kia menatapnya penuh iba.


"Jadi siapa nama pria yang mengkhitbahmu itu ?"


"Namanya Faraz. Entahlah, bahkan aku belum pernah mengenal nama itu atau bertemu sekali pun."


"Kau yakin ?" Tanya Kia memastikan dan Aisya langsung mengangguk mantap.


"Jangan dipikirkan, semuanya pasrahkan sama Allah. Bahkan kalau kau mau, masih bisa untuk menikung Bang Rasya Is."


"Caranya ?"


"Sebut namanya sebanyak yang kau mau di kala shalat malammu ! Di sanalah kau akan tau jawaban yang sebenernya dari jalan takdir yang akan kau terima nantinya," jelas Kia.


"Apa harus ?"


"Kalau kau ingin yang terbaik, maka itu harus kau lakukan !!" Aisya terdiam mencerna kembali kata-kata Kia yang memang ada benarnya.


***


Keesokan harinya, Rasya benar-benar memikirkan hal sudah ia putuskan untuk berbicara empat mata dengan Aisya.


Setelah mendengar cerita dari adik sepupunya itu, membuat ketakukan Rasya semakin menjadi.


Tangannya mengepal dan rahang yang mulai mengeras itu seolah tengah menahan kekesalannya pada seseorang.


Rasya mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.


"Asalammualaikum.."


"Waalaikumsalam. Napa Bang ?"


"Atur pertemuanku dengan Putri sekarang !"


"Abang kenapa, bang halo..hal...."


Tut....


Panggilan di akhiri secara sepihak.


"Is, ngeselin. Dasar kutub !" Gerutu Kia kesal seraya meletakan kembali ponselnya.


Dengan gerutuan yang masih terus berkomat-kamit dari bibir Kia, kakinya melangkah menuju asrama untuk menemui Aisya.


"Putri.......!!!!" Panggil Kia berteriak seraya berlari menghampiri sahabatnya. Sengaja Kia memanggilnya Putri karna jarak mereka yang cukup jauh sehingga mengharuskan Kia berteriak memanggilnya.


"Kenapa ?" Tanya Aisya dengan melirik Kia yang terlihat kelelahan karna berlari. Kia membungkukkan badannya mencoba mengatur nafasnya untuk bisa kembali normal.


"Ikut aku !"


"Tapi kemana Kia ?"


"Udah ikut aja, ayok !"

__ADS_1


Kia menarik tangan Aisya membuat ia harus berlari kecil mengimbangi langkah Kia yang cukup cepat itu.


"Ki, kita mau kemana ?" Aisya terus bertanya namun tak kunjung mendapat jawaban. Hingga langkah keduanya berhenti tepat di depan rumah seseorang yang sontak membuat jantung Aisya berdegub kencang.


"Kia. Ke-kenapa ki-kita harus kerumah Kak Rasya ?" Tanya Aisya sedikit gugup.


"Nanti juga kau akan tau."


"Asalammualaikum.."


"Waalaikumsalam.." Keluarlah seseorang yang membuat Aisya harus menundukan pandangannya.


"Silahkan duduk Mbak !" Pintanya. Aisya hanya mengangguk, ia mendudukan dirinya di sofa ruang tamu dengan di susul oleh Kia.


"A-ada apa Ma-mas Rasya memanggil saya ?" Tanya Aisya.


"Aku hanya ingin mendengar darimu langsung tentang apa yang Arkan katakan kemarin padamu !" Ucap Rasya sontak membuat Aisya menatapnya tidak percaya.


"Apa pentingnya Mas ?"


"Jelas ada. Dan itu sangat penting untukku."


Aisya menghela nafasnya sebelum ia mengatakan hal yang Rasya minta untuk menceritakan padanya.


"Mas Arkan meminta saya untuk bertaaruf dengannya !"


"Lalu apa jawabanmu ?"


"Saya belum menjawabnya."


"Aku memintamu untuk menolak ta'aruf Arkan !"


"Tapi kenapa mas, bukankah itu urusan saya ? Yang tidak sama sekali ada hubungannya dengan mas Rasya," jawab Aisya sedikit menekan kalimat akhirnya.


"Tentu ada hubungannya denganku."


"Hubungannya apa Mas ? Bahkan kita tidak begitu dekat yang harus kau larang seolah kita memiliki hubungan," ucap Aisya sedikit emosi.


"Karna aku *Mencintaimu !"


Deg*..


***Huahh...makin penasaran kan..??


Jangan lupa tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian ya....


happy reading guys


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2