
" Astagfirullahaladzhim, ya Allah harus cari dimana uang sebanyak itu. Ya Allah Safira..." Iqbal meneteskan air matanya. Tak mampu lagi ia berkata-kata setelah mendengar biaya yang harus ia keluarkan demi pengobatan Adiknya.
Sungguh, Allah memberinya cobaan tanpa henti hingga membuatnya hampir putus asa.
" Lakukan yang terbaik dokter, saya akan menanggung biaya pengobatannya." Sahut Zafran.
" Baiklah, saya akan menghubungi rekan saya. Sus, segera siapkan untuk operasi !"
" Baik dok."
Selepas perginya dokter, Iqbal terduduk lemas dikursi panjang. Zafran yang tidak tega melihat keadaan Iqbal, menghampirinya seraya menenangkan.
" Saya turut prihatin Iqbal, berdoa saja semoga Adikmu selepas dioperasi akan segera sembuh." Ucap Zafran seraya mengelus punggung yang terasa sangat berat bebannya.
" Terima kasih pak, saya janji akan mencicil dengan gaji saya. Meskipun harus seumur hidup saya bekerja, saya siap pak."
" Jangan pikirkan itu kak Iqbal. Yang terpenting Adik kak Iqbal segera sembuh." Sambung Jihan.
" Benar kata putriku. Ah ya kami akan pulang lebih dulu, sore nanti insya Allah kami kesini." Ucap Zafran lagi.
" Silahkan pak, terimakasih banyak sekali lagi saya ucapkan." Zafran hanya mengangguk seraya tersenyum.
Selepas perginya Zafran juga Jihan, Iqbal menuju mushola untuk segera shalat dzuhur.
...' Ya Allah ya Rabb, maha pengasih lagi maha penyayang. Tak banyak inginku selain kesembuhan Safira, hanya dia yang kupunya didunia ini. Jangan kau ambil dirinya dariku Ya Rabb. Berikanlah kesembuhan untuk Safira, lancarkanlah operasinya, kembalikan Safiraku padaku ya Rabb '...
Setelah selesai shalat, Iqbal kembali keruang tunggu Safira yang tengah siap melakukan operasinya.
Dengan perasaan yang campur aduk kini Iqbal rasakan, dalam hatinya terus saja berdoa demi keselamatan Adiknya.
' Aku membutuhkanmu Aqila, disaat seperti ini entah kenapa hatiku semakin sesak. Andai dan andai ya Allah....' Gumam Iqbal dalam hati.
***
Dikeriuhan para santri yang tengah mengaji bersama di Aula membuat Kila seakan lupa dengan apa yang kini tengah melanda hatinya.
Ia begitu fokus dengan mengajinya, seraya sangat menghayati ayat demi ayat yang terlanjunkan dibibir setiap orang.
Selesai mengaji, dilanjutkan dengan shalawat bersama.
Shalawat pun mulai terdengar diseluruh penjuru pondok pesantren.
Innal Habibal Mushthofa
Dzuu rofati waa dzu wafaa
Wa dzikruhu fiihis-syifaa
Idzaa tamaadaa bil ‘ilal
Wa dzikruhu fiihis-syifaa
Idzaa tamaadaa bil ‘ilal
Nilnaa bihi thuulal madaa
Nashron ‘alaa kullil ‘idaa
Nilnaa bihi thuulal madaa
__ADS_1
Nashron ‘alaa kullil ‘idaa
Yasurrunaa ayyuftadaa
Birruuhi minnaa wal muqoll
Yasurrunaa ayyuftadaa
Birruuhi minnaa wal muqoll
Innal Habibal Mushthofa
Dzuu rofati waa dzu wafaa
Wa dzikruhu fiihis-syifaa
Idza tamaadaa bil ‘ilal
Wa dzikruhu fiihis-syifaa
Idza tamaadaa bil ‘ilal
Thoorot lahu arwaahunaa
Daamat bihi afroohunaa
Thoorot lahu arwaahunaa
Daamat bihi afroohunaa
Zaalat bihi atroohunaa
Zaalat bihi atroohunaa
...Aqila begitu menghayati, hingga tanpa sadar menitikan air matanya. Entah kenapa ingatannya melayang begitu saja pada sosok seseorang....
' Aku ingin kau yang melantunkan shalawat ini untukku. Ya Allah ya rabb, sampai kapan takdir harus menjauhkan orang yang sangat kuharapkan '
Tes...
Tes
Tes
Makin kian deras air mengalir dari pelupuk mata Aqila. Bila yang menyadari itu segera pindak posisi dan memberikan sapu tangan pada sahabatnya itu.
" Kuatkan dirimu Kila !" Bisik Bila. Tanpa menjawab, Kila hanya mengangguk seraya menghapus air matanya.
Setelah kegiatan di Aula selesai, Aqila lebih dulu pulang kerumah untuk mendamaikan suasana hatinya yang kembali terasa sesak.
Mau bagaimana ? Dan mau sampai kapan akan seperti ini ?
Ternyata dunia yang Iqbal bawa, sangat berpengaruh bagi hidup Aqila.
" Kila, boleh kakak masuk ?" Ucap Aqil yang sudah berada didepan pintu kamar adiknya.
" Iya kak." Jawabnya.
Aqil membuka pintu kamar adiknya dan berlalu masuk kedalam seraya menggelengkan kepala melihat mata Aqila yang sudah sangat sembab.
__ADS_1
" Cerita kekakak Kila !"
" Tanpa harus diceritakan pun kak Aqil sudah tau." Ucapnya.
Aqil menghela nafas panjangnya, menghadapi sikap Qila yang semakin hari semakin berbeda.
" Kakak akan berusaha mencari Iqbal kamu itu. Lagian apa istimewanya dia." Gerutu Aqil.
Kila langsung memberikan tatapan membunuh pada kakaknya itu.
" He he he becanda dek, senyum dong." Hibur Aqil.
" Kakak mau nanya serius sama kamu Kila. Seandainya Allah sudah mentakdirkan kamu dan keluarga berpisah untuk selama-selamanya bagaimana pendapatmu ?"
" Apa maksudmu, kakak mendoakan Kila cepet mati...."
" Heiiiii bukanlah sayang. Kakak hanya butuh pendapat bukan omelanmu !"
" Kila akan berusaha ikhlas kak, walau sulit."
" Lalu kenapa sekarang tidak mencobanya ?" Skakmat pertanyaan Aqil mampu membuat Aqila terdiam seribu bahasa.
" Jangan berlebihan dalam mencintai lelaki Aqila. Allah bahkan mengharamkan kita mencintai hambanya lebih besar dari pada cinta pada sang pencipta. Percaya dan yakin, jika sudah berjodoh, Allah pasti akan menyatukan kalian bagaimana pun caranya. Apa kamu tidak ingat bagaimana kisahku dan juga Bila selama 5 tahun selalu dalam kesalahpahaman Aqila ? Selama itu Kila sebagai sahabat istri kakak pasti tau bagaimna dirinya saat disini. Mungkin Bila sikapnya manja, tapi lihatlah....masalah hati ia begitu dewasa menyikapinya. Bahkan ia tidak berani mengakatan rasa cintanya pada kakak, ia takut selama 5 tahun kakak sudah melupakannya. Belajarlah dari pengalaman sahabatmu Kila, tidak perlu merubah sikap, tidak perlu terus menerus menyalahkan, tidak perlu selalu ditangisi, karna kalau kalian tidak berjodoh, kakak rasa semua yang kau lakukan itu sangat percuma." Nasehat Aqil.
' Ya Allah ampunilah hambamu ini yang banyak dosa dan kekurangan. Kak Aqil memang benar, apa untungnya aku bersikap dingin seperti ini, apa untungnya diriku menangisi yang bukan sama sekali makhromku, dan apa untungnya aku selalu menyalahkan Yahbi dalam urusan hati. Astagfirullah, ampunilah hamba mu ininyang jauh dari kata sabar dan ikhlas ' Gumam Kila dalam hati.
...... " Mulai saat ini kakak gak mau melihatmu menangis lagi Kila. Kakak harao inilah terakhir dirimu mengeluarkan air mata yang sangat berharga itu. Kakak menyayangimu adikku."......
" Terimakasih telah menyadarkan Kila kak. Terimakasih telah menyayangi Kila, Kila juga sayang kak Aqil." Kila berhambur memeluk kakaknya itu.
***
Pov Aqila
Itulah beruntungnya punya kakak, ia tidak akan membiarkan adiknya menanggung beban sendiri. Aku beruntung memiliki kakak sepertimu kak Aqil, kau mampu menenangkan disaat hati adikmu terasa sesak. Kau mampu memberikan pelukan hangat yang sangat bisa untukku melupakan sejenak beban hatiku.
Kak Aqil, terimakasih telah memberi perlindungan untuk adikmu ini.
Terimakasih nasehat dan hiburanmu yang mampu membuat bibirku tersenyum kembali.
huba al'akh al'akbar lays lah nihaya
( Cinta seorang kakak tidak ada habisnya )
'iinaa ahbk ya 'akhi ( Aku menyayangimu kakaku )
Pov End
💕💕💕💕Tinggalkan
Vote
Like
Komen kalian ya
Happy Reading guys
Bersambung💕💕💕
__ADS_1