
Jedar.....
Bagi Arkan meminta restu dari sang pembimbing pesantren untuk meminta salah satu santriwatinya adalah mulia.
Namun tidak untuk Rasya, bagai di sambar petir di pagi hari..Rasya harus mendengar sahabatnya meminta restu untuk berta'aruf dengan akhwat yang bahkan sudah ia khitbah.
Umi Bul-bul juga Abah Farhan tak kalah terkejutnya dengan Rasya. Bagaimana Arkan akan meminta Aisya berta'aruf sementara dirinya sudah di khitbah lelaki lain.
Untuk beberapa saat hening tak ada percakapan.
Sebelum akhirnya Aisya sendirilah yang akan memutuskan semuanya.
"Begini mas Arkan, saya hargai niat mas yang ingin berta'aruf dengan saya. Tapi mohon maaf sebelumnya mas, mas Arkan terlambat. Saya sudah lebih dulu menerima khitbah dari rejal lain," jelas Aisya dengan jujur, berharap Arkan akan mengerti dan tidak terlalu sakit hati dengan kenyataannya.
"Tapi bukan Rasya orangnya kan ?" Tanya Arkan penasaran.
"Oh, bukan kok mas. Bukan mas Rasya yang mengkhitbah saya," jawab Aisya dengan kennyataan yang ia tau.
"Memangnya kenapa Kan, kalau ana yang mengkhitbah mbak Putri ?" Tanya Rasya penuh selidik.
"Ah, tidak papa. Hanya saja kasihan mbak Putri kalau harus dapet calon suami kutup kata kamu Sya he he he," jawabnya dengan terkekeh.
Rasya tersenyum tipis seraya mengusap lehernya yang tidak gatal itu. Sekilas ia melirik Aisya dengan tatapan penuh dambanya.
"Apa sudah puas dengan jawabannya Kan ?" Tanya Kyai Farhan.
"Na'am kakek, Arkan puas. Terima kasih mbak Putri sudah mau berkata jujur, sebelum perasaan saya terlalu jauh lebih baik terima kenyataannya sekarang," ucap Arkan dengan tatapan beralih melirik Aisya.
"Kiki bilang juga apa, Bang. Kalau wanita itu tidak menggemaskan, comel dan imut melebihi Kiki, abang Kan gak akan jadi nikah !"
"Ucapanmu jelek amat dek. Mau nyumpahin abang gak jadi nikah ?"
"Hehehe, piss bang. Kiki cuma becanda atuh !" jawab Kia terkekeh membuat mereka menggeleng melihat tingkah keduanya.
Kenapa aku merasa kalau Kia ada rasa sama mas Arkan ya ? Bathin Aisya dalam hati.
Kia seolah-olah lagi cemburu. Apa itu artinya...? Bathin Rasya.
Semuanya nampak terlihat begitu lega. Aisya tidak perlu lagi khawatir tentang jawaban untuk Arkan. Semuanya sudah terselesaikan bahkan di luar dugaannya.
Kia dan Aisya sudah kembali keperaduannya, sementara Rasya dan Arkan masih setia mengobrol bebas ala lelaki di teras rumah neneknya.
***
Di kota Jakarta lebih tepatnya di kampus, empat manusia tengah melakukan rencananya untuk bisa mengunjungi sahabatnya itu, bila perlu mereka pun mengikuti jejak para sahabatnya yang memilih untuk masuk kedunia pesantren.
"Lo gimana Cha, kira-kira bokap lo ngizinin gak ?" Tanya Mona pada Icha dengan tatapan seriusnya.
__ADS_1
"Iya gimana, tinggal lo doang nih yang belum ngasih keputusan Cha," sambung Amar.
"Gue..............." sengaja Icha menjeda agak lama kalimatnya membuat 3 orang itu merasa penasaran dengan jawaban Icha.
"Penasaran ya ?" tanya Icha dengan terkekeh.
"Gak lucu Cha, jangan becanda deh !" Ucap Mona sedikit kesal.
"Emang lagi gak ngelawak. Oke gue bakalan jawab, gue.....diizinin dong tentunya," jawab Icha antusias.
"Serius lo ?" Tanya Mona sekali lagi memastikan dan Icha mengangguk mantap.
"Oke, kita semua udah deal. Sekarang tinggal kasih alasan ke Dekan, pikirin gimana caranya !" Ucap Reza membuat sahabatnya itu mengangguk setuju.
Setelah memikirkan beberapa cara, ke empat manusia itu memutuskan untuk segera keruang Dekan. Mau tidak mau sore ini mereka harus berangkat ke Bandung, lebih tepatnya kepesantren tempat para sahabatnya mengabdi.
Tidak terasa, waktu yang di tunggunya pun tiba. Icha dan Mona janjian untuk berangkat dari rumah Amar, begitu pun dengan Reza.
Setelah semuanya berkumpul, tidak membutuhkan waktu yang lama mereka ber empat segera berangkat menuju bandung dengan mobil milik Amar.
Icha dan Mona yang sudah pernah kepesantren tempat Kia juga Aisya mengabdi itu seketika mengarahkan jalan pada Reza yang bergantian mengemudi dengan Amar.
Beberapa jam kemudian, mobil Amar telah memasuki pelataran pondok pesantren Nurul Huda tulisan yang terpampang jelas di gerbang utama saat memasuki kawasan itu.
Berhenti tepat di parkiran, Mona dan Icha membenarkan jilbab mereka sebelum turun dari mobil.
"Kiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....."Panggil Mona dengan berteriak seraya berlari menghampiri keduanya dan di susul oleh Icha.
"Mona, Icha.. kalian di sini ?" Tanya Aisya tidak menyangka kedua sahabat dekatnya akan menyusulnya ke pesantren.
"Iya dong Is, eh maksudnya Putri.." jawab Mona dengan senyum bahagia dan langsung memeluk Kia juga Aisya.
Aisya dan Kia melepas pelukannya setelah melihat dua orang lelaki yang ia kenal juga menghampirinya.
"Asalammualaikum, Kia..Aisya.." sapa mereka dengan kompak.
"Waalaikumsalam. Kak Amar, kak Reza, kalian kesini juga ?" Tanya Aisya yang bingung kenapa dengan ke empat manusia ini yang kompaknya mereka datang ke pesantren dengan penampilan ala santri.
"Ah, iya Is. Kita juga pengen nyusulin sahabat kita yang sudah lama ngilang tanpa kabar itu," jawab Reza dengan senyum seramah mungkin.
"Kalian ber empat janjian ?" Tanya Kia yang masih bingung dengan kedatangan sahabatnya juga sabahat kakaknya itu.
Keempat manusia itu mengangguk mantap dengan kompaknya membuat Kia juga Aisya seraya berucap,"Astagfirullah, kuliah kalian gimana ?" Tanya Kia dan Aisya yang tak kalah kompaknya.
"Online dong !" jawab Mona mengerlingkan sebelah matanya.
"Ayolah Kia, Ais..kita kan juga pengen ngerasain dunia pesantren. Lagian juga sepi tau, gak ada kalian," sambung Icha seraya mengrucutkan bibirnya dengan tampang yang memelas.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Nanti aku antar kalian untuk daftar lebih dulu. Dan buat kak Amar juga kak Reza, nanti minta bantuan Abang Rasya ya ?!" Ucap Kia dan langsung di angguki oleh mereka.
"Is, kayaknya kita tunda dulu deh perginya. Besok aja kali ya," ucap Kia.
"Iya, lebih baik besok aja," jawab Aisya.
Sebelum mengantar Mona dan Icha untuk mendaftarkan diri ke kantor, Kia lebih dulu mengantar Reza dan Amar ke rumah Rasya.
"Asalammualaikum..."
"Waalaikumsalam wr wb.." Rasya keluar dari kamarnya setelah mendengar Kia datang kerumahnya.
"Kenap...a dek. Kalian, masya Allah ini beneran Amar dan Reza ?" Tanya Rasya sedikit tidak percaya, kedatangan tamu dari Jakarta yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat kuliahnya.
"Lo kelamaan di pesantren mendadak rabun Sya. Kayaknya perlu dibawa kerumah sakit !" Ucap Reza sedikit terkekeh.
"Sembarangan..."
"Apa kabar lo ?" Tanya Amar seraya memeluk sahabatnya yang sudah lama tak bertemu.
"Alhamdulilah kabarku baik. Kalian sendiri ?"
"Baik dong tentunya," jawab Amar dan Reza barengan.
"Bang, mereka ini ternyata janjian sama Mona juga Icha untuk menyusul Kia juga Abang ke sini," jelas Kia membuat Rasya melirik kedua sahabatnya bergantian meminta jawaban dari mereka.
"Kia bener Sya. Kan gue juga pengen ngerasain masuk pesantren," Ucap Reza sebelum Rasya bertanya.
"Ya, sekaligus buat kejar cinta bidadari tak bersayap itu," ucap Reza lagi seraya tersenyum.
Deg....
Rasya terdiam seraya berfikir,"Apa Reza masih ingin mengejar Aisya ?"
**Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya...
Happy reading guys**..
Ber
Sam
__ADS_1
Bung