Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Season 3


__ADS_3

"Karna aku Mencintaimu !"


Deg..


Aisya terkejut dengan menatap lekat Rasya penuh pertanyaan. Bukankah pria ini telah mengkhitbah seorang wanita ? Kenapa begitu mudahnya mengumbar cinta pada wanita yang lainnya ?


Tidak ada cara lain bagi Rasya untuk mengikat Aisya supaya tidak berpaling darinya dan menerima ta'aruf Arkan.


Entahlah bagaimana reaksinya setelah ini, Rasya hanya berharap Aisya benar-benar akan mengikuti apa yang sudah ia katakan.


"He he he, gak lucu tau Mas. Gak usah bercanda !"Ucap Aisya sedikit terkekeh dengan kalimat Rasya yang mengatakan cinta padanya. Menurut Aisya, itu sangatlah mustahil.


"Kamu gak percaya dengan ucapan saya ?" Tanya Rasya sedikit geram melihat Aisya yang menganggap hal seserius ini hanya lelucon belaka. Tanpa menjawab, Aisya menggeleng yakin meski dalam hatinya berkata lain.


"Kenapa ?"


"Status mas itu adalah calon suami dari perempuan yang sudah mas khitbah. Saya tidak ingin merusak hubungan seseorang mas, jadi tolong berhentilah memainkan lelucon dengan mengumbar cinta pada akhwat lainnya. Karna bisa saja akhwat itu menganggap semuanya adalah benar namun kenyataannya hanya gurauan semata."


"Jadi menurutmu, saya mengatakan cinta itu hanya lelucon ?"


"Afwan, kalau perkataan saya menyakiti hati mas Rasya !" Jawab Aisya merasa bersalah.


"Kalau saya memutuskan hubungan dengan akhwat yang sudah saya khitbah dan menginginkan berta'aruf dengamu bagaimana ?''


"Mas Rasya waras ?" Aisya tidak mengerti lagi dengan Rasya yang berbicara ngelantur. Dia ini kenapa ? Guman Aisya dalam hati.


"Tentu."


"Kalau gitu jangan berbicara ngelantur. Saya rasa gak ada yang terlalu penting dari ucapan mas Rasya, saya permisi. Asalammualaikum," Aisya beranjak dari duduknya berniat meninggalkan rumah Rasya.


"Waalaikumsalam.."


"Apa kenapa sih bang ? Gak panas," ucap Kia yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara seraya meraba kening Rasya.


"Abang sehat Kia."


"Terus kenapa abang ngomong gitu ke Ais bang ? Jelas saja dia gak akan percaya," ucap Kia berfikir apa yang Rasya lakukan tanpa adanya persiapan.


"Maksudmu ?"


Kia menepuk jidat melihat sang kakak yang bertingkah mendadak seperti anak kecil yang seolah takut ibunya akan di rebut temannya.

__ADS_1


"Abang. Aisya itu hanya tau kalau status abang saat ini adalah calon suami dari akhwat lain. Terus abang dengan entengnya bilang aku cinta kamu ? Harusnya mikirlah bang, Aisya sudah berhijrah sekarang, sedikit besarnya dia bukanlah perempuan yang dulu dan pastinya dia gak akan percaya gitu aja. Jangan cuma karna takut kehilangan, abang jadi bertingkah bodoh kayak gini."


"Maaf, abang cuma takut dia berpaling," sesal Rasya.


"Gak akan bang, Kia sudah pastikan kalau Aisya putri akan menolak ta'aruf Abang Kan," ucap Kia dengan penuh keyakinan.


"Seyakin itu ?"


"He'em, karna Aisya juga sudah menerima khitbah bang Rasya dengan nama lain adalah Faraz."


"Alhamdulilah, apa kamu yakin dek ?" tanya Rasya memastikan kebenarannya.


"Yakin, seyakin yakinnya. Selamat ya bang, khitbahan abang diterima," Kia tersenyum bahagia melihat Rasya yang juga tengah bahagia dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


***


Kata orang, malam sebelum tidur biasanya menjadi momen untuk mengingat segala hal yang telah kita lakukan sepanjang hari. Baik saat berada di sekolah, saat bekerja, atau rentetan aktivitas lainnya. Suasana malam yang sunyi dan gelap membuat kita bisa sejenak melakukan introspeksi diri atau merenung.


Sama halnya dengan Aisya saat ini yang tengah merenungi sekaligus mengingat kejadian siang tadi yang sama sekali tidak ia duga.


Rasya yang tiba-tiba mengatakan cintanya sangat tidak masuk akal menurut Aisya. Bukanlah dari awal hingga sekarang tidak ada hal atau pun momen yang membuat mereka dekat dan menciptakan sebuah kejadian yang cukup membuatnya merasa terkesan ?


Sejujurnya Aisya bahagia saat Rasya mengatakan itu, namun dirinya sadar saat ini status Rasya bukanlah pria lajang yang masih sendiri meskipun pernikahan belum pernah terjadi.


Mungkin saja aku akan menerimamu sebagai calon suamiku dengan senang hati.


Tapi ucapan cintamu saat ini, menurutku salah alamat.


Tidak seharusnya kau mengungkapkan cinta pada yang lainnya sementara ada yang sudah kau khitbah.


Kita memang tidak di takdirkan untuk berjodoh kak, jadi maaf, aku tidak bisa merusak hubungan kalian dengan percaya kata cintamu itu*.


Setelah berkecamuk dengan pikirannya, kantuk yang tiba-giba menyerangnya itu membuat Aisya terus saja menguap.


Ia menyerah dengan renungannya dan segera membaringkan tubuhnya di ranjang, mengistirahatkan pikiran juga tubuhnya yang merasa lelah itu.


***


Di tempat yang cukup tenang airnya, dua insan yang saling memadu kasih itu tengah bersandar di tubuh satu sama lain.


Menatap pantulan senja yang berwarna jingga membuat keindahan bunga teratai semakin terpancar.

__ADS_1


Dua burung merpati yang juga ikut menyaksikan dua insan itu seolah bertepuk ria atas kebahagian mereka.


Sepoi angin yang membelai dahan pepohonan membuat yang empunya meneteskan embun membahasi tanah yang kering.


Menerpa mereka yang tengah merasakan hangatnya cinta di kala menatap senja dari balik air yang begitu jernih juga tenang.


"Aku tidak bisa menjelaskan dengan banyak kata dan bertele-tele. Sejujurnya aku menyukaimu sejak lama. Perasaan yang berawal dari kagum berubah menjadi percikan cinta yang menghasilkan sebuah kerinduan saat kita berada jauh. Yang awalnya ku anggap tidak mungkin, hari ini, di tempat ini aku menyatakan pernyataanku ternyata keliru. Kamu adalah wanita yang aku idamkan selama ini, aku tau kau adalah wanita yang baik juga shalehah seperti yang aku harapkan. Walau kenyataannya pergaulan yang membuatmu berubah bahkan lupa untuk menjadi diri sendiri yang sebenarnya."


"Aku tersanjung Mas, terima kasih telah memilihku sebagai pasangan hidupmu. Andai mas juga tau, kalau aku menyukaimu dari saat awal kita bertatap muka. Dengan tidak tau malunya aku bahkan mengatakan cinta padamu dengan berteriak hingga semua orang menatapku. Jujur saja aku frustasi saat itu, yang kukira Kia adalah kekasihmu namun nyatanya dia adalah adikmu."


"Uhibbuka fillah Aisya putri," ucapnya seraya mengecup kening Aisya dengan mesra.


Kecupan yang tidak pernah Aisya rasakan dari lelaki selain Ayahnya. Menciptakan gelenyar aneh dalam tubuhnya yang membuat nafas Aisya kian berat merasakan tiupan angin yang juga menerpa wajahnya.


Merangkulkan tangannya keleher saat sang pria yang tiba-tiba saja menggendongnya.


Tatapan cinta keduanya tidak pernah lepas, hingga tubuh Aisya kini sudah terbaring di ranjang.


"Maukah kamu memberi hakku malam ini, istriku ?"


Aisya mengangguk malu. Malam yang indah penuh gelora terjadi di kamar pengantin yang baru saja melangsungkan ijab kabulnya 3 hari yang lalu.


Belum sempat hal itu mereka tuntaskan, tiba-tiba saja seseorang membuka pintu kamar mereka yang membuat mereka terkejut seketika.


"Astagfirullahaladzhim...." Aisya terbangun dari tidurnya seraya mengusap keringat yang membanjiri dahinya.


🤣🤣🤣🤣wkwkwk


Cuma mimpi guys...


Ais, jangan lupa junub ya hi hi hi😂


Tinggalkan


Vote


Like


Komen kalian yakk


happy reading

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2