
"Kalau ternyata Abang mulai menyukai Aisya, apa Abang akan menerima dia yang jauh dari kata shalehah ?"
Rasya kembali terdiam memikirkan apa yang baru saja Kia katakan.
Bagaimana tidak, Rasya sendiri menginginkan pendamping hidup yang shalehah layaknya mimpinya itu.
"Hallo Abang....."
"Ah, iya.....untuk itu Abang belum tau dek. Insya Allah besok Abang balik kejakarta."
"Oke Kia tunggu, bay Abang...asalammualaikum.."
"Waalaikumsalam wr wb...."
Panggilan telfon berakhir, Rasya kembali memikirkan apa yang baru saja adiknya itu bicarakan.
Apa mungkin ? Gumam Rasya seraya meletakan kembali ponselnya.
***
Sementara di jakarta, lebih tepatnya di kamar yang bernuansa biru itu seseorang tengah memandangi layar ponselnya.
"Udah 3 hari gue gak lihat lo di kampus kak, apa yang sudah gue lakuin bener-bener kelewatan sampe lo menghindar dari gue ?" Gumam Aisya seraya mengusap foto Rasya yang ia ambil dari sosial medianya.
Terlintas di pikiran Aisya untuk mengubah penampilannya demi Rasya. Namun saat dipikir berulang kali, ia tidak mau dicintai karna perubahannya. Aisya lebih menginginkan dicintai seseorang dengan apa adanya, bagaimana dirinya tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain demi mendapatkan perhatian dari Rasya.
Ck...bukan gue banget...
Tapi.....gue cinta sama kak Rasya, harus gimana dong ?
Keesokan harinya Aisya begitu malas untuk bangun pagi, mengingat hari ini akan ada mata kuliah siang.
Rasa tidak semangat kini tengah menghampirinya, mungkinkah semua itu karna Rasya ?
Namun ketukan pintu membuat ia buru-buru beranjak dari tidurnya.
Hoam.......
"Kenapa Bund...?"
"Bangun dong sayang ! Anak gadis kok bangunnya siang sih, hem..."
"Ais kuliah siang bund, pengen istirahat bentar."
"10 Menit lagi ya, habis itu mandi dan sarapan," Ucap bunda seraya mengelus rambut putrinya yang terlihat berantakan itu.
"Iya bunda ku sayang..."
Ia kembali menutup pintu kamarnya saat sang bunda sudah tidak lagi terlihat.
__ADS_1
"Huh.....buat apa gue berangkat cepet, toh kak Rasya juga gak akan masuk kuliah lagi. Akhhhhhhh gue jadi down banget tiga hari gak ketemu, apa rindu itu begini ?" Gumamnya setelah merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang.
Waktu terus merangkak maju, dan saat ini jam menunjukan jarum pendeknya pada angka 11 siang. Aisya dengan style pakaian yang seperti biasa ia kenakan saat kekampus, kini mulai melajukan mobilnya membentang luasnya jalanan.
"Aisya..........."Panggilnya saat melihat Aisya di parkiran kampus.
Rambutnya yang terurai dan tertiup angin hingga membuat rambutnya itu sedikit berterbangan, menambah pesona seorang Aisya putri begitu perfect sebagai wanita tercantik di kampus Nusa bangsa.
Ia menoleh mencari suara yang sudah memanggilnya, dan siapa lagi kalau bukan kedua sahabatnya yang ternyata baru saja sampai kampus.
Gue...kira kak Rasya, gumamnya sedikit kecewa.
Berberapa langkah Mona dan Icha mulai menghampiri Aisya yang ternyata masih mematung disana.
Kedua sahabatnya itu mulai bingung dengan tatapan Aisya yang menatapnya seolah penuh damba pada seseorang.
Namun keduanya ternyata salah, tatapan itu bukan untuk mereka, melainkan untuk seseorang yang ada dibelakangnya.
Orang yang selalu Aisya inginkan dalam harapannya.
"Is....gue tau kita itu cantik, lo gak usah natap kita ampe segitunya kale..."Ucap Mona saat langkahnya sudah dekat dengan Aisya.
Aisya tidak menjawabnya. Tatapannya masih fokus kedepan, ingin rasanya ia berteriak dan menghampiri lalu memeluknya.
Tapi semua itu sangat tidak mungkin ia lakukan, mengingat Rasya bukanlah seperti pria yang pada umumnya.
"Eh, kalian...?"
"Lo kangen sama kak Rasya ? Sampe sahabat lo dateng gak sadar ?"Ucap Mona.
"Gue emang kangen sama kak Rasya Mon, tapi gue harus gimana sekarang ? Gue tau kak Rasya pasti benci banget setelah kejadian di kafe waktu itu." Ucap Aisya menghela nafasnya dengan lelah.
"Jangan nyerah dong, mana Aisya Putri yang gue kenal ?" Ucap Icha memberi semngat sahabatnya.
"Kalian masuk duluan ya, gue mau ketoilet bentar,"
Icha dan Mona mengangguk."Kasihan ya Ais Mon, kurang apa coba dia ? Udah cantik, baik, keer, supell, idaman semua cowok pokoknya. Tapi kak Rasya tega nolak berlian kek sahabat kita, gue gak ngerti deh."Ucap Icha dengan menatap Aisya yang mulai menjauh dengan tatapan ibanya.
"Semua itu tergantung Aisya sendiri Cha." Jawab Mona dengan santai seraya melangkahkan kakinya mulai memasuki kampus.
"Maksud lo ?"
Mona menghentikan langkahnya dan menatap Icha dengan serius."Lo gak ngerti apa maksud ucapan kak Rasya di kafe waktu itu ?"
Icha menggeleng, sebagai jawaban tak tahu apapun.
"Gue paham banget apa yang kak Rasya mau Cha, karna gue punya kakak lulusan pondokan. Ya bisa dibilang kakak gue taat agama."
"Terus....?"
__ADS_1
"Gue pernah nanya sama kakak gue, wanita seperti apa idamannya yang kelak nanti dijadikan sebagai istri. Dan lo tau apa jawaban kakak gue ?"...
Icha kembali menggeleng.
"Dia bilang, cewek itu yang taat sama agamanya. Dengan begitu ia pasti menyadari dan mengerti dari makna menutup aurat. Syukur-syukur kalau cewek itu bercadar, itu sih kata kakak Gue," Jelas Mona.
"Dan gue juga pernah nanya, gimana kalau kakak gue ternyata suka sama cewek yang jauh dari kata taat agama dan penampilan awam. Kakak gue bilang, mencintai diri sendiri itu harus utama sebelum bisa mencintai orang lain. Dengan arti, memperbaiki diri menjadi sebaik-baiknya. Misal apa kita gak merasa malu mempertontonkan bentuk tubuh didepan umum ? Dan akan lebih merasa malu lagi saat diakhirat nanti, bukan hanya pakaian yang dipertanyakan namun juga perintah wajib dan tidak yang sudah jelas setiap muslim mengetahuinya."
"Sama seperti kak Rasya Cha, bisa saja dia juga suka sama Ais. Tapi hatinya menolak dengan apa yang ada pada Aisya saat ini," Jelas Mona lagi.
"Itu artinya Ais harus merubah dirinya ? Maksudnya menjadi diri yang lebih baik lagi, apa harus begitu ?" Tanya Icha.
"Gue rasa iya, tapi gak semuanya bambang..."
"Gaje lo...."Ucap Icha kembali melangkahkan kakinya.
Sementara di toilet, Aisya menumpahkan tangisnya di sana.
Hatinya teramat sesak yang ternyata diabaikan rasanya begitu sakit.
Setelah menumpahkan segala keluh kesahnya dengan menyendiri, Aisya menglangkahkan kakinya berniat untuk keluar dari sana.
"Apa dengan menangis membuatmu kenyang ?" Langkah kakinya terhenti setelah mendengar suara itu.
Bukan menjawab, Aisya malah balik bertanya pada seseorang yang sudah ia hafal suaranya.
"Apa dengan menghindariku membuatmu begitu lega ?" Tanya Aisya setelah membalikan badannya.
"Maafkan saya, bukan bermaksud untuk menyakiti perasaanmu. Tapi jangan terlalu berharap pada saya berlebihan, saya tidak pantas menerima itu Aisya."
"Apa karna wanita bercadar itu ?"
"Kamu salah paham, bisa saja saya malah lebih menyukaimu. Kamu cantik dek, tapi akan lebih cantik saat tubuhmu dan rambutmu itu tertutup. Asalammualaikum," Setelah mengatakan beberapa patah kata, Rasya pergi meninggalkan Aisya begitu saja.
OmG kak Rasya, a-apa gu-gue gak salah denger barusan...
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, Adek baper tingkat negara bang
❣️Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya...
Happy Reading guys...
Bersambung❣️
__ADS_1