Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Pemandangan Haram


__ADS_3

Zahra memandang Aisya dari kepala hingga kakinya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Benarkah ini Aisya ? Lalu jenazah siapa yang di makamkan waktu itu ?


Hatinya bertanya-tanya, Zahra memberanikan diri dengan mengangkat tangannya meraih tangan Aisya.


"I-ini beneran kamu A-ais ?" Pertanyaan Zahra sontak membuat Aisya mengerutkan keningnya.


Kenapa semua orang yang baru saja ia temui dengan sama memanggil dan beranggapan kalau dirinya adalah Aisya ?


Cara berpakaian kami memang sama, tapi bukan berarti aku adalah Aisya seperti yang kalian kira. Aisya bermonolog dalam hatinya.


"A-aku......


"Bukan !" Tegas seorang lelaki yang datang bersama dengan Rasya. Evan memangkas begitu saja kalimat Aisya, hingga akhirnya Aisya mengalah dan memilih tidak melanjutkan kalimatnya.


"Saya tegaskan dia adalah Isya, bukan Ais atau Aisya seperti yang kalian bicarakan ! Isya ini datang kesini karna bekerja dengan pak Rasya untuk mengasuh putrinya. Dan saya sendiri adalah calon suami Isya," ucap Evan merasa jengah dengan setiap orang di sekeliling Rasya selalu menyebut calon istrinya sebagai Aisya. Walaupun memang kenyataannya seperti itu, tetapi Evan tetaplah Evan yang tidak akan mudah menerima begitu saja apa lagi jika sampai membiarkan seseorang yang di cintainya jatuh ke dalam pelukan laki-laki lain.


"Umi, katakan ke Ici kalau yang di katakan om itu tidak benar ! Ici anak umi kan ?" Pertanyaan Aishi sontak membuat Evan merasa geram.


Berbeda dengan Rasya yang begitu santai seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia tersenyum tipis merasa puas dengan sikap Ici yang pasti akan menentang apapun yang Evan katakan, termasuk pernyataannya tentang Aisya.


Aisya melirik sekilas melihat raut wajah Evan. Terlihat jelas ia tengah menahan sesuatu di balik ekspresi wajahnya itu. Aisya mengedipkan matanya memberi kode bahwa semua akan baik-baik saja, terlebih lagi Aishi hanyalah anak kecil yang tidak akan mengerti masalah orang dewasa.


"Iya sayang, Ici anak umi. Sudah ya, jangan di dengerin apa yang om Evan katakan ! Boleh sekarang kita masuk ?" Lerai Aisya berusaha mencairkan suasana yang tegang akibat ucapan Ichi yang membuat Evan sedikit kesal tentunya.


Ici mengangguk, ia masih tetap menggandeng tangan uminya seraya melangkahkan kaki memasuki rumah.


Langkah mereka tentunya segera di susul oleh Rasya dan juga Evan. Namun berbeda dengan Zahra yang masih tetap diam di tempatnya, ia memikirkan banyak hal termasuk kedekatan Ichi dengan wanita yang mirip Aisya itu.


Zahra pun akan mengatakan hal yang sama tentang kemiripan Isya dan Aisya. Bukan hanya nama yang mirip, Zahra dengan jelas melihat mata dan jari-jemari Isya memanglah sama persis dengan Aisya.


Zahra mencoba berpikir dengan positif dan segera menepis hal-hal yang membuatnya tidak tenang. Ia pun segera menyusul mereka masuk ke dalam rumah.


****

__ADS_1


Di kamar umi Bila, dua orang tengah bersikeras dengan pendapatnya masing-masing. Terlebih lagi Umi Bila adalah seorang wanita, sedikit banyaknya ia memahami tentang sebuah kemiripan.


"Umi yakin bi, kalau Isya adalah Aisya. Matanya itu loh, mirip," kekeh umi Bila dengan pendapatnya.


"Apa umi lupa ? Di dunia ini kemiripan bukan hanya ada dua umi, bahkan bisa lebih dari itu. Menurut abi, dia bukanlah Aisya ! Sudah jelas Dokter Evan mengatakan kalau dia adalah calon suaminya," jawab ustadz Aqil tak mau kalah.


"Susah memang, ngomong sama orang gak pernah peka sama yang nyata," gerutunya dengan kesal.


"Jangan gitu dong, kalau itu beneran Aisya, lalu jenazah siapa yang kita makamkan 6 tahun lalu itu ?"


Umi Bila terdiam, ia berfikir sejenak mencerna kembali kalimat suaminya. Memang benar, di dunia ini manusia banyaklah yang mirip. Terlebih lagi 6 tahun lalu ia menyaksikan sendiri meninggalnya Aisya, jadi tidaklah mungkin manusia meninggal bisa hidup kembali.


Tidak lagi terdengar suara mereka, umi Bila memilih tidak lagi melanjutkan asumsinya. Namun hati kecilnya mengatakan, miripnya Isya dan Aisya tidak mungkin hanya sebuah kebetulan.


*****


Ke esokan harinya, Aisya pagi-pagi sekali pergi kerumah Rasya mengingat ia harus segera mengantarkan Aishi ke sekolahnya.


"Ingatlah satu hal Isya, apapaun yang terjadi aku mohon jangan lupakan aku ! Apa lagi sampai meninggalkanku. Karna aku sangat-sangat mencintaimu," begitulah kata-kata dari Evan tadi malam.


Niat Aisya hanya bekerja, meskipun ia sendiri merasa sangat nyaman berada dekat dengan gadis kecil yang selalu memanggilnya dengan kata Umi.


'Entahlah, Aishi seperti mengikuti setiap aku bernafas. Di mana setiap nafasku itu selalu terbagi dua dengannya. Aku sendiri tidak mengerti dengan hal ini, apa mungkin karna aku begitu menyukainya sampai berasumsi bahwa aliran darah kami memanglah sama ?'


"Asalammualaikum,"


"Waalaikumsalam. Eh nak Isya, mari silahkan masuk !" Pinta umi Bila.


Aisya hanya mengangguki seraya tersenyum, ia duduk di ruang tamu menunggu putri kecilnya itu bersiap.


"Umi.......!" Aishi dengan girangnya berlari menghampiri Aisya yang sudah merentangkan kedua tangannya.


"Hei, anak umi kok belum siap ?" Tanya Aisya seraya mengelus rambut Aishi yang panjang dan ikal.

__ADS_1


"Ici gak mau pake baju sama abi, Icinya maunya sama umi," jawab gadis kecil itu seraya cemberut.


"Baiklah, dimana seragam Ici ? Biar umi pakaikan !" Ucapnya.


Belum juga Aishi menjawab pertanyaan uminya, suara seseorang menggema memenuhi ruangan itu.


"Ici, cepat pakai seragamnya nak !"


"Ic..........." Rasya lupa jika mulai hari ini setiap harinya Ici akan di antar sekolah oleh Isya. Dengan gamlang dan santainya ia menenteng seragam sekolah Ici sampai ke ruang tamu, hingga tanpa sadar ia keluar hanya menggunakan celana boxser tanpa baju.


Bukan niat Rasya memperlihatkan tubuhnya yang atletis sebagai Hot Daddy pada Aisya. Namun ia pun berencana mencari pakaian di ruang setrika yang belum sempat umi Bila bawa ke kamarnya.


Tetapi bukanlah Rasya jika tidak bisa membuat Aisya bersemu malu, kepalangan basah ia dengan sengaja berjalan mendekati Aisya dan putrinya di meja tamu.


Aisya sendiri sudah memejamkan matanya sedari tadi. Ia merasa malu sudah melihat tubuh lelaki yang bukan mahramnya, meskipun itu tanpa disengaja.


Pemandangan yang haram ! Ya Tuhan, kenapa harus di suguhkan pemandangan seperti ini pagi ini ? Bathin Aisya seraya menahan sesuatu dalam dadanya.


Untuk beberapa saat keheningan pun terjadi, Aisya berfikir Rasya sudah pergi karna tidak ada pergerakan atau suara yang ia dengar. Perlahan Aisya membuka mata walaupun detak jantungnya seperti mencelos ingin keluar.


Tiba-tiba saja..


Fyuuuh...


Seseorang meniup mata Aisya dengan mesranya.


"Kyaaaa..!"


**Votenya jangan lupa gengs


Happy Reading


TBC**

__ADS_1


__ADS_2