Bidadari Sang Gus

Bidadari Sang Gus
Saran Kia


__ADS_3

Setelah mengantar Aishi hingga ia masuk ke kelasnya, Aisya berniat pergi dari sana. Namun niatnya ia urungkan karna tiba-tiba Kia mengajaknya untuk berbincang sebentar.


"Boleh aku bertanya sesuatu ?" Tanya Kia seraya menatap intens manik mata wanita yang ada di depannya.


Kia melanjutkan kembali kalimatnya setelah melihat Aisya memberi anggukan.


"Perkenalkan aku Kia, adik sepupu abang Rasya. Aku ingin bertanya satu hal padamu, tolong jangan tersinggung. Apa betul nama mu adalah Isya ?"


Bahkan bukan hanya satu atau dua orang yang menyatakan bahwa Isya sangatlah mirip dengan Aisya. Kia kali ini beranggapan hal yang sama seperti mereka. Terlebih lagi Kia dan Aisya mereka sahabat dekat, yang sudah di pastikan Kia hafal semua tentang Aisya terutama fisiknya.


"Iya, nama saya Isya. Apa ada sesuatu ?" Ucap Aisya balik bertanya.


Kia menggeleng, mungkin jika ia mengatakan kalau Isya sangat mirip dengan Aisya dia tidak akan percaya. Saat ini yang perlu Kia ketahui adalah bagaimana kehidupan Isya sebelumnya. Untuk mengetahui hal ini, kunci satu-satunya adalah Rasya.


"Mari ! Bukankah kau juga ingin pulang ?"


"Ah, iya.." jawab Aisya singkat.


Mereka berjalan beriringan, hingga sampailah mereka di asrama santriwati di mana kamar itu adalah bagian hidup Aisya saat ia menjadi santri dulu.


Aisya menghentikan langkahnya menatap dengan teliti setiap bagian pintu kamar itu dan sekitarnya. Bayangan masa lalu bermunculan di kepalanya, suara ramai dengan gelakan tawa dan wajah-wajah mereka yang samar.


Aisya memegangi kepalanya, ia cukup merasakan pusing hingga membuatnya terduduk lemas.


Kia panik, ia berjongkok seraya menggoyangkan pundak Aisya menanyakan apakah ia baik-baik saja.


"Kamu kenapa, Isya ?" Tanya Kia panik.


Aisya terdiam, ia menggeleng kecil dengan tangan yang masih memegangi kepalanya.


Kia menghentikan salah satu santriwati yang tengah membawa air mineral di tangannya.


"Ukhty itu butuh minum, apa ana bisa memintanya ?" Izin Kia.


"Na'am ning Kia, ambil saja !"


Kia menerimanya,"Syukron !"


"Na'am ning, permisi," ucap santriwati itu berlalu pergi.


Kia memberikan air minum itu untuk Aisya, dan berharap setelahnya keadaan Isya akan membaik.


"Minumlah !"

__ADS_1


Aisya meminum air mineral itu sampai tandas. Benar saja, raut wajahnya yang terlihat pucat sedikit membaik.


Kia merasa aneh dengan Isya yang tiba-tiba terduduk lemas setelah melihat kamar kenangan mereka dulu. Ia pun semakin yakin untuk segera menemui Rasya menanyakan hal yang masih menjadi pertanyaan di benaknya itu.


"Kamu butuh istirahat, Isya. Masuklah !" Ucap Kia setelah sampai di kamar Aisya.


"Terima kasih sudah membantuku," ucap Aisya.


Kia mengangguk tersenyum, ia tidak akan pergi sebelum memastikan Aisya benar-benar masuk ke kamarnya dan beristirahat.


Setelah di rasa semuanya aman, Kia tidak langsung pulang ke rumahnya. Melainkan ia akan pergi kerumah Rasya menanyakan hal yang sangat penting ini.


"Asalammualaikum."


"Waalaikumsalam, eh Kia. Ayo kita sarapan bareng !" Ajak umi Bila pada keponakannya.


"Syukron umi, tapi Kia sudah sarapan di rumah. Abang ada, Mi ?" Tanya Kia langsung mengatakan tujuannya berkunjung.


"Ada, lagi siap-siap mau ngajar kayaknya. Mau umi panggilkan ?"


Kia menggeleng,"Biar Kia saja, umi," tolaknya.


Ini adalah tujuannya, berbicara empat mata dengan Rasya tanpa ada seorangpun yang tahu, termasuk umi Bila. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar kakak tercintanya itu.


Tok..


Tok..


"Kenapa dek, tumben pagi-pagi kesini ? Ara udah ke kesekolah emang ?"


"Sudah."


Kia duduk di tepi ranjang kamar Rasya, sementara Rasya sendiri ia tengah menyisir rambutnya di depan cermin.


"Bang. Ada yang mau Kia omongin," ucapnya seraya menatap Rasya di bayangan cermin.


"Hem, katakan !"


"Ini tentang Isya," ucapan Kia sontak membuat Rasya menghentikan kegiatannya. Ia menaruh sisir itu di atas meja rias kemudian berbalik badan mendekati adiknya.


"Sudah ketemu emangnya ?"


Kia mengangguk,"Di sekolah anak-anak," jawabnya.

__ADS_1


"Kia ngerasa ada hal aneh sama Isya bang. Tadi waktu pulang dari nganter anak-anak, kita ngelewati kamar B1 asrama santriwati. Abang tahu kan kamar itu adalah kamar sejarah persahabatan Kia, Mona, Icha, dan Aisya sewaktu jadi santri dulu ? Di depan kamar itu Isya tiba-tiba terduduk lemes gitu aja bang. Dan anehnya lagi, Isya megangin kepalanya seperti ngerasa kesakitan setelah melihat sekeliling kamar itu. Awal melihat Isya, Kia sempet berfikir kalau dia adalah Aisya," jelas Kia panjang lebar menceritakan dengan detail apa yang baru saja terjadi.


"Kamu bener Kia, Isya adalah Aisya !"


"Maksud abang ?"


"Abang sangat yakin sedari dulu kalau Aisya itu belum meninggal. Terlebih lagi abang paham betul dengan kebiasaan Aisya yang tidak pernah melepaskan cincin mahar dari abang. Saat pemandian jenazah yang kita semua anggap bahwa itu adalah Aisya, abang tidak melihat adanya cincin itu di jari Aisya dek," jelas Rasya.


"Tapi kenapa Ais malah mengatakan kalau dirinya adalah Isya, dan bukan Aisya ? Jujur Kia gak ngerti bang," ucap Kia lagi. Menurutnya, semua ini masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan apa jawaban sebenarnya.


Rasya tersenyum tipis,"Dugaan abang Aisya lupa ingatan dek. Hal itu nyatanya malah di manfaatkan oleh Dokter Evan, dokter yang menangani Aisya saat kecelakaan dulu."


"Memanfaatkan yang bagaimana maksud abang ?"


"Dokter itu mengatakan kalau Aisya adalah calon istrinya. Dia selalu saja mengelak kalau nyatanya Isya memang sangatlah mirip dengan Aisya," jelas Rasya lagi.


"Abang seyakin itu kalau Isya adalah Aisya. Bagaimana bisa ?"


Rasya berjalan menuju lemarinya mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berbentuk hati.


"Dari cincin ini," ucapnya seraya memperlihatkan cincin itu pada Kia.


Kia membulatkan matanya tidak percaya melihat cincin Aisya tersimpan dengan rapi di tempat asalnya.


Rasya memang benar, bahkan Kia pun tahu itu kalau Aisya tidak pernah melepas cincin maharnya saat mandi dan tidur sekalipun. Lalu bagaimana bisa cincin itu ada pada Rasya ?


"I-ini ?"


"Ini cincin yang abang beli dengan perjuangan demi bisa menghalalkan bidadari abang, dek. Abang menemukan cincin ini di atas meja rias saat seseorang berada di dalam kamar mandi. Dan apa kamu tau siapa seseorang itu ? Dia adalah Isya ! Yang artinya dugaan abang memanglah tepat, Isya dan Aisya adalah orang yang sama."


Kia mengangguk, ia pun semakin yakin bahwa apa yang Rasya duga memanglah tidak salah.


Kini giliran mereka, berusaha membuat Aisya mengingat masa lalunya, terutama suami dan anak yang sangat merindukan sosok Aisya selama 6 tahun terakhir ini.


"Dan untuk masalah ini, abang perlu bantuanmu lagi Kia ! Kau adalah sahabat Aisya, apapun itu berusahalah buat Aisya perlahan mengingat masa lalunya. Bila perlu luruskan kesalahpahaman yang selama ini Evan ceritakan pada Aisya !" Pinta Rasya pada adiknya itu.


"Apapun itu Kia siap bang. Dan saran Kia, lebih baik abang buat Aisya jatuh cinta lagi ! Dengan begitu kenangan indah abang bersamanya dulu, perlahan akan terulang lagi di memory nya," ucap Kia memberikan saran yang menurut Rasya cukup menjadi jalan terbaik untuk membuat Aisya mengingat masa-masa indah bersamanya dulu.


Triple up malahan kan ?


Votenya jangan pelit-pelit yak !


Yang baca harus tinggalkan jejak Like pokoknya !

__ADS_1


Happy Reading guys


TBC


__ADS_2