
Jihan masih fokus dengan kitab kuning yang tengah ia baca. Hingga ia pun menyadari seperti pernah mendengar suara seseorang itu, dan ternyata benar sesuai dugaannya.
" Loh kakak ini bukannya yang saya tabrak tadi ya ?" Tebak Jihan setelah melihat siapa yang mengantar makanan keruangan kerja kakaknya.
" Hah maksudnya ?" Tanya Ilham bingung.
" Ini loh bang, tadi kan Jihan gak sengaja nabrak kakak ini." Jelasnya.
" Ah iya, mbak..." Jawab Iqbal tertunduk.
" Afwan nama kakak Iqbal kah ?" Tanya Jihan yang sekilas melihat name tag dibaju seragam Iqbal.
" Na'am mbak saya Iqbal." Jawabnya lagi.
" Sok akrab banget sih dek, baru juga kenal."
" Isss Abang apaan sih. Salah ya kalau Jihan tua nama kak Iqbal ?"
" Ya gak sih."
" Afwan, saya permisi mbak, pak." Ucap Iqbal berlalu pergi dari sana.
" Iqbal, Abang kayak pernah denger nama itu. Tapi kapan ya ?" Ucap Ilham.
" Ih sok tau, Iqbal itu gak cuma 1 bang."
" Ah, iya bener juga..."
" Tapi dia pernah nyantren loh bang."
" Apa kamu sedekat itu sampe tau asal usulnya ?" Tanya Ilham penasaran.
" Ih bukan, coba Abang pikirin deh. Kebanyakan hanya orang yang pernah nyantren yang tau kata Afwan dan juga Na'am Bang."
Bener juga, tadi Iqbal bilang Afwan juga Na'am. Apa dia pernah jadi santri ? Ilham yang juga penasaran pun ikut bertanya-tanya dalam hatinya.
Siang itu, kedua kakak beradik serta sang Ayah tengah menikmati makan siang bersama dalam ruangan kerjanya.
Tiba-tiba saja...
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
" Permisi pak, boleh saya masuk ? Ada yang ingin saya bicarakan !"
" Silahkan Iqbal !" Jawab Ilham.
" Begini pak, saya mendapatkan telfon dari tetangga saya. Adik saya sakit, hari ini saya mohon izin untuk pulang lebih awal." Ucap Iqbal dengan raut wajah yang sudah sangat khawatir.
" Ya Allah, dimana orang mu ?" Tanya Zafran.
" Maaf pak, orangtua saya sudah meninggal. Saya hidup hanya berdua dengan Adik saya sudah hampir 12 tahun." Jelas Iqbal dengan tatapan sendunya seraya menunduk.
" Astagfirullah, Yah bantu aja kak Iqbal, ayo kita ikut kerumahnya !" Pinta Jihan.
" Kamu benar sayang. Iqbal, ikutlah dengan saya !" Ucap Zafran lagi.
" Jihan juga ikut ya yah...!"
" Abang sendiri dong ?"
" Bodo amat, Abang udah gede." Ucap Jihan kemudian lebih dulu keluar dari ruangan.
Jihan, Zafran serta Iqbal segera melunjur kekontrakan yang Iqbal tempati bersama sang Adik.
Dengan menggunakan mobil milik Zafran, 10 menit ia pun sampai dikontrakan.
" Fira....Astagfirullah. Fira kenapa ?" Iqbal begitu panik melihat wajah Adiknya yang sudah terlihat pucat pasi seraya merintih kesakitan.
" Iqbal kenapa Adikmu, ayo segera bawa kerumah sakit !" Ucap Zafran berlari masuk setelah mendengar Iqbal mengucapkan kata istigfar begitu kencangnya.
Jihan yang melihat itu tidak tega hingga ia menitikan air mata melihat keadaan Safira yang sudah sangat lemah tak berdaya.
" Ta-tapi pak, saya tidak punya cukup uang untuk biaya rumah sakit." Keluh Iqbal pada Zafran.
" Astagfirullah, jangan pikirkan masalah uang Iqbal. Sekarang bawa cepat Adikmu masuk kedalam mobil. Kita kerumah sakit sekarang !"
Iqbal pun menurut, ia segera membopong tubuh Adiknya itu dan masuk kedalam mobil.
" Afwan mbak, boleh saya duduk dibelakang dengan Adik saya ?" Pintanya.
" Na'am, saya duduk didepan dengan Ayah." Ucap Jihan.
Mobil pun melesat jauh meninggalkan kontrakan Iqbal. Membentangi jalanan luas dan lurus, mobil melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Hingga hanya butuh beberapa menit, mereka pun telah sampai dirumah sakit terbesar dikota jakarta.
__ADS_1
" Sus....tolong Adik saya sus...!" Iqbal berlari menggendong Adiknya yang sudah tak sadarkan diri seraya berteriak memanggil suster untuk segera membawa Adiknya keruangan IGD.
Beberapa suster segera menyiapkan berangkar dan menariknya menuju Iqbal. Safira telah dibaringkan dan dokter pun mulai melakukan pemeriksaannya di IDG.
" Sabar ya nak Iqbal, doakan semoga Adikmu tidak kenapa-napa." Ucap Zafran berusaha menenangkan Iqbal yang tengah khawatir seraya menepuk pundaknya.
" Terima kasih banyak pak, saya janji akan menyicilnya nanti."
" Sttttt, tidak usah dipikirkan !"
Suara seseorang membuka pintu dengan wajah yang sangat sulit diartikan menurut Iqbal. Rasa khawatir dalam benaknya kian bertambah setelah mendapati tingkah dokter yang memeriksa kondisi Safira.
" Bagaimana keadaan Adik saya dok ?" Tanya Iqbal begitu sangat penasaran.
" Apa anda sudah tau bahwa pasien mengidap kanker darah ?" Tanya dokter. Iqbal pun mengangguk pelan.
Zafran dan juga Jihan terkejut bukan main. Ia mengira bahwa Adik Iqbal hanya demam biasa, namun nyatanya, beliau mengidap menyakit yang sangat mematikan jika tidak segera ditindak lanjuti.
" Begini, penyakit yang diderita pasien sudah cukup parah pak. Jika terus menerus dibiarkan, maka nyawa Adik anda menjadi taruhannya. Saya sarankan, Adik anda harus di Transplantasi sumsum tulang." Jelas Dokter.
" Astagfirullah, apa tidak ada cara lain dok ?" Tanya Iqbal.
" Bisa dengan kemoterapi pak, tapi saya tidak bisa menjamin kesiapan tubuhnya setiap saat melakukan kemo." Jelasnya lagi.
" Kalau boleh tau berapa biaya transplantasi sumsum tulang dok ?"
" Sekitar setengah Milyar pak."
" Astagfirullahaladzhim, ya Allah harus cari dimana uang sebanyak itu. Ya Allah Safira..." Iqbal meneteskan air matanya. Tak mampu lagi ia berkata-kata setelah mendengar biaya yang harus ia keluarkan demi pengobatan Adiknya.
Sungguh, Allah memberinya cobaan tanpa henti hingga membuatnya hampir putus asa.
" Lakukan yang terbaik dokter, saya akan menanggung biaya pengobatannya."
💕💕Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya
__ADS_1
Happy Reading guys...
Bersambung💕💕💕